PESANTREN ANGKER
Bab 04. Kenyataan
Zahra terbangun saat adzan Maghrib berkumandang dari Masjid samping rumah. Matanya sembab. Kepalanya berdenyut sakit. Tubuhnya lemas seperti habis diperas tenaga.
Dia bangkit dari lantai—ternyata dia tertidur sambil bersandar di dinding. Kakinya kesemutan. Punggungnya pegal.
Zahra menatap sekeliling kamarnya.
Kamar berukuran tiga kali tiga meter ini memang selalu jadi miliknya sejak kecil. Dinding catnya sudah kusam, mengelupas di beberapa bagian. Lemari kayu tua di pojok penuh goresan. Kasur single dengan sprei bermotif bunga-bunga pudar. Tidak ada AC, hanya kipas angin yang sudah karatan.
Berbeda dengan kamar-kamar saudara tirinya yang luas, ber-AC, dengan furnitur baru.
Dulu, Zahra pikir itu karena dia anak perempuan yang tidak terlalu penting. Atau karena dia kurang pintar. Atau karena... entahlah. Dia selalu mencari-cari alasan untuk memaafkan perlakuan keluarganya.
Tapi sekarang dia tahu alasan sebenarnya.
Dia bukan darah daging ayah tirinya.
Zahra berdiri, berjalan ke jendela kecil. Dari sana, dia bisa melihat halaman belakang yang luas. Santri-santri sedang berbaris menuju mesjid untuk shalat Maghrib berjamaah. Suara mereka riang, penuh semangat.
Zahra ingat dulu dia juga pernah jadi santri di sini. Tapi dia tidak pernah merasa jadi bagian dari mereka. Selalu ada jarak. Selalu ada rasa asing.
Tok tok tok.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
"Zahra? Kamu di dalam?" Suara lembut. Itu suara Aisyah—adik tiri dari istri ketiga ayahnya—yang tadi siang menyambutnya di halaman.
Zahra membuka pintu. Aisyah berdiri di sana dengan wajah cemas. Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengenakan gamis pink, kerudung pashmina, dan wajahnya yang bulat terlihat polos.
"Kamu... kamu baik-baik saja?" tanya Aisyah pelan.
Zahra mengangguk. "Baik."
"Aku dengar suara Bapak berteriak tadi siang. Aku dengar semuanya." Aisyah menunduk. "Maaf ya, Zahra. Aku nggak tahu kalau—"
"Tidak apa-apa." Zahra memotong. Suaranya datar. "Kamu nggak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu."
Aisyah menatap Zahra dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, bapak mengusirmu, kan? Kamu mau ke mana besok?"
"Belum tahu. Tapi pasti ada jalan."
Aisyah terdiam sejenak. Lalu dia merogoh saku gamisnya, mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribu. "Ini... ini uang sakuku dari Mas Jamal. Ambil aja. Buat ongkos kamu—"
"Simpan." Zahra mendorong tangan Aisyah pelan. "Kamu sebentar lagi mau melahirkan. Kamu butuh itu."
"Tapi—"
"Makasih, Aisyah. Makasih kamu masih peduli sama aku." Zahra tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Aisyah akhirnya mengangguk. Dia memeluk Zahra sebentar, lalu pergi dengan langkah terburu-buru—mungkin takut ketahuan sedang berbicara dengan Zahra.
Zahra menutup pintu lagi. Dia duduk di tepi kasur, menatap kosong ke lantai.
Dari luar, terdengar suara adzan selesai. Lalu suara gemuruh—santri-santri masuk ke Mesjid.
Zahra seharusnya shalat jama'ah juga. Tapi kakinya terasa berat untuk bergerak. Hatinya terasa kosong untuk berdoa.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
---
Maghrib berganti Isya. Zahra melaksanakan shalat di kamar. Setelah itu, dia berbaring di kasur, menatap langit-langit yang retak.
Perutnya lapar. Tapi dia tidak mau turun ke bawah. Tidak mau bertemu siapa pun.
Tok tok tok.
Pintu diketuk lagi. Kali ini lebih keras.
"Zahra, buka pintunya." Suara Khadijah, ibunya.
Zahra bangkit, membuka pintu. Ibunya berdiri di depan pintu dengan nampan berisi teh, sepiring nasi dengan sayur dan lauk. Wajahnya masih sembab bekas menangis.
"Ibu bawakan makan. Kamu pasti belum makan dari tadi."
Zahra duduk di tempat tidur. "Zahra tidak lapar, Bu."
"Setidaknya minum tehnya." Khadijah meletakkan nampan di meja kecil, lalu duduk di pinggir kasur samping Zahra. Tangannya terulur, ingin menyentuh tangan Zahra, tapi ragu.
Zahra meraih gelas teh, meminumnya sedikit. Hangat. Manis. Tapi tidak membuat dadanya terasa lebih baik.
Hening.
Hanya suara detik jam dinding yang tua.
"Ibu..." suara Zahra akhirnya pecah. "Apa benar yang Bapak? Aku bukan anak kandungnya?"
Khadijah menunduk. Air matanya jatuh lagi. Dia mengangguk pelan.
"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?" Zahra menatap ibunya dengan tatapan terluka. "Kenapa aku harus tahu dengan cara seperti ini?”
"Ibu takut, Zahra. Ibu takut kalau kamu tahu, kamu akan marah pada Ibu. Atau lebih parah lagi, kamu akan pergi mencari ayah kandungmu.”
Tangis Khadijah pecah.
Zahra meletakkan gelas tehnya. Dadanya sesak mendengar ibunya menangis. Bagaimanapun, ini ibunya. Wanita yang melahirkannya. Yang merawatnya sendirian saat sakit. Yang selalu melindunginya dari kemarahan Kyai Syamsul.
"Ibu," Zahra mengambil tangan ibunya. Tangannya dingin dan kurus. "Tolong ceritakan yang sebenarnya. Siapa ayah kandung Zahra? Kenapa dia tidak ada? Apa dia meninggal? Atau dia meninggalkan kita?"
Khadijah mengangkat wajahnya. Matanya merah dan bengkak. Dia menatap Zahra dengan tatapan yang penuh rasa bersalah.
"Ayahmu adalah pria yang baik. Pria yang sangat baik. Ibu tidak pernah—bahkan sedetik pun—menyesali pernah menjadi istrinya."
Zahra terdiam.
"Ayahmu bernama Rizwan. Ustadz Rizwan." Khadijah mulai bercerita dengan suara bergetar. "Dulu, saat Ibu masih muda—sekitar dua puluh tiga tahun—Ibu sakit-sakitan. Sakit yang aneh. Dokter tidak bisa menjelaskan. Diobati tidak sembuh-sembuh. Bahkan semakin parah."
Zahra mendengarkan dengan seksama.
"Saat Ibu masuk pesantren Kyai Taufiq di Lamongan, penyakit Ibu makin parah. Tubuh Ibu kurus. Sering pingsan. Sering mimpi buruk. Sering mendengar bisikan-bisikan aneh."
Khadijah berhenti sejenak, menarik napas.
"Kyai Taufiq bilang, Ibu sepertinya terkena gangguan makhluk halus. Dia punya kenalan ustadz yang ahli ruqyah. Namanya Ustadz Rizwan."
Zahra mencengkram tangannya lebih erat.
"Ustadz Rizwan datang ke pesantren. Dia masih muda. Tinggi, berjanggut tipis, matanya tajam tapi lembut. Wajahnya tampan. Suaranya dalam tapi menenangkan." Khadijah tersenyum tipis mengingat mantan suaminya. "Ibu langsung merasa aman saat melihatnya."
"Lalu?"
"Dia melakukan ruqyah pada Ibu. Dan ternyata ada jin di dalam tubuh Ibu. Jin yang ditanam oleh seseorang." Khadijah gemetar. "Jin itu sangat kuat. Sangat jahat. Ustadz Rizwan berusaha mengusirnya, tapi jinnya melawan. Bahkan menyerang balik."
Zahra merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Ustadz Rizwan bilang, jin itu terlalu kuat untuk diusir dengan cara biasa. Ada satu cara tapi cara itu harus melalui ikatan pernikahan."
"Pernikahan?" Zahra mengerutkan dahi.
Khadijah mengangguk. "Jin itu bersarang sangat dalam. Untuk mengeluarkannya, Ustadz Rizwan harus melakukan ritual khusus yang harus dilakukan di ruang tertutup. Hanya berdua. Dan agar tidak melanggar syariah, kami harus menikah dulu."
"Jadi, Ibu dan ayah kandungku menikah demi pengobatan?"
"Awalnya, ya. Orang tua Ibu setuju. Kyai Taufiq juga menyaksikan. Kami menikah dengan sederhana. Setelah itu, pada malam pertama..." Khadijah menghentikan ceritanya sejenak, seolah mengingat sesuatu yang menakutkan.
"Apa yang terjadi, Bu?"
"Ayahmu bertarung melawan jin itu. Ibu tidak tahu persis apa yang terjadi. Yang Ibu ingat, Ibu merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuh. Seperti ada yang merobek Ibu dari dalam. Ayahmu terus membaca ayat-ayat suci, terus berdoa, terus melawan."
Khadijah menghapus air matanya.
"Pertarungan itu berlangsung berjam-jam. Ibu bahkan sempat pingsan. Tapi saat Ibu sadar, jin itu sudah pergi. Tubuh Ibu terasa ringan. Sehat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ibu merasa hidup lagi."
"Lalu kenapa ayah menghilang?" Zahra bertanya dengan suara bergetar. “Apa dia menceraikan ibu setelah sembuh?”