PESANTREN ANGKER
Bab 05. Cerita Masa Lalu
Khadijah menggeleng.
"Setelah Ibu sembuh, ayahmu bilang... dia bersedia membatalkan pernikahan kalau Ibu mau. Karena pernikahan itu tujuannya hanya untuk pengobatan." Khadijah tersenyum sedih. "Tapi Ibu sudah jatuh cinta padanya, Zahra. Ibu bilang, Ibu tidak mau menjadi janda di usia muda."
Zahra bisa merasakan kehangatan dalam cerita ibunya.
"Ayahmu juga bilang, dia sudah jatuh hati pada Ibu sejak pertama kali melihat Ibu." Khadijah tertawa kecil di tengah tangisnya. Tawa cerita yang baru Zahra lihat selama menjadi anaknya. "Kami menjadi suami istri yang sesungguhnya. Kami bahagia. Sangat bahagia."
Raut wajah Khadijah tiba-tiba berubah semakin berseri.
"Beberapa minggu kemudian, Ibu hamil. Hamil kamu, Nak." Khadijah mengusap pipi putrinya lembut. "Ayahmu sangat senang. Dia bilang, kamu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya."
Zahra merasakan air matanya mulai membasahi pipi lagi.
"Tapi saat usia kandungan ibu menginjak 5 bulan, ayahmu pamit pulang ke kampung halamannya. Keluarganya ada di pulau lain, dan sedang mengalami masalah ghaib. Dia ingin membawa Ibu untuk bertemu keluarganya. Tapi karena kandungan Ibu lemah, dia takut perjalanan jauh akan membahayakan. Jadi dia putuskan pergi sendiri dulu."
Khadijah berhenti. Tangannya gemetar hebat.
"Ibu melepas kepergiannya dengan berat hati. Ayahmu berjanji akan segera kembali. Paling lama dua minggu." Suara Khadijah makin bergetar. "Tapi... dia tidak pernah kembali, Zahra. Tidak pernah."
"Apa Ibu sudah mencari ayah?"
"Ibu dan keluarga Ibu bertanya pada Kyai Taufiq. Dia yang memperkenalkan ayahmu. Tapi Kyai Taufiq hanya memasang wajah sedih dan bilang... bilang ayahmu mungkin sudah meninggal."
"Mungkin? Tidak ada kepastian?"
Khadijah menggeleng. "Tidak ada. Tidak ada kabar. Tidak ada jenazah. Tidak ada apa-apa. Ayahmu seperti menguap begitu saja."
Zahra merasakan dadanya sesak. Ayah kandungnya hilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu kemana. Hidup atau mati.
"Dua bulan kemudian, saat kandungan Ibu sudah tujuh bulan, Kyai Syamsul Hadi—yang merupakan teman Kyai Taufiq—melamar Ibu." Khadijah melanjutkan. "Kyai Taufiq menyarankan Ibu menerimanya. Katanya, demi kamu, Zahra. Agar kamu punya ayah. Agar kamu tidak tumbuh dengan status anak yatim atau anak tanpa bapak."
"Jadi Ibu menerima lamarannya?"
Khadijah mengangguk. "Ibu menerimanya. Walau harus jadi istri kedua. Walau Ibu tidak mencintainya. Walau hati ibu masih untuk ayahmu." Khadijah menatap Zahra dengan tatapan penuh penyesalan. "Maafkan Ibu, Zahra. Ibu tidak pernah bisa memberikanmu ayah yang benar-benar menyayangimu."
Zahra memeluk ibunya erat. Mereka berdua menangis bersama.
"Ibu tidak perlu minta maaf," bisik Zahra. "Ibu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah melahirkan ku. Terima kasih sudah bertahan untukku."
Mereka berdua terdiam dalam pelukan. Hanya suara isak tangis yang memenuhi kamar kecil itu.
Setelah beberapa saat, Zahra melepaskan pelukannya. Dia menatap ibunya.
"Bu, apa Ibu yakin ayah kandungku meninggal?"
Khadijah terdiam. Matanya berkaca-kaca lagi. "Ibu tidak tahu. Ibu tidak punya kepastian. Tapi Ibu tidak pernah berhenti berharap. Tidak pernah berhenti berdoa untuk keselamatannya."
Khadijah berdiri, berjalan ke lemari tua di sudut kamar Zahra. Dia membuka laci paling bawah, laci yang selalu terkunci dan Zahra tidak pernah berani membukanya.
Khadijah mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah usang. Dengan hati-hati, dia membuka kotak itu.
Di dalamnya, ada sebuah foto.
Khadijah mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Dia menatapnya sejenak, tersenyum sedih, lalu memberikannya pada Zahra.
"Ini satu-satunya foto ayahmu yang Ibu punya. Ibu simpan diam-diam selama ini."
Zahra menerima foto itu dengan tangan bergetar.
Foto itu ukuran 4R, sudah agak pudar tapi masih jelas. Dalam foto itu, ada seorang laki-laki muda mengenakan koko putih dan peci hitam. Wajahnya tampan dengan jenggot tipis yang rapi. Matanya tajam tapi hangat. Senyumnya lembut.
Di sampingnya, ada perempuan muda mengenakan gamis pink dan kerudung putih. Wajahnya cantik, segar, bahagia. Itu ibunya. Ibu yang jauh lebih muda. Ibu yang masih sehat dan bercahaya.
Mereka berdiri di depan sebuah masjid. Tangan mereka tidak saling menyentuh—tapi tatapan mereka satu sama lain penuh cinta.
"Ini foto pernikahan kami," ucap Khadijah lirih. "Satu-satunya foto yang Ibu punya. Ibu menyembunyikannya dengan sangat hati-hati selama dua puluh satu tahun."
Zahra menatap foto ayahnya. Dadanya sesak. Ada perasaan aneh. Perasaan rindu pada seseorang yang tidak pernah dia kenal.
"Ayahmu sangat tampan, kan?" Khadijah tersenyum di antara air matanya. "Kamu mirip dia, Zahra. Matamu. Hidungmu. Senyummu. Semuanya mirip ayahmu."
Zahra menyentuh wajah ayahnya di foto itu. "Ibu masih sayang ayah?"
Khadijah tidak menjawab langsung. Tapi air matanya yang jatuh sudah menjadi jawaban.
"Ibu tidak pernah berhenti mencintainya. Bahkan setelah dua puluh satu tahun. Bahkan setelah menikah dengan Kyai Syamsul. Hati Ibu hanya untuk ayahmu."
Zahra memeluk ibunya lagi. Kali ini lebih erat.
"Ibu," bisiknya. "Zahra akan mencari tahu tentang ayah. Zahra akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hidup atau mati. Zahra harus tahu."
Khadijah menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi bagaimana caranya, Nak? Sudah dua puluh satu tahun berlalu."
"Kyai Taufiq. Ibu bilang dia yang memperkenalkan ayah pada Ibu. Dia pasti tahu sesuatu."
Khadijah ragu. "Tapi Kyai Taufiq sudah sangat tua sekarang. Ibu tidak tahu apakah dia masih—"
"Zahra akan coba, Bu. Zahra harus coba." Zahra menatap foto ayahnya lagi. "Zahra tidak punya apa-apa lagi sekarang. Tidak punya suami. Tidak punya keluarga yang menerima ku. Yang Zahra punya hanya ibu dan ayah. Dan Zahra harus tahu siapa ayah sebenarnya."
Khadijah mengusap rambut Zahra lembut. "Kamu anak yang kuat, Zahra. Seperti ayahmu. Dia juga seorang pejuang."
Zahra tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya hari ini, dia merasa ada harapan. Ada tujuan.
"Ibu doakan Zahra, ya?"
"Selalu, Nak. Selalu."
Khadijah mencium puncak kepala Zahra, lalu berdiri. "Ibu ke kamar dulu. Kamu istirahat. Besok perjalanan panjang."
Zahra mengangguk.
Khadijah keluar dari kamar, menutup pintu pelan.
Zahra kembali menatap foto ayahnya. Jemarinya menelusuri wajah laki-laki itu.
"Ayah... dimana Ayah sekarang?"