PESANTREN ANGKER
Bab 06. Mimpi Buruk
Malam semakin larut.
Zahra meletakkan foto itu di samping bantal, lalu berbaring. Matanya menatap foto itu sampai kelopaknya terasa berat.
Perlahan, dia tertidur.
Tapi tidurnya tidak tenang.
Zahra bermimpi.
Dalam mimpinya, dia berdiri di tengah halaman luas yang ditumbuhi ilalang. Langit gelap. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Hanya kegelapan pekat.
Di depannya, ada gerbang besi berkarat.
Gerbang yang sama seperti yang pernah dia lihat, tapi dimana?
Zahra melangkah mendekat. Kakinya bergerak sendiri, seolah ditarik oleh sesuatu.
Gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Berderit keras. Suara yang memekakkan telinga.
Zahra masuk.
Di dalam gerbang, ada bangunan-bangunan tua yang runtuh. Pesantren. Pesantren yang sudah ditinggalkan.
Angin berhembus kencang. Dingin. Menusuk tulang.
"Zahra..."
Suara seseorang memanggilnya. Suara laki-laki. Dalam. Bergema.
Zahra menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
"Zahra... anakku..."
Suara itu lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat.
"Siapa?!" Zahra berteriak.
"Tolong... tolong aku..."
Suara itu datang dari salah satu bangunan. Asrama. Asrama Putra.
Zahra berlari ke sana. Pintunya terbuka. Dia masuk.
Ruangan gelap. Hanya ada sedikit cahaya dari jendela yang pecah.
Di pojok ruangan, ada sosok laki-laki berdiri membelakanginya. Mengenakan jubah putih yang compang-camping.
"Ayah?" Zahra berbisik.
Sosok itu perlahan berbalik.
Wajahnya sangat mirip dengan wajah ayah Zahra dari foto. Tapi pucat. Sangat pucat. Matanya kosong. Bibirnya bergetar.
"Zahra... lari..."
"Ayah! Ayah dimana?! Kenapa Ayah—"
"LARI! JIN ITU—"
Tiba-tiba, dari belakang sosok ayahnya, muncul bayangan hitam besar. Bayangan itu melingkupi ayahnya, menariknya ke dalam kegelapan.
"AYAH!"
Zahra berlari mendekat. Tapi tiba-tiba lantai di bawahnya retak. Dia jatuh.
Jatuh ke dalam kegelapan yang tidak berdasar.
Dan dalam kegelapan itu, dia mendengar tawa yang mengerikan. Tawa yang bukan tawa manusia.
"ANAK RIZWAN... DATANG… AKHIRNYA!"
Suara itu menggelegar. Membuat seluruh tubuh Zahra bergetar.
Lalu dia melihatnya.
Sepasang mata merah menyala di kegelapan.
Mata yang menatapnya dengan tatapan lapar.
"DARAHMU... AKU CIUM DARAHMU..."
“TIDAK!”
Zahra berteriak. Ia terbangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Jantungnya berdetak kencang tidak beraturan.
Dia duduk di kasur, memeluk lututnya.
Itu mimpi. Hanya mimpi.
Tapi terasa sangat nyata.
Zahra menatap ke sekeliling kamarnya. Gelap. Hanya ada cahaya bulan samar dari jendela.
Dia meraih foto ayahnya yang tergeletak di samping bantal.
"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Tiba-tiba, jendela kamarnya terbuka sendiri.
KRAK!
Angin dingin menerpa masuk. Tirai berkibar keras.
Zahra terlonjak. Jantungnya hampir copot.
Dia turun dari kasur, berjalan ke jendela untuk menutupnya.
Tapi saat tangannya hampir menyentuh jendela. Dia melihat sesuatu di halaman belakang.
Sosok.
Sosok hitam tinggi besar berdiri di bawah pohon rambutan tua.
Sosok itu menatapnya.
Dua titik merah menyala di kegelapan.
Zahra membeku. Napasnya tercekat.
Sosok itu tersenyum.
Senyum lebar yang mengerikan.
Lalu perlahan, sosok itu memudar. Hilang dalam kegelapan.
Zahra langsung menutup jendela keras. Menguncinya. Tangannya gemetar hebat.
Dia mundur, bersandar pada dinding. Napasnya tersengal.
“Astaghfirullah… Astaghfirullahal Adziim…”
Itu bukan mimpi.
Itu nyata.
Ada sesuatu... sesuatu yang mengikutinya.
Zahra merosot ke lantai. Memeluk lututnya. Membaca doa-doa yang dia ingat.
Ayat Kursi. Surah Al-Falaq. Surah An-Nas.
Berulang-ulang.
Sampai fajar menyingsing.
Sampai suara adzan Subuh terdengar dari masjid dekat rumah.
Baru saat itu, Zahra merasa sedikit aman.
Tapi di dalam hatinya, dia tahu.
Sesuatu yang jahat sedang mengincarnya.
Sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya.
Dan dia harus mencari tahu sebelum terlambat.
Zahra segera mengambil wudhu begitu adzan selesai. Dia menyelesaikan dua rakaat shalat subuhnya dengan khusyuk.
Sujud Zahra lebih lama dari biasanya. Keningnya menempel di sajadah tipis, dingin keramik merambat hingga ke tulang.
"Ya Allah…" bisik Zahra lirih. "Aku tidak punya siapa-siapa selain Engkau. Tunjukkan jalanku. Kuatkan hatiku."
Zahra duduk bersimpuh, mengucap wirid pelan-pelan. Bibirnya bergetar membaca istighfar, shalawat, lalu Ayat Kursi. Setiap lafadz seolah menjadi benteng tak kasat mata yang sangat dia butuhkan setelah mimpi semalam dan penampakan menyeramkan di bawah pohon rambutan.
Begitu dzikir selesai, Zahra menghela napas panjang. Mata sembab, tapi ada sedikit keteguhan baru di sana. Dia menoleh ke sisi bantal—foto ayahnya masih tergeletak, menatapnya dengan mata lembut yang sama seperti tadi malam.
"Ayah…" Zahra meraih foto itu dan mengecup ujungnya pelan. "Zahra akan cari Ayah. Zahra janji."
Dia meletakkan foto itu kembali dengan hati-hati, lalu bangkit. Hari ini dia harus turun ke bawah. Hadapi kenyataan. Hadapi keluarga yang menganggapnya beban.
Dan setelah itu, dia akan pergi.
***
Suara piring dan sendok beradu terdengar dari arah dapur dan ruang makan. Zahra turun perlahan dari tangga. Aroma sayur sop, tempe goreng, dan teh manis menyeruak memenuhi rumah.
Di meja makan panjang, hampir semua anggota keluarga sudah duduk. Meja kayu besar itu penuh. Di ujung, seperti biasa, duduk Kyai Syamsul Hadi. Di sampingnya Nyai Siti. Beberapa kursi diisi oleh anak-anak mereka yang sudah bangun: Salman dan Zaki duduk berhadap-hadapan sambil memainkan ponsel, Hasan dan Husein berbicara pelan sambil makan, dan si bungsu Khadijah kecil sedang disuapi sarapan oleh ibunya.
Dari keluarga istri pertama, hanya Umar yang sudah ada di meja—memakai baju koko abu-abu, wajahnya tenang. Fatimah dan Maryam mungkin sibuk di rumah masing-masing, meski rumah mereka tidak jauh dari pesantren. Begitu pun juga Aisyah yang sudah memiliki rumah sendiri, tepat di sebelah rumah kyai Syamsul.
Begitu Zahra muncul di ambang pintu, suasana sedikit berubah. Tidak ada sambutan hangat. Hanya tatapan singkat, lalu kembali ke piring masing-masing.
"Assalamualaikum," ucap Zahra pelan.
"Waalaikumsalam," jawab beberapa suara dengan nada datar. Hanya Umar yang menatap Zahra dan mengangguk sopan dengan tatapan yang tidak sekeras yang lain.
"Duduklah," kata Khadijah dari sisi meja, suaranya pelan. Dia sudah duduk paling pinggir, menunduk, jelas masih membawa sisa tangis semalam.
Zahra duduk di sebelah ibunya. Di depan mereka, piring-piring sudah tertata rapi. Khadijah buru-buru menambah nasi ke piring Zahra, meski tangannya sedikit gemetar.
"Dimakan, Nak," bisik ibunya.
"Terima kasih, Bu."
Belum sempat Zahra mengangkat sendok, suara berat Kyai Syamsul terdengar.
"Khadijah," Kyai Syamsul berbicara tanpa menoleh, nadanya tenang tapi dingin. "Tidak perlu terlalu banyak mengambilkan nasi. Zahra hanya sebentar di sini. Dia akan segera pergi setelah sarapannya habis."