Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Semangat kembali

Hasan melangkah pelan menapaki koridor panjang lapas pria itu. 

Ini bukan kunjungan pertamanya ke tempat Deni, tapi entah kenapa langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya.

Di tangannya ada dua tas. Satu berisi buah dan kue kesukaan Deni, satu lagi berisi seperangkat alat lukis dan cat air yang tiba-tiba terpikir di otaknya. Dia ingin membelikan sesuatu untuk sang menantu.

Ia menatap tas itu sesaat lalu menghela napas. Ada secercah senyum di wajah Hasan.

“Kalau ini jadi pembuka jalan semoga mereka berdua saling menemukan jati dirinya lagi,” gumamnya lirih.

Petugas mempersilakan Hasan duduk. Deni datang tak lama setelahnya, dengan rambut agak gondrong dan mata yang masih menyisakan sayu, tapi kini tampak ada sedikit cahaya.

“Ayah?” suaranya pelan tapi terdengar tulus. “Aku nggak nyangka Ayah datang lagi secepat ini.”

Hasan tersenyum kecil. “Demi kalian, Ayah rela bolak balik,” balasnya pelan.

Deni menunduk, jemarinya saling meremas. “Dia … gimana, Yah?”

Hasan menatap wajah di depannya itu lekat-lekat. “Lea mulai membaik,” ujarnya lembut. “Masih belajar berdamai sama diri sendiri. Dia titip ini.”

Hasan menyerahkan tas pertama. Deni langsung membukanya, buah, kue sederhana, dan di bawahnya ada surat kecil dengan tulisan tangan Lea.

Sudut mata Deni berkaca-kaca bahkan sebelum ia selesai membaca.

“Dia nulis sendiri, Pak?”

“Ya,” jawab Hasan. “Dan ini satu lagi.” Ia meletakkan tas kedua di meja, memperlihatkan kotak alat lukis baru yang masih terbungkus rapi. “Lea minta kamu membuat sesuatu yang berguna. Bukan cuma main band, bukan cuma gulang guling doang.”

Deni memandangi cat air itu lama sekali.

Wajahnya campur aduk antara rindu, haru, dan sesal.

Hasan bersandar di kursi. “Gambar sesuatu yang bisa bikin kalian merasa hidup lagi. Biar nanti waktu kamu keluar, kamu bisa kasih Lea bukti bahwa kalian berdua masih saling merindukan … tapi dengan cara yang lebih baik.”

Deni mengangguk cepat, menahan sekuat tenaga butir bening di sudut mata agar tak jatuh.

“Terima kasih, Yah. Aku janji bakal semangat menata hidup, semuanya. Buat dia, mama juga.”

Hasan menepuk pundaknya pelan. “Itu baru laki-laki.”

Deni lalu menyodorkan buku bersampul coklat ke hadapan mertuanya. 

Hasan membuka buku itu. Sorot matanya berbinar, senyum mengembang di wajah tuanya. Hasan manggut-manggut, mengacungkan jempol untuk menantunya ini.

Dia tak bertanya sejak kapan, tanggal di halaman depan sudah jadi jawabannya. 

"Keren, Nak. Mulai ngaji ya?" ujarnya memuji Deni. Menantunya mengangguk malu-malu. "Lepas saja kacamatanya, kamu sudah nggak buta lagi kan?" 

Deni mendongak, lalu mengikuti saran mertuanya itu. "Iya." 

Hasan lalu pamit, dia mengucapkan doa agar Deni terus berusaha sehat dan mulai belajar soal pembukuan dasar. Sebab peternakan itu sebagian warisan Lea dan mereka akan mengelolanya juga.

Setelah pertemuan itu, Hasan tidak langsung pulang ke desa. Ada satu nama lagi yang terus mengusik benaknya, Elan.

Ia sempat ragu, menimbang apakah pantas datang ke sana. Tapi hatinya menolak diam.

“Tidak ada yang benar-benar selesai sebelum semua diberi kesempatan,” katanya dalam hati.

Lapas pria tempat Elan ditahan tak jauh dari situ.

Begitu Elan datang ke ruang kunjungan, Hasan nyaris tak mengenalinya. Rambutnya dipangkas pendek, rahangnya tirus, dan matanya... dingin.

“Elan,” sapa Hasan pelan, mencoba ramah.

Elan menatapnya lama, lalu duduk dengan gerakan malas. “Kaget juga, Pak, masih mau datang.”

Hasan tersenyum samar. “Aku datang bukan buat marah, cuma pengin tahu, kamu sekarang gimana?”

Elan mendengus, menatap dinding. “Masih di sini, Pak. Sama kayak dulu. Hidup cuma pindah ruang, bukan berubah.”

Hasan menarik napas panjang. “Kamu masih bisa berubah kalau mau.”

“Berubah jadi babu? Kerja dapur, nyuci piring. Kadang nyapu halaman. Gitu-gitu aja. Hidup ya gini, Pak. Gak semua orang punya kesempatan jadi orang baik.”

“Kesempatan selalu ada,” ujar Hasan lembut tapi tegas. “Tinggal kamu mau atau enggak.”

Elan menatap Hasan dengan sorot mata tajam, sinis.

“Bapak ngomong gitu gampang, karena nggak di dalam sini. Bukan Bapak yang ditinggal semua orang, dikhianati, ditendang keluar seolah gak pernah berarti.”

Hasan diam sejenak, membiarkan kemarahan itu mengalir. Dia tahu, di balik nada sinis itu, ada luka yang belum sembuh.

“Justru karena pernah ngerasain ditinggal,” kata Hasan akhirnya, suaranya pelan tapi menggetarkan. “Makanya aku mampir. Biar kamu gak ngerasa sendirian.”

Elan tertawa kecil, getir. “Ngapain peduli sama orang kayak saya?”

Hasan menatapnya dalam. “Karena gak ada orang yang sepenuhnya jahat. Kadang cuma gak dikasih kesempatan untuk benar.”

Hening beberapa detik. Elan terdiam, tatapannya mulai goyah.

Hasan berdiri, mengambil sesuatu dari saku. Sebuah pena kecil dan selembar kertas kosong.

“Kalau nanti kamu pengin melakukan sesuatu, tulis apa pun di sini. Cerita, doa, atau janji. Aku bakal datang lagi.”

Hasan meletakkan pena itu di meja dan beranjak pergi, membiarkan Elan menatap punggungnya menjauh dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Di pintu keluar, Hasan menatap langit senja yang temaram, membatin pelan. “Kadang, kasih sayang bukan soal darah. Tapi soal siapa yang masih mau peduli meski ditolak berkali-kali.”

***

Satu bulan berlalu.

Waktu seolah berjalan lebih ringan untuk Hasan.

Setiap pekan ia mengatur jadwal, bergantian mengunjungi Lea, Deni, Danisha, dan Elan.

Ia bukan lagi hanya “tamu”, tapi mulai dianggap sahabat oleh para napi itu.

Setiap pertemuan memberi rasa lega tersendiri. Seolah dengan membantu mereka, Hasan juga sedang menambal dirinya sendiri yang dulu hancur oleh kesalahan dan penyesalan.

Di ruang kunjungan, ia sering melihat Deni duduk dengan alat lukis di tangannya, menatap kertas kosong sebelum mencoret pelan.

Lea mulai makan lebih banyak, tubuhnya tak setirus dulu.

Danisha sibuk melatih napi wanita lain berdiri tegak, berjalan anggun, dan belajar berbicara sopan.

Sementara Elan, meski masih sinis. Dia sesekali menulis di buku kecil yang Hasan berikan.

Hidup Hasan tiba-tiba punya arah lagi.

Ada yang ia tunggu setiap minggu, bukan untuk menebus, tapi untuk menyaksikan perubahan yang lahir dari kesungguhan.

Sementara itu, di toko Anak Lipat, suasana juga mulai tenang.

Kasus fitnah yang dulu membuat nama Qalesya tercoreng kini sudah mereda.

Satu per satu penggalan pengakuan para pelaku tersebar di media sosial, memperjelas bahwa Qale hanyalah korban dari permainan kotor bisnis pesaing.

Masyarakat mulai melupakan isu itu, bahkan pelanggan setianya justru bertambah.

Hari-hari Qale kini padat dengan rutinitas kursus, kuliah daring, dan eksperimen rasa baru di dapur.

Dia sedang terobsesi menciptakan croissant varian rujak buah, sesuatu yang terdengar aneh, tapi justru membuat pelanggan penasaran.

Kombinasi manis, asam, gurih, dan pedas yang tak biasa itu jadi viral di media.

Pesanan melonjak, toko ramai, dan Qale makin sibuk.

Namun di balik senyum lelahnya, tubuhnya mulai menolak.

Pagi itu, Wafa masih berkutat dengan tumpukan berkas dan telepon yang berdering tanpa henti.

Perusahaannya sedang menghadapi masalah logistik. Beberapa pengiriman kargo tertahan di pelabuhan karena kesalahan administrasi.

Ia sibuk melakukan negosiasi ulang, menenangkan klien, dan memeriksa kontrak satu per satu.

Di meja kerjanya, kalender masih tergeletak, dengan satu tanggal yang ia lingkari sebulan lalu. Tapi Wafa tak sempat menatapnya lagi.

Hari yang dulu ia tunggu-tunggu kini tertelan dalam riuhnya pekerjaan.

Sementara di toko, Qale berdiri di dapur dengan wajah pucat pasi.

Bau kacang sangrai bercampur dengan aroma gula merah cair dan sambal asam dari ulekan menguar tajam di hidungnya. Tangannya gemetar, tapi ia tetap berusaha menyelesaikan adonan terakhir.

“Kak, Istirahat dulu, gih,” kata Ria, asisten setianya, khawatir melihat wajah Qale yang kian pucat.

“Nanti, Ria. Tanggung, ini udah mau matang. Sausnya harus pas, kalau kebanyakan gula, nggak segar,” jawabnya pelan.

Ria menatapnya tak tenang. “Tapi belum duduk dari pagi, lho.”

“Sebentar lagi kok,” Qale berusaha tersenyum, mengaduk saus gula yang mulai mengental. Tangannya menambahkan tumbukan kacang dan sedikit asam, tapi pandangannya mulai buram.

Suara oven berbunyi, aroma croissant menyeruak ke udara.

Namun detik berikutnya—

Bruk!

Sendok jatuh. Disusul tubuh Qale yang ambruk menimpa lantai. Nampan croissant bergeser jatuh, menimbulkan bunyi logam beradu keras.

“Kaaak!” teriak Ria panik.

Ia langsung berlari menghampiri, mengguncang bahu Qale yang terkulai dengan wajah seputih tepung di meja.

“Kak Qale! Kak bangun, Kak!”

Ria menampar pipinya pelan, tapi tak ada respon. Napas Qale tersengal, tubuhnya dingin.

"Nad, Rin, toloooong!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!