Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Pak Duda

"Huh?" Ria terdiam, dahinya mengernyit.

Bakar menatapnya lama, matanya tenang tapi dalam, seperti menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.

"Bukan soal hujan," katanya pelan, menatap ke arah jalanan yang basah. "Kadang, kita butuh waktu buat berhenti lari. Hujan itu cuma alasan biar kita duduk sebentar."

Ria masih berdiri di depan pintu, bingung harus tertawa atau menatap serius.

“Filosofis banget malam-malam gini, Pak,” gumamnya sambil menurunkan tas dari pundak. “Tadinya mau pulang, tapi kalau diceramahi gitu, rasanya dosa kalau ninggalin.”

Bakar tersenyum kecil, lalu menepuk kursi di sebelahnya. “Duduk, sebelum dosanya numpuk.”

Ria menurut. Hujan turun makin deras, memantul di kaca jendela dan menciptakan ritme lembut yang menenangkan. Bau kopi masih terasa samar di udara, bercampur aroma croissant yang tertinggal di etalase.

“Malam di toko ini beda, ya?” kata Ria tiba-tiba.

“Beda gimana?”

“Kayak ... tenang tapi nggak sepi.”

Bakar menatapnya, menimbang kalimat itu lama. “Tenang tapi nggak sepi. Cocok tuh buat nama toko baru,” ujarnya, separuh bercanda.

Ria tertawa kecil. “Jangan ubah nama Anak Lipat, nanti pelanggan bingung.”

Hening beberapa detik.

Bakar menggulir jari di sisi gelas kopinya, suaranya kemudian pelan, nyaris seperti bisikan. “Dulu aku sering ngira, kalau udah kehilangan, ya selesai. Tapi ternyata, itu cuma jeda. Kita bisa mulai lagi, asal nggak takut buat bangkit.”

Ria meliriknya, mencoba membaca makna di balik kata-kata itu. “Mulai lagi?”

Bakar mengangguk. “Mulai percaya lagi.”

Ria menunduk. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Kayaknya, mulai percaya itu nggak gampang,” ujarnya lirih.

“Makanya, dimulai pelan-pelan aja,” jawab Bakar lembut.

Hujan mulai reda. Di trotoar, lampu jalan memantulkan cahaya ke genangan air, menimbulkan bayangan warna keemasan.

Ria berdiri, hendak pulang. Tapi sebelum melangkah ke luar, ia menoleh.

“Pak Bakar.”

“Hm?”

“Kalau hujan lagi, aku boleh numpang nunggu di sini?”

Bakar menatapnya, tersenyum samar. “Boleh. Tapi syaratnya satu.”

“Apa?”

“Kamu yang buatkan kopinya.”

Ria tertawa kecil. “Deal.”

Dia melangkah ke motornya, melewati jalan yang masih lembab, meninggalkan jejak langkah kecil di atas trotoar.

Bakar memandangi punggungnya sampai hilang di tikungan. Lalu ia menatap ke arah sisi meja, tempat Ria tadi duduk—masih ada sisa wangi parfumnya.

Ia mengangkat gelasnya pelan, dan berbisik,

“Selamat datang, tenang tanpa sepi.”

Tak lama, Bakar masuk ke toko. Dulu, kamar belakang adalah ruangan kecil tempat impian Qale tumbuh. 

Kini, semua bisa menggunakan kamar itu. Dengan membayangkan lagi, menyusun kembali harapan masing-masing.

***

Sore keesokan harinya.

Angin berhembus pelan di teras samping rumah Wafa. Aroma pisang dari dapur menyeruak, bercampur suara sendok membentur gelas.

Daniel duduk di kursi rotan, memutar sendok di cangkir tehnya. Wafa baru keluar membawa piring pisang goreng.

“Mau lama di sini, Dan?” celetuk Wafa sambil duduk di hadapan Daniel.

Daniel terkekeh. “Belum tau. Aku sudah sewa rumah kok. Tadinya mau nemenin Bakar, ziarah ke makam Risya. Sekalian liat rumah pohon kita.”

Wafa mengangguk pelan. “Masih berdiri?”

“Masih. Rapi malah. Kayak nggak pernah ditinggal,” jawab Daniel. “Kayaknya Bakar yang rawat. Katanya, dia nggak mau kehilangan tempat yang membuatnya pernah dicintai.”

Wafa melirik, menatap Daniel curiga. “Dan sekarang?”

Daniel menaruh sendoknya. “Kayaknya udah mulai move on. Tapi aku nggak yakin dia sadar.”

"Ada sasaran emang?" tanya Wafa saat menyeruput tehnya.

“Move on?” suara perempuan terdengar dari arah dapur. Qalesya muncul membawa potongan buah, duduk di sebelah Wafa sambil menyuapkan satu iris melon ke mulutnya.

Daniel tersenyum miring. “Gadis di toko. Si Ria.”

Qalesya spontan menatapnya tak percaya. “Pak Bakar? Move on?”

Wafa nyengir, “Nggak percaya, ya?”

Qale menggeleng cepat, buru-buru menelan kunyahannya. “Bukan nggak percaya. Cuma … Pak Bakar tuh, kayak … nggak punya mode ‘romantis’. Aku nggak bisa bayangin dia naksir seseorang.”

Daniel tertawa. “Justru itu masalahnya. Kalau dia udah mulai senyum-senyum sendiri, itu bukan hal kecil. Tapi aku takut, Fa…”

Wafa meletakkan cangkirnya. “Takut apa?”

“Takut gadis itu cuma jadi pelampiasan. Bakar tuh masih nyimpan Risya di kepala. Dan Ria … dia terlalu mirip. Cara ngomongnya, matanya waktu marah, bahkan tawa kecilnya," beber Daniel serius.

Suasana mendadak hening. Qalesya menatap suaminya, lalu Daniel bergantian. “Risya … itu temen kalian, ya?” tanyanya pelan.

Wafa mengangguk. “Kita bertiga dulu sering bareng. Aku, Daniel, Risya. Waktu itu Bakar cuma asisten ayah. Baru kerja beberapa bulan, malah jadi aspri aku. Nggak lama, dia dan Risya … dekat.”

Qalesya menatapnya penasaran. “Dekat?”

Wafa menghela napas, lalu tersenyum getir, memandang ke pelataran. “Risya yang dulu keras kepala itu … cuma Bakar yang bisa ngebuat dia diem. Lucu, kan? Dari situlah semuanya berubah.”

Daniel menambahkan, “Mereka nikah. Tapi Tuhan punya rencana lain. Risya sakit, dan Bakar nggak pernah bisa move on.”

Qalesya menggigit bibir, menunduk sebentar. “Jadi … Pak Bakar duda?”

“Iya,” jawab Daniel singkat.

“Punya anak?” tanya Qalesya lagi, nada suaranya polos tapi bikin Wafa hampir tersedak teh.

“Ya ampun, Sayang!” seru Wafa sambil menatap istrinya gemas. “Kamu tuh kalo nanya suka kayak wartawan gosip sore!”

Daniel terkekeh. “Cocok banget jadi host acara infotainment ‘Cinta di Balik Croissant’.”

Qale memanyunkan bibirnya, berkata pelan, “Aku cuma pengen tahu! Biar kalau nanti lihat interaksi mereka di toko, aku nggak salah paham.”

Wafa menatapnya geli. “Kamu serius mau jadi pengamat cinta karyawan sendiri?”

“Ya kan, siapa tahu dari situ kita bisa tahu apakah Pak Bakar beneran udah move on,” jawab Qale mantap.

Daniel menatap Wafa sambil mengangkat alis. “Hati-hati, Fa. Kalau dia niat banget ngamatin, bisa-bisa lupa sama kamu," selorohnya.

"Aku yang kena semprot ... karena ngeluh cemburu, istriku lebih perhatian ke mereka ya?" Wafa ikut tertawa. “Dan, sumpah, udah kebayang—”

Qale cengengesan, menepuk paha suaminya. “Santai, Mas. Aku cuma penasaran, bukan mau meliput gosip.”

Teras sore itu dipenuhi tawa mereka bertiga.

Angin berhembus membawa wangi teh manis dan suara azan magrib dari kejauhan.

Wafa bilang, besok dia akan bertanya pada Bakar soal Risya dan Ria. Biarkan dua hari ini, Bakar istirahat setelah pulang dari kampung Risya.

Tapi di kepala Qale, kalimat Daniel terus berputar. [“Aku takut gadis itu cuma pelampiasan.”]

Dan di saat yang sama, di toko Anak Lipat, Ria sedang menatap gerimis yang mulai turun dari balik jendela.

Sementara Bakar berdiri tak jauh darinya, menatap pantulan wajah mereka berdua di kaca yang sama.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!