Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Suami Risya
Keesokan harinya, suasana toko terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bahkan Rini yang biasanya ramai berceloteh pun ikut diam, sibuk menata stok bahan kue di rak bawah.
Ria bekerja seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam caranya menatap. Tatapannya sayu, suaranya tak lagi ringan.
Ia tertawa, tapi hambar. Menjawab, tapi terburu-buru.
Bakar memperhatikan dari sudut ruangan, mencoba mencari celah untuk bicara.
Namun setiap kali ia mendekat, Ria selalu punya alasan untuk berpindah—mengambil kunci, mengatur stok, atau sekadar menuang air di Tumbler miliknya.
Saat toko mulai sepi, Bakar akhirnya memberanikan diri.
“Ria,” panggilnya pelan.
“Ya?”
“Kenapa, sih? Sejak kemarin kamu … diem.”
Ria berhenti sejenak. “Biasa aja, kok.”
“Nggak. Biasanya kamu ramah banget meladeni pembeli, ngoceh, nyanyi-nyanyi.”
Ria tersenyum tipis. “Oh, lagi capek aja, Pak."
“Capek kerja, atau kesel sama aku?”
Pertanyaan itu membuat Ria menunduk. Jari-jarinya memainkan label harga di tangan, meremasnya tanpa sadar.
“Aku cuma lagi mikir aja, Pak. Banyak hal.”
“Hal apa?” desak Bakar.
Ria menatap Bakar sejenak, seolah ingin menjelaskan semuanya tapi takut membuat keadaan canggung.
“Kadang, orang baru harus belajar menahan diri,” ujarnya pelan.
“Maksudnya?”
“Biar gak salah langkah.”
Bakar diam. Tatapannya lembut, tapi tak lagi berusaha menekan. Ia hanya mengangguk, meski hatinya terasa berat, penasaran.
“Kalau kamu butuh waktu, aku tunggu,” katanya akhirnya. “Tapi jangan ngambek lama-lama, ya.”
Ria tersenyum samar. “Aku nggak ngambek, dih.”
Sore itu, langit mendung, tapi cahaya jingganya masih sempat menyelinap masuk lewat kaca toko.
Ria berdiri di depan etalase utama, menatap pantulan dirinya di botol kaca. Wajahnya tampak tenang, tapi matanya menyimpan keinginan bertanya detil pada Bakar.
Sejak hari itu, Ria mulai menjaga jarak.
Tidak ada yang berubah secara mencolok, tapi Bakar merasakannya—dari cara Ria berbicara, dari cara ia menghindari tatapan, dari caranya menolak saat dikawal pulang.
Setiap kali Bakar menawarkan untuk mengantarnya pulang, jawabannya selalu sama.
“Gak usah, Pak. Sekalian mampir beli sesuatu di jalan.”
Atau, “Saya naik ojol aja, biar gak merepotkan.”
Awalnya Bakar mencoba memahami.
Tapi makin lama, ia merasa ada dinding halus yang tumbuh di antara mereka. Dan ia tidak tahu bagaimana harus meruntuhkannya.
Siang itu, Ria sedang memeriksa stok bahan kue di rak belakang. Wajahnya kusut, beberapa bahan dasar hampir habis padahal ada pesanan croissant mendadak.
Qalesya yang baru datang dengan Wafa, langsung menuju dapur dan memperhatikan kegelisahan Ria.
“Kak Ria. Ini margarin tinggal dikit banget,” tanya Qale. "Belanja lagi kapan?" sambungnya.
“Iya, Kak. Aku mau ke supermarket habis ini. Harus buru-buru bikin adonan buat pesanan besok.”
Wafa yang duduk di kursi dekat pintu menimpali, “Biar Bakar yang anter. Sekalian bantu angkat belanjaan.”
Ria menoleh cepat. “Lho, gak usah, Pak. Aku bisa sendiri—”
“Udah, kebetulan dia di depan toko,” potong Qale. “Daripada kamu repot. Aku yang minta tolongin, ya.”
Ria tak bisa menolak.
Beberapa menit kemudian, Bakar sudah berdiri di depan pintu toko sambil menekan remote mobil. Tatapannya canggung, tapi tetap sopan.
“Katanya mau belanja bahan, aku anter ya.”
Ria hanya mengangguk kecil. “Iya, makasih.”
Perjalanan menuju supermarket terasa panjang, meski jaraknya tak sampai sepuluh menit.
Tak banyak percakapan di antara mereka, hanya suara kendaraan yang lalu lalang dan lagu pelan dari audio mobil, terngiang di telinga.
Di supermarket, Ria mendorong troli dengan tergesa. Tangannya bergerak cepat, seolah ingin segera menyelesaikan semuanya.
Bakar hanya mengikuti dari belakang, sesekali mengambilkan bahan yang lebih tinggi di rak atas.
Saat mereka hampir selesai, suara seorang perempuan terdengar dari arah lorong bahan kue. Nada suaranya terdengar cerah dan akrab.
“Bang Bakar? Ya ampun … lama banget gak ketemu! Gimana kabar?" katanya ramah, mendekati Bakar.
Bakar heran, merasa tak kenal. Dia melirik Ria sambil berujar ragu, "Maaf, siapa ya?"
Wanita itu berdecak, "Mega, partner Risya ... Aku benar, kan? Ini Suaminya Risya?”
Deg.
Kalimat itu menusuk telinga Ria.
Suami?
Langkahnya berhenti. Kedua tangannya mencengkeram pegangan troli kuat-kuat, jantungnya berdetak lebih cepat.
Sementara Bakar tampak tertegun, wajahnya kaku seketika.
“Oh … iya, Mbak … saya… dulu, maksudnya—” gagap Bakar.
Dia melihat Ria keburu pergi sebelum kalimatnya selesai. Kata-katanya menggantung, tanpa Ria dengar utuh.
Ria tak menatap Bakar lagi.
Tanpa bicara, ia mendorong troli ke kasir, membayar sendiri, lalu berkata cepat, “Aku pulang duluan, Pak. Terima kasih.”
Ia keluar tanpa menoleh, memesan ojol, dan meninggalkan Bakar berdiri di lorong dengan kantong belanja di tangan, ditemani wanita tadi yang melihatnya heran.
Sesampainya di toko, Qalesya langsung melihat perubahan di wajah Ria. Dia mengikuti Ria ke belakang.
Tangannya gemetar saat menata bahan, menimbang adonan tak serapi biasanya. Wajahnya tegang, matanya sembab tapi berusaha disembunyikan.
“Ria,” panggil Qale lembut.
“Ya, Kak?”
“Jangan lampiaskan pada adonan, ya. Kue kita salah satu rezeki orang lain.” Qale menyentuh lengan Ria, tersenyum tipis.
Ria berhenti mengaduk, menatap adonan yang sudah nyaris terlalu lembek.
Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru menghapusnya. “I-iiya. Maaf…”
Qale menepuk bahunya pelan. “Kamu boleh capek, boleh sedih. Tapi jangan biarkan rasa itu ngerusak hal-hal baik yang udah kamu bangun.”
Ria hanya mengangguk.
Bakar tiba di toko. Tanpa ada kesempatan menjelaskan pada Ria, Wafa langsung mengajaknya pergi.
Setelah adonan masuk ke oven, Ria duduk di kursi tinggi di dapur, menarik napas panjang.
Kata itu terus terngiang di kepalanya, suaminya Risya.
Sementara itu, dalam perjalanan. Wafa menegur Bakar.
“Damkar,” katanya sambil menyilangkan tangan di dada.
“Hmm?”
“Kalau gak mau Damkar asli datang buat padamkan api, mending cari waktu dan obrolin semuanya.”
Bakar mendengus lelah. “Dia gak mau denger.”
“Kalau gak dijelasin, dia malah bikin kesimpulan sendiri. Cewek tuh gitu.”
Wafa tertawa kecil mengingat tentang kebodohan dirinya dulu.
Bakar menatap kaca spion dalam, tersenyum getir mendengar ucapan Wafa. Dia diam berpikir, menatap tangan yang masih menggenggam stir.
Ia tahu, satu kalimat tadi sudah cukup untuk menghancurkan apa pun yang baru mulai tumbuh. Tapi Bakar juga tahu, diam bukan pilihan.
Malam itu, Ria dan Rini lembur di toko. Dia menatap adonan yang belum disentuh. Uap oven masih terasa hangat di udara. Siap menampung croissant selanjutnya.
Tangannya mengaduk lemah, tapi pikirannya berisik.
Suami Risya…
Kenapa dia gak cerita dari awal?
Ria menarik napas berat, lalu menulis di buku catatan resepnya.
["Mungkin cinta bukan cuma soal masa lalu dan sekarang tapi siapa yang berani jujur, bahkan saat tahu bisa kehilangan segalanya."]
.
.