Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Kejujuran Bakar

Tiga hari sudah, Ria dan Bakar nyaris tak bertukar sapa.

Suasana toko jadi canggung. Bakar tetap datang dengan Wafa seperti biasa, di jam makan siang. Tapi tanpa berani bersitatap dengan Ria langsung.

Ria, di sisi lain, menenggelamkan diri dalam pekerjaan, berusaha seolah semuanya baik-baik saja.

Namun, setiap kali mereka berpapasan di dapur yang sempit, jantungnya berdegup aneh karena bingung harus bersikap bagaimana.

Qalesya memperhatikan keduanya sejak pagi.

Ketika melihat Ria menghela napas kesekian kalinya di depan oven, ia langsung memutuskan sesuatu.

“Kak Ria, nanti tolong antar pesanan buat Bu Widya ya. Sekalian bantu cek nota,” katanya santai.

"Aku bisa antar, Nyah. Bos nggak ada jadwal siang ini," ujarnya menyambar ucapan Qale.

“Oke." Qale mengangguk.

"Aku bisa sendiri, Kak,” potong Ria cepat.

“Musim hujan. Daripada pake motor 3 roda atau ojol, sama aja kan diantar Pak Bakar,” jawab Qale lembut, tapi tegas.

Bakar hanya mengangguk pelan.

Ria tidak membantah lagi, meski ekspresi wajahnya kaku.

Qalesya belum menyediakan mobil untuk keperluan tokonya mengantar pesanan. Dia baru membeli motor roda tiga dengan bak kecil di bagian belakang. 

Mobil Wafa melaju pelan di jalanan sore. Hujan baru saja reda, udara lembab, dan aroma tanah basah masih tercium.

Ria duduk di kursi penumpang, tangannya menggenggam tas kecil di pangkuan.

Di belakang, kardus-kardus berisi kue tersusun rapi.

Tak ada suara, kecuali musik lembut dari radio.

Bakar menatap jalan lurus ke depan, sesekali melirik Ria yang masih diam.

Ia ingin bicara, tapi takut salah waktu.

Sampai akhirnya, di lampu merah, Bakar berkata pelan,

“Ria.”

Ria menoleh singkat. “Hmm?”

“Tentang di supermarket itu…”

“Gak perlu dijelasin, Pak. Aku ngerti, kok,” potong Ria buru-buru.

“Enggak, kamu gak ngerti,” sahut Bakar, kali ini suaranya lebih mantap.

Ia menarik napas panjang.

“Risya itu … bukan cuma masa lalu. Dia bagian dari hidupku yang berakhir terlalu cepat. Istriku, iya. Tapi bukan berarti aku masih hidup di sana.”

Ria terdiam, matanya perlahan menatap ke depan lagi.

“Aku cuma gak mau jadi orang yang salah tempat,” ucapnya lirih.

Bakar tersenyum samar. “Justru aku takut kamu salah paham karena aku diem terus. Aku cuma belum tahu gimana ngomongin Risya tanpa keliatan kayak orang yang belum move on.”

Mobil kembali melaju.

Hening beberapa saat, hanya suara roda membelah genangan air di jalan.

“Kalau masih belum selesai, jangan mulai yang baru dulu, Pak,” bisik Ria akhirnya.

“Aku udah selesai,” jawab Bakar tenang. “Cuma belum berhenti berterima kasih.”

Ria menatapnya bingung. “Maksudnya?”

“Aku belajar banyak dari Risya—tentang kehilangan, tentang menghargai. Tapi aku belajar mencintai lagi dari kamu.”

Ria memalingkan wajah, sorot matanya masih meragu. Ia tak menjawab apa pun sampai mereka tiba di rumah pelanggan.

Setelah menyerahkan pesanan, keduanya kembali ke mobil. Ria masih diam, tapi kali ini bukan karena marah.

Bakar menyalakan mesin, lalu berkata pelan, “Aku tahu, kamu masih ragu. Aku cuma mau jujur, biar gak ada lagi yang kamu dengar separuh-separuh.”

Ria menunduk. “Aku cuma takut kalau nanti terluka lagi oleh harapan semu,” cicitnya.

“Kita sama,” kata Bakar. “Bedanya, aku udah siap kalau harus luka lagi. Soalnya, kali ini aku memilih tinggal dan hadapi.”

Sore menjelang petang, mereka tiba kembali di toko. Langit mulai gelap, lampu neon di depan toko menyala satu-satu.

Sebelum turun, Bakar menyerahkan satu kantong kecil ke Ria.

“Risoles mayo. Aku buat sendiri. Kamu suka, kan?”

Ria terdiam. Matanya menatap kantong itu lama-lama. Ada senyum kecil yang akhirnya muncul di bibirnya.

“Pak Bakar,” katanya pelan.

“Ya?”

“Terima kasih. Dan … maaf juga, sekarang aku mulai tak suka risoles mayo.”

Bakar mengernyit heran. “Oh ... Ok. Maaf sudah salah paham, karena aku gak coba ngomong jujur.”

Ria menunduk, lalu turun dari mobil tanpa membawa kantong kecil itu. Dia malas, pasti saat membuatnya, Bakar masih memikirkan Risya.

Sebelum menutup pintu, ia sempat berujar, “Aku masih kesal. Jadi sabar, ya.”

“Sabar itu modal utamaku,” jawab Bakar dengan senyum khasnya yang hangat.

Di dalam toko, Qalesya mengintip dari balik jendela, tersenyum lebar.

“Kukira butuh sebulan lagi mereka ngomong,” gumamnya pada Wafa.

Wafa hanya terkekeh. “Bakar tuh keras kepala tapi kalau udah suka sesuatu, dia gak main-main.”

“Dan Ria?”

“Dia cuma butuh waktu untuk percaya. Kadang cinta yang datang kedua kali, harus diuji dua kali lipat," pungkas Wafa.

Keduanya saling pandang, lalu tertawa kecil.

Ria masuk ke toko, langsung mencatat uang pesanan tadi. Dia tak memedulikan Bakar yang baru masuk.

Toko menjelang tutup. Qalesya sudah keluar dari sana, berjalan pelan menggandeng Wafa.

Ria menatap lelaki yang kini berdiri di depannya. Wajah yang dulu begitu ia kenal, kini datang lagi dengan kalimat yang dia kuatirkan.

“Maaf, Ria … aku dulu pengecut,” ucap pria itu lirih.

Nada suaranya nyaris tenggelam di antara deru kendaraan dan suara angin sore.

Ria menarik napas pelan. Ada sesuatu yang berdenyut di dadanya, tapi wajahnya tenang.

“Nggak perlu minta maaf. Waktu itu, aku memang harus milih. Ibuku sakit, dan kamu punya rencana besar soal pernikahanmu. Jalan kita emang nggak sama.”

Ria tersenyum tipis, tapi senyum itu lebih mirip luka yang bekasnya masih terasa.

Lelaki itu menunduk. “Aku tahu. Tapi ngelihat kamu sekarang … aku nyesel.”

Ria tak menjawab. Ia hanya mengusap telapak tangannya sendiri, menahan sesuatu yang menekan di dada.

Dari seberang jalan, di dalam mobil, Bakar melihat pemandangan itu. Sekilas. Penasaran, siapa pria yang mengobrol lama dengan Ria. Sesuatu di dalam diri Bakar bergetar, tanpa ia mengerti kenapa.

“Kar, ayo. Kita udah telat,” suara Wafa memotong lamunannya. Mereka akan kontrol rutin kehamilan Qalesya.

Bakar sempat menoleh lagi sebelum akhirnya menyalakan mesin. Tapi bayangan itu tertinggal di benaknya.

Sepanjang jalan, Bakar diam. Wafa sempat meliriknya.

“Kamu kenapa, Damkar?”

“Enggak,” jawabnya datar. Tapi nadanya serak.

Dalam hati, ia sendiri tak bisa menjawab, kenapa tatapan mata Ria barusan seolah menegur hatinya sendiri.

Dia takut kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat ia miliki.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!