Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Bakar Cemburu
Keesokan siang, udara toko terasa menggoda oleh aroma butter dan adonan croissant yang baru keluar oven.
Ria sibuk di dapur dengan Rini. Nadia di depan berdua dengan Qalesya. Pemilik Anak Lipat itu menghindari memegang butter, mual katanya.
Bakar baru datang dengan Wafa. Dia langsung ke belakang, matanya tak lepas dari gerak-gerik Ria.
Terlebih setelah pria kemarin, datang lagi ke toko. Kebetulan Ria ke depan membawa baki croissant untuk dipajang di etalase.
Pria itu menghampiri Ria. Bakar melihatnya tersenyum yang entah kenapa terasa menyebalkan di matanya.
Ria berbicara seperlunya. Pelan dan tetap sopan. Namun bagi Bakar, caranya tersenyum tipis saja sudah cukup membuat dadanya terasa aneh.
Begitu pria itu pamit, Bakar langsung melangkah mendekati Ria yang sedang beres-beres meja stainless.
“Dia mantanmu?” tanyanya datar.
Ria berhenti mengelap meja. “Kenapa, Pak?”
“Ngajak balikan?” lanjutnya. Nada suaranya tenang, tapi matanya menyimpan bara kecil yang tak bisa disembunyikan.
Ria menatapnya dingin. “Bukan urusan Bapak.”
“Bapak-bapak,” ulang Bakar pelan sambil menghela napas. “Aku bukan bapakmu, Ria. Kalau calon bapak anakku, iya… mungkin.”
Ria menatapnya kaget. Napasnya tercekat.
“Pak Bakar!” serunya refleks.
Bakar hanya tersenyum kecil, setengah menggoda, setengah menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan.
“Ya udah, pura-pura aja gak denger,” katanya, kemudian berjalan ke wastafel, membantu Rini menata nampan basah.
Ria berdiri terpaku di tempat. Jantungnya berdebar tanpa sebab. Ia tidak tahu harus marah atau tertawa.
Apalagi akhir-akhir ini, Qalesya terlihat makin sering memperhatikannya. Tatapannya tenang, tapi penuh tanda tanya.
Ria tahu, bosnya itu kepo. Tapi bukan tipe yang akan ikut campur, hanya menunggu Ria bercerita sendiri.
Mungkin itu sebabnya Ria mulai mencari alasan untuk menjauh dari Bakar. Ia tidak ingin memberi bahan gosip di antara pegawai.
Maka, sore itu juga, ia mengajukan proposal sederhana pada Qalesya. Perekrutan sopir sekaligus bagian pembelian bahan.
Alasannya jelas, untuk efisiensi. Tapi diam-diam, Bakar menangkap alasan lain di balik usul itu.
“Kalau memang perlu, ya sudah. Kita cari orangnya,” kata Qale sambil menandatangani berkas.
Wafa yang duduk di sebelahnya ikut berkomentar, “Kalau sekalian mau beli mobil buat antar pesanan, seken juga gak apa, Sayang?"
Qalesya menatap ke arah luar sebentar, lalu menggeleng pelan. “Motor roda tiga itu masih cukup. Kita rekrut orang dulu aja.”
Ria hanya mengangguk lega. Bakar yang duduk di sudut ruangan menunduk, berpura-pura sibuk dengan ponselnya padahal matanya jelas menatap ke arah Ria.
Ada rasa yang menekan dadanya. Bakar tahu Ria sengaja menciptakan jarak. Dan kali ini, Bakar tak tahu lagi bagaimana caranya mendekat—tanpa membuat gadis itu lari lebih jauh.
Keesokan harinya, beberapa kandidat sopir datang ke toko untuk wawancara. Ria yang memegang berkas lamaran duduk di meja depan bersama Qalesya.
“Yang ini pengalaman di toko roti daerah Bandung, Kak,” ujar Ria sambil menyorongkan satu map.
“Lihat fotonya, rapi juga. Umurnya masih dua puluhan,” timpal Qale sambil tersenyum kecil.
Wawancara berlangsung lancar, satu per satu kandidat dipanggil dan diuji kemampuan dasar—mulai dari cara mengatur logistik sampai kebersihan kendaraan.
Akhirnya, pilihan mereka jatuh pada Adit, pria berperawakan sedang dengan senyum sopan dan gaya bicara kalem.
“Baik, Mas Adit, nanti mulai kerja Senin, ya,” kata Qale ramah.
Saat itulah Wafa dan Bakar baru datang seperti biasanya di jam makan siang, membawa beberapa cemilan Qalesya yang akhir-akhir ini disukai istrinya ini.
“Udah selesai wawancaranya?” tanya Wafa ceria.
“Udah. Ini supir barunya,” jawab Qale sambil menunjuk Adit.
Bakar menatap sekilas. “Oh, yang bakal bawa motor roda tiga itu?”
Adit mengangguk. “Iya, Pak.”
Dengan wajah datar, Bakar mendekat dan tiba-tiba bertanya, “Kalau motornya mogok di jalan, kamu tahu harus periksa bagian mana dulu?”
Adit sedikit gugup tapi menjawab mantap, “Cek busi dulu, Pak. Kadang kotor atau kendur.”
“Terus kalau tetep gak nyala?” desak Bakar lagi.
“Cek bensin, Pak. Bisa juga karburator kotor.”
“Hmm. Lumayan. Tapi kalau kamu panik, percuma semua teori itu,” ujar Bakar dengan nada sinis.
Adit hanya mengangguk, senyum kaku di wajahnya.
“Pak Bakar,” suara Qalesya memotong, lembut tapi tegas. “Jangan repot ngurusin ginian. Kalau mogok, tinggal panggil montir aja. Anak baru, jangan dibikin gak betah.”
Bakar sempat membuka mulut tapi memilih diam. Ria di sampingnya menahan senyum kecil, antara puas dan kesal.
Setelah Adit resmi diterima, Ria mengambilkan dua buah croissant dan sebotol minuman dingin untuk diberikan padanya.
“Nih, buat kamu. Selamat gabung ya,” kata Ria ramah.
Namun sebelum Adit sempat menerima, Bakar dengan enteng menyambar nampan itu.
“Buat aku dulu, ya. Haus.”
Ria mendengus pelan. “Pak!”
“Biasanya aku disodorin minum juga, kan?" jawab Bakar datar, matanya sengaja tak menatap Ria.
Ria hanya bisa memutar mata, menahan dongkol.
Adit menunduk kikuk, sementara Wafa yang berdiri di belakang pura-pura tak tahu, sibuk dengan laptopnya.
Qalesya hendak menegur lagi, tapi wajahnya tiba-tiba menegang. Tangannya memegang perut, ekspresinya berubah pucat.
“Kak Qale?” panggil Ria cepat.
“Aku … gak apa-apa…” gumam Qale pelan. Tapi nadanya terdengar menahan sakit.
“Sayang?” Wafa langsung mengelus bangkit, wajahnya panik. Ia memegangi bahu istrinya, lalu berteriak, “Damkar!!!”
Bakar yang sedang meneguk minum tersedak kaget, lalu buru-buru berlari keluar.
Wajahnya ikut cemas.
“Aku gak apa-apa, Mas,” kata Qale lirih, menahan kram.
“Nggak! Ke rumah sakit, sekarang!” Wafa tegas, hampir membuat semua penghuni toko tegang.
Ria berdiri mematung, nadi di pergelangan tangannya berdenyut cepat. Dadanya berdebar di antara rasa bersalah dan cemas.
Apakah Qalesya jadi banyak pikiran karena sikapnya barusan? Kalimat itu berulang di kepala Ria, bahkan setelah mobil mereka melaju keluar toko.
Di dalam hening, hanya suara oven yang berdetak lembut, dan aroma adonan yang mulai gosong karena terlupa.
Ria duduk di kursi tinggi dekat kasir, menatap pintu toko yang baru saja tertutup.
Di dada, ada rasa yang sulit ia jelaskan, takut jadi penyebabnya.
.
.