Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Usaha Bakar
Sore itu toko tutup lebih cepat. Ria membereskan loyang dan adonan yang belum sempat diolah.
Rini sudah pulang, menyisakan aroma roti setengah matang yang tertinggal di udara.
Telepon dari Nadia baru masuk menjelang magrib.
"Gimana Nad?" tanya Ria cemas. Nadia sempat ikut menyusul ke rumah sakit dengan motornya tadi.
“Udah aman, kata dokter cuma kontraksi ringan. Tapi harus banyak istirahat,” ucapnya lega.
Ria mengembuskan napas panjang, duduk di kursi dekat pintu.
Syukurlah.
Tapi di sela lega itu, ada rasa lain yang menghantui, apakah usulnya soal perekrutan tadi bikin Qalesya kepikiran?
Suara langkah sepatu terdengar tepat kala pintu terbuka. Bakar baru datang, menenteng plastik berisi minuman.
“Aku kira kamu udah pulang,” katanya datar sambil meletakkan satu botol di depan Ria.
“Lagi nunggu kabar, Pak,” jawab Ria pelan.
“Qale udah baikan. Aku barusan dari rumah sakit."
“Oh…” Ria menunduk. “Syukurlah.”
Hening beberapa detik. Hanya bunyi kipas angin yang berputar lambat.
“Kamu tadi panik banget,” ujar Bakar akhirnya, nada suaranya lembut. “Kamu sayang banget ya sama bosmu itu?”
Ria menatapnya heran. “Tentu aja. Beliau baik. Ngasih aku kesempatan kerja waktu aku udah nggak punya siapa-siapa.”
Bakar mengangguk. Pandangannya jatuh pada tangan Ria yang memegang botol minuman sari buah.
“Dulu kamu pernah punya seseorang?”
Ria terdiam, mencoba menahan napasnya.
“Orang yang datang tadi siang … dia, dulu pernah janji nggak bakal ninggalin,” ujarnya lirih. “Tapi waktu Ibu sakit, dia malah nikah sama orang lain.”
Bakar menatapnya lama. Tak ada ejekan, tak ada komentar. Hanya tatapan yang hangat tapi juga menekan di dada.
“Trus sekarang dia datang lagi?” tanya Bakar hati-hati.
Ria mengangguk. “Minta maaf. Katanya, nyesel.”
“Dan kamu?” Bakar mencondongkan tubuh sedikit. “Masih nyimpen rasa itu?”
Ria menghela napas. “Aku cuma nyimpen pelajarannya.”
Bakar tersenyum kecil, tapi matanya menunduk. “Pelajaran yang bikin kamu takut sama semua yang peduli?”
Ria melirik, separuh tersinggung, separuh ingin membantah tapi tak bisa.
“Jangan GR,” kata Ria akhirnya. “Aku cuma nggak mau dekat sama orang yang suka ngomong seenaknya.”
“Kalau yang ngomongnya dari hati?” balas Bakar pelan.
Ria terdiam. Dadanya menghangat tanpa alasan. Ia berdiri, merapikan celemek. “Pak Bakar, tolong matiin lampu nanti ya. Aku mau pulang.”
Bakar tak menjawab. Hanya mengangguk sambil menatap punggungnya yang perlahan menjauh ke arah pintu.
Sebelum Ria keluar, ia sempat menoleh sebentar, bertabrakan dengan tatapan Bakar yang tak seperti biasanya. Ada sesuatu di sana. Hangat. Tenang.
Keesokan paginya, suasana toko kembali ramai. Qalesya masih istirahat di rumah, jadi Ria mengambil alih koordinasi harian.
Adit datang lebih awal, membawa beberapa bahan pesanan dari supplier. Senyumnya sopan, ramah, dan … menurut Nadia, terlalu manis untuk orang baru.
“Mas Adit, tolong taruh mentega impor di kulkas belakang ya,” kata Ria sambil mencatat di buku stok.
“Siap, Teh Ria.” Nada suaranya tenang, tapi ada sedikit senyum di ujung kalimatnya.
Bakar yang baru masuk langsung mendengarnya. Tatapannya singgah sebentar ke arah Ria dan Adit, cukup lama untuk membuat udara di ruangan terasa lebih dingin dari kulkas.
Dia ke sini diminta Wafa untuk membawa beberapa varian croissant, ada rapat dengan bagian marketing siang nanti.
Tak lama kemudian, saat Adit sedang memarkirkan motor roda tiga, Bakar menghampirinya.
Suaranya pelan tapi tajam. “Tugasmu nyupir itu aja. Jangan coba-coba nyupirin dia, apalagi sampai ke masa depan.” Liriknya ke arah Ria yang berdiri di kasir.
Adit menoleh, keningnya berkerut tapi senyum tak lepas dari bibirnya. “Terserah dia atuh, Pak. Mau minta disupirin sama siapa ke masa depan, bukan urusan Bapak.”
Bakar menyipitkan mata. “Anak baru jangan coba-coba.”
“Emang syaratnya harus anak lama?” balas Adit santai, menaruh helm di gantungan. “Garis finish-nya kelihatan, Pak. Sportif aja gak sih?”
Ucapan itu sempat menggantung di udara.
Dari meja dekat pintu, Nadia yang sedang membuat konten langsung menoleh ke arah Rini yang sedang merapikan tisu di depannya.
“Denger gak barusan?” bisiknya sambil menahan tawa.
Rini mengangguk sambil terus melipat tisu. “Sudah lama,” katanya lirih. “Aku pura-pura gak tahu aja.”
Nadia terkekeh. “Fix. Ini sinetron pagi favoritku.”
Bakar yang sempat mendengar cekikikan mereka hanya mendengus dan berjalan ke dapur, pura-pura mencari air. Tapi sorot matanya tak bisa berbohong, cemburunya benar-benar lucu kalau saja wajahnya tidak seserius itu.
Ria, yang tak tahu menahu soal percakapan di teras toko, justru heran melihat Bakar. Ia pikir, pria itu marah karena masalah kemarin.
Padahal, diamnya bukan karena marah… tapi karena hatinya sedang terlalu gelisah memikirkan seseorang.
Sementara di tempat lain…
Hasan baru tiba di rumah sakit, memastikan kondisi Qalesya yang sudah membaik.
Begitu Qale menenangkannya, ia berpamitan, katanya, mau menjenguk Lea di lapas.
Ruangan jenguk masih sama seperti kemarin.
Kursi kayu, cat dinding yang mulai pudar, dan suara samar-samar burung di halaman lapas.
Lea datang dengan senyum tipis. “Sudah lama, Yah?”
Hasan mengangguk. “Lumayan. Jam besuk diubah, ya?”
Mereka duduk berhadapan di ruang kecil itu. Sunyi beberapa saat sebelum Lea bertanya pelan,
“Bagaimana kabar Qale? Sudah lama Ayah gak cerita soal dia.”
Hasan menatap putri sulungnya, senyum terlukis saat berkata, “Baik. Sekarang lagi istirahat, sempat kontraksi ringan.”
“Hamil berapa bulan?”
Pertanyaan itu dulu sempat Lea lontarkan tapi tak pernah dijawab.
Kali ini Hasan menatap langsung matanya. “Hampir dua bulan.”
Lea mengetuk meja pelan dengan jari. Ada sesuatu di matanya, antara sedih dan iri, tapi juga tulus. “Senang dengarnya,” katanya akhirnya.
Hasan menghela napas. “Lea … jangan macam-macam lagi, ya. Ayah percaya kamu sudah berubah...”
“Sebegitu tidak percayanya kah Ayah padaku setelah semua perubahan sikapku selama ini?” potong Lea pelan tapi tegas.
Hasan diam. Tatapan ayah dan anak itu bertaut lama, seperti dua orang yang sama-sama ingin percaya, tapi masih takut mengakuinya.
Lea mendengus kesal. "Aku hanya..."
.
.