Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Makam Risya

Lea mendengus kesal. “Aku hanya…”

Ia menarik napas panjang, menahan sesuatu di dadanya. “Aku hanya ingin Ayah percaya … bahwa aku gak lagi jadi orang yang sama.”

Suara itu pelan, tapi menggigit.

“Aku tahu aku salah. Aku nyakitin banyak orang, termasuk Ayah … tapi bukan berarti aku gak bisa berubah.”

Hasan menatap putrinya lama. Ada sorot ragu, tapi juga iba yang ditahannya sejak lama.

“Ayah gak pernah berhenti pengin percaya, Lea,” ucapnya tenang. “Tapi percaya itu bukan sesuatu yang dikasih. Itu harus kamu buktiin.”

Lea menunduk, mengusap wajahnya cepat-cepat. “Aku cuma takut gak sempat buktiin, Yah.”

Hasan tersenyum tipis, tapi penuh getir. “Masih ada waktu, Nak. Selama kamu gak menyerah sama dirimu sendiri.”

Sunyi.

Suara jam dinding terdengar jelas, diikuti derit halus kursi yang bergeser.

“Ayah…” panggil Lea pelan.

Hasan menatapnya lagi.

“Aku cuma pengin dianggap manusia lagi,” ucap Lea, kali ini hampir berbisik. “Bukan kesalahan yang selalu diingat.”

Hasan memejamkan mata sejenak. “Ayah gak curiga. Ayah cuma takut.” Ia menatap langsung ke mata Lea. “Takut kehilangan kamu dua kali.”

Bel tanda waktu besuk berbunyi. Hasan berdiri, menatap anaknya sekali lagi sebelum melangkah.

“Ayah pamit,” katanya lirih. “Jaga dirimu. Kalau kamu sungguh berubah … nanti Ayah yang bakal cerita sendiri ke Qale.”

Lea hanya mengangguk.

Ketika punggung ayahnya menghilang di balik pintu, sesuatu di dadanya terasa sesak— bukan karena marah, tapi karena sadar, kepercayaan itu memang tak bisa diminta.

Ia harus menumbuhkannya dari reruntuhan yang pernah ia buat sendiri. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Lea menunduk … berdoa. Bukan agar dibebaskan, tapi agar diberi kesempatan menebus.

***

Keesokan harinya, suasana toko kembali normal, tapi tidak untuk hati Ria.

Bakar sejak datang, lebih diam dari biasanya. Tidak banyak komentar, tidak juga menggoda dengan kalimat tajamnya yang sering bikin Ria sebal tapi rindu kalau tak terdengar.

“Pak Bakar, mau minum apa?” tanya Ria dari meja adonan.

“Nggak usah,” jawabnya singkat. Tangannya sibuk merapikan laptop, tapi pandangannya sempat singgah ke arah Ria lebih dari sekali.

Adit datang membawa pesanan bahan, menyapa semua dengan ceria.

“Siang semuanya!”

“Siang, Mas Adit!” sahut Nadia dan Rini bersamaan.

Tapi bukan Nadia atau Rini yang diperhatikan Bakar—melainkan Ria, yang tanpa sadar tersenyum hangat saat menerima nota dari Adit.

Senyum itu sederhana, tapi bagi Bakar, rasanya seperti kena siram air panas.

“Mas Adit, nanti bantu angkat tepung ke gudang, ya,” ucap Ria.

“Siap, Teh Ria,” jawabnya sambil melirik sekilas.

Bakar memutar bola matanya pelan, lalu mengetuk meja dengan sedikit tenaga berlebih sampai Nadia yang melihatnya dari jauh cuma bisa menahan tawa.

Siang itu, saat toko mulai sepi, Ria baru sadar Bakar sedari tadi sibuk. 

Dia menemukan piring Snack miliknya di dapur masih utuh. Bakar masih duduk di kursi pojok ruang dengan pulpen di tangan dan tatapan serius ke arah laptop 

“Pak, nggak makan?”

“Belum lapar.”

“Jangan ditatap terus, lho, nanti matanya sakit.”

Bakar menatapnya sekilas, bibirnya merenggang sebentar lalu surut saat berujar, “Ria, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat sore ini. Bisa?”

Ria mengerutkan dahi. “Ke mana?”

“Tempat yang baru aku datangi kemarin. Tapi rasanya, kamu perlu tahu juga.”

Ria diam. Nada suara Bakar tidak seperti biasanya—pelan, dalam, dan ada sesuatu yang menekan di baliknya.

“Aku bisa minta izin dulu ke Bu Qale,” lanjutnya. “Kalau ini soal kerjaan, nggak usah repot—”

“Bukan. Ini soal Risya.”

Nama itu membuat Ria menunduk. Seketika udara di dapur berubah sunyi.

Bakar menatap layar laptopnya lagi, lalu berkata dengan lirih, “Aku mau ajak kamu ketemu Risya.”

Ria menatapnya tak percaya. “Kenapa aku?”

“Karena aku gak mau kamu dengar dari orang lain atau nebak-nebak terus,” jawabnya pelan tapi mantap. “Aku mau kamu tahu semuanya langsung dariku.”

Beberapa detik mereka saling menatap tanpa kata.

Ada sesuatu yang berat, tapi juga jujur.

Ria menunduk. “Aku… gak tahu harus bilang apa.”

“Bilang iya aja,” ujar Bakar datar, tapi ujung bibirnya menahan senyum kecil.

Ria mendesah, tapi akhirnya mengangguk.

“Baik, asal Bapak yang nyetir.”

Bakar tersenyum tipis. “Tenang, kali ini aku gak cuma nyupirin kamu … tapi mau nyelesain yang belum sempat aku beresin.”

Sore itu, langit seperti menahan hujan. Awan kelabu menggantung rendah di atas jalan kecil menuju perbukitan.

Ria duduk di kursi penumpang, diam sejak mereka meninggalkan toko. Bakar di sisi lain, memegang setir dengan satu tangan, tangan satunya menggenggam ponselnya.

Mobil melaju perlahan. Radio dibiarkan menyala, tapi hanya berisi dengung samar iklan dan musik instrumental.

“Dulu, Risya suka lagu ini,” ujar Bakar tiba-tiba tanpa menoleh.

“Waktu dia masih kuliah, suka nyanyi ini sama grup band kampusnya.”

Ria menatap judul lagu di display dashboard. "So far away" milik A7X. 

“Dia … istri Bapak dulu?”

“Hmm.” Bakar mengangguk, matanya tetap ke depan. “Bukan cuma istri. Dia temen paling keras kepala yang pernah aku punya.”

Ria tersenyum tipis. “Kayaknya cocok sama Bapak, dua-duanya keras kepala.”

Bakar tertawa pelan. “Makanya kami sering ribut. Tapi juga saling ngertiin. Cuma waktu itu aku … dunia terlalu kejam buat kami.”

Ia berhenti sejenak.

“Risya pergi pas covid. Aku pikir dia cuma kecapekan biasa. Waktu dikabarin jatuh di klinik aku sudah punya firasat.”

Suara Bakar parau. Ria menunduk, hatinya ikut nyeri. Dia mengira, Risya masih hidup. Tapi ternyata.....

Mereka tiba di pemakaman tak lama kemudian. Langit makin muram. Hujan menitik kecil-kecil, menambah sepi di antara nisan-nisan putih.

Bakar turun, mengambil bunga dari bagasi, lalu melangkah pelan ke arah salah satu nisan di tengah barisan. Ria mengikutinya, menjaga jarak, tapi matanya tak lepas dari sosok pria itu.

Nama “Risya Lilyan” tertulis jelas di batu marmer, dengan tanggal wafat yang sudah beberapa tahun silam.

Bakar berjongkok, menatap nisan itu lama.

“Risya…” suaranya lirih, nyaris tenggelam dalam hujan. “Aku datang, tapi gak sendirian.”

Ria berdiri di belakangnya, membiarkan hujan kecil membasahi bahunya. Ia bisa mendengar setiap napas berat yang keluar dari dada Bakar.

“Aku pikir, kalau aku dateng sama orang lain, kamu bakal marah,” lanjutnya pelan. “Tapi aku cuma mau dia tahu … aku nggak lupa, dan aku nggak main-main.”

Ria tertegun. Matanya menatap Bakar dari belakang—siluetnya kokoh, tapi ada getar lembut di sana.

“Dia bukan pengganti kamu, Ris,” ucap Bakar lagi, suaranya nyaris pecah. “Tapi dia bikin aku ngerasa hidup lagi, bukan cuma numpuk waktu.”

Ria menelan ludah, menatap tanah yang perlahan basah. Sebuah kalimat kecil keluar nyaris tanpa sadar.

“Dia pasti bangga, Pak…” bisik Ria.

Bakar menoleh, pandangannya bertemu dengan Ria. Di matanya, ada campuran lega dan sendu yang sulit dijelaskan.

“Kamu masih mau pulang bareng aku?” tanyanya pelan.

Ria tersenyum tipis. “Selama gak disuruh nyupir.”

Bakar terkekeh pelan, suaranya serak tapi tulus. “Yaudah, aku nyupirin kamu … tapi kali ini bukan buat ngejar masa lalu.”

Mereka berjalan berdampingan menuju mobil, diiringi gerimis yang makin rapat.

Langit gelap, tapi di antara dua hati itu—ada sesuatu yang mulai terang, meski belum sepenuhnya disebut “cinta”.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!