Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Skripsi

Pagi itu, hujan hanya menyisakan embun di daun mangga belakang rumah.

Qalesya duduk di teras, laptop terbuka, buku catatan berserakan, dan satu gelas susu hangat yang sudah dingin karena lupa diminum.

Judul di layar menyala pelan :

[“Komitmen dalam Relasi Dewasa : Antara Pilihan, Luka, dan Kesadaran Bertahan.”]

Qalesya menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Judulnya berat amat ya, Nak,” gumamnya sambil mengelus perut yang mulai membulat.

Ada gerakan kecil dari dalam, halus tapi nyata.

“Tenang… Ibu juga lagi belajar kok.”

Dari ruang kerja, Wafa muncul membawa beberapa lembar kertas kosong.

“Kamu dari tadi diem aja. Nulis apa bengong, Sayang?”

“Dua-duanya,” jawab Qalesya jujur. “Aku lagi stuck di bagian komitmen. Secara teori aku paham… tapi kok pas ditulis, rasanya kosong.”

Wafa duduk di depannya. “Mungkin karena kamu kebanyakan baca buku, kurang ngelihat sekitar.”

Qalesya mengangkat alis. “Maksudnya?”

“Komitmen itu bukan cuma definisi,” kata Wafa pelan. “Tapi kebiasaan kecil yang diulang meski capek. Kayak kamu ngerjain skripsi sambil mual, sambil ngantuk, tapi tetap buka laptop.”

Qalesya terdiam.

Jarinyanya kembali ke keyboard.

Atau seperti orang-orang di sekitarku… batinnya. Dia pun menulis pelan, dengan usapan lembut Wafa di pundaknya.

Siang hari, Qalesya ke toko. Ingin melihat Ria, memastikan semuanya baik-baik saja.

Ria sedang menata etalase, wajahnya fokus, tapi tidak lagi muram seperti beberapa minggu lalu.

“Kamu keliatan beda,” kata Qalesya sambil duduk di kursi dekat kasir.

Ria melirik. “Beda gimana?”

“Lebih… ceria.”

Ria tersenyum tipis. “Karena akhirnya aku berhenti pura-pura kuat.”

Qalesya mengangguk pelan. “Kadang berhenti melawan itu bentuk keberanian juga.”

Belum sempat Ria menjawab, pintu toko terbuka.

Bakar masuk, membawa dua dus kecil.

“Aku titip ini,” katanya ke Ria, lalu menoleh ke Qalesya. “Siang, Nyaah.”

Ria berhenti menata kue.

Tangannya diam sesaat.

Qalesya mengangguk, sedang memperhatikan itu semua.

Dan diam-diam, menyimpannya sebagai catatan di kepalanya.

Sore hari, Qalesya kembali ke rumah.

Ia membuka laptop lagi, membaca ulang bab skripsinya.

Lalu menambahkan satu paragraf:

~Komitmen bukan tentang janji besar yang diucapkan sekali, tapi keberanian untuk hadir berkali-kali,

bahkan ketika tidak diminta,

bahkan ketika tidak nyaman.

Ia tersenyum.

Tangan kirinya kembali mengelus perut.

“Kayaknya Ibu mulai nemu jawabannya.”

Malamnya, Wafa menemani Qalesya menyusun referensi.

Lampu meja menyala lembut. Rumah terasa hening tapi penuh kehangatan.

“Nggak capek?” tanya Wafa.

“Capek … tapi seneng,” jawab Qalesya jujur. “Aku ngerasa hidup lagi ngajarin aku pelan-pelan. Tentang Kak Lea, Deni, Ria, Bakar… semua kayak cermin.”

Wafa duduk di sebelahnya, mengangguk. “Kadang kita gak belajar dari kebahagiaan. Tapi dari orang-orang yang berani bertahan.”

Qalesya menatap suaminya lama.

“Mas … makasih ya. Mas contoh komitmen yang paling nyata buat aku.”

Wafa tersenyum, menempelkan kening ke kening istrinya.

“Kita belajar bareng, Sayang. Sampai nanti adek lahir… dan kita tetap belajar.”

***

Pagi di toko Anak Lipat terasa lebih ramai dari biasanya.

Hari ini, Qalesya syukuran 4 bulanan. Tidak ada pesta, hanya pengajian komplek di kediamannya, santunan ke panti dan warga kurang mampu di sekitar toko.

Kotak-kotak kue tertumpuk rapi di dekat pintu. Di atasnya, kertas kecil bertuliskan nama tujuan : Panti Asuhan Al-Ikhlas, Rumah Singgah Pasar Lama, Warga RT 03.

Rini mondar-mandir dari dapur ke etalase.

Nadia sibuk mengecek daftar.

Ria berdiri di depan meja besar, mengikat pita di kotak terakhir.

“Jumlahnya pas?” tanya Ria.

Nadia mengangguk. “Lebih malah. Ada tambahan donasi pagi tadi.”

Ria terdiam sebentar. Ia tahu siapa yang menitipkannya, meski tak tertulis nama. Bakar.

Pintu toko terbuka.

Bakar masuk, membawa termos besar.

“Teh hangat,” katanya singkat. “Buat yang nganter nanti.”

Ria menatapnya sekilas.

Tak ada senyum lebar, tak ada kata manis.

Tapi dadanya terasa hangat melihat pria ini ikut berpartisipasi.

Siang menjelang, setelah sebagian kue diantar, toko sedikit lengang.

Bakar masih duduk di kursi sudut, menunggu.

Ria membereskan meja, lalu tanpa sadar duduk di depannya.

Mereka diam cukup lama.

“Aku mau ngomong,” kata Bakar akhirnya.

Ria mengangkat wajah. “Tentang apa?”

“Tentang aku.”

Ia menarik napas. “Dan tentang kita… kalau kamu masih mau dengar.”

Ria menelan ludah. “Aku dengar.”

Bakar menautkan jari-jarinya, tatapannya lurus. “Aku gak datang buat janji manis. Aku juga gak datang buat minta kamu percaya penuh sekarang.”

Ria mengernyit pelan.

“Aku duda,” lanjutnya. “Aku pernah gagal. Pernah kehilangan. Dan aku belajar… cinta itu bukan soal seberapa keras kita bicara, tapi seberapa konsisten kita tinggal.”

Ia berhenti sejenak.

“Maka kalau kamu izinkan, aku mau hadir. Pelan. Jelas. Bertanggung jawab.”

Ria menunduk. Jemarinya gemetar tipis.

“Kalau suatu hari kamu lelah, aku gak pergi.

Kalau kamu takut, aku gak memaksa.

Aku gak janji bikin hidupmu mudah… tapi aku janji gak nambah lukanya.”

Sunyi menyelimuti mereka.

Ria mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca.

"Cara ngomongmu itu bikin aku takut sekaligus tenang?”

Bakar tersenyum kecil. “Itu satu-satunya cara yang aku tahu sekarang.”

Ria mengangguk pelan.

“Kita jalan… tapi pelan.”

“Cukup,” jawab Bakar singkat. “Aku gak minta lebih.”

Tak ada sentuhan.

Tak ada pelukan.

Tapi jarak di antara mereka terasa mengecil.

Hari ini, menjadi titik keberanian Bakar dan Ria memulai langkah baru. Komitmen sederhana tapi jelas tujuannya.

Di tempat lain, Qalesya duduk di ruang tunggu kampus.

Perutnya mulai jelas membulat, tangannya menggenggam map skripsi.

Wafa menemani, dengan wajah kaku.

“Deg-degan?” tanya Wafa.

“Iya,” jawab Qalesya jujur. “Ini dosen pembimbing pertama. Aku takut dibilang telat, atau gak fokus gara-gara hamil.”

Pintu terbuka.

Nama Qalesya dipanggil.

Di dalam, dosen pembimbingnya menatap lembut setelah membaca proposal.

“Topiknya matang,” kata beliau. “Dan kamu menulis dari pengalaman, itu terasa.”

Qalesya menahan napas.

“Tapi kamu harus siap,” lanjutnya. “Kehamilan bukan penghalang, tapi ritmenya harus kamu atur. Kita jadwalkan bimbingan dua minggu sekali. Bisa?”

Qalesya tersenyum lega. “Bisa, Bu. Saya siap.”

Keluar dari ruangan, ia memeluk mapnya erat, seperti orang yang baru selesai berlari jauh. Napas belum sepenuhnya tenang. Matanya panas, tapi senyum Qale sudah lebih dulu muncul.

Pintu ruangan tertutup pelan di belakang Qalesya.

Wafa yang duduk tak jauh dari pintu langsung berdiri.

“Gimana?” tanyanya, suaranya dijaga supaya tetap tenang, tapi sorot matanya cemas.

Qalesya mengangkat wajah.

Bibirnya bergetar sedikit sebelum akhirnya berkata, “Mas… aku dapet jadwal.”

Wafa menghembuskan napas panjang, seolah baru sadar sejak tadi menahan.

“Alhamdulillah…”

“Dua minggu sekali,” lanjut Qalesya. “Beliaunya baik. Aku nggak dimarahin. Nggak dianggap ribet karena hamil.”

Kalimat terakhir itu membuat air matanya akhirnya jatuh.

Wafa langsung mendekat, memeluk ringan, seperti takut mengagetkan.

“Kamu tahu gak,” katanya lirih, “dari tadi aku duduk sambil latihan nerima apa pun hasilnya. Tapi ternyata… aku tetep deg-degan.”

Qalesya tertawa kecil di sela isaknya. “Aku kira Mas santai.”

“Enggak,” Wafa menggeleng.

Qalesya menunduk, menyeka air mata dengan punggung tangan.

Ia lalu menunduk, berbisik ke perut istrinya, “Kita lolos satu tahap, Dek.”

Qalesya menowel lengannya pelan. “Ngapain ngajak ngobrol bayi di koridor kampus.”

Wafa tertawa pelan. “Biar dari sekarang dia tahu, ibunya hebat.”

Mereka berjalan menyusuri lorong.

Langkah Qalesya masih pelan, tapi lebih ringan.

Di tangga, Qalesya berhenti sebentar.

“Mas…”

“Hm?”

“Makasih ya.”

Wafa meraih tangannya, menggenggamnya sederhana. “Aku nggak nikah sama versi kuatmu doang. Aku nikah sama semuanya.”

Qalesya menunduk, semringah.

Sore hari, kediaman mereka riuh lantunan pujian dari ibu-ibu pengajian komplek. Qalesya duduk di sebelah Winda, menunduk haru.

Bingkisan sudah lebih dulu dibagikan, agar bermanfaat lebih cepat. 

Dua jam kemudian, rangkaian acara syukuran selesai. Wafa mulai rewel, dia tak bisa dekat dengan Qalesya sejak tadi. 

"Kangen," katanya merentangkan lengan meminta pelukan Qale.

"Mau jadi ayah, Fa. Kurangi manjanya," kata Winda yang masih merapikan sisa kue di meja.

"Dia milikku. Adek harus belajar berbagi dari sekarang," sanggahnya saat sudah mendekap Qale dari samping. 

"Saingan kok sama anak sendiri," sambung Winda sambil geleng-geleng.

Qalesya tak menjawab, hanya mengusap lembut kepala suaminya yang menyandar di bahu.

Ini mulai terasa sempurna.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!