Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Elan
Di lapas lain, Elan berdiri canggung di depan papan pengumuman.
“Unit dokumentasi… dapur… administrasi.”
Pak Surya berdiri di sampingnya. “Milih itu bukan soal gengsi. Tapi soal kamu mau bertahan di mana.”
Elan mengangguk. “Saya coba dokumentasi, Pak.”
Hari pertama, ia salah menyimpan arsip. Hari kedua, ia ditegur karena foto blur. Hari ketiga, seorang napi mengejek, “Sok jadi seniman.”
Elan menelan ludah. Dadanya panas. Tapi ia ingat wajah Mama Danisha.
[Supaya kemarahanmu tidak tumbuh jadi kebencian.]
Malam itu, ia duduk di ranjang besi, memandang dinding.
"Mungkin hidupku belum bermakna," pikirnya.
"Tapi aku masih di sini. Dan itu berarti masih ada kesempatan."
Malam itu, setelah lampu sel dipadamkan, suara napas penghuni lain menyatu dengan dengung kipas tua.
Elan tidak langsung berbaring.
Ia duduk di tepi ranjang besi, telapak kakinya menapak lantai dingin.
Ia teringat ejekan siang tadi.
“Sok jadi seniman.”
Dulu, kalimat seperti itu akan ia balas. Dengan sindiran. Dengan pembelaan. Dengan kemarahan yang dibungkus logika.
Sekarang… tidak.
Ia hanya menarik napas panjang.
“Bertahan,” gumamnya pelan. “Cuma itu yang perlu sekarang.”
Keesokan harinya, Elan datang lebih awal ke ruang dokumentasi. Ia menyalakan komputer sebelum diminta. Menghapus foto-foto yang kemarin buram, mencoba lagi.
Tangannya masih kaku setelah menganggur lama. Matanya belum terlatih.
Ia mengambil foto pintu besi yang terbuka setengah. Cahaya masuk dari luar. Garis bayangan jatuh tak simetris.
“Ulang,” kata petugas singkat.
Elan mengangguk. Tidak membantah.
Ia memotret lagi. Dan lagi.
Siang menjelang. Peluh menetes di pelipisnya. Seorang napi lain lewat, menatap hasil fotonya di layar.
“Kenapa kamu foto pintu?” tanyanya heran.
Elan berpikir sebentar.
“Karena… itu satu-satunya yang kelihatan bergerak di sini,” jawabnya jujur.
Napi itu terdiam. Lalu mengedikkan bahu. “Aneh.”
Elan tersenyum tipis. Ia tidak tersinggung.
Hari-hari berikutnya tidak jauh berbeda. Masih ada salah. Masih ada teguran. Masih ada tatapan meremehkan.
Tapi ada juga perubahan kecil.
Seorang petugas meminta bantuannya mendokumentasikan kelas montir.
Seorang napi lainnya meminta difoto untuk dikirim ke keluarga—asal wajahnya jangan kelihatan jelas.
Elan melakukannya dengan hati-hati.
“Makasi,” kata lelaki itu lirih. “Jarang ada yang mau dengerin.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Elan membawa pujian itu sampai malam. Di ranjang besinya, ia menatap langit-langit.
“Mungkin ini caraku,” pikirnya. “Bukan buat nebus. Tapi buat berhenti menyakiti."
Hari kelima, Pak Surya menghampirinya.
“Kamu kelihatan sudah lebih sabar dan memahami cara kerjanya.”
Elan mengangguk kecil. “Masih belajar, Pak.”
Pak Surya menepuk bahunya. “Belajar itu kewajiban setiap manusia, seumur hidup.”
Elan tersenyum samar.
Malamnya ketika ia akhirnya berbaring. Tangannya terlipat di dada. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa ingin membela diri.
Tidak ingin menjelaskan.
Tidak ingin menyalahkan siapa pun.
Ia hanya ingin bangun besok… dan datang tepat waktu.
Dan di dalam lapas yang dingin itu, perubahan Elan tidak terburu-buru, seperti bayi yang baru belajar jalan perlahan.
***
Pagi Qalesya tidak lagi dimulai dengan ketergesaan. Dia bangun dalam posisi setengah duduk, bantal bertumpuk, satu tangan refleks ke perut. Punggungnya pegal, tengkuknya berat, dan kepala seperti baru selesai berdebat semalaman—padahal ia hanya tidur.
“Mas,” panggilnya pelan.
Wafa yang sejak subuh sudah setengah terjaga langsung merespons.
“Iya, Sayang.”
“Kalau aku lulus telat… Mas kecewa nggak?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Tanpa pembuka. Tanpa aba-aba.
Wafa tidak langsung menjawab. Ia menggeser posisi, membenahi bantal Qale dulu.
“Kamu kenapa, Sayang,” katanya.
“Itu bukan jawaban.”
Wafa tersenyum kecil. “Itu pernyataan terlalu cinta, menguatirkanmu... Isi otakmu ini apa semalaman?”
Qale mendengus. “Revisi dosen pembimbingku nambah. Jadwal konsultasi dimajuin. Aku baru bisa fokus malam, tapi malam aku ngantuk… pagi pusing.”
Ia terdiam sebentar, lalu menambahkan lirih,
“Aku takut gak sanggup.”
Wafa akhirnya menjawab. Suaranya tenang, tidak menghibur berlebihan.
“Takut itu tandanya kamu masih semangat meski batrenya low...”
Qale menoleh. “Mas tuh selalu gitu. Nggak nyelesain masalah, tapi bikin aku jadi tambah malas,” dengusnya kesal.
“Karena panik nggak pernah bikin skripsi kelar,” jawab Wafa ringan.
Qale memanyunkan bibir mungilnya. Lalu wajahnya kembali serius.
“Aku pengen selesai sebelum perutku makin gede.”
Wafa menatapnya lama. Ada bangga. Ada cemas.
“Kita atur ulang ritmenya,” katanya. “Bukan kamu yang maksa waktu. Tapi waktu yang kita ajak kompromi.”
Qale mengangguk, matanya mulai berat.
“Mas…”
“Iya.”
“Kalau aku ketiduran pas Zoom bimbingan—”
“Aku bangunin.”
“Kalau aku nangis di tengah presentasi—”
“Aku tunggu di luar, siapin tisu dan pelukan hangat.”
“Kalau aku nyerah?”
Wafa mendekat, keningnya menempel di pelipis Qale, mengecupnya dua kali.
“Yang itu… nggak ada opsinya. Karena istriku gakkan mudah putus asa.”
Qale tersenyum. Air matanya menetes, tapi napasnya terhembus pelan, tenang.
Ia akhirnya tertidur lagi—masih setengah duduk. Laptop terbuka di sampingnya. Dokumen skripsi belum disimpan.
Wafa membetulkannya pelan.
Menyimpan file. Mematikan lampu meja. Membiarkan dunia hening sebentar, supaya Qale bisa beristirahat dari kebisingan pikirannya sendiri.
Di kantor, Wafa menguap sambil menatap layar.
Ponselnya bergetar.
MINE. Qalesya.
"Ya, Sayang?"
"Mas aku mimpi sidang skripsi sambil kontraksi. Dosenku jadi bidan."
Wafa tersenyum tanpa sadar. Mengetik balasan.
"Tenang. Aku disampinmu. Bawain minum."
Ia menaruh ponsel. Menghela napas.
Begini rupanya kehidupan rumah tangga berjalan,
bukan tanpa takut, tapi dengan rutinitas yang tetap harus dipenuhi.
Siangnya.
Qalesya duduk tegak di kursi ruang dosen. Tasnya diletakkan rapi di pangkuan, laptop terbuka, pulpen sudah siap. Ia datang lebih awal. Bukan karena terlalu percaya diri—tapi karena tak ingin napasnya tampak ngos-ngosan.
Dosen pembimbingnya menyesuaikan kacamata, lalu mulai berbicara.
“Bab tiga ini harus dirombak, Qale.”
Qale mengangguk. “Baik, Bu.”
“Metodenya kurang tajam. Kamu terlalu berhati-hati.”
Qale mencatat. Tangannya sedikit bergetar, tapi tulisannya tetap rapi.
“Bab empat—data kamu menarik, tapi analisisnya dangkal. Ulangi.”
“Baik, Bu."
“Dan kesimpulan… ini belum menjawab rumusan masalah.”
Qale menarik napas dalam. Mengangguk lagi.
Tidak ada air mata. Tidak ada protes.
Dosen itu menatapnya sekilas. “Kamu masih sanggup?"
Qale tersenyum sopan. “Sanggup.”
“Jangan memaksakan diri. Tapi jadwal sidang skripsi tidak menunggumu... Kalau mau wisuda ya kudu kejar sendiri.”
“Saya tahu, Bu.”
Pertemuan itu berakhir dengan daftar revisi yang panjang. Saat keluar ruangan, langkah Qale masih stabil. Tapi begitu sampai koridor sepi, ia berhenti.
Napasnya tersangkut di tenggorokan.
Bukan mau menangis—lebih seperti dadanya penuh oleh sesuatu yang tak tahu harus dikeluarkan lewat apa. Kesal, pusing dan lainnya.
Ia mengirim pesan singkat. Ke Dewi.
"Kak, aku selesai bimbingan."
"Gimana?"
Qale mengetik lama. Lalu menghapus. Mengetik lagi. "Revisinya banyak."
Titik.
Beberapa detik kemudian, Dewi menelepon seperti tahu persis apa yang terjadi.
Qale mencoba bicara. Tapi yang keluar hanya helaan napas panjang.
“Di mana, Nyah?”
“Di lorong kampus, mau ke parkiran.”
“Pulang?”
Qale menggeleng, padahal Dewi tak bisa melihat. “Aku… mau ke tempat lain.”
“Ke mana?” suara Dewi terdengar tak stabil, dia setengah berlari, kuatir majikannya jatuh karena kelelahan.
.
.