Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Bonekaku
Qale menatap boneka itu. Tenggorokannya tercekat. Wajah boneka itu telah memudar, bajunya kusut dan lapuk, benang-benangnya terburai. Tapi bentuk tubuhnya—bulat di kepala, kaki pendek, dan tangan kaku—sama persis seperti dalam foto lama bersama ibunya.
Satu matanya bolong. Cuma tersisa lubang bening.
Dia mengangkat boneka itu perlahan dari dalam buffet. Jantungnya berdebar pelan—menekan, dalam dan dalam.
“Aku ingat kamu…” bisiknya. Napas Qale tercekat, menyelip di antara pangkal tenggorokan.
Lalu, di bawah tempat boneka itu tergeletak tadi—selembar kertas, menggulung lembut di pinggirannya. Qale menyentuh permukaannya dengan jari gemetar.
Lukisan itu menggambarkan kolam alami di tengah tanah lapang, pohon besar di sudut kanan, dan jejeran kandang kayu tua yang menghitam di sisi kiri, tempat sapi ayahnya dimandikan.
“Aku ingat tempat ini,” suara Qale sangat lirih.
Belum sempat mengatur napas, terdengar suara dari arah belakang. Qale perlahan bangun, mengikuti.
Qale berdiri mematung, melihat Wafa sedang duduk di kursi roda, baru masuk rumah. Wajahnya tenang, seperti biasanya.
“Kakak tahu semua ini?” Qale menunduk, suaranya gemetar.
“Darimana Kakak punya ini?” tanya Qale pelan. Boneka tergenggam di tangannya. Juga lembaran gambarnya.
Wafa menunduk. Tidak menjawab.
Kenapa Kakak simpan semuanya?”
Wafa tetap membisu. Jemarinya kaku di roda kursi, seolah enggan bergerak.
“Kakak tahu semua ini?” Qale menunduk, suaranya gemetar.
“Siapa kamu sebenarnya, Kak?” Nada Qale mulai meninggi. Dengan napas memburu dan tatapan kecewa, Qale berkata, “Kak Wafa yang bikin aku lupa? Yang tutup semua ini dariku?!”
Wafa masih diam.
Qale melempar boneka ke lantai. Air matanya mulai jatuh. “Aku capek. Aku cuma pengen tahu siapa aku….”
Wafa menggenggam roda kursinya pelan. "Sya ... aku cuma nyimpan. Karena cuma itu yang bisa aku lakukan waktu itu."
Qale terpaku. “Waktu itu … kapan?”
Wafa menghela napas panjang. “Waktu ibumu meninggal. Aku datang terlambat ke pemakamannya. Kamu nggak mau ngomong sama siapa pun—cuma aku yang bisa deketin kamu.”
Dia berhenti sejenak.
“Mbak Mun yang nyerahin boneka itu diam-diam. Dia bilang, 'Ini punyanya Non Qale. Kalau nanti dia bicara, tolong kasih lagi.' Tapi kamu nggak pernah ngomong … bungkam. Sampai akhirnya aku bawa kamu pulang.”
Qale memejamkan mata. Tubuhnya lunglai, dia jatuh terduduk, lemas.
“Kamu inget, waktu pertama kali kita tinggal di rumah ini? Kamu suka nyari kolam ... malamnya kamu ngigau.”
Wafa menatap boneka yang kini tergeletak.
“Kamu sering manggil satu nama.”
“Tata,” bisik Qale. Dia menggenggam boneka itu lagi, tangannya bergetar.
Wafa mengangguk pelan. “Tiap malam.”
Sunyi menyelubungi mereka. Wafa menatap Qale penuh iba.
“Sejak itu, aku mulai nyari tahu. Bukan cuma tentang kamu, tapi semuanya ... kenapa kamu bisa sebegitu shocknya.”
Qale mengangkat kepala. “Kakak mencurigai seseorang?”
Wafa mengangguk sekali. Lalu mendekatkan tubuhnya. "Tapi belum cukup bukti. Dan aku nggak mau kamu tahu sebelum kamu siap."
Qale menggigit bibir. “Aku udah siap sekarang.”
Belum sempat Wafa menjawab, ponsel Qale bergetar. Notifikasi dari akun anonim masuk.
["Sudah ketemu sama bonekanya? Ada yang kurang, kan?"]
Qale menatap boneka itu. Dia mengangkatnya pelan, membalik dan memeriksa tubuh lusuhnya. Boneka itu tampak polos ... terlalu polos.
Tak ada pita di kepala, tak ada renda di leher seperti yang biasa dilihatnya di foto lama. Ada sesuatu yang hilang.
Dan saat itulah... sekelebat bayangan muncul. Ingatannya meloncat—pada malam ia mendorong Mbak Mun di kamar, saat Mbak Mun menghindarinya.
Qale melihat sesuatu di atas kasur Mbak Mun sebelum ditarik sang ayah. Napas Qale tercekat. Boneka itu bukan cuma boneka.
Ini saksi. Ini bukti. Ini penghubung antara dirinya, ibunya ... dan Tata.
Tiba-tiba segalanya terasa runtuh. Air matanya tak bisa lagi ditahan. Ia menunduk, menggenggam boneka itu begitu erat hingga jarinya memutih.
"Bonekaku yang hilang," isakan Qale terdengar pilu.
“Jadi... ini bonekaku dulu?” bisiknya, parau, nyaris tanpa suara.
Wafa yang duduk tak jauh darinya hanya bisa menatap—diam, tak kuasa mendekat.
Qale menyeka wajahnya, tapi air mata terus tumpah. Tangisnya pecah—bukan karena menemukan bonekanya, melainkan kehilangan yang selama ini terselip diam, dan kini muncul dengan dentuman besar di dadanya.
“Kenapa semuanya disimpan dari aku, Kak? Kenapa kalian semua ambil bagian paling penting dari hidupku?”
Wajahnya penuh air mata. Tubuhnya menggigil halus. Dia menoleh pada Wafa yang duduk tak jauh dari sana.
Kak…” suara Qale serak, seperti tenggelam. “…ini … punyaku, kan?”
Wafa hanya menatap, sorot matanya mengandung seribu penyesalan bercampur iba.
“Pelan, Sya. Pelan ya…” suaranya nyaris bergetar, netranya mengamati Qale lekat-lekat. Wafa khawatir.
Tapi Qale sudah berguncang hebat. Dia memeluk boneka itu, menekuk tubuhnya nyaris menyentuh lantai dengan tangis yang kian jelas.
"Jadi ... Aku memang pe—"
"Sya ...." Wafa tak tega, ingin memeluk raga ringkih sang istri. Tapi belum waktunya Qale tahu kondisinya yang sebenarnya.
.
.