Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Lamaran Bakar
Sepekan berlalu dengan cepat.
Hari itu Qalesya pulang dari kampus dengan langkah ringan. Matanya berbinar, pipinya merona, dan napasnya terdengar sedikit terburu-buru bukan karena lelah, melainkan karena bahagia.
“Mas,” katanya begitu masuk rumah. “Aku ACC.”
Wafa yang sedang membuka laptop langsung menoleh. “ACC?”
“Dospem. Langsung.”
Qale tertawa kecil, nyaris tidak percaya. “Aku sudah siap debat panjang, Mas. Tapi beliau cuma baca sebentar, tanya satu-dua hal… terus bilang, ‘Kita jadwalkan sidang.’”
Wafa berdiri. Mendekat. Tangannya refleks memegang bahu Qale—bukan untuk merayakan, melainkan memastikan.
“Kapan sidangnya?”
Qale menyebut tanggalnya. Tidak terlalu dekat. Beberapa pekan lagi. Setelah lamaran Bakar dan Ria.
Wafa mengangguk. “Oke.”
Hanya itu. Tidak ada sorak, tidak ada pelukan berlebihan. Qale tahu—ini bukan karena Wafa tidak senang. Justru sebaliknya. Suaminya sedang siaga penuh.
Sejak hari itu, Wafa mulai jarang ke kantor full di jam kerja. Datang pagi, pulang lebih cepat. Beberapa hari bahkan bekerja dari rumah. Ia mengatur jadwalnya mengitari Qalesya: jam makan, jam istirahat, jam rebahan.
Qale terlalu bersemangat. Dan tubuhnya—tidak selalu sepakat dengan keinginan itu.
Keesokan hari.
Rumah Ria ramai. Lamaran digelar sederhana, setelah jam kerja. Tidak ada dekor berlebihan. Hanya keluarga dekat dan suasana hangat.
Bakar datang dengan rombongan keluarga Wafa juga Daniel. Wajahnya tenang, meski matanya menyimpan gugup yang tidak bisa disembunyikan.
Hantaran disusun satu per satu.
Kue spesial buatan Qalesya—yang prosesnya lebih banyak ia arahkan sambil duduk, bukan mengaduk sendiri. Perlengkapan wanita yang dipilih dengan cermat. Dan sebuah gelang emas—sederhana, tapi jelas niatnya.
Qalesya duduk agak di belakang. Wafa di sisinya. Satu tangan Wafa tidak lepas dari punggung istrinya.
Lamaran diterima oleh paman Ria. Suaranya tegas, penuh wibawa.
“Kami terima niat baik ini. Pernikahan akan dilangsungkan setelah Nyonya Qalesya melahirkan,” katanya bijak. “Dan setelah bayinya cukup kuat diajak bepergian. Dua atau tiga bulan lagi.”
Bakar mengangguk. Lega. Ini kesepakatan dia dan Ria, menghormati Qalesya dan Wafa sebagai support system terbaik mereka.
Ria menunduk, matanya berkaca-kaca.
Qale tersenyum lebar. Bahagia itu nyata. Tapi tubuhnya mulai memberi tanda. Awalnya hanya napas yang terasa pendek. Lalu dadanya mengencang seperti dihimpit banyak bantal.
Wafa langsung menyadari. Ia tidak bergerak panik. Hanya mendekatkan kursinya, menutup sebagian tubuh Qale dari keramaian.
“Sayang,” bisiknya. “Tarik napas. Pelan.”
Qale mengangguk, tapi matanya mulai berkaca. Tangannya mencengkeram lengan Wafa.
“Mas… sesak.”
Wafa mengusap punggungnya berirama. Satu kali. Dua. Tiga kali.
Ia tidak bertanya. Tidak menegur. Tidak menyuruh orang lain. Ia sabar, berusaha tenang.
“Aku di sini,” katanya pelan. “Dengerin suaraku.”
Beberapa menit kemudian, Qale mulai tenang. Bahunya turun. Napasnya lebih teratur.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Qalesya benar-benar kelelahan. Ia hampir tidak sempat berganti baju sebelum akhirnya tertidur setengah duduk di ranjang.
Wafa membetulkan posisi bantal. Menarik selimut. Mematikan lampu utama, menyisakan cahaya kecil.
Ia duduk di tepi ranjang cukup lama. Mengusap rambut istrinya yang lembap oleh keringat.
“Kamu luar biasa hari ini,” bisiknya—bukan untuk dibalas, tapi untuk didengar tubuh yang lelah itu.
Malam semakin larut.
Wafa tidak tidur nyenyak. Ia terbangun tiap satu-dua jam, memastikan napas Qalesya stabil, perutnya tidak kembali mengeras.
Ia rela kurang tidur. Karena bagi Wafa, menjaga istrinya tetap tenang jauh lebih penting daripada esok yang melelahkan.
Ia siaga dalam diam—lewat kesabaran, kewaspadaan, dan kesediaan untuk terjaga demi satu perempuan yang sedang membawa seluruh masa depan mereka.
***
Pagi itu Wafa bangun tapi Qalesya masih tidur, wajahnya damai, tapi pengalaman semalam menempel di kepalanya seperti bayangan seram yang enggan pergi.
“Kontrol hari ini,” katanya pelan saat Qale membuka mata.
Bukan bertanya. Langsung memutuskan.
Qale tidak membantah. Ia tahu, ketika Wafa sudah seperti itu—tenang tapi tegas—berarti memang perlu.
Perjalanan ke klinik dilalui dalam sunyi yang hangat. Wafa menyetir dengan satu tangan, tangan satunya sesekali meraih jemari Qale. Tidak digenggam kuat. Hanya menciumi.
Di ruang tunggu, Qalesya duduk bersandar. Perutnya tampak lebih menonjol hari ini, atau mungkin Wafa saja yang lebih peka.
“Semalam itu kontraksi palsu,” kata dokter setelah memeriksa. Nada suaranya ringan, menenangkan. “Biasa terjadi di trimester akhir, apalagi kalau ibunya capek dan stres.”
Wafa mengangguk, tapi alisnya masih mengerut. “Bahaya, Dok?”
“Selama tidak teratur dan tidak disertai pembukaan, aman. Tapi…” dokter melirik Qale sambil tersenyum kecil, “ibunya harus mulai lebih jinak.”
Qale nyengir. “Saya jinak, Dok. Cuma skripsi saya yang galak.”
Dokter tertawa. “Nah, itu dia.”
Wafa lalu membuka topik yang sejak tadi ia simpan. “Soal sidang,” katanya. “Boleh, Dok?”
Dokter menatap Wafa, lalu Qale. “Kapan?”
Qale menyebut tanggalnya.
“Sidang boleh,” kata dokter setelah jeda singkat. “Asal duduknya tidak lama, bawa bantal kecil, minum cukup, dan setelah itu langsung pulang. Tidak ada euforia berlebihan.”
Wafa mengangguk serius, mencatat di kepalanya.
“Kalau terasa tegang lagi?”
“Berhenti. Ke RS. Jangan sok kuat,” jawab dokter tegas tapi ramah. “Ingat, ini bukan cuma soal gelar. Ada bayi yang ikut kerja rodi di dalam sana.”
Qale mengusap perutnya, tertawa kecil. “Maaf ya, Nak.”
Detak jantung bayi terdengar jelas. Teratur. Kuat.
Wafa menghembuskan napas panjang—baru kali itu ia merasa benar-benar bernapas sejak semalam.
Di perjalanan pulang, Qale menyandarkan kepala ke bahu Wafa.
“Mas,” katanya lirih. “Kalau aku kenapa-kenapa pas sidang—”
“Jangan lanjutkan,” potong Wafa lembut. “Kita jalani pelan. Kalau kamu lelah, kita berhenti. Sidang bisa diulang. Kamu nggak.”
Qale diam. Matanya berkaca, tapi bibirnya tersenyum. Ia sadar, di tengah semua target dan tenggat, ada satu hal yang tidak boleh ia paksakan lagi.
Dan Wafa—dengan kecemasannya yang diam-diam—akan selalu jadi orang pertama yang mengingatkan.
***
Kandungan Qalesya masuk bulan ke delapan. Perutnya besar, langkahnya pendek-pendek, napasnya sering tersengal. Tapi matanya—mata itu—menyala setiap kali menyebut satu kata: sidang.
Hari itu datang juga.
Wafa mengantar Qale dengan tas kecil di tangan: air minum, bantal leher, cokelat, kipas portabel. Semua ia cek dua kali.
Ruang sidang terasa dingin.
Wafa tidak diperbolehkan duduk di dalam—hanya berdiri di dekat pintu.
“Aku di sini,” bisiknya saat Qale hendak masuk.
Qale menunjuk kursi paling dekat meja penguji. “Aku di situ. Nggak lama.”
Wafa mengangguk. “Kalau perutnya apa-apa, langsung bilang.”
Qale tersenyum kecil. “Iya, Mas.”
Pintu ditutup.
Nyaris satu jam.
Bagi Wafa, itu seperti menunggu bantuan bencana Aceh yang tak kunjung datang. Ia berdiri, duduk, berdiri lagi. Tangan kirinya dingin. Tangannya yang lain mengepal.
Lalu suara tangis terdengar.