Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Bukti baru
Langkah kaki petugas itu bagai gema di rumah Hasan. Suara salam mereka membuyarkan kegaduhan yang baru saja terjadi. Hasan menyambut dengan wajah cemas.
Qale langsung ke kamarnya, sementara Wafa hanya menunduk hormat pada dua petugas itu, lalu menyusul istrinya.
“Maaf ganggu, Pak Hasan. Kami dari tim penyidik Polsek. Ingin bicara mengenai proses penyidikan ulang kecelakaan-kecelakaan istri Anda, Bu Rahayu,” ucap salah satu pria berseragam.
Hasan tercekat. Dia kikuk. “Silakan duduk ... Kita bicara di sana," tunjuknya ke sofa ruang tengah.
Sebelum duduk, ia memanggil Mbak Mun. Wanita itu datang tergesa, takut-takut menatap Hasan juga dua orang berwajah seram yang juga melihatnya.
“Jaga di depan, jangan izinkan siapa pun masuk.” Hasan berkata pelan.
Mbak Mun mengangguk dan bergegas ke depan rumah.
Di ruang tengah, Hasan duduk masih memeluk Lea yang mulai tenang dari ledakan emosinya semalam. Tubuhnya tetap gemetar, tapi tangisnya perlahan mereda.
Polisi ikut duduk. Salah satu dari mereka membuka map cokelat dan memulai.
“Ada beberapa temuan baru terkait malam kecelakaan yang menimpa istri Bapak.”
Hasan menatap mereka tajam. “Temuan seperti apa?”
“Kami menemukan bukti penting. Selain itu, ada saksi kunci yang kini sudah diamankan di tempat khusus,” ujar salah satu petugas, tenang.
Mata Lea dan Deni saling bertaut. Sorot mereka mulai gelisah.
“Untuk mendukung proses ini,” lanjut polisi, “kami juga butuh hasil visum lama dari rumah sakit."
Hasan terdiam. Jemarinya saling bertaut, napasnya mengeras.
"Ada kan, Pak? Mohon diserahkan hari ini, Pak Hasan," imbuh polisi melihat Hasan hanya diam.
Hasan menunduk, berpikir.
“Kalau Bapak tidak kooperatif,” lanjut sang petugas, “maka, mohon maaf, Bapak bisa dianggap menyembunyikan bukti. Bahkan masuk dalam daftar pihak yang diselidiki.”
Deni refleks bersuara. “Bukti apa aja, Pak?”
Petugas itu menoleh. “Banyak.”
Keringat mulai membasahi pelipis Deni. Tubuhnya tampak lebih tegang dari sebelumnya.
“Saksi utama kami bahkan menyebut bahwa kasus ini bukan murni kecelakaan,” lanjutnya. “Tapi dugaan tindak pidana.”
Lea menggigit bibir. Ia melirik Deni, lalu menunduk. Semua terasa semakin berat.
"Gimana, Pak?" lanjut si polisi.
"A-da, tapi lupa nyimpen, saya cari dulu, Pak." Hasan menjawab terbata.
"Baik. Besok kami butuh keterangan tambahan dari semua pekerja. Petugas akan ke peternakan. Dan keluarga Hasan Sasmita ... silakan datang ke kantor," pungkas mereka.
Glek! Semua orang yang ada di situ menelan ludah kasar.
Setelah para petugas pamit, Hasan bangkit pelan. “Kalian istirahat. Besok pagi kita siap-siap ke kantor polisi.”
Dia mencium dahi Lea sebelum masuk ke kamarnya. Sementara anak dan menantunya masih duduk di sana.
Hasan ingin mengetuk kamar Qale, berniat melihat kondisinya pasca terluka karena Lea. Tapi dia urungkan.
Malam itu Hasan tak bisa tidur. Dia berjalan ke arah dapur dan melihat dua bayangan di teras belakang. Lea dan Deni sedang bicara pelan, tapi gerak mereka gelisah. Lea mondar-mandir, sesekali menghentak kaki. Deni menggaruk kepala, seperti menimbang langkah.
Hasan memperhatikan diam-diam dari balik pintu kaca.
Lea ... tanpa kacamata.
Dalam remang lampu taman, Hasan bisa melihat mata putrinya dengan jelas. Tak ada gerak rabaan, tak ada langkah ragu.
Hasan memejamkan mata. “Apa ucapan Qale ... benar?” Kepalanya mendadak pening. Hatinya lebih berat lagi. “Rahayu ... dibunuh?” gumamnya.
***
Keesokan harinya, keluarga Hasan duduk di ruang tunggu Polsek. Semua tampak resah. Lea menunduk, Deni mondar-mandir kecil, Hasan berpangku tangan memijat pelipis.
Pintu ruangan interogasi terbuka. Seorang petugas keluar. "Silakan masuk," katanya.
Ketiganya saling pandang lalu masuk ke dalam bilik bercat serba hitam, disertai lampu gantung temaram. Hanya ada meja kotak dengan empat kursi di tengah ruangan. Juga kaca besar di salah satu dindingnya.
Qale datang beberapa menit terlambat bersama Wafa. Ia disambut petugas lain dan masuk ke ruangan berbeda dengan keluarganya.
Langkah Qale tegar. Tatapannya tenang, tapi tajam. Wafa menyusul pelan, duduk di samping istri yang ia lindungi dengan segenap jiwa.
Di dalam ruangan, satu per satu anggota keluarga diminta bicara. Gestur Lea dan Deni dikunci. Tak bisa banyak bergerak. Tak bisa sembunyi.
Beberapa pertanyaan ringan justru dijawab Deni dengan sulit, seperti sedang menata kalimat agar tidak dicurigai.
Sampai akhirnya—proses itu selesai. Polisi meninggalkan mereka.
“Sekarang mbak Qalesya, silakan masuk ke sana,” kata penyidik, yang berada di ruang lain bersama Qale.
Qale dan Wafa melangkah keluar dan masuk ke bilik dimana keluarganya berada. Udara seketika berubah suhu.
Dia memandang Deni, lalu Lea, satu-satu.
“Gimana?” katanya dingin. “Mau ngaku ... atau diseret?”
“GOBLOK!” Lea sontak berteriak. “CAPER! MALU-MALUIN KELUARGA!”
Qale tidak gentar. Ia berdiri tegak. “Halo, Om. Kita ketemu lagi,” ujarnya datar ke arah Deni.
Deni melotot. Mulutnya menganga. “Gak mungkin...”
“Apanya yang nggak mungkin?” balas Qale.
“Kamu halu!!” Deni menunjuk panik, setengah tertawa.
Qale menunjuk pergelangan tangan kiri Deni. “Di situ. Bekasnya ... masih.”
Hasan berdiri. “Bekas apa?” suaranya rendah tapi mengguncang.
Qale menatap ayahnya. “Ayah sekarang tahu, kan? apa motifnya, Yah?" katanya serak, ada tangis yang dia tahan.
Deni gusar, buru-buru menurunkan tangannya.
Terlambat.
Hasan maju, menarik lengan menantunya. Deni berusaha menepis, tapi Hasan lebih kuat. Lengan itu terbuka—dan samar, garis hitam melengkung terlihat samar di sana.
Hasan gemetar hebat. Menatap menantu dan anaknya bergantian.
“Kalian...?” bisiknya, tak sanggup menyelesaikan kalimat.
Semua membeku. Udara mendadak jadi tajam. Lea menggeleng pelan. Tatapannya dingin, seolah meminta agar ayah percaya, seperti selama ini.
Wafa berdiri dan menuntun Qale ke luar. Tapi di ambang pintu, Qale sempat menoleh dan berkata pelan:
“Kebenaran gak bisa ditutup selamanya.”
Hasan tak mengejar. Ia hanya berdiri ... dan tubuhnya perlahan jatuh ke kursi.
"Kutunggu kalian, hadapi aku...." imbuh Qale, wajahnya datar seolah bilang ~kita bukan saudara lagi
.
.