Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Tahanan Kota
Setelah kepergian Qale, ruangan itu sunyi. Hasan masih diam. Otaknya riuh berpikir mengapa ini terjadi? Dan Lea terlibat?
Kedatangan polisi ke ruangan itu membuat semua mata mengilat dengan kekuatiran masing-masing.
Namun, polisi mengatakan mereka boleh pulang. Tidak diperkenankan melakukan perjalanan ke luar kota dalam waktu 1 bulan ke depan.
Surat tahanan kota pun disodorkan pada ketiganya. Hasan tak bersuara. Dia hanya menerima, mengangguk pelan lalu berjalan keluar ruangan dengan gontai.
Sementara Lea dan Deni, dituntun Mbak Mun yang menyusul mereka.
Sesampainya di rumah pun, mereka masuk ke kamar masing-masing. Hasan langsung rubuh tepat saat pintu kamarnya tertutup.
Dia membekap mulutnya agar tangis itu tidak terdengar siapapun.
"Rahayu!" cicitnya pilu, memukul dadanya sendiri. "Inikah maksud suratmu, ketakutanmu terhadap keselamatan Lesa?"
"Ayah macam apa aku? Tidak peka dengan anak-anakku sendiri." Hasan tergugu, air matanya deras membanjiri pipi. "Aku sampai mengubah Lesa menjadi Qale, dia dingin terhadapku ... Dia paling sengsara karena kebodohanku," ungkapnya getir.
Dia memandangi poto dengan Rahayu di dinding kamar. Rasa bersalahnya kian besar.
"Maafkan aku, Ayu," bisiknya terpekur mencium lantai sambil tersedu.
Sementara di kamar Lea.
Pasangan itu saling diam, surat di nakas sudah mereka baca.
Kini, momen bahagia itu hilang. Berganti ketakutan akan perubahan status baru.
"Nggak bakal jadi tersangka, kalau ayah cabut berkas," kata Lea pelan.
"Mana bisa," sambut Deni menoleh ke istrinya.
"Qale!" Sorot mata Lea berbinar. Dia lalu gegas ganti baju dan mengajak Deni ikut serta.
Lea kemudian mengetuk kamar sang ayah. Lama, dia menunggu di depan pintu tapi tak menyerah hingga Hasan membukanya.
Tak ada suara yang keluar dari mulut Hasan. Lea langsung mengatakan maksudnya yang akan mendatangi Qale ke toko.
"Ayah harus ikut," katanya memaksa, menarik tangan Hasan.
"Buat apalagi?"
"Ayah harus percaya padaku, juga Deni ... Ayah bujuk Qale agar menarik berkas ini," ujarnya memohon. "Masa nggak kasian sama kita, mau bulan mad, kan?" rengeknya seperti biasa.
Hasan diam. Dia lelah. Tapi Lea terus memaksa. Dan mengeluarkan jurus andalannya.
"Ayah nggak sayang aku!" sentaknya sambil berbalik badan.
Hasan menghela napas. Kelemahannya menganggap Lea buta dan memanjakannya akhirnya menjadi bumerang.
Dia memanggil supirnya lalu mereka berangkat ke toko Qale.
Sesampainya di sana, Qale dan Wafa tampak sedang duduk di teras toko, minum kopi sambil tertawa-tawa.
Ketiganya turun dan langsung menyapa mereka. Pandangan Qale seketika berubah, meski dia menyilakan masuk tapi wajahnya tak sehangat tadi.
"Ada apa?" Wafa mewakili istrinya bertanya. "Sudah malam, baiknya lekas," sambungnya saat menyilakan Hasan duduk.
Hasan diam, meminta Lea langsung bicara.
"Cabut laporannya," kata Lea tanpa basa basi.
"Sebab?"
"Kecurigaan dan tuduhanmu tanpa bukti," sambung Lea.
"Ada bukti atau tidak, kuat apa nggak, itu polisi yang nentuin. Kalau nggak salah, ya ikuti aturan aja, sih," jawab Qale dingin, menatap tajam Lea dan Deni.
"Masih bego aja! Nggak tau malu beneran," kata Lea.
Hasan menghela napas. Dia menengahi perdebatan anaknya.
"Boleh, Qale?" tanyanya memandang sendu pada putri Rahayu.
Qale menggeleng. "Nggak mau."
"Kan, Yah. Blagu sekarang dia!" tuduh Lea, naik pitam, berdiri dan berkacak pinggang.
"Apa motifmu, hah?" Qale balik balas. "Haus perhatian? Kamu kan yang iri sama aku!"
"Iri soal apa?" Lea tertawa. "Aku lebih cantik darimu. Pintar dan berbakat."
Qale tertawa. Tawa sinis. "Iri karena aku dicintai oleh Ibu dan ayah ... Aku hepi, aku membaur," balasnya lugas.
Lea terdiam.
"Makanya kamu celakai ibu, kan? Agar aku kehilangan sepertimu ... Atau kamu mau lenyapkan aku tapi malah ibu jadi sasaran?"
"Bonekaku hilang ... Ibu mencariku. Boneka ku penuh lumpur, ibu kira aku tenggelam ... Makanya ibu masuk ke kolam, berenang meskipun dia tidak bisa berenang, panik takut aku kenapa-kenapa."
Qale menjeda, air matanya ja tu h.
Lea diam, tangannya mengepal.
"Dia ... Dia. Cinta mati padamu makanya mau kau suruh." Telunjuk Qale mengarah lurus pada Deni.
Hasan membeku, dia sudah menduga ini. Namun, dia hanya menunduk, bahunya bergetar.
"TEGA KAMU, KEJAM! AKU BENCI KALIAN! PERGI!!"
Lea terhenyak. Kata-kata Qale seperti belati, menusuk pelan tapi dalam.
Wafa langsung berdiri, menahan bahu istrinya yang kini bergetar hebat. "Cukup," ucapnya pendek, tatapannya mengunci wajah Lea dan Deni.
Hasan masih duduk. Membatu. Ia bahkan tak bisa menoleh ke mana pun. Tubuhnya lunglai, jiwanya hancur tak bersisa.
"Kenapa baru sekarang bilang, Lesya?" suara Hasan akhirnya keluar. Lirih. Lelah. Dan penuh sesal.
Qale menunduk. "Karena butuh waktu buat berani mengingat. Butuh luka lain agar aku sadar luka lama masih berdarah."
Tak ada yang bicara setelahnya. Bahkan Lea memilih diam. Hanya desis napas dan bunyi detak jam dinding yang menggantung hampa di udara.
“Mulai sekarang,” ujar Qale, berbalik dengan wajah datar. “Anggap aja aku bukan anakmu lagi.”
Hasan menoleh. Matanya basah. "Qale,” panggil Hasan pelan, seperti memanggil bagian hidupnya yang selama ini dikubur.
“Aku bukan bagian dari keluarga ini,” lanjut Qale tegas, air matanya menetes satu-satu.
Qale lalu melangkah ke dalam toko. Wafa mengekor, hendak menyusul, tapi ia sempat menoleh pada ketiganya. Sorot matanya berkata jelas : Jangan pernah datang lagi.
Hasan terdiam. Napasnya patah-patah.
Lea menggertakkan giginya. Deni menarik pergelangan tangannya dan membisikkan, “Jadi nasib kita gimana?”
Lea tidak menjawab.
Ia hanya menatap kosong ke arah pintu yang tadi ditutup Qale.
Lama.
Matanya buram, dan untuk pertama kalinya... ia terlihat benar-benar takut
.
.