Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Terbongkar
“Jadi nasib kita gimana?” tanya Deni, membisik pada Lea saat mereka duduk kembali di ruang tamu rumah Hasan yang kini terasa dingin dan kosong.
Lea tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjang, seolah pikirannya sedang bekerja keras mencari celah.
Beberapa jam kemudian, setelah makan malam yang dingin dan hening, Lea mengetuk pintu kamar ayahnya.
“Ayah ... aku mau ke rumah peristirahatan keluarga Deni, ya. Masa bulan madu ngerem di sini?” ucapnya lirih, mencoba manja seperti dulu.
Hasan membuka pintu, tak langsung menjawab. Wajahnya tampak letih. “Kamu tuh ... tahanan kota, Nak. Mau pergi ke mana pun, harus izin.”
Lea mendengus. “Kalau ayah mau cabut laporan Qale, kan semuanya beres.”
Hasan tak menjawab. Hanya menatap keluar, melihat koper mereka.
Ada yang tak bisa dia pecahkan : kenapa Qale bisa mengingat semua kejadian malam itu? Kenapa semua potongan yang sempat ia abaikan, justru kini terasa seperti serpihan fakta yang menyakitkan?
Setelah keributan hari itu, rumah Hasan kembali sunyi. Tapi keheningan itu bukan damai—melainkan kaku dan menyesakkan.
"Nggak. Jangan bikin gara-gara dulu," sahut Hasan, menutup pintu kamarnya.
Lea kecewa, kembali ke kamarnya bersama Deni sambil menghentakkan kaki. Surat penahanan kota masih tergeletak di atas nakas. Ia berkali-kali membaca ulang isinya, tak percaya bulan madu impiannya berganti jadi pembatasan wilayah.
“Ayah harus urus ke kantor polisi. Minta izin. Bilang aja kita mau honeymoon,” gumam Lea.
“Tapi suratnya udah jelas, Sayang,” ujar Deni, tegang.
Lea berdesis. “Gak bakal dikabulin, kecuali ayah lobi.”
***
Keesokan paginya, risih didesak Lea setiap jam, Hasan mendatangi kantor polisi.
Ia bertemu dengan penyidik yang sebelumnya datang ke rumahnya. Wajahnya letih, tapi langkahnya mantap. Hasan ingin menyelesaikan semuanya—dengan cara damai, kalau bisa.
“Saya mau ajukan izin. Anak saya dan menantunya mau melakukan perjalanan, urusan keluarga,” kata Hasan.
Penyidik membuka map dan membaca berkas. Lalu menggeleng.
“Maaf, Pak Hasan. Untuk kasus ini, tahanan kota artinya tidak boleh melakukan perjalanan. Dan dalam hal ini, kami tidak bisa beri izin. Kecuali ...” — ia menatap tajam Hasan — “... saksi kunci dalam perlindungan kami mengizinkan.”
Hasan menahan napas. “Siapa saksi kuncinya?”
Petugas itu tak menjawab.
“Tolonglah ... saya cuma ingin tahu." Hasan memelas. "Jangan-jangan ... saksi itu anak saya sendiri?” ucapnya ragu.
Hening.
Penyidik tak langsung menjawab, tapi akhirnya mengangguk pelan. “Maaf, top secret .”
Hasan mengatup bibir. Harapannya musnah. Dunia seakan berputar lambat.
"Beliau sudah dalam perlindungan kami. Dan Pak Hasan...” penyidik menatap tajam, “...kalau Anda atau siapa pun mencoba mengganggu atau memanipulasi saksi, konsekuensinya berat.”
Hasan mengangguk pelan. “Saya hanya ingin bicara. Sekali saja. Untuk minta izin.”
Permohonan Hasan ditolak. Dia pun pulang dengan hampa. Tapi, tak langsung pulang, Hasan memutuskan ke toko Qale. Mobilnya di parkir jauh, agar bisa melihat keseharian putrinya dari jarak aman.
Dia menunggu beberapa jam hingga petang. Setelah Maghrib dan toko tutup, Hasan berdiri lagi di depan toko Qale.
Tidak ada Wafa. Toko tampak tenang, nyaris sepi. Dari balik tirai, terlihat cahaya remang dan siluet Qale duduk sendirian.
Hasan mengetuk perlahan. Beberapa menit hening, akhirnya Qale membukakan pintu. Tak berkata apa-apa, tapi membiarkan ayahnya masuk.
Qale berdiri bersandar di meja kasir. Tangannya bersedekap.
“Ayah ... cuma pengin bicara,” Hasan mulai. Suaranya serak, dia duduk menghadap Qale.
“Ayah tahu, kamu kecewa. Marah. Dan ... mungkin juga benci sama semua orang di rumah itu. Tapi tolong, pertimbangkan lagi soal laporanmu.”
Wajah Hasan penuh harap. “Ini soal nama baik keluarga kita. Ayah ... dikenal banyak orang. Pelanggan percaya sama usaha kita. Kalau ini tersebar ... semua bisa hancur.”
Qale menatapnya. Matanya dingin. “Jadi ... itu saja alasan ayah datang?”
Hasan menunduk. Ada jeda sunyi sebelum akhirnya ia berbisik, “Maaf.”
Qale terdiam.
“Ayah gak bisa tidur beberapa malam ini. Setiap pejam mata, yang muncul wajah almarhum ibumu ... dan kamu, Lesa. Kamu yang dulu kecil, polos, selalu nempel sama ibu,” suara Hasan bergetar. “Kalau kamu marah ... silakan. Tapi ayah ingin kamu tahu ... ayah nggak pernah benci kamu.”
Hening.
Qale menunduk. Bibirnya bergetar, tapi masih bisa ditahan. “Aku gak butuh ayah benci atau sayang,” suaranya serak. “Aku cuma pengin dimengerti.”
“Iya ... ini bukan buat bela Lea atau Deni. Tapi buat menebus kesalahan ayah ke kamu dan ibumu.” Hasan masih membujuknya.
Qale tetap diam. Tatapannya kosong.
Hasan lanjut, bersuara lirih, “Ayah tahu kamu kecewa. Tapi kamu tahu, Lesa ... waktu ibu meninggal, ayah juga ikut mati. Tapi ayah gak bisa tunjuk siapa. Gak ada jawaban.”
Ia menatap anaknya lekat-lekat. “Kamu benci ayah?”
Qale menghela napas. “Aku kecewa. Itu ... lebih sakit dari benci.”
“Ayah ini ... bingung,” lanjut Hasan pelan. “Apa salah ayah? Apa benar ... kamu sebenarnya ingat semua?”
Dia memejam, ayahnya masih ragu. Namun, Qale pun menceritakan semuanya.
Tentang boneka yang hilang. Teriakan panik ibunya. Juga ... tubuh ibunya yang ia lihat mengambang tak bergerak.
"Bonekaku hilang ... Ibu nyari aku. Teriak-teriak panik. Ibu kira aku tenggelam. Ibu lari ... nyebur ke kolam ... padahal dia gak bisa renang.”
Qale memejamkan mata. Air matanya mulai jatuh.
“Waktu itu ... aku ngumpet di balik pohon. Aku lihat ibu teriak ... lalu turun ke kolam ... lalu ... hilang.”
Tangisnya pecah.
“Aku mau lari minta tolong. Tapi bahuku ditahan seseorang. Tiba-tiba aku tidur, , kepalaku sakit sekali. Dan ketika bangun, semuanya udah telat!”
Hasan membeku. Napasnya tercekat.
“Kenapa gak ada yang dengar teriakan ibu waktu itu?” isak Qale. “Kenapa gak ada yang nyari aku juga?”
Matanya menatap Hasan tajam. Suaranya tercekat.
"A-ku ingat semuanya. Aku sambungkan semuanya ... hasil visum ibu, yang Kak Wafa simpan, aksesoris boneka yang lepas, kotor dan semua petunjuk itu."
“Kenapa ayah gak percaya dari dulu? Bahwa Lea nggak buta? Bahwa dia yang bohongin semuanya? dan aku ... aku harus kehilangan ibu.”
"Lea iri sama aku. Semua orang suka Qalesya, semua sayang aku jadi dia tak terlihat ... gitu, kan!!"
Tangis Hasan pecah. “Maafin ayah ... Lesa... Ayah tahu...” gumamnya di sela isak, “Ayah salah. Salah besar. Tapi... tolong ... kalau pun dendam, jangan hancurkan dirimu sendiri dengan cara ini, Lesya.”
Qale memandangnya. Matanya bengkak. Tapi suaranya tajam, jernih.
“Ini bukan dendam,” katanya. “Ini ... caraku menolong ibu mendapatkan keadilan. Dan caraku menolong diriku sendiri keluar dari lubang yang kalian gali sama-sama.”
Hasan berdiri, ingin memeluknya. Tapi Qale mundur. Menjaga jarak.
“Jangan dulu,” katanya pelan, menunduk.
Hasan mengangguk lemah. “Baik. Ayah paham.”
Ia melangkah ke pintu. Membukanya, memberi isyarat lembut : cukup sampai di sini.
"Pulanglah, Ayah,” katanya pelan. “Kita butuh waktu. Sama-sama.”
Dan untuk pertama kalinya, Hasan tahu rasanya jadi orang asing di mata anaknya sendiri. Hasan pergi dengan dada sesak.
Di dalam toko, Qale bersandar ke dinding. Menutup mata. Tangannya menyentuh dadanya sendiri—tempat di mana luka itu kini sudah menganga, tapi tak lagi dia pendam.
Di parkiran, Wafa berpapasan dengan Hasan. Ia berhenti. Menyapa mertuanya.
“Pak Hasan ...” katanya pelan, saat Hasan menoleh. “Nggak penasaran ... kenapa aku bisa kenal sama Bu Rahayu?”
Hasan terpaku. Bibirnya setengah terbuka. Tapi tak ada suara keluar.
Wafa tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Nanti saja. Kalau Pak Hasan sudah siap.”
Lalu ia masuk, meninggalkan Hasan berdiri membeku di depan toko.
.
.