Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Ancaman
Wafa hanya tersenyum saat Hasan bertanya di mana mereka pertama kali bertemu. Senyumnya tak menjawab, hanya memberi hormat sopan sambil mengetuk pintu toko.
Pintu terbuka dari dalam. Qale berdiri mematung sejenak. Pandangannya sekilas melihat Hasan, tapi tak ada ucapan keluar. Hanya sebuah isyarat kepada Wafa untuk masuk.
Wajahnya menunduk dalam. Bekas air mata masih menggenang di kelopak matanya yang sembab.
“Sya…,” lirih Wafa, “...ayah bilang apa?” sambungnya melihat Qale sendu.
Qale tak langsung menjawab. Ia memperhatikan raut wajah suaminya yang kuatir. Wafa memajukan kursi rodanya, tapi berhenti saat Qale mulai bicara sendiri.
“Aku salah, ya?” suara Qale nyaris tak terdengar.
Dahi Wafa mengernyit. Dia bertanya, "Salah soal?"
“Salah karena nggak nurut ayah?" Suaranya mulai serak dan berat. "Aku durhaka? Seret keluarga sendiri ke penjara?”
Qale menunjuk ke arah luar, entah ke mana. Tangannya bergetar, tapi suaranya makin berat. Tidak ada teriakan, tidak juga amarah. Hanya keluhan sendu yang menyayat. Seperti luka lama yang akhirnya menganga seluruhnya.
"Aku ... aku ... katanya anak sial dan beban keluarga," ucapnya lagi. "Mataku ... Ini, Tata ... Ayah hanya liat mata Lea, tidak dengan mataku." Qale menunjuk matanya.
Qale jatuh, syaraf matanya cedera sementara Lea dinyatakan buta. Tapi, hanya Lea yang mendapatkan perawatan optimal, tidak dengannya.
Wafa diam. Tak memotong, tak menghampiri. Hanya memandang.
“Kenapa aku nurut aja sih, Tata?” lirihnya lagi. "Aku diam saat dibully, aku terima ... kupikir ini imbalan karena menyebabkan Lea buta."
"Tapi, dia ..." Qale menunjuk keluar lagi. "Dia bohong. Dan aku ... aku menanggung semua sendiri," kata Qale, air matanya deras membasahi pipi.
“Aku begini demi ibu. Bukan buat nama baik. Aku cuma pengen Lea jujur. Bukan niat bikin ayah malu ... Tapi biar dia berhenti sembunyi. Dia jahat.”
Ucapan Qale tenang, tapi sorot matanya penuh kecewa. Dia mengusap kedua lengannya, seolah menenangkan diri sendiri.
Sejenak hening. Wafa belum berani mendekat. Dia tahu, Qale butuh waktu, masih banyak yang dia pendam.
Suara tenang Wafa terdengar. “Apa yang akan kamu lakukan kalau bisa kembali ke waktu itu?” Wafa akhirnya bertanya, masih lembut seperti biasanya.
Qale menggeleng. Ia menarik napas panjang, suara seraknya makin jelas. “Balik ke waktu itu, aku cuma mau nempelin ibu ke mana pun dia pergi ... Semua ini bakal tetep terjadi, tapi aku lebih siap.”
Wafa tersenyum tipis. Dia mengangguk. "Nyesel, nggak?"
"Nggak. Jangan nyusahin malaikat buat ngedit naskah Tuhan. Kita cuma aktor, bukan penulis skenario. Protes mah boleh, tapi gak usah nyalahin naskah-Nya.”
Wajahnya tersenyum tapi air matanya makin deras.
“Aku ikhlas, Tata. Aku waras, kan?”
Wafa terkekeh. Dia berani mendekati Qale. “Banget,” katanya sambil memeluk tubuh istrinya dari samping. “Waras yang rapuh, tapi waras.”
Ia menepuk-nepuk lembut punggung Qale, lalu mengajaknya keluar toko sebentar. Jalan menyusuri trotoar dan berhenti di tukang asongan, memesan sesuatu.
Keduanya duduk menikmati jalanan malam sambil meneguk pelan minuman hangat.
“Minum susu coklat, terus tidur. Besok mungkin hari yang panjang lagi.” Wafa menyodorkan gelas kecil ke hadapan Qale, lalu mengusap pucuk kepalanya.
Qale diam, menuruti lelaki disampingnya ini. Dia yang tidak pernah pergi, bukan menghakimi tapi membiarkannya jadi diri sendiri lalu ditenangkan.
"Tata." Batin Qale.
***
Keesokan harinya
Polisi datang pagi-pagi ke toko anak lipat membawa surat pemberitahuan.
“Sidang akan digelar dua minggu lagi. Kami harap Saudara Qale bersedia hadir tepat waktu karena keterangannya cukup penting.”
Wafa menatap Qale yang hanya mengangguk tenang.
Beberapa jam setelahnya, sebuah email masuk. Wafa pamit pergi saat Qale membaca seksama.
Dari pihak universitas. Skorsing Qale resmi dicabut. Ia boleh kembali kuliah. Dia membalas langsung dan mengajukan pengalihan jam mata kuliah, tapi langsung di tolak dengan alasan konfirmasi lebih dulu ke sekretariat.
Qale membayangkan jika harus hadir di kelas. Itu berarti, menelan tatapan sinis dari teman, dosen, bahkan staf kampus. Semua seolah berkata : anak durhaka, pencemar nama besar keluarga.
Malamnya, Wafa mengatakan tak kembali ke toko. Tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel Qale. Tanpa nama. Hanya nomor asing.
“Kalau kau tetap bicara di sidang … bersiaplah kehilangan sesuatu yang akan kau sesali.”
Qale membeku. Matanya tak lepas dari layar.
Hening.
"Apalagi, sih?"
Tuuutt. Sebuah panggilan masuk. Qale langsung menjawabnya. "Ya, Mbak, ada apa?"
"Non, tolongin...."
.
.