Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Status Deni dan Lea

Pintu toko baru saja ditutup Elan. Memasang tanda closed. Berjaga agar konflik keluarga ini tidak jadi konsumsi publik. Meski dirinya tak tahu apapun.

Ibu Deni menatap dingin pria asing ini. Dia mewanti agar Elan tak ikut campur urusan mereka.

"Siapa kamu!" tanyanya dengan mata menyalak.

"Malaikat Amaludin," jawab Elan singkat tanpa melihat wajah ibu Deni. Dia memilih berdiri di kusen pintu penghubung ke dapur, bersedekap.

Qale meletakkan ponselnya di atas etalase. Dia mencoba menanggapi dengan sabar. "Duduk, Kak, Nyonya," katanya sambil menunjuk kursi tak jauh dari mereka.

Ajakan itu diacuhkan. Lea menuding wajah Qale. "Cabut perkara!" sentak Lea. Telunjuknya menyentuh dahi Qale. 

"Muka polos kelakuan iblis!" maki ibu Deni, sambil memegangi lengan Lea.

Qale masih diam. Dia menghargai Lea di depan Ria dan Elan. Membalas pun percuma, hanya menambah kebenciannya nanti. 

Sembuh dan menerima ingatan masa lalu saja menguras energi, apalagi soal kecewa. 

Melihat Qale hanya diam, keduanya makin meradang. Ibu Deni mengeluarkan selembar cek kosong. Bukan itu saja, satu buku kecil, dia sodorkan pada Qale.

"Sebutkan apa maumu." Ibu Deni menunjuk ke arah kertas di tangan mertuanya.

"TULIS ... KAMU BUTUH BERAPA!" Kali ini Lea ikut berteriak. Dadanya naik turun, napasnya kasar. Gurat merah tercetak jelas di wajah lugu itu.

Qale tidak menjawab apapun. Dia hanya menghela napas lalu melangkah menuju pintu. Membukanya untuk mereka.

Tanpa dikomando, Elan maju, merentang lengan seolah menggiring mereka keluar.

"Ok, kalau ini maumu!" Ibu Deni tersenyum remeh. Dia lalu menuntun Lea keluar dari sana.

Tepat di pintu, Lea berujar, "Kita liat saja nanti, BEGO!" umpatnya tajam pada Qale.

Putri Rahayu ini hanya tersenyum getir. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kedatangan mereka meninggalkan sisa gemuruh emosi dari kunjungan tak terduga.

Qale berdiri di tengah ruang etalase, belum bergerak. Tubuhnya membeku oleh rasa malu yang hadir bersamaan.

Ria menyalakan kipas kecil di pojok kasir, berusaha mengembalikan suasana. "Nggak semua orang tahu cara menjaga harga diri," bisiknya sambil menuangkan teh manis untuk Qale.

Qale menerimanya tanpa suara. Napasnya berat, tapi matanya tidak menunjukkan amarah. Hanya kelelahan.

Dari belakang punggungnya. Elan berkata dengan wajah datar. "Gue mau upload buat story. Gaya live report gitu. Tulisannya : 'Hari ini kami disapa masa lalu. Tapi tenang, masa depan Anak Lipat tetap manis dan terbuka untuk siapa pun.'"

Qale mendongak, menatapnya sejenak. Lalu tersenyum tipis. "Kek pemburu gosip."

"Ex... Sekarang dokumentalis pengangguran," sahut Elan santai, lalu duduk di bangku sebelah kasir. Ia mengamati Qale. "Tapi lo keren. Lo diem, tapi nggak kalah."

Belum sempat Qale membalas Elan, ponselnya kembali bergetar. Dia meraihnya dari atas etalase.

Notifikasi baru dari nomor kepolisian.

[Pemberitahuan Resmi Perubahan Status.]

[Kami informasikan bahwa :]

[Saudara Deni Arwandhana telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga dan pemalsuan dokumen.]

[Saudari Kalea Sasmita ditahan sementara sebagai saksi utama dengan potensi pelanggaran sumpah saksi dan keterlibatan dalam pengaburan bukti.]

Qale mematung. Pesan itu dibaca ulang tiga kali. Jari-jarinya menegang, sementara Ria mengintip dari balik meja.

"Mbak? Oke, kan?" tanya Ria cemas.

Qale mengangkat pandangan. Matanya berkaca. Getir. "Mereka ... sekarang resmi ditahan."

Ria terdiam. Elan mengangguk kecil, seolah sudah menduga.

"Gue pernah liat orang kayak Lea," gumam Elan sambil menurunkan kamera dari lehernya. "Yang terlihat tenang, tapi dalemnya tsunami."

"Dia kakakku," kata Qale pelan.

"Justru itu yang bikin berat," sahut Elan. "Kalau dia cuma orang lain, lo udah tinggalin sejak lama."

Qale bergeming. Dia memilih masuk ke kamar sempitnya di belakang. Qale membuka kembali semua catatannya.

"Apa yang kulakukan ini benar, Bu?"

Qale menunduk pelan. Bukan karena lemah, tapi karena sadar—ia memang harus berdiri tegak sekarang.

Di depan, Elan duduk bersama Ria. Mereka membahas strategi konten sambil menyeduh kopi instan.

"Lo serius bantuin toko?" tanya Ria, mengangkat alis.

"Gue nggak suka lihat toko ini redup karena orang-orang nggak becus ngatur hati. Lagian ... gue suka suasananya."

"Atau suka orangnya?" goda Ria.

Elan pura-pura meneguk kopi padahal gelasnya nyaris kosong. "No comment. Tapi, dia ... beda. Lo liat tadi? Dia bisa nahan marah, tapi tetep berdiri di tempat. Itu langka."

Ria hanya mengangguk sambil tersenyum. Ingin rasanya bilang bahwa sudah ada pria spesial di hati Qale, tapi dia menahan diri. Itu bukan wewenangnya.

***

Pagi berikutnya.

Qale duduk di meja dapur, laptop terbuka. Ia tengah menyusun dokumen resep otentik keluarganya untuk dijadikan katalog digital. Elan tinggal menambahkan foto-foto pendukung, pikirnya.

Tiba-tiba, layar ponsel Qale menyala. Sebuah email masuk dari pengacara keluarga.

[Subjek : Penawaran Damai.]

[Dengan hormat, Kami menerima pemberitahuan bahwa Saudari Lea Wijaya, melalui kuasa hukumnya, diskusi damai terkait pengubahan status di kasus Rahayu.]

Di situ disebutkan nominal uang, fasilitas juga harta tidak bergerak. Termasuk split warisan dari Lea. 

Qale menutup laptopnya. Napasnya tercekat. Tangannya mengepal. Bersamaan dengan itu, bunyi bel terdengar. Qale gegas ke depan.

Elan ternyata tiba bersama Ria. Qale membuka pintu toko dengan wajah masam.

Lelaki itu lalu bertanya pelan, "Berita buruk?"

Qale mengangguk. "Lebih kayak ... tusukan kedua setelah kau pikir pisau pertama udah cukup."

Elan masuk, berdiri di dekat etalase lalu meletakkan kameranya.

"Gue nggak ngerti soal ini. Tapi gue tau soal perjuangan. Dan lo, Qale ... dari cara lo kerja, dari cara lo jaga toko ini, dari cara lo tahan diri waktu diteriaki—lo layak. Dan itu nggak bisa dicabut sama tinta di atas kertas."

Qale menunduk. Menghela napas. Baru saja dia akan masuk ke dapur. Suara seseorang memanggilnya.

"Qalesya...." Qale menoleh, tatapan itu membuatnya jengah sekaligus sedih. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!