Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Launching Onbitjkoek
Qalesya bergeming. Rasa iba sekaligus kecewa masih menggantung di sudut matanya.
Dia menghela napas. Menghampiri sang ayah yang berdiri di depan pintu toko.
Qale mengajaknya duduk di kursi rotan dekat jendela, memandangi pohon di sisi jalanan yang masih basah oleh guyuran dinas PU. Tangannya tenang di atas paha, sementara pikirannya sibuk memutar ulang kata-kata dari surel yang baru ia baca tadi—penawaran damai, dari pihak Lea.
Hasan datang pagi-pagi sekali, membawa kantong berisi buah dan teh celup. Ia duduk berhadapan dengan Qale, tubuhnya terlihat tegang.
"Kalau cuma buat damai demi reputasi, Ayah pulang aja," ujar Qale, datar.
Hasan menghela napas. "Ayah nggak mau kamu berpikir bahwa Ayah nyuruh kamu tunduk. Ayah cuma pengin kamu punya ruang buat mikir jernih."
"Ruang jernih ... dulu, ibu juga nggak punya," balas Qale cepat. "Sekarang, aku juga begitu."
Hasan akhirnya bicara soal warisan. Tentang aset, pembagian keuntungan masa lalu, dan surat legal yang siap ia tandatangani jika memang itu yang dibutuhkan. Ia mengaku sudah membaca ulang perjanjian antara dirinya dan Rahayu.
"Waktu itu Ayah pengecut. Nunda-nunda terus. Ngira semua bisa dibetulin pakai waktu..."
"Tapi waktu malah habis," potong Qale.
Tak ada amarah yang meledak, hanya kelelahan yang menggantung di antara mereka. Hasan mengangguk, pelan. Ia tak mencoba membela diri lagi. Ia hanya menyerahkan satu map cokelat.
"Ini data peternakan. Sama surat pengakuan utang usaha. Silakan kamu salin atau bawa ke pengacara kamu."
Qale menerimanya. Diam.
Sebelum pergi, Hasan berkata pelan, "Ayah nggak bisa ubah masa lalu. Tapi kalau kamu masih percaya keluarga ... mungkin ini masih bisa diperbaiki."
Qale hanya menjawab dengan satu kalimat, lirih namun tegas, "Ibu nggak minta aku menang, Yah. Beliau cuma nggak mau aku bungkam."
Hasan mengangguk lemah. Tawarannya ditolak. Qale betul-betul menutup pintu untuk segala kemungkinan.
Dia memikirkan Lea, baru menikah, harus berpisah. Juga dampak jika kasus ini terbuka luas. Mungkin, usahanya akan sedikit sepi.
Hasan bangkit, melangkah gontai keluar toko. Dia merasa tidak berguna mendamaikan kedua putrinya sendiri.
Siangnya, toko mulai sedikit ramai. Ria sibuk melayani pesanan bundling cookies. Beberapa malah memesan croissant dengan toping merah dan putih untuk perayaan 17-an dari sekolah-sekolah.
Di dapur, Qale sibuk membuat onbitjkoek juga leker Holland untuk kebutuhan foto konten Elan juga sebagai tester. Dia berniat akan meluncurkan produk barunya jelang even kemerdekaan Indonesia.
Elan memberikan beberapa contoh katalog digital pada Qale. Dia melihat satu yang cocok lalu mulai mengetik singkat, menambahkan deskripsi pada resep otentik : Onbitjkoek - warisan rasa dari seorang ibu yang tak sempat menua.
Sementara itu, Elan ikut sibuk memotret proses pembuatan adonan. Video situasi dapur dan ketika sudah matang dia menata hasil jadi di jendela dengan pencahayaan natural. Keduanya bekerja dalam diam yang nyaman. Tak perlu banyak bicara.
"Lo tahu nggak," kata Elan sambil menurunkan kameranya, "dari semua tempat yang pernah gue bantuin, toko lo yang paling ... jujur."
Qale menoleh. "Jujur gimana?"
"Nggak dibuat-buat. Lo kacau, tapi lo bisa jaga diri. Lo luka, tapi lo buka usaha ... bikin orang lain kenyang. Itu nggak semua orang bisa," ujarnya sesekali melirik Qale.
Qale tak menjawab. Ia hanya fokus pada penataan juga pengambilan sudut foto onbitjkoek yang masih panas.
Menjelang sore, ponsel Qale kembali berbunyi. Sebuah DM masuk dari akun Instagram resmi Yayasan Karya Nusantara.
[Halo, Anak Lipat. Kami tertarik dengan konten dan produk Anda.]
[Apakah Anak Lipat bersedia bergabung dalam bazaar UMKM Nasional di Jakarta tanggal 16-18 Agustus nanti? Acara dihadiri banyak komunitas dan disponsori beberapa BUMN.]
[Kami ingin membawa tema “Rasa dan Perempuan” di even tersebut. Kami harap Anak Lipat bisa mewakili semangat itu.]
Jantung Qale berdegup. Bukan karena popularitas, tapi karena ia merasa dilihat—bukan sebagai penjual viral, tapi sebagai sumber inspirasi, meski amatiran.
Belum sempat ia membalas, notifikasi baru muncul. Dari email pengacaranya.
[Agenda Sidang Putusan Sementara Kasus Rahayu vs Pihak Terkait - Tanggal 29 Juli 2025, Pukul 09.00 WIB]
Tangan Qale sedikit gemetar.
Dua tanggal penting. Dua panggilan takdir. Satu tentang keadilan. Satu lagi tentang harapan.
Di sampingnya Elan berseru dari balik tirai jendela. "Qale! Ini fotonya bagus banget! Muka lo kayak innocent ..." kekeh Elan.
Qale tertawa kecil. Ia menjawab, "Ya emang aku nggak salah, polos lempeng di luar prediksi BMKG." Senyumnya muncul hingga gingsul Qale terlihat.
Deg! Elan takjub, dia baru melihat betapa manis senyum Qale hari ini.
Memang begitu rasanya jadi perempuan di dunia yang terlalu sering meremehkan lembutnya cinta.
Qale meletakkan ponselnya di meja kasir.
Map dari ayahnya tadi ikut terjatuh ke lantai. Satu lembar surat tua ikut melayang.
Senyum sisa melihat DM dari Yayasan, masih menggantung di wajahnya. Dia berjongkok mengambilnya. Tulisan tangan Rahayu, dengan tinta yang mulai pudar.
“Untuk Qalesya...”
Jantungnya mencelos. Ternyata, bahkan dari jauh, Ibu tetap ingin bicara. Matanya berkaca-kaca, membaca baris tulisan di sana membuat Elan mengabadikan momen itu.
"Qale...." panggilnya.
.
.