Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Surat Lama Ibu
Qale menoleh ke arah Elan. "Hum?"
Elan tersenyum miring, dia menggeleng pelan lalu memilih pergi dari sana. Duduk di kursi sambil melihat hasil jepretannya tadi.
Qale memutari etalase dan menarik kursi kasir. Dia duduk membaca kertas yang terjatuh tadi.
[Untuk Qalesya.]
[Kalau suatu hari kamu harus memilih antara memaafkan atau melanjutkan agar kecewamu sembuh, pilihlah yang membuatmu tetap bisa tidur di malam hari.]
[Ibu sayang kamu.]
Senyum sisa siang itu Qale bubuhkan ke lembar kertas berisi tulisan tangan ibunya. Dia menghempas napas lega, mendongakkan kepala dan memejam. Seolah mengatakan 'alhamdulillah' meski semua belum selesai.
Menjelang petang, toko tutup. Ria dan Elan sudah pulang sejak tadi. Qale melihat sekeliling ruang. Ada yang terasa kosong.
"Tata. Kemana, sih? Kok nggak ngasih kabar," ujarnya pelan sambil melihat chat mereka yang kosong.
"Katanya mau ngajak aku pulang, kapan?" sambungnya menaruh harap. Dia menutup semua gorden jendela, mengunci pintu lalu mematikan lampu.
Malam itu, lampu gantung di dapur Anak Lipat masih berpendar lemah. Qale duduk sendiri di meja, secangkir teh jahe di tangan kirinya, dan selembar kertas tua terbuka di hadapannya. Jemarinya ragu, tapi matanya mantap menatap halaman kosong.
Tinta mengalir pelan. Kalimat demi kalimat lahir seperti embun yang akhirnya jatuh dari daun. Ia tahu ia tak akan bisa mengulang momen ini. Yang Qale tahu ... hidup bisa tetap hangat meski kehilangan sosok yang menjaga dan mencintai tanpa batas.
Qale menuangkan segala rasa dengan menulis di kertas. Menutup kalimat dengan napas panjang. Di luar, suara serangga malam bergema samar. Ia tak tahu kapan dirinya bahagia, tapi satu hal yang pasti ... Bahagia itu dihadirkan, bukan dicari.
***
Tiga hari sebelum sidang.
Qale duduk di meja dapur, surat dari ibunya terbuka di samping laptop. Ia membacanya kembali, pelan-pelan, seperti ingin menghafal suaranya.
Elan berdiri di belakang, memperhatikan dari kejauhan. Ia ingin bertanya, tapi tak ingin mengusik.
"Kamu tahu rasanya..." gumam Qale, "kayak ditinggal, tapi ditinggal dengan bekal. Ibuku ternyata begitu. Diam-diam ninggalin sesuatu."
Elan hanya mengangguk. “Mungkin karena beliau percaya, lo bisa jalanin sisanya.”
Hari itu, toko sedikit lebih sepi. Tapi hati Qale justru sibuk. DM dari Yayasan Karya Nusantara sudah ia balas. Mereka senang dan sedang menyiapkan booth khusus “Anak Lipat” untuk tema Rasa dan Perempuan.
Qale akan tampil di sana, sebagai pendatang baru yang memiliki cerita. Elan bersiap ikut, menjadi dokumentator dan—tanpa disadari—pelindung diam yang selalu sigap.
Dua hari sebelum sidang.
Hasan mengirim pesan singkat. "Ayah akan hadir di sidang. Apapun hasilnya, Ayah di belakang kamu."
Qale tidak membalas. Tapi pesannya disimpan. Dia beraktivitas seperti biasanya. Berangkat kuliah, belanja bahan kue, pulang ke toko membuat adonan lalu membantu Ria.
Sementara itu, media setempat mulai meliput kasus tersebut. Foto Deni dan Lea tersebar di beberapa koran lokal. Beberapa netizen menghubungkan dengan bisnis keluarga, menyebut Anak Lipat sebagai toko "yang ternyata punya kisah sadis."
Ria panik ketika beberapa kawannya menanyakan apakah sang pemilik adalah psiko?
Qale menenangkan Ria. Dia berkata, "Kalau nanti orang ke sini cuma karena penasaran, nggak apa-apa. Yang penting mereka pulang dengan rasa kenyang dan hati adem," jawabnya sambil menata loyang kue.
"Bener juga, ya," kekeh Ria.
Berita kasus ibu Qale kembali mencuat. Jika dulu dia dikucilkan, kali ini masyarakat justru merespon lain.
Anak lipat kebanjiran orderan. Alasannya macam-macam, ada yang sekedar ingin memberi semangat, beli untuk lomba, acara ataupun karena ingin numpang selfie di tempat viral.
Qale memaklumi, dia menyilakan siapapun yang datang tanpa bertanya tujuan mereka. Alasannya satu, dia tak suka dihakimi.
Malamnya, ponsel Qale kembali bergetar.
Panggilan telepon dari Pak Darwan, pengacara yang Wafa sewa.
"Pak Darwan," sapanya cepat. "Apa benar mereka jadi tersangka sekarang? Bukankah tadinya cuma saksi?"
"Benar, Mbak Qale. Statusnya berubah sejak dua hari lalu. Ini bukan tiba-tiba, tapi hasil akumulasi pemeriksaan tambahan."
Dahi Qale mengernyit. "Apa penyebabnya? Kenapa baru sekarang?"
"Berdasarkan hukum acara pidana, status saksi bisa berubah menjadi tersangka jika penyidik menemukan setidaknya dua alat bukti yang sah dan cukup," jelasnya pelan.
Dalam kasus ini, pertama, inkonsistensi dalam kesaksian Kalea—ada banyak yang janggal antara BAP awal dan interogasi terakhir.
Kedua, munculnya saksi tabrak lari. Saksi ini diminta oleh terdakwa untuk mencelakai Qale.
"Saksi tabrak lari?" ulang Qale pelan.
"Ya. Dan satu lagi, penguatan dari keterangan Wafa."
"Kak Wafa bilang apa saja?" katanya, dengan bada ragu.
"Beliau memberikan kesaksian tertulis yang lebih detail. Didukung juga dengan analisis forensik dokumen. Kalea diduga membantu menghilangkan atau mengaburkan bukti dan itu pelanggaran serius."
Qale mengatupkan bibirnya. “Lalu … apakah Kak Wafa harus hadir waktu sidang?”
“Nggak juga. Karena sidang kali ini adalah putusan untuk keduanya ... atau nanti dipanggil bila hakim merasa perlu memanggil ulang bila ada kasus baru yang berkaitan.”
“Dan saya?”
“Sebagai pelapor utama dan ahli waris, Anda wajib hadir. Minimal diwakili kuasa hukum. Tapi saya sarankan Anda tetap datang."
"Kalau ... hasilnya nggak sesuai harapan?" Qale mulai cemas, dia gugup.
"Kita atau mereka bisa ajukan banding dalam waktu tujuh hari. Tapi prosesnya masuk ke Pengadilan Tinggi, bisa lebih panjang. Tapi saya yakin—dengan alat bukti, saksi, dan surat Wafa—posisi kita kuat."
Qale menunduk, menyentuh lipatan kertas tua di depannya. "Pak Darwan ... Mereka bersalah, apa tetap bisa dimaafkan?"
Suara di seberang hening sejenak.
"Maaf itu urusan hati, Mbak Qale. Tapi keadilan, biarlah hukum yang bicara."
Qale berterima kasih dan menyatakan diri untuk hadir sebelum menutup telpon dari pengacaranya.
H-1 Sidang.
Keesokan sore, Qale duduk di teras samping toko, memandangi langit yang berwarna jingga pucat. Di sebelahnya, Elan duduk dengan kamera di pangkuan.
"Lo ada yang dipikirin?" tanyanya.
Qale mengangguk pelan. "Iya. Soal sidang ... tapi bukan karena kuatir kalah, cuma takut nyakitin orang lagi."
Elan menoleh. "Kadang, jujur aja udah cukup nyakitin orang, Qale. Tapi itu juga satu-satunya cara buat sembuh."
Qale menarik napas. "Kalau kamu di posisiku, Elan. Bakal maafin mereka?"
Elan butuh beberapa detik. Lalu ia jawab, "Gue nggak tahu. Tapi gue tahu satu hal. Lo bukan nyari menang. Lo nyari tenang. Dan itu beda."
***
Pagi, tanggal 29 Juli.
Ria menyiapkan roti kecil dan termos air hangat. Ia memeluk Qale di depan pintu toko.
"Apapun yang terjadi, Kakak tetap orang paling tulus yang pernah aku temui" ujarnya.
Qale tersenyum. Rambutnya diikat rapi, kemeja vintage broken white sederhana dengan rok abu-abu.
Elan berdiri di sebelah ojol car. Membuka pintu untuknya. "Gue ikut ya. Tapi nggak akan ngerekam apa-apa kecuali lo minta."
Qale mengangguk. "Boleh. Tapi jangan nanya-nanya di dalam. Aku bisa mewek, Tata nggak ada soalnya," kekeh Qale membuat dahi Elan mengernyit.
'Tata? ... Siapa dia?' batin Elan, saat menutup pintu mobil. Mereka pun berangkat ke pengadilan.
Sementara itu di toko, seseorang datang mencari Qale. Bibirnya mengatup rapat, hanya telunjuknya yang mengarah keluar.
"Sudah pergi?" katanya sambil mengikuti arah pandangan Ria.
.
.