Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Mencari pelakunya

"Damkar?" Wafa memanggil Bakar lagi. 

Lelaki itu kembali masuk ke ruang perawatan. Dia berdiri di depan pintu. "Ya, Bos?" bisiknya.

Wafa menoleh. "Ingat nggak dimana ketemu Nadia?" 

Bakar menggeleng. "Kecuali saat wawancara," katanya.

"Darimana kamu dapatkan CV nya?"

"Anggita," jawab Bakar singkat. 

Wafa diam, mengangguk pelan lalu memintanya menanyakan pada si sekretarisnya, Anggita. Apakah sangat mengenal Nadia atau direkomendasikan oleh seseorang. 

Bakar mengerti maksud Wafa. Dia pun pamit keluar dengan wajah serius. Langkahnya tegap, meninggalkan Ria di lorong rumah sakit.

Suasana kamar rawat malam itu masih temaram. Mesin infus menetes perlahan, sementara Qale tidur dengan wajah pucat, bibirnya kering. Wafa duduk di sisi ranjang, tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari istrinya.

Ia menatap wajah Qale lama sekali. “Kenapa harus kamu yang jadi sasaran, Sya? Kalau memang ada yang berani menyentuhmu … aku tidak akan tinggal diam.”

Sesekali Qale menggeliat, merintih pelan, membuat Wafa was-was. Takut-takut, dia mengusap pelan perut istrinya, berharap bisa mengurangi sakit di bagian itu.

"Bobok lagi, ya." Wafa naik ke brangkar, tidur menyamping memeluk tubuh mungil Qale.

Keesokan pagi.

Pintu diketuk pelan. Bakar masuk dengan wajah tegang, diikuti Ria yang terus menunduk. Gadis itu mampir ke rumah sakit sebelum ke toko. Ingin memastikan kondisi majikannya apakah sudah lebih baik.

"Masih belum sadar?" tanya Ria mendekati brangkar.

"Baru tidur lagi setelah minum obat tadi," ujar Wafa. "Ria, ambil alih toko beberapa hari ini bisa, kan?" 

Ria mengangguk cepat. "Bisa," balasnya mantap.

Wafa beralih ke Bakar. “Bagaimana?” suaranya terdengar dalam dan berat.

Bakar meletakkan laptop di meja kecil. “Saya berhasil ambil beberapa rekaman, Bos. Kamera kecil yang dipasang di toko masih berfungsi.”

Klik.

Layar menampilkan rekaman beberapa hari terakhir. Qale sibuk di kasir, bolak-balik ke dapur. Lalu sosok Nadia muncul, menyodorkan botol minuman dengan senyum manis. Satu kali. Dua kali. Hampir setiap hari.

Wafa mencondongkan tubuh. “Pause.”

Bakar menghentikan rekaman. Kamera menyorot jelas : label botol yang berbeda, tapi selalu dari merek yang sama.

Ria menutup mulutnya. “Ya Allah … aku pikir dia cuma perhatian sama Kak Qale…”

Mata Wafa berkilat. “Keterlaluan.”

"Belum pasti tapinya, Bos." Bakar menyela, sambil melanjutkan pemutaran video.

Wafa meminta Ria bersikap biasa saja sambil mengawasi toko. Dia lalu berpesan agar waspada dengan gadis itu. Tak lama, Ria pamit.

Bakar lantas menyerahkan map biru, berisi informasi tentang seseorang.

"Aman?" 

"Ria, aman, Bos." Bakar memastikan bahwa partner Qale bukan bagian dari orang-orang yang dicurigai Wafa.

Wafa tak beranjak sama sekali dari kamar tersebut. Sementara ini tidak ada bisa dia percayai kecuali Bakar dan ibunya.

Menjelang siang, Qale siuman meski masih lemah. Winda menemaninya, sementara Wafa keluar sebentar bersama Bakar.

“Lacak asal minuman itu,” perintah Wafa. “Cari siapa pemasoknya, dari mana Nadia mendapatkannya. Jangan berhenti sebelum ada jawaban.”

Bakar mengangguk tegas. “Siap, Boss.”

Namun sebelum mereka beranjak jauh, seorang perawat menghampiri Wafa. “Pak, pasien sempat muntah lagi tadi. Kami perlu cek laboratorium tambahan. Mohon tanda tangan di sini.”

Wafa menandatangani dengan tangan bergetar. Sekilas ia menoleh ke arah pintu kamar rawat, di mana Qale tampak tidur kembali. Hatinya seolah diremas.

“Sya … kalau sampai apa-apa denganmu, aku tidak akan pernah maafkan orang itu.”

***

Sementara itu di tempat lain.

Nadia duduk di kursi tunggu kafe kecil. Earphonenya terpasang, jari-jarinya memainkan botol minum yang sama seperti yang sering ia bawa. Senyum tipisnya kembali terukir.

“Semua berjalan sesuai rencana,” gumamnya. “Kamu memang gadis manis, Mbak Qale. Tapi terlalu polos.”

Dia baru saja mengirim pesan pada seseorang, bahwa misinya berhasil. Dan mendapat balasan pesan suara.

"Jangan gegabah." Suara pria di seberang sana memperingatkan Nadia.

***

Malam harinya, Wafa kembali memeriksa CCTV luar toko. Salah satu rekaman membuatnya terpaku. Tampak Nadia berbicara di toko seberang dengan seseorang—siluet laki-laki yang samar, namun cukup familiar.

Mata Wafa melebar. “Jadi … bukan hanya dia?”

Ia menegakkan badan, wajahnya tegang. Ingatannya kembali pada potongan bayangan gadis itu.

“Dia… masih dendam?" Wafa mengepalkan tangan di pangkuannya.

“Damkar.”

“Ya, Bos?”

“Mulai malam ini, minta Dewi jaga di rumah sakit. Jangan menjauh dari istriku. Aku ingin semua pergerakan Nadia diawasi. Kita akan buka satu per satu siapa yang ada di balik ini.”

"Ok. Ada lagi?" 

"Temani aku ke Danisha," ujar Wafa.

Bakar melongo. "Untuk?" 

"Memastikan apakah dia terlibat atau tidak. Anggita, kau lupa?" 

Deg! Bakar menepuk jidatnya. 

"Maaf, Bos. Ayo!"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!