Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku

Si pelaku

Suasana kamar mendadak membeku. Wafa menelan ludah, menunggu kalimat dokter yang menggantung di udara. Jemarinya semakin erat menggenggam tangan Qale, seakan takut kehilangan.

“Maaf, istri Anda mengalami iritasi cukup serius pada lapisan rahim,” ujar dokter akhirnya, nada suaranya tenang meski berat. “Kami mendapati adanya jejak zat kimia sintetis dalam tubuhnya—mirip dengan kandungan jamu yang sering dipalsukan. Zat itu bisa mengganggu metabolisme, memperburuk kontraksi rahim, bahkan memicu perdarahan.”

Winda terhenyak, kedua tangannya menutup mulut. Wafa menutup mata sejenak, hatinya hancur.

Hening. Dokter ikut menunduk.

“Dok…” suara Wafa serak, “rahimnya… tidak rusak permanen, kan?”

Dokter menghela napas, menatap mereka satu per satu. “Tidak. Untungnya belum sampai ke tahap kerusakan permanen. Tetapi … proses pemulihannya akan panjang. Iritasi ini harus segera ditangani dengan terapi, pantangan ketat, dan pemantauan berkala.”

Qale menunduk, wajahnya pucat tapi senyum tipisnya masih bertahan. Wafa meremas tangannya lebih kuat.

“Artinya…” Winda memberanikan diri bicara, suaranya bergetar, “kesuburan menantu saya…?”

“Peluang hamil masih ada,” jawab dokter hati-hati. “Namun, bila tidak dijaga, risiko komplikasi akan makin besar. Saya mohon, hentikan segera semua konsumsi jamu atau herbal sembarangan. Bahkan yang tampak aman sekalipun, karena sudah ada riwayat sensitif pada tubuh beliau.”

Suasana kembali hening. Wafa menunduk, menutup wajahnya dengan telapak tangan. Hatinya digerogoti rasa bersalah.

“Aku gagal melindungimu, Sya…” bisiknya parau.

Winda mencoba menenangkan putranya, meski matanya sendiri basah. “Fa ... ini bukan salahmu.”

Qale justru terlihat lebih tegar. Ia mengangkat wajahnya, menatap suaminya dengan tatapan lembut. “Kak … maaf. Tapi aku masih baik saja dan itu cukup.”

“Tapi, Sya, anak…” suara Wafa patah, tertahan di tenggorokan.

Qale menggeleng, senyumnya rapuh. “Kalau pun aku tidak bisa … masih ada banyak cara untukmu, kan? Dipikirkan nanti.”

Wafa memeluknya erat, dadanya bergetar menahan sedih yang tak sempat pecah. “Apapun yang terjadi, kamu tetap tanggung jawabku...”

Momen itu membuat Winda ikut menitikkan air mata. Ruangan terasa penuh dengan emosi yang sulit dibendung.

Dokter pamit. Dia menyerahkan jadwal kunjungan rutin Qale setelah ini. Wafa menerimanya, dan dia mengajukan perubahan jadwal sebab Qale harus terapi mata di rumah sakit ini juga.

Ketukan pintu memecah keheningan. Bakar masuk, wajahnya serius. “Bos…” suaranya menahan nafas.

Wafa melepaskan pelukan, menoleh. “Ada apa?”

Bakar meletakkan laptopnya di atas meja sofa, memperlihatkan rekaman terbaru dari CCTV luar toko. Di layar tampak jelas, Nadia berdiri di dekat parkiran, berbicara dengan seorang pria. Wajahnya samar tertutup masker, tapi siluetnya… Wafa mengenalnya.

“Elan…” desisnya. 

"Sudah dipastikan itu betul dia, saya perjelas rekaman cctv-nya," ungkap Bakar.

Winda terbelalak. “Astaghfirullah.”

“Itu belum semua, Bos,” lanjut Bakar. “Saya dapat kabar dari orang dalam lapas. Lea sempat menerima tamu misterius beberapa minggu lalu. Dan—” ia menatap Wafa tajam, “ciri-cirinya cocok dengan pria yang ada di rekaman ini.”

Wafa mengepalkan tangan di pangkuannya, wajahnya menegang. Semua kepingan puzzle makin jelas terhubung.

Namun sebelum mereka sempat berdiskusi lebih jauh, suara langkah pelan terdengar dari luar kamar. Bakar refleks menoleh ke pintu.

Pegangan pintu bergetar.

Pintu terbuka sedikit, dan sosok itu muncul. Rambut hitam tergerai, wajahnya teduh dengan senyum tipis.

Dia mengetuk pintu, berdiri di sana. "Halo," sapa Nadia lembut.

“Nadia?” Winda terperanjat, hampir tak percaya jika penampilan kalem ini telah melakukan sesuatu yang keji.

Tidak ada yang menyilakannya masuk. Bakar sibuk menutup laptop, merapikan meja sementara Wafa kembali ke brangkar Qale. Menggenggam tangannya.

Gadis itu berdiri di koridor rumah sakit, memandang ke dalam kamar dengan tatapan yang sulit diartikan—antara ramah dan menusuk.

Wafa menarik napas panjang, lalu akhirnya berkata datar, “Masuklah.”

Nadia melangkah perlahan, menutup pintu dengan tenang seolah tak ada yang aneh. Di tangannya tergenggam sebuah tas berisi beberapa botol jamu. Senyumnya lembut, seperti tamu baik-baik.

“Aku bawa ini,” ujarnya, meletakkan botol itu di atas meja kecil. “Bagus untuk pemulihan setelah menstruasi. Biar cepat segar.”

Winda langsung menatap tajam. “Dari mana kamu dapat semua jamu ini?”

Nadia tersenyum, tampak tenang. “Toko langganan ibuku sejak dulu. Ramuan turun-temurun, katanya.”

Winda maju selangkah, matanya menyipit. “Kamu pernah meminumnya? Semua varian jamu itu?”

“Iya, tentu.” Nadia mengangkat dagunya, sedikit menantang. “Apalagi sekarang aku sedang menstruasi. Sangat membantu.”

Mata Winda berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih—melainkan marah. Ia meraih botol itu, menuangkan ke gelas. Lalu ia mendekat, menyorongkan gelas ke wajah Nadia. “Kalau begitu, minum yuk.”

Nadia tersentak, lalu cepat-cepat menggeleng. “Aku sudah minum tadi pagi. Tidak baik kalau kebanyakan.”

“Seteguk aja lalu ceritain rasanya. Aku penasaran pengen coba tapi gak suka jamu,” balas Winda.

“Aku bilang sudah—”

Dengan gerakan cepat, Winda meraih dagu Nadia dan menyorongkan gelas itu ke bibirnya. Gadis itu berusaha menepis, namun Winda lebih kuat. Dengan tangan kirinya, ia menahan rahang, dan dengan tangan kanan menekan gelas.

Cairan jamu kental itu tumpah sebagian, tapi sisanya masuk juga ke mulut Nadia. Gadis itu terbatuk-batuk, mencoba meludah. Winda justru menyambar bongkahan es dari wadah di meja, menjatuhkannya ke dalam gelas, dan menuang varian baru dari botol lain.

“Sekarang yang ini.”

“Cukup!” Nadia meronta, masih terbatuk, wajahnya merah. “Aku tidak mau—”

Winda mendorong gelas itu lagi hingga cairan dingin mengalir ke mulut Nadia. Kali ini ia menutup rapat mulut gadis itu dengan tangannya, menahannya sampai terdengar bunyi gluk ketika Nadia akhirnya menelan paksa.

Gadis itu terengah, matanya membara. “Kalian gila!”

“Gila?!” Winda mendesis, menatapnya dingin. “Kamu tahu apa efek jamu itu. Tapi kamu tega memberikannya pada menantuku.”

Nadia menegakkan tubuh, meski wajahnya pucat. Ia mencoba menyembunyikan rasa takut dengan senyum sinis.

Wafa menatapnya tajam. “Siapa yang menyuruhmu? Elan? Lea? Atau Danisha?”

Nadia diam, bibirnya terkatup rapat. Qale tak tega tapi memilih diam sebab Wafa terlihat dingin.

Wafa menoleh ke Qale. “Sya. Saat kita jenguk Lea, ada seorang gadis yang menabrakmu. Lihat baik-baik. Apakah dia orangnya?”

Qale menatap Nadia lama. Dahinya berkerut, matanya menyipit mengingat samar-samar. Lalu tubuhnya menegang. Ia membola mata, terkejut. “DI-dia. Hanya saja waktu itu rambutnya bukan begini. Sekarang...”

Nadia terkekeh. Senyumnya melebar, menyingkap giginya. “Sudah terlambat.”

“Kenapa?” tanya Qale pelan, nadanya dingin.

Nadia menunduk sedikit, lalu menatap Qale dengan sorot mata yang menusuk. Bibirnya berucap dengan kejam, “Mandul kan, sekarang?”

Plaaak!

Tamparan keras mendarat di pipi Nadia. Winda yang melakukannya, dengan seluruh amarah seorang ibu. Bibir Nadia pecah, darah merembes tipis di sudut mulut.

Tapi bukannya menangis, Nadia malah tertawa terbahak, keras dan getir. “Hahaha! Tampar lagi! Apa bisa mengubah kenyataan?”

Bakar yang sejak tadi menahan diri akhirnya bicara. “Bos, izinkan saya.” Suaranya dingin. Dia menatap Nadia penuh benci, lalu menoleh pada Winda dan Wafa, “eksekusi dia.”

Qale terkejut, suaranya tercekat. “Diapain?”

Bakar menyeringai sinis. “Diumpanin ke buaya darat, Nyah. Lalu…” Ia sengaja menggantung kalimatnya, menatap Nadia yang kini mulai melongo.

Sorot mata gadis itu berubah. Ketakutan perlahan menyusup. “Kalian … kalian nggak sekejam itu. Aku masih… masih—”

“Masih gadis?” Bakar menyeringai lebih lebar. “Justru itu menarik.”

Nadia berontak, panik. Wajahnya mulai pucat seolah ingin menangis.

Wafa menatapnya dalam-dalam, matanya menggelap, penuh kemarahan yang ditahan. Ia tidak perlu mengulang.

Bakar mengangguk pelan, mengerti maksudnya. “Yang itu aja, ya?”

Wafa mengangguk sekali.

Nadia terperangah, dadanya naik turun cepat. Ia mencoba tetap tenang, tapi suaranya bergetar. “Apa… apa maksudmu?”

Wafa tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arahnya, pandangan yang membuat Nadia sendiri kehilangan keberanian.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!