Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Qalesya Cemburu
Pagi itu, Qalesya terbangun dengan tubuh lelah tapi hangat. Wafa masih di sisinya, menempel ketat. Tatapan matanya teduh, jemari tangannya mengusap lembut lengan istrinya.
Qale menggeliat saat bahunya yang terbuka dihujani ciuman-ciuman kecil Wafa.
“Aku nggak akan pura-pura, Sya,” suara Wafa serak, menunduk. “Aku tetap menginginkanmu. Lagi, di pagi ini.”
Jemari suaminya liar menjelajah dibalik selimut. Qale menoleh sekilas. Ia ingin menolak, tapi tubuhnya malah diam. Bibirnya terkunci, hanya pasrah menerima perlakuan manis Wafa yang semakin dalam. Ada perasaan asing yang membuat dadanya bergetar—antara rindu, marah, dan cinta yang tak mau diakui.
"Eeeengghhhh." Qale melenguh halus ketika Wafa menyentuh area sensitifnya.
Deru napas mulai saling bersahutan, Qale memejam, menggigit bibirnya saat gelombang rasa itu makin menggulung geloranya.
Namun hasrat itu terhenti tiba-tiba. Tok. tok. tok.
“NON! DEN!” teriakan Mbak Mun dari luar kamar membuat Wafa kaget. Dia buru-buru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Qale.
Qale justru tertawa kecil, entah lega atau gugup. Dia mengusap punggung Wafa yang terbuka, meski kini posisinya terjatuh menyamping.
"Y-a-aaa," jawab Qale, suaranya serak.
"Langsung ilang, Sya." Wafa menarik selimutnya lagi.
Qale terkekeh, menutup mulutnya sambil menggamit ujung selimut untuk menutupi dadanya.
"TUAN HASAN JATUH!”
Kepanikan segera menggantikan tawa itu ketika mereka berdua mendengar teriakan lanjutan.
Mereka berdua sontak bangkit. Wafa menahan nafas, Qale menyambar piyamanya dan berlari ke kamar mandi.
Dia buru-buru keluar, langsung menuju kamar ayahnya. Hasan ditemukan jatuh terduduk di kamar mandi, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi.
“Yah!” Qale panik, lututnya hampir goyah. Ia segera memanggil sopir ayahnya, “Cepat! Bawa Ayah ke rumah sakit! Cepat!”
Dalam tergesa, Qale bahkan tak sempat membawa dompet maupun ponsel. Dia juga masih mengenakan piyama. Wafa menyusul dengan kursi rodanya, melihat semua barang istrinya tertinggal di kamar.
Sesampainya di rumah sakit, Hasan langsung ditangani. Dokter meminta ia dirawat inap karena akan dilakukan rontgen. Qale menunduk, napasnya tersengal karena tangis tertahan.
“Rawat inap, Mbak. Jaga kondisinya, jantungnya lemah,” jelas dokter.
"Kondisi sekarang gimana, Dok?" tanya Qale saat melihat suaminya muncul.
"Shock ringan. Sudah saya kasih resep, liat perkembangan siang nanti, ya," jelas dokter sebelum pamit.
Qale sedikit lega. Dia terduduk lemas di sofa. Ayahnya masih menatap langit-langit kamar, tanpa ekspresi. Qale ingin mendekat tapi dicegah Mbak Mun.
Tak lama, suster datang, menyuntikkan obat ke infus Hasan dan beberapa menit kemudian beliau terlelap.
Qale diam berpikir soal siapa yang bakal jagain Hasan. Jadwal jaga pun disusun. Antara Qale, Wafa, dan Mbak Mun bergantian. Meski masing-masing sibuk—Qale dengan pesanan kue yang menumpuk, Wafa dengan urusan meeting di luar kantor—mereka sepakat menjaga Hasan bergiliran.
Sore itu, Qale sempat menyebut soal bingkisan yang diberikan Nadia.
“Itu ada di toko, Kak. Aku takut bawa-bawa gituan. Pak Bakar aja yang ambil, ya.”
Wafa mengangguk, “Nanti aku urus.” Dia lantas memanggil Bakar agar mengambil amplop yang Qale simpan di kolong meja kasir.
Malam harinya, pasangan Ambrasta menginap di rumah sakit. Wafa menyewa sofa bed. Hasan hanya terjaga sesekali jika makan dan minum obat. Setelahnya dia tertidur lagi.
Qale menepuk tangan kiri Wafa yang mulai menggerayangi punggungnya dari balik kaos, melepas kait bra dan menyusup ke dada kiri lalu meremasnya lembut.
"Kak!" desis Qale menahan gelenyar.
"Ayah kan bobok," bisiknya nakal sambil tersenyum liar. "Nikmati saja, Sayang. Aku suka liat kamu saat ehmm...."
Qale mencubit paha suaminya sampai Wafa menjerit sakit. Dia lalu ke kamar mandi, mengancingkan bra-nya lalu rebahan di sofa, menjauh dari Wafa.
Tawa renyah Wafa terdengar. "Aku catat utang ya, Sya." Sementara Qale hanya melihatnya sekilas, sebal.
Keesokan harinya, Wafa mendekati Qale di koridor rumah sakit. Wajahnya tegang.
“Sya, aku minta izin. Mau serahkan berkas ini ke polisi. Tapi… kamu juga harus waspada sama Elan. Orang itu bisa bahaya.”
Qale hanya diam, matanya kosong. Pikirannya campur aduk antara ayahnya yang sakit dan bayangan soal gugatan.
"Dia masih mantau, Kak?"
"Masih. Hati-hati, Sayang," ucapnya saat akan pergi dengan Bakar.
Qale menebus obat, mengantar ayahnya ke ruang rontgen dan kembali menjaga beliau. Hasan tak banyak bicara, hanya tidur seharian sampai Mbak Mun datang.
Saat Qale hendak pulang sore itu, Wafa masih di parkiran, bersiap menghampiri istrinya yang berdiri di lobby. Tiba-tiba ponsel Qale berdering. Qale mengangkatnya tanpa pikir panjang.
Suara pria berat terdengar di seberang.
“Kalau Wafa menyerahkan berkas itu ke polisi… Nadia akan dilukai. Pilihannya gampang. Selamatkan Nadia, atau hadapi akibatnya.”
Wafa datang mendekat. Mengusap pinggang istrinya. Qale buru-buru menyalakan loudspeaker. Keduanya mendengarkan dengan tegang.
"Siapa kamu, heh!" tanya Qale.
"Pilihannya gampang. Selamatkan Nadia, atau hadapi akibatnya.”
Klik. Sambungan terputus.
“Elan,” gumam Wafa, rahangnya mengeras.
Qale ternganga. “Bisa saja itu Danisha!” katanya keras.
Wafa menggeleng, seolah membela. “Nggak, Sya. Danisha nggak mungkin nekad kalau nggak ada orang yang dorong dia. Elan pasti—”
“Jadi Tata lebih percaya sama dia, huh?!” Qale menatapnya tajam, marahnya meledak. Ia berbalik, meninggalkan Wafa begitu saja.
Wafa buru-buru mengejar, meminta Bakar berjaga sebentar di kamar Hasan. Tapi Bakar malah nyelonong ke meja suster jaga.
“Mbak, tolong jagain Tuan Hasan di ruangan V12 bentar. Saya ada urusan,” katanya enteng sambil menyelipkan uang.
Lalu, ia malah ikut mengekori Wafa, penasaran dengan pertengkaran kecil pasutri itu.
“Nggak gitu, Sya. Aku cuma coba realistis,” ucap Wafa lembut, menahan laju roda kursinya di samping Qale.
Qale langsung meledak. “Realistis apanya! Setelah semalam … aku pikir kakak udah melupakan semuanya. Ternyata aku cuma pelampiasan!” suaranya bergetar, antara sedih dan marah.
Wafa menoleh, tersenyum tipis. “Cemburu, Sayang?”
Qale berhenti. Melirik Wafa lalu terdiam. Darahnya mendidih. Ia baru sadar, barusan terkesan benar-benar cemburu. Ucapan itu sekaligus mengungkap perasaannya yang selama ini ia sembunyikan.
Wafa mendekat, menunduk. “Pantesan kamu pasrah semalam. Tapi aku suka…” bisiknya nakal.
“Mesum! Sana jauh-jauh!” Qale mendorong kursi rodanya lalu berlari kecil meninggalkan suaminya.
Wafa malah tertawa renyah, wajahnya benar-benar puas. Ia mengikuti Qale, membujuk pelan, sambil menjelaskan kembali soal Danisha.
“Kita pacaran mulai besok, ya? Eh, nanti malam juga boleh,” kata Wafa usil.
Qale menghentakkan kakinya sampai di sisi mobil. Melotot pada Wafa.
“Sekarang aja, gimana?” Wafa menoleh ke arah Bakar di belakangnya. “Damkar, ke hotel!”
Bakar yang mendengar langsung mengaduh. “Setdah, siang bolong gini, Bos. Nggak panas?”
“Ada AC,” jawab Wafa santai.
Qale hanya menunduk, wajahnya memerah. “Nggak mau. Gak bawa baju ganti,” ucapnya sambil cemberut.
Wafa mendekat, suaranya menurun nakal. “Aku malah suka kalau kamu nggak pakai baju.”
“Uhuuukkk! Hoeekkk!” Bakar yang mendengar langsung geli sendiri, hampir tersedak ludahnya.
"Iiihhhhh!" Qale kembali mencubiti Wafa sampai suaminya itu mengaduh sakit.
Mobil pun melaju, dengan suasana yang campur aduk—tegang karena ancaman, hangat karena cinta yang baru mekar, dan keusilan Wafa yang tak pernah kehabisan cara membuat Qale merah padam.
Sementara itu, di benak Qale, bayangan ancaman tadi masih berputar. Jika benar terjadi … apakah Wafa berani tetap menyerahkan berkas itu?
.
.