Pesona Suamiku yang Tidak Pernah Memilihku
Firasat Qalesya
"Jangan bilang kalau...." jeda Qale saat melihat ekspresi Bakar.
Aspri Wafa itu masih diam membuat Qale mendekat dan mengintip isi layar Bakar.
"Jadi benar?" Desak Qale, menepuk lengan Bakar.
Dengan mimik tegang, Bakar mengangguk kaku. Dia buru-buru menjauhi Qale, menghubungi seseorang.
Tangannya terulur mencegah Qale mengikutinya. Dia sibuk bicara di telepon sedang memberi perintah dadakan.
Semenit kemudian, Bakar memanggil Qale untuk segera masuk ke mobil. Di sana dia menjelaskan bahwa Danisha baru saja dipindahkan ke rutan ini.
"Jangan-jangan... Pak, firasatku?" bisik Qale ketika Bakar mulai melajukan kendaraan meninggalkan pelataran lapas.
"Firasat apa, Nyah?"
"Hatiku bilang harus ketemu Lea dan tadi ucapannya menyiratkan sesuatu," kata Qale lirih, meremat ponsel dalam genggamannya.
Qale mengatakan soal ancaman Lea juga kebenciannya yang makin meruncing. Qale juga menyampaikan bahwa Lea tahu sisi lemahnya.
Lea tahu benar bahwa Anak Lipat adalah tempat kebangkitan bagi Qale. Toko kecil itu menyimpan segala kenangan bagi Qalesya, mulai dari Wafa sampai cita-citanya terwujud semua berasal dari sana.
"Kak Lea tahu terlalu dalam soal aku," cicit Qale.
Bakar melihat dari kaca spion. Dia mengangguk. "Jangan gegabah, Nyah. Kita selidiki dulu lalu serang diam-diam," ujar Bakar.
Suasana kabin mobil terasa menyesakkan. Qale bersandar, matanya menatap kosong ke atap seakan berusaha menyusun potongan puzzle yang hilang.
Bakar memilih diam berkonsentrasi menyetir. Dia tahu benar kalau majikannya itu sedang menimbang sesuatu yang berat.
Hening masih menguasai. Kedua orang itu sama-sama sadar, kebetulan seperti ini terlalu aneh untuk dianggap wajar.
“Anda berpikir apa yang saya pikirkan?” tanya Bakar, nadanya rendah.
“Fitnah croissant. Video deepfake itu.” Qale mengetukkan jarinya ke layar ponsel, sekali, dua kali. “Mereka ada di balik semua ini? Siapa yang bisa punya akses keluar? Siapa memanfaatkan siapa.”
Bakar menyipitkan mata, menimbang. “Kalau iya, itu berarti kita salah mengira bahwa semua ini sudah selesai....”
Qale buru-buru memotong, tajam. “Jangan bilang ke Kak Wafa. Aku nggak mau menambah bebannya. Biar aku sendiri yang coba bereskan. Tapi aku butuh Anda, Pak.”
Bakar memandangi Qale dadi spion dalam, lama, lalu akhirnya mengangguk. “Oke, Nyah. Saya juga lagi nunggu info terbaru.”
Sebuah kelegaan tipis menyelusup di wajah Qale. Dan Bakar hanya menunggu info dari orang-orangnya lalu mengeksekusi.
Siang itu juga, setelah mengantar Qale ke toko, Bakar memanggil dua orang anak buah kepercayaannya. Suara mesin kipas angin tua di dapur berderit, menambah nuansa muram.
"Sudah ada info?" tanya Qale cemas. Tepat ketika Bakar datang dengan mereka. Qale menyilakan kedua pria itu duduk di depan meja dapur.
“Katakan, beliau juga boleh tahu hasilnya,” ucap Bakar.
“Siap, Bos,” jawab salah satunyla.
“Soal pemindahan Danisa ke lapas Lea. Resmi, ini suratnya," jawab satu orang pria, menyodorkan foto perintah tersebut.
"Kok kita nggak dibagi tahu?" lirih Qale. "Kenapa bisa secepat itu adakah pesan yang pernah nyambungin dua nama itu—Lea dan Danisa, atau permintaan seseorang?" lanjutnya.
"Elan?" sambar Bakar, melihat ke dua anak buahnya.
Anak buahnya saling pandang, mereka tidak menemukan jejak pasti. Hanya perpindahan itu terkait ruangan yang tidak layak karena kapasitas napi di sana.
Bakar menatap mereka, lalu mengetuk meja stainless itu. “Inget, jangan sampai Bos tahu dulu. Ini antara kita saja.”
Bau croissant matang perlahan memenuhi udara dapur. Salah satu dari mereka menyodorkan sebuah video rekaman cctv ruang jenguk.
"Dipastikan mereka sudah kenalan." Bakar menatap Qale. Sebuah janji diam telah dibuat, dan dengan itu, sebuah penyelidikan bayangan pun dimulai.
Sampai sore hari Bakar masih di toko. Dia dan Nadia menghubungkan semua petunjuk soal pesanan, video fake juga lainnya.
Satu kesimpulan sudah mereka kantongi. Tapi Bakar harus buru-buru kembali ke kantor sehingga menunda penjelasannya pada Qale.
"Besok, Nyah. Kita nunggu mereka ngabarin info akurat," pungkas Bakar saat keluar dari toko.
***
Qale masih terjebak di pikirannya sendiri tentang pemindahan Danisa. Tapi malam itu, ketika ia pulang ke rumah, suasana mendadak berubah. Wafa menunggunya di kamar, wajahnya jauh lebih tenang setelah melewati hari-hari sulit pasca keguguran.
“Sayang…” suaranya lirih, tapi penuh makna.
Tatapan mereka bertemu, ada sesuatu yang lama tak mereka rasakan. Rindu yang tertahan. Luka yang perlahan terobati. Qale mendekat, dan tanpa banyak kata, Wafa meraih tangannya.
Suasana kamar jadi hangat. Pelukan mereka bukan sekadar pelepas rindu, tapi juga obat untuk hati yang sama-sama lelah.
"Boleh kan, Sya?" bisik Wafa di telinga Qale membuat darahnya berdesir.
Kecupan kecil yang merambati bahu, leher dan berlabuh di bibir Qale membuat napas mereka berkejaran, Wafa mengulum lembut bibir istrinya. Dan Qale membalas dengan kecupan penuh gairah.
“K-kaaaakkk…” bisik Qale di telinganya.
“Ehmm, Sayang ... Sssst,” jawab Wafa, menekan tubuhnya lebih rapat.
Kelembutan berubah jadi sensual. Kecupan basah bertubi menjelajah tubuh mulus Qale. Jemari Wafa menggelayar meremat lembut, mengusap, tak membiarkan satu inci pun luput dari jamahannya.
Lenguhan Qale terdengar. Tepat ketika bagian sensitifnya dilumat lembut Wafa.
"Eeengghhhh!"
Mereka saling memberi, saling menerima, seakan tubuh adalah bahasa yang tak perlu diterjemahkan. Malam itu jadi milik mereka sepenuhnya.
Usai semua reda, Wafa rebah di pelukan Qale, rambutnya masih berantakan, pipinya merona. Qale menatapnya, lalu melirik sebuah benda di meja.
“Itu apa?” nada suaranya serak, setengah terengah. “punya siapa?”
Wafa menoleh, tersenyum sambil mencuri kecupan. “Buatmu, Sayang. Laptop."
“Itu laptop. Buat aku?” Qale menyipitkan mata. "Karena?"
Wafa terdiam sejenak, lalu tersenyum manis. Dia menarik tubuh polos istrinya ke pelukan. “Belinya udah lama … hadiah untukmu. Waktu mau kursus public speaking.”
"Oh, kirain hadiah malam ini. Upah terbujuk rayu," kekehnya.
"Apaan sih. Nggak ada upah mengupah. Hadiah ya hadiah," balas Wafa pelan, sibuk mencari celah untuk mengulangi momen tadi.
Senyum tipis Wafa membuat Qale terlena. Entah rasa rindu atau memang keinginan melayani suaminya. Dia larut dalam ajakan mesra Wafa.
Keesokan paginya, matahari bahkan belum naik sepenuhnya ketika Wafa kembali mendekat ke Qale. Tatapannya penuh manja.
“Sayang,” bisiknya, menempelkan bibir di bahu Qale yang terbuka.
Qale membuka mata setengah malas. “Ehhhmmm.”
“Aku mau lagi,” ujarnya tanpa malu, wajahnya memerah tak surut mencumbu.
“Nggak capek dari semalam?" tutur Qale serak. "Eeengghhhh, Kaaakk," suaranya terdengar lemah.
Wafa tak peduli. Ia menuntut, memohon, hingga akhirnya Qale kembali menyerah pada kelembutannya. Suara-suara kecil mengisi kamar itu lagi, lama, sampai waktu nyaris tak terasa.
Bakar yang sudah menunggu di luar akhirnya gelisah. Ia melihat jam tangannya berkali-kali. Saat Wafa muncul, rambutnya masih basah, wajahnya segar tapi sedikit lelah.
“Ya elaaahh, lama banget,” omel Bakar setengah bercanda.
Wafa hanya tersenyum, tak memberi jawaban.
Sementara di dalam kamar, Qale benar-benar tumbang. Tubuhnya lemas, masih tergeletak di ranjang, tak sanggup bergerak.
Qale bahkan tidak tahu saat ayahnya Hasan datang ke rumah siang harinya. Hasan langsung panik mendengar dari Winda bahwa Qale belum keluar kamar sejak pagi.
“Lesa sakit?” tanyanya cemas.
Winda terkekeh sambil menyuguhkan minum saat ARTnya datang membawakan teh. “Sakit pasutri, Pak. Nggak usah khawatir.”
Hasan terheran. "Maksudnya?"
Winda cengengesan, mengode dengan gerakan tangan, menandakan ~ciuman.
Wajah Hasan langsung merona, dia menunduk malu. "Ya ampun."
.
.
(Gaspol ya, Pak Wafa)