Petinju Tercepat di Dunia Kekacauan
5. Kerajaan Fenris, Puteri Naria Dikepung
“Racunnya berhasil! Biarkan dia mati membusuk dan aku akan dapatkan uang asuransinya!”
Suara itu terdengar begitu jelas.
Arya berdiri dalam kegelapan tanpa batas. Di depannya, Maya tersenyum sambil memegang gelas yang pernah diberikannya sebelum pertandingan perebutan gelar dunia.
Di samping wanita itu berdiri seorang pria bertopi hitam yang wajahnya tertutup bayangan.
Maya tertawa.
Tawa yang tidak pernah Arya dengar sebelumnya.
Tawa yang dingin.
Tawa yang membuat dadanya terasa sesak.
“Arya terlalu bodoh,” kata Maya sambil menyilangkan tangan. “Dia percaya padaku sampai akhir.”
Pria bertopi itu mengangguk pelan.
“Uangnya akan segera cair.”
Maya tersenyum lebar.
“Akhirnya aku bebas.”
Mata Arya menajam, kepalanya menggeleng keras. Bayangan itu terlihat seperti nyata di depannya, bayangan di mana, Maya terlihat tertawa saat Arya berlari menuju toilet.
Sial!
Amarah meledak dalam dadanya.
Tubuhnya bergerak maju.
“Maya!”
Arya mengepalkan tangannya, saat menyadari sesuatu dia sedang berada di medan perang. Di dalam kerajaan yang sedang ditembus pasukan musuh. Kerajaan Fenris sedang di ambang kehancuran. Arya melihat di kejauhan, sang puteri yang tersisa dari keluarga raja sedang bertarung dengan pedangnya yang berlumuran darah.
“Lihatlah di depan anda, anda adalah jawaban dari sihir terkuatku. Kamu adalah pahlawan yang bisa menyelamatkan kerajaan Fenris.”
Arya menoleh. Dia melihat Henson yang begitu antusias meminta dirinya membantu.
Dan untuk kesekian kalinya, Arya melihat sekelilingnya. Dia benar-benar di medan perang dan bukan di dalam arena tinju. Kematian dan luka ada di setiap tempat.
Matanya membelalak.
Di hadapannya bukan rumah sakit.
Bukan arena tinju.
Bukan kota modern.
Melainkan sebuah medan perang raksasa.
Api berkobar di berbagai sudut.
Asap hitam membumbung ke langit.
Teriakan para prajurit bercampur suara benturan senjata menciptakan kekacauan yang mengerikan.
Panah melesat seperti hujan.
Sihir berwarna-warni menghantam tanah dan meledak dengan kekuatan dahsyat.
Arya berdiri perlahan.
“Apa... ini?”
Tidak jauh darinya, puluhan penyihir berjubah sedang mengangkat tongkat mereka.
Lingkaran sihir berwarna biru menyala di udara.
“Api Naga!”
“Badai Es!”
“Petir Langit!”
Serangan demi serangan menghantam pasukan musuh yang berusaha menerobos benteng.
Ledakan terus terjadi.
Namun jumlah musuh jauh lebih banyak.
Mereka seperti lautan manusia yang tidak ada habisnya.
Arya merasakan tenggorokannya mengering.
Ini bukan mimpi.
Ini nyata.
Sangat nyata.
“Pahlawan!”
Suara tua terdengar dari samping.
Arya menoleh.
Henson bahkan memegang kerah baju Arya dengan dua tangannya.
Jubah penyihir tua itu sudah robek di beberapa bagian.
Darah mengalir dari pelipisnya.
“Kerajaan Fenris sedang berada di ambang kehancuran. Tolonglah bantu kami pahlawan!”
Arya terdiam.
Henson menunjuk ke arah medan perang.
“Lihat sendiri.”
Arya mengikuti arah telunjuknya.
Jauh di bawah benteng, ribuan pasukan musuh mengepung ibu kota.
Bendera hitam berkibar di antara mereka.
Mesin pengepung raksasa menghantam gerbang kota tanpa henti.
BOOOM!
BOOOM!
BOOOM!
Setiap benturan membuat seluruh benteng bergetar.
“Setengah wilayah Fenris telah jatuh,” kata Henson dengan suara berat.
“Para bangsawan memberontak. Kota-kota dibakar. Desa-desa dihancurkan.”
Ekspresi Arya berubah.
Henson melanjutkan.
“Pasukan kerajaan sudah hampir habis.”
“Jika ibu kota jatuh hari ini... maka Fenris akan lenyap dari peta dunia.”
Angin kencang berembus.
Membawa aroma darah dan asap.
Arya menatap kekacauan di hadapannya.
Masih sulit mempercayai semua ini.
Beberapa jam lalu dia berada di arena tinju.
Sekarang dia berdiri di tengah perang.
Henson menggenggam bahunya.
“Kami memanggilmu karena ramalan kuno.”
“Aku tidak peduli soal ramalan,” potong Arya.
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana bisa berada di sini!”
Henson membuka mulut hendak menjawab.
Namun suara ledakan lain mengguncang langit.
BOOOOOOM!
Sebuah menara pertahanan runtuh.
Prajurit berjatuhan dari atas tembok.
Jeritan memenuhi udara.
Arya menoleh.
Lalu matanya menangkap sosok yang berdiri di garis depan pertempuran.
Seorang wanita muda berambut perak.
Mengenakan zirah ringan berwarna putih.
Pedang panjang berkilau di tangannya.
Setiap ayunan pedangnya menghasilkan cahaya yang membelah musuh.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat tentara musuh tumbang dalam sekejap.
Namun jumlah lawan yang datang terus bertambah.
“Siapa dia?” tanya Arya.
Henson mengikuti pandangannya.
Wajah tua itu berubah muram.
“Itulah Puteri Naria.”
Arya memperhatikan lebih seksama.
Puteri itu memang luar biasa.
Gerakannya cepat.
Tebasan pedangnya tajam.
Keberaniannya bahkan melebihi banyak prajurit di sekitarnya.
Namun sesuatu terlihat jelas.
Dia kelelahan. Sangat kelelahan. Napasnya mulai tidak teratur. Lengannya gemetar setiap kali mengangkat pedang. Darah mengalir dari bahunya. Namun dia tetap berdiri di depan pasukannya. Melindungi mereka.
“Dia sudah bertarung selama dua hari tanpa istirahat,” kata Henson.
“Jika dia jatuh, semangat pasukan akan runtuh bersama dirinya.”
Arya menatap medan perang.
Puteri itu bukan tipe bangsawan yang bersembunyi di belakang pasukan.
Dia berada di garis depan.
Mempertaruhkan nyawanya bersama rakyatnya.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini, Arya merasakan sesuatu yang aneh.
Rasa hormat.
Naria mengayunkan pedangnya sekali lagi.
Namun seorang ksatria musuh berhasil menahannya.
CLAAANG!
Benturan logam menggema.
Puteri itu terdorong mundur beberapa langkah.
Musuh mulai mengepungnya.
Sepuluh.
Dua puluh.
Tiga puluh orang.
Arya mengepalkan tangan.
Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman melihat situasi itu.
Henson menatapnya penuh harap.
“Pahlawan.”
Arya diam.
“Kami membutuhkan bantuanmu.”
“Kenapa aku?”
“Karena hanya kau harapan terakhir kami.”
Arya tertawa pendek.
“Harapan terakhir?”
“Lihat aku.”
“Aku petinju, bukan pahlawan.”
“Aku bahkan gagal menyelamatkan hidupku sendiri.”
Wajah Maya kembali terlintas di pikirannya.
Racun.
Pengkhianatan.
Kekalahan.
Semua itu masih terasa seperti luka terbuka.
Namun sebelum Henson sempat menjawab—
WUUUUUUUUUUUUUUU!
Suara terompet perang menggema dari seluruh penjuru benteng.
Alarm darurat.
Para prajurit Fenris mendadak panik.
“Tidak!”
Salah satu ksatria berteriak.
“Gerbang luar jebol!”
Wajah Henson langsung pucat.
Arya menoleh ke arah gerbang utama.
Debu membumbung tinggi.
Kayu dan batu beterbangan.
Gerbang raksasa yang selama ini menahan musuh perlahan runtuh.
CRAAAAASH!
Suara kehancuran mengguncang seluruh medan perang.
Sorak kemenangan meledak dari pihak musuh.
“Masuk!”
“Bunuh mereka semua!”
“Rebut istana!”
Gelombang pasukan musuh menyerbu seperti banjir yang tidak bisa dihentikan.
Ribuan tentara bergerak menuju istana kerajaan.
Langkah mereka membuat tanah bergetar.
Puteri Naria yang masih bertarung di garis depan menoleh ke arah gerbang yang hancur.
Untuk pertama kalinya, ekspresi putus asa terlihat di wajahnya.
Pasukan Fenris mulai mundur.
Beberapa ksatria menjatuhkan senjata mereka.
Mereka tahu semuanya hampir berakhir.
Henson menggenggam tongkatnya erat-erat.
“Sudah terlambat...”
Suara tua itu bergetar.
“Fenris benar-benar akan jatuh.”
Arya memandang lautan musuh yang bergerak mendekat.
Kemudian menatap Puteri Naria yang masih berdiri sendirian menghadapi mereka.
Tangannya perlahan mengepal.
Sangat erat.
Dan di tengah kekacauan itu, matanya mulai berubah.
Bukan mata seorang korban pengkhianatan.
Bukan mata seorang pria yang kalah.
Melainkan mata seorang petarung.
Petarung yang belum pernah menyerah dalam hidupnya.
Sementara itu, ribuan pasukan musuh terus menerobos menuju jantung istana.
Dan perang sesungguhnya akhirnya dimulai.