Pocong Opa-Opa Korea

Pocong Setan

Setelah adegan dramatis penuh haru di mimpi Hanum, Bima dan Yuli akhirnya keluar dari Cinema Dimensi dengan hati sedikit lega. Tapi seperti biasa, hidup (atau lebih tepatnya mati) mereka tak pernah lepas dari kekacauan. 
 
Saat keduanya menuju ujung kota, Bima tiba-tiba berhenti. Tatapannya terpaku pada sebuah rumah besar dengan pagar putih yang familiar.
 
“Yul, tunggu sebentar,” kata Bima sambil memicingkan mata.
 
Yuli menoleh malas. “Apa lagi sih, Cong Opa? Gue udah capek banget nih. Lo tau nggak, jadi arwah keluyuran itu butuh energi ekstra. Lo mau bikin ulah lagi?”
 
“Itu … rumah Hanum,” jawab Bima pelan, suaranya serak penuh emosi.
 
Yuli mendongak, melihat rumah di depan mereka. Lampu terasnya masih menyala redup, tampak sedikit lusuh. Ia memutar bola mata. “Iya, terus kenapa? Mau nostalgia lagi? Nangis lagi? Gue udah nggak punya tisu buat ngelap sarung lo, ya.”
 
“Bukan, Yul. Lihat deh, itu Lucas!” ujar Bima, menunjuk seorang pria yang turun dari mobil sport mewah.
 
Lucas tampak sempoyongan keluar dari mobilnya yang pintunya terbuka seperti sayap kelelawar. Rambutnya kusut, dasinya miring seperti tak pernah belajar simpul dan ia membawa botol bir yang hampir kosong. Dari caranya berjalan, jelas pria itu sedang mabuk berat.
 
“Ya ampun, itu suaminya Hanum? Ini orang apa robot yang korslet?” cibir Yuli sambil melipat tangan.
 
Lucas menghampiri pintu rumah dengan langkah berat, lalu tanpa basa-basi menendang pintunya hingga terbuka. Hanum muncul di ambang pintu, wajahnya sedikit terkejut, tapi ia masih mencoba tersenyum.
 
“Lucas, kamu sudah pulang? Aku masak sesuatu buat kita,” sapanya lembut.
 
“M-masak apa?!” teriak Lucas, suaranya melengking. Dia melempar botol bir yang dipegangnya ke lantai, kaca pecah berserakan di seluruh ruang tamu. “Aku cape kerja! Cape mikir! Kamu cuma masak?! Apa nggak ada kejutan lain buat aku, hah?!”
 
Mata Bima menyipit, emosinya langsung naik ke ubun-ubun. Kalau saja dia masih hidup, mungkin urat nadinya sudah terlihat. “Apa-apaan dia, Yul? Berani-beraninya dia ngomong gitu ke Hanum!”
 
“Cong Opa, santai aja. Itu urusan rumah tangga mereka. Jangan ikut campur!” Yuli mencoba menarik Bima menjauh.
 
“Enggak, Yul. Dia udah kelewatan. Gue nggak akan diam aja!”
 
Lucas mendekati Hanum dengan langkah kasar. Tangannya mulai terangkat, seolah siap melayangkan tamparan. Hanum terlihat tegang, tapi tetap berdiri dengan tenang.
 
“GUE GAK AKAN BIARIN!” seru Bima sambil melayang masuk ke rumah dengan gerakan penuh semangat.
 
Yuli mendesah. “Astaga, nih pocong drama. Kalau lo mau bikin kekacauan, gue ikut, deh.”
 
Mereka segera merencanakan serangan balik gaya arwah. Bima dengan sarung pocongnya, menyelinap masuk ke rumah melalui dinding, sementara Yuli mengikuti sambil membawa pot bunga yang dicuri dari tetangga sebelah.
 
Yuli melayang mendekati Bima, menepuk sarung pocongnya. Gerakannya jelas. "Ingat, kita nggak bisa ngomong. Kalau mau bertindak, harus diam-diam.”
 
Bima mengangguk. Matanya tak lepas dari Lucas yang mulai mendekati Hanum dengan langkah kasar. Lucas yang masih mengangkat tangan, seolah hendak menampar Hanum.
 
Bima bergerak cepat. Dia meniup angin dingin ke arah lampu ruang tamu, membuatnya berkedip-kedip seperti diskotik murahan. Lucas berhenti sejenak, menoleh ke sekeliling. “Siapa di sini?!”
 
Yuli menambahkan aksinya. Dengan satu lompatan, dia mendorong vas bunga besar di dekat pintu. Vas itu jatuh dengan suara keras, pecah berkeping-keping. Lucas tersentak mundur.
 
Hanum memandang vas yang hancur, bingung. “Lucas, hati-hati dong, itu vas kesayangan Mama.”
 
“Aku nggak nyenggol apa-apa!” Lucas mulai ketakutan, tapi dia berusaha menutupi rasa takutnya dengan marah-marah. “Pasti angin!”
 
Bima melayang ke dapur, mengambil beberapa peralatan memasak dengan cara menendang ujungnya. Tiga panci bergelantungan mulai bergoyang, berdering-dering seperti lonceng angker. Lucas menatap dapur dengan mata melebar.
 
“Hanum, kamu lihat itu?!” serunya, menunjuk panci-panci yang berayun sendiri.
 
Hanum menoleh ke dapur, tapi semuanya sudah kembali diam. Dia menggeleng. “Enggak ada apa-apa, Lucas. Kamu mungkin capek .…”
 
Lucas mulai gemetaran. Ia mengambil langkah mundur, tapi tak sadar bahwa Yuli sedang bersiap di belakangnya. Dengan satu gerakan halus, Yuli menendang kaki kursi ke arah Lucas. Kursi itu tersandung kaki Lucas, membuatnya jatuh terduduk dengan bunyi “DUG!” yang memalukan.
 
Bima memutuskan untuk memberikan sentuhan terakhir. Ia melayang ke kamar mandi, membuka keran air sepenuhnya. Air memancar dengan deras, menciptakan suara gemuruh. Lucas langsung berlari ke kamar mandi, berniat membasuh wajahnya agar dia sadar, tetapi yang ia temui malah cermin yang dipenuhi tulisan besar dari embun.
 
"JANGAN PERNAH SAKITI HANUM."
 
Lucas teriak sekeras-kerasnya, “SETAN!!!” dan kabur keluar rumah hanya dengan celana pendek.
 
Hanum menutup pintu dengan heran, lalu melihat sekeliling. Meskipun dia tidak bisa melihat Bima dan Yuli, dia merasa ada sesuatu yang hangat melindunginya. Dia tersenyum kecil, memandangi langit.
 
Sementara itu, di luar rumah, Bima dan Yuli berdiri bersebelahan. Yuli menoleh ke Bima, mengangkat bahu seolah berkata, "Udah puas?"
 
Bima mengangguk dengan tenang. Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, dia merasa lega.
 
Mereka melayang pergi, meninggalkan Lucas yang masih lari tunggang-langgang sambil berteriak di jalan.
 
Bima yang masih penasaran dengan keadaan Lucas, ia tetap memperhatikan pria itu.
 
Terlihat, Lucas terus berlari seperti dikejar setan beneran. Celana pendeknya melorot sedikit, tapi dia terlalu panik untuk peduli. Warga sekitar yang sedang duduk santai di warung kopi depan gang mulai memperhatikan.
 
“Heh, itu bukan si Lucas? Suaminya Bu Hanum?” tanya Pak RT sambil menyipitkan mata, berusaha mengenali sosok yang melintas.
 
“Kayaknya iya,” jawab Bu Sri sambil menggigit keripik pisang. “Tapi kok kayak setengah telanjang gitu? Pake celana doang.”
 
Lucas akhirnya berhenti di depan pos ronda. Napasnya ngos-ngosan, mukanya merah dan rambutnya makin acak-acakan. “Tolong ... tolong! Ada setan di rumah gue! SETAN!!”
 
Pak RT mendekat dengan bingung. “Setan? Setan apa, Pak Lucas? Di sini aman-aman aja kok.”
 
“Beneran! Ada pocong yang nulis di cermin! ‘Jangan sakiti Hanum!’” Lucas menunjuk ke arah rumahnya sambil gemetar.
 
Pak RT mengerutkan dahi, lalu menepuk pundak Lucas dengan pelan. “Pak Lucas, saya saranin tidur dulu. Mungkin Bapak mabuk ya?”
 
“Mabuk apaan?! Saya serius! Pocongnya ada dua lagi! Satunya bawa pot bunga, satunya lagi … ya pokoknya serem banget lah!”
 
Sementara itu, dari kejauhan, Yuli dan Bima berdiri di belakang sebuah pohon mangga, menyaksikan semuanya dengan geli.
 
“Cong Opa,” bisik Yuli sambil menahan tawa. “Lo lihat mukanya Lucas barusan? Itu kayak kambing kena flu!”
 
Bima tersenyum puas, tapi dia mencoba bersikap bijak. “Yang penting, Hanum aman. Gue nggak peduli Lucas mau lari sampai planet Mars sekalipun. Bodok amat."

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!