Hanum yang biasanya masih mencoba menjaga wibawa sebagai istri solehah di depan tetangga, kini menyerah total. Rambutnya acak-acakan, kaosnya lusuh dan matanya sembap karena habis menangis sepanjang malam.
Ia berjalan ke warung depan rumah dengan langkah berat. Tetangga-tetangga yang sedang menggosip langsung terdiam saat melihatnya, tapi itu hanya berlangsung beberapa detik. Setelah Hanum lewat, bisik-bisik mereka kembali riuh seperti suara tawon.
“Apa kabar, Hanum?” tanya Bu Ratna yang terkenal hobi mengumpulkan gosip seperti koleksi Tupperware.
Hanum memaksakan senyum, meski hasilnya lebih mirip grimace badut sirkus. “Alhamdulillah, sehat ...,” jawabnya pendek, sebelum buru-buru membalikkan badan.
"Ohh kirain gak sehat, soalnya kemaren sibuk ngurusin pocong, jangan-jangan kalian kaya karena pake pesugihan tali pocong ya?" gumam Bu Ratna. Tak digubris sama sekali oleh Hanum perkataan itu.
Di belakangnya, Bima ... pocong yang kini jadi penghuni tetap rumah Hanum, melayang mengikuti dengan gaya sok bodyguard. Matanya melotot ke arah Bu Ratna.
“Nih ibu-ibu, mulutnya nggak ada rem. Kalau gue bisa nampakin diri, gue sumpel mulutnya pake sandal jepit,” gerutunya sambil melayang semakin dekat ke Hanum.
“Cong Opa, lo kenapa sih makin bucin aja sama Hanum?” Yuli tiba-tiba muncul entah dari mana. Hantu perempuan ini dengan bedak super tebal dan lipstik nyala seperti habis tampil di karnaval, asyik menggigit es krim.
“Hanum lagi sedih, Yul. Gue nggak bisa ninggalin dia,” jawab Bima dengan nada serius.
Yuli terkekeh. “Lo tuh kayak drama Korea versi horor, Cong. Kalau Hanum bisa liat lo, gue yakin dia bakal pingsan tiap hari.”
“Udah, lo jangan bikin gue tambah pusing, deh,” balas Bima ketus.
Hanum akhirnya tiba di warung. Setelah membeli beberapa barang, ia kembali berjalan pulang dengan langkah gontai. Bima mengikuti dari belakang seperti pengawal presiden, sementara Yuli sibuk dengan es krimnya yang tidak habis-habis.
Sesampainya di rumah, Hanum mencoba menyibukkan diri. Ia mengangkat sapu dan mulai membersihkan ruang tamu. Tapi pikirannya tetap melayang. Lucas belum pulang. Apa dia benar-benar pergi meninggalkannya? Atau ... jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya? Atau ... pesugihan itu benar adanya?
Bima berdiri dengan wajah serius, memandangi Hanum seperti guru yang sedang mengawasi ujian.
“Cong Opa, lo serius banget. Sampai kapan lo mau jadi bodyguard nggak digaji begini?” sindir Yuli sambil duduk di meja makan dengan kaki dilipat.
“Gue nggak peduli. Yang penting Hanum nggak ngerasa sendirian,” jawab Bima tanpa menoleh.
Tiba-tiba, Hanum berdiri dan melemparkan sapu ke lantai. “Cukup! Aku nggak bisa terus begini!” teriaknya, membuat Bima dan Yuli langsung terdiam.
“Apa-apaan tuh?” bisik Yuli sambil menyikut Bima.
Hanum berjalan ke dapur dengan langkah cepat. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air. Tapi bukannya minum, ia malah menatap botol itu dengan pandangan tajam. “Aku harus cari Lucas. Aku nggak peduli lagi kalau harus ketemu pocong-pocong di jalan kalo emang bener dia make pesugihan!”
Bima langsung panik. “Yul, lo denger kan? Dia mau keluar!”
“Ya terus kenapa? Bagus dong, dia nyari suaminya,” jawab Yuli santai.
“Kalau dia kenapa-kenapa di jalan gimana? Kalau tiba-tiba ada pocong beneran muncul?”
“Cong Opa, lo lebih drama dari ibu-ibu tadi,” ejek Yuli sambil tertawa kecil.
Tapi Bima tidak peduli. Ia langsung melayang mendekati pintu dan menutupnya rapat-rapat sebelum Hanum sempat keluar.
Hanum berhenti dan menatap pintu itu dengan heran. “Apa-apaan ini?!”
Pintu itu tidak mau terbuka meskipun Hanum mencoba menariknya dengan sekuat tenaga. Ia mulai merasa ada yang aneh. Dengan wajah pucat, ia menatap sekeliling ruangan.
“Lucas! Kalau kamu denger, aku nggak takut sama pocong! Aku cuma takut kehilangan kamu!” teriaknya ke udara.
Yuli, yang mendengar itu, langsung tertawa sampai terjatuh dari kursi. “Cong Opa, lo kalah! Hanum lebih takut kehilangan Lucas dari pada lo!”
Bima menghela napas panjang. “Dia nggak ngerti apa-apa, Yul. Gue cuma mau dia bahagia.”
Sebanyak tenaga yang Hanum keluarkan pintu itu tetap tak mau terbuka.
"ARGH! SIALAN!" gerutu Hanum melempar tubuhnya ke sofa.
Tiba-tiba suara motor terdengar dari luar. Hanum, yang sedang termenung di sofa, langsung berdiri. “Lucas!” serunya penuh harapan. Ia berlari ke depan pintu dan membukanya dengan cepat.
Ternyata benar, Lucas berdiri di sana dengan wajah kusut seperti kucing kehujanan.
“Aku pulang,” katanya pendek.
Hanum ingin marah, tapi ia terlalu lelah untuk itu. “Kenapa baru sekarang? Kamu nggak tahu aku udah kayak orang gila di sini!”
Lucas mengangkat tangan, mencoba menenangkan istrinya. “Denger dulu. Gue beneran nggak ngerti kenapa rumah ini jadi tempat pocong mangkal. Gue pergi karena gue takut!”
Hanum mendengus. “Jadi kamu ninggalin aku sendirian? Kalau pocong itu balik, siapa yang jagain aku?”
Dari balik pintu, Bima melayang dengan wajah kesal. “Gue yang jagain! Dasar Lucas pengecut!” gerutunya pelan.
Yuli muncul di sebelahnya dengan gaya seperti cheerleader. “Cong Opa! Cong Opa! Pahlawan cinta sejati!” katanya sambil bertepuk tangan.
Lucas tiba-tiba merasa ada sesuatu di belakangnya. Ia menoleh perlahan, matanya melotot seperti kucing melihat bayangan. “Hanum, gue rasa ... pocong itu masih di sini.”
Hanum menggeleng. “Nggak mungkin. Kalau ada pocong, dia pasti ngegangguin aku juga sama kayak kamu. Nggak mungkin dong dia pilih-pilih! Secara pocong mana ada yang baik, pasti jahat semua!"
Ucapan Hanum itu seperti pukulan keras bagi Bima. Ia merasa hatinya diremas-remas. Yuli, yang melihat ekspresi Bima, mendekat sambil menahan tawa. “Cong Opa, lo mau nangis? Drama banget sih lo.”
Lucas perlahan berjalan ke dapur. Tapi baru saja ia membuka pintu, sebuah panci jatuh dari rak dengan suara keras.
“Aaaaaah! Salah gue apa sih! Gue baru balik!” Lucas menjerit dan langsung lari keluar rumah tanpa menoleh lagi.
Hanum hanya bisa memandang pintu yang terbuka dengan wajah kesal. “Hah pergi lagi? Lucas! Balik sini! Jangan jadi pengecut lagi!” teriaknya.
Tapi Lucas sudah menghilang entah ke mana dia benar-benar trauma akan kejadian kemarin.
Lagi-lagi Hanum menarik napasnya panjang, duduk sendirian di ruang tamu. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia menatap ke luar jendela, merenungkan semua yang terjadi.
Bima berdiri di sudut ruangan, matanya penuh rasa bersalah.
“Yul, gue nggak tahu ini semua salah gue atau bukan. Tapi gue nggak mau liat Hanum sedih terus,” katanya pelan.
Yuli mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia terlihat serius. “Gue ngerti, Cong Opa. Lo cuma mau yang terbaik buat dia. Tapi lo juga harus sadar, lo udah mati.”
“Gue tahu. Tapi hati gue nggak bisa mati, Yul.”
Hanum tiba-tiba berbisik pelan, seolah berbicara pada seseorang yang tidak terlihat. “Bima ... kalau kamu benar-benar di sini, aku cuma mau bilang ... maaf.”
Ucapan itu membuat Bima tertegun. Ia melayang mendekati Hanum, meski ia tahu Hanum tidak akan pernah melihatnya.
“Hanum, gue selalu di sini. Dan gue nggak akan pernah ninggalin lo,” bisiknya lirih.
Yuli hanya bisa menghela napas. “Cong Opa, lo bucin tingkat akhir. Gue nggak ngerti lagi.”