Bima melangkah lebih jauh, masih bingung dengan dunia arwah yang ternyata lebih absurd dari yang dia kira. Di depan, ada segerombolan hantu yang sedang heboh. Ada Tuyul kecil, gendut, dan botak, lari-lari sambil terengah-engah, dikejar-kejar oleh Wewe Gombel yang bawa sapu raksasa.
"Eh, lo jangan kabur dong! Itu uang lo yang hilang kemarin!" teriak Wewe Gombel sambil melambai-lambaikan sapu ke arah Tuyul.
Tuyul itu berlari dengan kecepatan tinggi, tapi dengan langkah-langkah kecil yang malah bikin dia kelihatan lucu. "Gue nggak mau bayar hutang! Gue cuma pengen nyuri dari kantong orang doang!" jawab Tuyul sambil terus berlari seperti anak kecil dikejar ibu.
Bima cuma bisa nyengir melihatnya, tapi Pak Hadi nggak tertawa. "Di sini tuh, Nak, hantu-hantu punya masalah yang nggak kalah aneh sama yang di dunia manusia. Jangan heran kalo lo ketemu Tuyul yang nggak ngerti cara maling yang bener."
Bima ngangguk, semakin terjebak dalam absurditas dunia ini. Mereka melanjutkan perjalanan, dan nggak lama, mereka sampai di bawah pohon beringin yang gede banget. Di sana, ada Genderuwo, hantu besar berbulu lebat yang sedang terjengkang di atas dahan pohon, kayak orang lagi coba-coba yoga.
"Bro, lo masih belum bisa turun dengan cara yang keren?" tanya hantu yang ada di bawah sambil nyengir.
Genderuwo, dengan tubuh gede dan bulu hitamnya yang kayak lapisan karpet, menjawab dengan gaya macho, “Gue ini berlatih supaya bisa turun dengan smooth, kayak James Bond turun dari helikopter. Kalo gue gagal, gue bakal keliatan kayak monyet lompat dari pohon!”
Dia lari ke pinggir dahan, coba loncat, tapi justru terjatuh langsung ke tanah dengan suara "PLAAK!" yang bisa bikin seluruh dunia hantu merinding. "Aduh, sakit banget!" ujar Genderuwo sambil meremukkan tulang-tulangnya. Hantu-hantu yang ada di sekitar cuma bisa geleng-geleng kepala, ada yang ketawa, ada yang malah nanya, "Bro, lo ikut kursus ngelompat nggak sih?"
Bima yang udah terheran-heran sama kejadian itu melirik Pak Hadi. "Kalo gini, jadi seram atau jadi lucu ya?"
Pak Hadi cuma nyengir. "Ini baru awal, Nak. Dunia arwah nggak cuma soal serem-sereman, kadang ada komedi juga."
Mereka terus berjalan, dan nggak lama sampai di tempat yang lebih jauh. Di situ, Bima ngeliat dua Kuntilanak yang sedang berdebat hebat. Satu kuntilanak berdaster putih panjang, satunya lagi, Kuntilanak Merah, dengan muka super serius.
“Kenapa lo ngubah daster lo jadi crop top, huh? Ini bukan runway fashion, ini dunia arwah!” teriak Kuntilanak Merah, ngelihat Kuntilanak berdaster putih yang dengan percaya diri memotong dasternya jadi model crop top.
Kuntilanak berdaster putih itu menjawab dengan santai, “Yah, gue cuma pengen beda aja, kan panas. Daster panjang gitu, nanti gue jadi tenggelam dalam kabut!”
Kuntilanak Merah langsung berdiri tegak, muka marah kayak lagi ngadepin murid bandel. "Nggak ada alasan untuk itu, loh! Lo kuntilanak, bukan influencer TikTok yang mikirin outfit!"
Bima yang lagi berdiri di situ, nggak tahan pengen ngakak. Tapi Pak Hadi udah ngasih kode biar diem. "Awas aja lo ketawa, Bima. Lo jangan sampe keterusan jadi model di dunia arwah."
Bima cuma bisa nahan tawa sambil liatin kejadian itu. Kuntilanak Merah melangkah ke arah Bima, tiba-tiba ngomong dengan serius, “Bima, lo harus bantuin mereka. Kalo lo bisa atur fashion hantu-hantu yang nggak paham selera, mungkin lo bisa keluar dari sini.”
Bima menatap Kuntilanak Merah, masih nggak yakin dengan semua yang terjadi. “Lo mau gue jadi stylist hantu, gitu?” tanyanya, nggak percaya.
Kuntilanak Merah mengangguk. “Iya! Lo nggak bakal bisa keluar dari sini kalo lo nggak ngerti caranya bikin mereka tampil lebih seram. Itu adalah kunci untuk balik ke dunia manusia!”
Bima, yang udah mulai pusing dengan semua permintaan absurd ini, cuma bisa geleng-geleng kepala. “Jadi, gue harus jadi desainer hantu? Apa gue lagi mimpi?”
Pak Hadi senyum lebar. "Yah, kenapa enggak? Hantu-hantu itu udah punya masalah fashion yang bikin mereka nggak seram-seram amat. Lo harus jadi pahlawan gaya, Bima."
Bima, yang udah nggak ngerti lagi apa yang terjadi, cuma ngelus dada. “Oke, oke. Kalau fashion bisa ngeluarin gue dari sini, gue coba aja.”
Dengan keberanian yang mulai goyah, Bima melangkah maju, siap mengajarkan para hantu-hantu bagaimana cara tampil lebih keren dan lebih menakutkan. Paling nggak, kalau dia nggak bisa jadi pocong yang menakutkan, dia bisa jadi stylist pertama di dunia hantu. “Kalau gue jadi stylist hantu, gue bakal terkenal kan? Semua hantu bakal minta bantuan gue untuk urusan daster!”
Pak Hadi cuma tertawa, "Lo bakal jadi trendsetter arwah, Bim."