Kuntilanak merah yang dasternya kini penuh rumbai dan glitter, berdiri dengan tangan berkacak pinggang di tengah lapangan kuburan. Plastik kresek nyangkut di salah satu ujung rumbainya, berayun-ayun mengikuti angin malam. Dengan rambut yang dikibaskan dramatis, dia menunjuk ke arah Bima yang sedang duduk santai di atas nisan.
“BIMA! GUE UDAH NGGAK TAHAN LAGI! LO HARUS KELUAR DARI DUNIA ARWAH!” teriaknya, suaranya menggema sampai kelelawar yang sedang nongkrong di pohon beringin langsung kabur.
Bima yang sejak tadi sibuk menggambar sketsa baju baru di atas batu nisan dengan ranting, menoleh santai. “Eh, kenapa lo marah lagi, Elsa? Maksud gue, Kuntilanak? Gaun lo kan udah glowing banget. Gue tambahin efek glitter biar lo kayak penyanyi K-pop, lho.”
“GLOWING PALSU!” teriak Kuntilanak merah sambil mengibaskan rambutnya yang sekarang berkilauan kayak kena taburan bubuk emas. “Lo bikin gue kayak Kuntilanak yang abis ikut lomba fashion anak TK di posyandu! Dunia arwah nggak butuh desainer rusuh kayak lo!”
Bima tertawa ngakak, sampai harus berpegangan ke nisan biar nggak jatuh. “Lo bercanda, kan? Ayolah, dunia arwah tuh jadi lebih hidup sejak gue di sini!”
Ternyata, Kuntilanak merah bukan satu-satunya yang muak. Dari balik pohon, Tuyul Naruto muncul dengan ekspresi cemberut. Dia menyeret kantong recehnya sambil menggaruk kepala. “Bro, gue setuju sama Kak Elsa. Lo tuh bikin gue jadi kayak ... kayak tuyul cosplay yang gagal! Rambut gue gatel banget nih gara-gara bulu ketiak Genderuwo!”
Genderuwo Hulk yang tubuhnya kini licin seperti ikan paus habis luluran, mengangguk setuju. “Gue juga! Semua Genderuwo lain di grup WhatsApp ngejek gue! Mereka bilang gue mirip alpukat raksasa yang gagal panen!”
Pocong Pink yang kain kafannya sekarang ada sayap-sayap kecil dari kain tulle, lompat-lompat mendekat. “Dan gue udah bosen jadi meme di dunia arwah! Lo tau nggak? Foto gue viral di grup Pocong Lovers, caption-nya ‘Pocong Iron Man yang gagal landing!’ Gue malu berat, bro!”
Bima hanya tersenyum santai. “Tapi, kalian semua jadi terkenal, kan? Gue udah bikin kalian jadi influencer dunia arwah!”
“INFILTRATOR, BUKAN INFLUENCER!” teriak Kuntilanak merah, suaranya melengking sampai batu nisan bergetar.
Dengan penuh karisma seperti pemimpin revolusi, Kuntilanak Elsa berdiri di tengah kerumunan hantu. “Udah cukup, Bima! Dunia arwah nggak bisa lagi nerima lo. Malam ini, kita usir lo balik ke dunia manusia!”
Dari balik dasternya, Kuntilanak merah mengibaskan tangan, menciptakan angin dingin yang menyapu seluruh kuburan. Dalam hitungan detik, portal bercahaya biru muncul di tengah lapangan. Bentuknya berputar seperti vortex, tapi ada kilauan glitter yang jatuh perlahan, karena tentu saja kuntilanak merah nggak bisa lepas dari estetikanya.
“Masuk ke portal itu, Bima. Balik ke dunia manusia. Dunia arwah udah nggak kuat sama kreativitas lo yang nggak ketulungan!” seru Kuntilanak merah dengan suara bak komandan perang.
Bima, bukannya takut, malah nyengir lebar. “Wow, ini keren banget! Lo bahkan bikin portalnya sesuai konsep gue. Ada glitter segala. Tapi, yaudah, kalau itu maunya kalian. Gue pergi deh. Tapi gue nggak bakal pergi tanpa perpisahan yang dramatis!”
Pak Hadi memandang hantu satu persatu, lalu mengangguk pada mereka.
Tuyul Naruto maju pertama dengan langkah pendek-pendek, menyeret kantong recehnya. Dia menyerahkan satu koin ke tangan Bima. “Bro, ini kenang-kenangan dari gue. Jangan lupa, kalau lo jadi kaya di dunia manusia, kirimin gue saldo e-wallet, ya.”
Bima mengambil koin itu dengan senyum lebar. “Gue janji, bro. Gue bakal bikin aplikasi khusus buat Tuyul transfer uang.”
Genderuwo Hulk maju berikutnya, mencoba menyeka air matanya, tapi malah kebingungan karena bulu di tubuhnya udah nggak ada. “Bim, meski gue sekarang trauma sama lotion, gue bakal kangen lo. Kalau di dunia manusia lo lihat alpukat, inget gue, ya.”
Pocong Pink lompat maju dengan dramatis, tapi lagi-lagi hampir jatuh. “Bima, lo itu kayak guru seni yang aneh tapi nyenengin. Gue bakal kangen lo, meski kostum gue sekarang bikin gue susah lompat.”
Kuntilanak merah yang masih marah, akhirnya menyerahkan botol glitter. “Nih, ambil ini. Buat kenang-kenangan. Semoga di dunia manusia lo nggak bikin kekacauan lagi.”
Terakhir, Pak Hadi datang dengan wajah penuh wibawa. Dia menepuk bahu Bima dengan lembut. “Bima, lo punya bakat besar … sayangnya, bukan buat dunia arwah. Pergilah dan bikin dunia manusia lebih kacau daripada di sini.”
Bima melangkah ke dalam portal dengan penuh percaya diri, melambai ke semua hantu yang menatapnya dengan campuran lega dan rindu. Begitu dia menghilang, portal itu menutup dengan suara cling seperti efek kartun.
Semua hantu menghela napas lega. Kuntilanak merah menepuk tangan. “Akhirnya! Dunia arwah aman lagi!”
Tuyul Naruto menggaruk kepala. “Eh, tapi kok gue jadi kangen sama kekacauan dia, ya?”
Genderuwo Hulk menatap jauh ke langit penuh bintang. “Gue juga. Mungkin dunia arwah bakal jadi terlalu sepi tanpa Bima.”
Pak Hadi menghela napas panjang. “Ah, sudahlah. Nikmati dulu ketenangan ini … sebelum Bima beneran balik.”
***
Bima muncul di tengah pasar malam, di mana orang-orang sibuk membeli jajanan dan mainan. Dia berdiri dengan tangan di pinggul, memandangi keramaian dengan tatapan penuh antusias.
“Oke, manusia! Siap-siap! Desainer dunia arwah datang buat bikin kalian semua jadi lebih seru!” teriaknya, langsung menarik perhatian seorang hantu tukang cilok.
“Mas, mau cilok berapa tusuk?” tanya hantu cilok dengan bingung.
“Lima puluh tusuk, bungkus pake glitter!” jawab Bima penuh semangat.