Bima dan Yuli terus melangkah menyusuri jalanan kota yang terasa makin aneh. Semakin mereka berjalan, semakin banyak hantu-hantu yang tampaknya bukan sekadar hantu biasa. Ada yang memakai celana jeans robek, ada yang bersepatu boot tinggi ala ninja, bahkan ada yang mengenakan dasi kupu-kupu sambil memegang secangkir kopi latte.
“Lo yakin ini kota lo, Cong Opa?” tanya Yuli dengan nada penuh keheranan.
“Gue nggak bisa ngebayangin hantu-hantu model begini nongkrong di kota gue dulu!”
Lalu Bima mengangguk, tapi dia mulai merasa sedikit takut. “Dulu, sebelum gue mati, kota ini sederhana. Hantu-hantu kayak mereka nggak ada! Dan rumah gue ... gue kangen banget, Yuli.”
Yuli menepuk pundak Bima dengan penuh semangat. “Tenang, Cong Opa. Kita pasti nyampe di rumah lo! Lagian, lo kan nggak sendirian. Ada gue yang siap jadi tour guide hantu paling gaul di kota ini!”
Ketika mereka melewati sebuah jalan kecil yang terasa asing, tiba-tiba Bima melihat sebuah rumah di kejauhan. Rumah itu tampak seperti rumah lama yang penuh kenangan. Rumah yang dulu dihuni oleh orang tuanya, sebelum segalanya berubah.
“Yuli, itu rumah gue …,” suara Bima bergetar.
Yuli melirik ke arah rumah tersebut. “Tunggu ... itu rumah lo? Gue kira bukan, lo bilang lo tinggal di rumah yang minimalis, ini kok kayak rumah klasik gitu?”
Bima tidak menghiraukan komentar Yuli. Hatinya dipenuhi perasaan rindu yang mendalam. Ia ingin melihat lagi kamar tidurnya, tempat ia terlahir dan dibesarkan, tempat yang penuh kenangan bersama orang tuanya.
Saat mereka mendekati rumah, tiba-tiba pintunya terbuka dengan sendirinya. Dan dari dalam muncul sosok hantu pria berjas yang tampak sangat rapi.
“Selamat datang di Rumah Kenangan. Apakah Anda ingin mengingat sesuatu?” tanya hantu itu dengan suara yang dramatis.
Bima menatapnya tajam. “Lo siapa?”
Hantu itu tersenyum misterius. “Saya adalah penjaga kenangan. Setiap orang yang kembali ke rumahnya setelah meninggal akan bertemu dengan saya.”
“Bukan soal kenangan, sih ....” Bima mengusap wajahnya dengan kesal. “Gue cuma pengen tidur di kamar gue. Gue rindu ibu sama ayah gue. Mereka masih hidup dan gue pengen banget ketemu mereka.”
Tapi hantu penjaga itu hanya mengangguk dengan pelan. “Mungkin Anda tidak bisa bertemu mereka. Tapi Anda bisa kembali ke kamar Anda ... asal Anda siap menghadapi kenyataan.”
Bima menatap Yuli. “Apa maksudnya itu?”
“Tunggu dulu, Cong Opa. Kenapa gue jadi ngerasa ini aneh banget?” Yuli tiba-tiba berkata. “Kayaknya sih, lo bakal ketemu banyak hal yang nggak lo bayangin.”
Dengan hati yang berat, Bima melangkah masuk ke rumah yang terasa sangat asing, meski di setiap sudutnya, ia bisa merasakan kenangan masa lalu. Di ruang tengah, ada foto keluarga besar Bima yang masih utuh, meskipun dalam foto itu ada banyak hantu yang melayang di sampingnya.
Bima berhenti di depan tangga yang mengarah ke lantai dua, tempat kamar tidurnya berada. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung naik ke atas, dibuntuti Yuli yang tampak semakin bingung.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Bima merasakan perasaan yang campur aduk. Ia rindu akan kenyamanan tidur di tempat yang penuh kasih sayang, tempat yang kini hanya menjadi kenangan.
“Ayo, Cong Opa. Lo pasti bisa tidur dengan tenang di sini. Kamar lo udah nungguin!” Yuli berseru ceria, meskipun suaranya agak cemas.
Bima membuka pintu kamar dengan perlahan, dan matanya langsung terbuka lebar. Di dalam kamar itu, semua perabotan masih ada meskipun tampak sedikit berdebu, kasur itu masih sama, dengan selimut yang dulu sering membuatnya merasa hangat.
Bola mata Bima mengedar ke atas meja belajar yang terdapat foto lama Bima bersama orang tuanya, namun wajah mereka tampak samar-samar. Seperti kabur, seolah berusaha menjauhkan diri.
Bima berjalan perlahan ke arah tempat tidur, tetapi tiba-tiba ada suara keras dari bawah kasur. Suara gesekan, seperti ada sesuatu yang sedang bergerak di sana. Bima tersentak dan melompat mundur.
Yuli langsung berlari ke sampingnya. “Apa itu, Cong Opa?”
Dengan gemetar, Bima mengangkat sedikit kasur. Di bawahnya, ada sebuah surat yang sudah lapuk dan sobek. Bima membuka surat itu dengan hati-hati dan isinya membuatnya terkejut.
“Gue nggak percaya … ini surat dari ibu gue,” kata Bima dengan suara tercekat. “Kenapa bisa ada di sini?”
Di surat itu tertulis pesan singkat dari ibunya yang masih hidup, ibunya yakin jika yang meninggal akan kembali meski mereka dipisahkan oleh dimensi yang berbeda.
"Jika kamu kembali, jangan lupa bahwa rumah ini bukan lagi tempatmu. Kamu harus melanjutkan perjalanan, mencari kedamaian."
Bima terdiam, surat itu seperti memukul keras jantungnya. Ia ingin menangis, tetapi tak ada air mata yang keluar. Semua kenangan yang dia coba bawa pulang, ternyata tidak bisa kembali seperti semula.
Yuli melihat Bima yang terdiam lama dan dengan lembut ia berkata, “Cong Opa, lo nggak bisa tinggal di masa lalu. Lo nggak bisa terus hidup di rumah ini. Orang tua lo mungkin berharap lo melanjutkan hidup, bukan terjebak di sini.”
Bima menghela napas panjang dan akhirnya menyadari satu hal. Rumah ini, kenangan ini, semua itu bukan untuk dia lagi. Ia harus pergi.
“Lo bener, Yuli. Gue harus pergi. Rumah ini cuma tempat kenangan. Gue nggak bisa hidup di antara mereka,” kata Bima dengan suara tegas.
Dengan langkah yang lebih ringan, Bima dan Yuli meninggalkan kamar itu, menutup pintu dan melangkah keluar dari rumah yang kini hanya menyisakan kenangan dan luka.
Tapi begitu mereka keluar, terdengar suara halus dari dalam rumah. “Jangan lupakan kami ....”
Bima menoleh, namun tidak ada siapa-siapa.