PUISI UNTUK EMBUN

Tentang Embun

"Ini... ini catatan, Bu," jawab Jeno terbata.

Bu Sirait melangkah mendekat. "Coba tunjukkan bukumu!"

Dengan enggan, Jeno membuka bukunya. Terpampang jelas gambar Goku sedang bertarung dengan Frieza. Seluruh kelas menahan tawa. Embun sendiri harus menggigit bibir bawahnya agar tidak ikut tertawa.

"Jeno! Kamu ini ya! Belum genap dua minggu di kelas saya, sudah begini kelakuanmu!" Bu Sirait berkacak pinggang. "Bersihkan toilet laki-laki sepulang sekolah. Jangan sampai ada noda sedikit pun!"

Jeno menghela napas pasrah. "Baik, Bu."

Embun menatap Jeno dengan tatapan "rasakan!" Jeno hanya membalas dengan seringai usil.

Saat jam istirahat tiba, Embun bergegas ke kantin Bude di belakang. Perutnya sudah keroncongan. Dia mengambil sebungkus nasi uduk dan segelas es teh manis. Ketika dia mencari tempat duduk, seseorang menarik kursi di sebelahnya. Jeno.

"Ikut-ikutan aja," Embun menggerutu, tapi tidak benar-benar keberatan.

"Lo tahu enggak, Embun? Bersihin toilet itu bukan hal yang susah. Yang susah itu kalau bersihin hati lo yang galak ini," Jeno berkata sambil mengunyah bakwan.

Embun mendengus. "Gombalan lo basi."

"Basi-basi gini, ntar kalau lo suka, gue enggak tanggung jawab ya," Jeno tertawa, matanya berbinar.

Entah kenapa, ada sesuatu dari Jeno yang membuat Embun merasa... tidak biasa. Sikapnya yang santai, tingkahnya yang seringkali seenaknya, tapi entah bagaimana, dia tidak pernah benar-benar mengganggu Embun. Malah, terkadang, kehadiran Jeno membuat hari-hari Embun yang biasanya diselimuti rasa bersalah karena terlambat, menjadi sedikit lebih berwarna.

"Lo tahu kan kenapa gue enggak suka lo sekelas sama gue?" Embun tiba-tiba bertanya, nadanya lebih serius.

Jeno menoleh, menghentikan kunyahannya. "Kenapa?"

"Karena lo itu biang kerok. Gue enggak mau kena imbasnya."

Jeno tersenyum tipis. "Gue biang kerok, tapi nilai gue enggak pernah jelek. Lo juga tahu kan?"

Embun mengangguk. Itu adalah salah satu hal yang paling membuat Embun heran tentang Jeno. Meski sering bolos pelajaran dan berulah, nilai-nilainya selalu di atas rata-rata. Bahkan, Jeno sering masuk 10 besar di kelasnya.

"Gue enggak mau reputasi gue hancur karena lo," Embun melanjutkan.

"Reputasi apaan? Reputasi anak baik-baik yang suka terlambat?" Jeno menyeringai, berhasil membuat Embun kesal.

"Jeno!" Embun memelototi Jeno.

"Oke, oke, maaf." Jeno mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Tapi serius, gue enggak akan bikin lo kenapa-kenapa kok. Lo itu kan 'sesepuh' urusan terlambat. Gue cuma numpang ilmu aja."

Embun hanya bisa mendesah. Memang, Embun adalah satu-satunya murid yang bisa "berdamai" dengan Babeh perihal keterlambatan. Rahasia itu tersebar luas di kalangan murid. Tidak sedikit yang mencoba meniru Embun, tapi hanya Embun yang berhasil secara konsisten.

Hari-hari berlalu. Minggu-minggu berganti. Keberadaan Jeno di kelas Embun, lambat laun, mulai diterima oleh Embun. Bahkan, tanpa disadarinya, Jeno menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual terlambat Embun. Hampir setiap pagi, mereka berpapasan di jalan menuju sekolah, terkadang Jeno menunggu Embun di halte angkot, atau Embun yang sengaja memperlambat langkahnya agar Jeno bisa menyusul.

"Embun, tumben lo enggak nyiapin rokok buat Babeh?" Jeno bertanya suatu pagi, saat mereka sudah melewati gerbang sekolah. Babeh baru saja menutup gerbang di belakang mereka.

Embun menepuk dahinya. "Astaga, gue lupa! Tadi buru-buru banget."

"Waduh, gawat. Ntar Babeh ngambek, loh," Jeno menggoda.

"Ya ampun, bisa berabe kalau Babeh ngambek," Embun panik. "Bisa-bisa gue enggak diloloskan lagi."

"Makanya, lain kali jangan lupa. Atau, lo mau gue yang beliin?" Jeno menawarkan, matanya memancarkan niat usil.

"Enggak usah! Nanti lo minta ganti untung dua kali lipat," Embun menatap curiga.

"Hahaha, tahu aja lo." Jeno tertawa.

***

Embun Kirania Pratista. Rasa-rasanya tidak ada satu orang pun di sekolah ini yang tidak mengenal nama Embun. Setahun lalu, saat baru masuk sekolah dan mengikuti orientasi siswa, Embun berhasil dinobatkan sebagai queen. Mengalahkan ratusan siswa baru lainnya. sedikitpun Embun tidak pernah merasa ada yang istimewa dari dirinya hingga bisa terpilih jadi queen.

Ada yang mengatakan, beberapa kakak kelas menyukai Embun yang terlihat sangat percaya diri selama masa orientasi berlangsung. Setiap minta tanda tangan dari seniornya, Embun nyaris tak pernah bergerombol atau sekedar berdua dengan temannya. Apapun permintaan dari seniornya, akan Embun kerjakan sendiri.

Faktanya, Embun melakukan itu semua karena memang dia belum memiliki teman di sekolah barunya ini. Embun baru menginjakan kakinya di Bumi Sang Ruwa Jurai ini seminggu menjelang sekolah dimulai. Sebelumnya Embun lahir dan tumbuh besar di Kota Tahu Sumedang. Ketika ayahnya dipindahkan ke sini, mau tidak mau keluarganya ikut pindah.

Tidak ada waktu bagi Embun untuk sekedar mencari teman. Selama seminggu dia mempersiapkan semua keperluan sekolah yang harus dibelinya. Setiap hari Embun naik turun angkot yang berbeda hanya untuk menghafalkan rute jalan. 

Sebagian lagi menyebutkan alasan kenapa Embun bisa menjadi queen karena kemampuannya berdebat di kelas ketika beberapa perwakilan ekstrakurikuler sekolah menyampaikan materi agar siswa-siswi baru mau masuk menjadi anggota. Padahal Embun hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya saja. Tak pernah sekalipun berpikir untuk mencari popularitas. Sebagai anak baru di lingkungan yang juga baru, Embun sangat antusias menyimak semua informasi yang didapatnya.

Semuanya menjadi luar biasa bagi Embun. Budaya yang baru, adat istiadat yang juga baru, bahasa yang juga terdengar sedikit aneh membuat Embun harus berjuang keras kalau ingin bisa melebur bersama mereka.

Ini sumatera. Embun berkali-kali mengingatkan dirinya ketika dia kerapkali kaget dengan intonasi dan nada suara teman-temannya yang jarang sekali bermain di nada rendah. Kebanyakan dari mereka bicara dengan urat leher yang sedikit menyembul.

“Woiiii.” Itulah sapaan yang seringkali mampir di telinga Embun beberapa hari ini. Awalnya Embun berpikir temannya itu belum tahu namanya sehingga memanggil dengan kata woi. Ternyata panggilan itu dilakukan hampir oleh semua siswa di sekolahnya. Mau tidak mau Embun pun ikut-ikutan memanggil woi kepada teman-temannya. Logat Embun yang masih terasa sangat Sunda, membuat teman-temannya tertawa setiap kali Embun bicara.

Untungnya, sebagai gerbang masuk Sumatera yang lumayan dekat dari Pulau Jawa, Bahasa Indonesia menjadi bahasa sehari-hari yang dipakai di Lampung. Jadi Embun tidak terlalu sulit untuk beradaptasi. Bahkan Embun sangat jarang mendengar teman-temannya bicara dengan Bahasa Lampung. Sesekali saja dia mendengar obrolan bahasa Lampung antara Nursan dengan Ronald yang sama-sama dari Liwa atau beberapa yang dari Kotabumi.

Embun sangat suka bergaul dengan siapapun. Ketika SMP, Embun sempat menjadi Ketua OSIS. Naluri menjadi pemimpin sudah terpupuk sejak kecil. Sebagai sulung dari tiga bersaudara, Embun dituntut bisa mengendalikan kedua adiknya saat orang tua mereka bekerja.

Sifat dominannya tumbuh dengan baik. Bahkan ketika SD Embun selalu menjadi ketua kelas. Entahlah, meski Embun tidak pernah mau menonjolkan diri, tapi tetap saja dia terlihat berbeda dibandingkan yang lain. Terutama dalam aspek kepemimpinan. Embun senang membuat perencanaan dan mengeksekusinya. Dia selalu berusaha mengendalikan orang-orang di sekitarnya untuk menuruti apa yang dia mau.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!