PUISI UNTUK EMBUN
Benih Cinta
Sejak kejadian ribut malam itu, hubungan Embun dan Jeno yang sebelumnya juga tidak akrab kini menjadi sangat tidak baik. Beberapa kali Embun berusaha mencoret nama Jeno dari susunan kepanitiaan acara sekolah mereka. Padahal sudah jelas kalau ketua PA menuliskan nama Jeno sebagai salah satu perwakilan dari PA.
Jeno sendiri tidak bodoh untuk bisa menangkap aura permusuhan yang menguar dari tatapan Embun. Sikap Embun yang seperti itu malah membuat Jeno makin menyukainya.
Awalnya Jeno berusaha menyingkirkan perasaan itu. Menganggap kalau dia jatuh cinta kepada puisi-puisi Senja Serenada. Bukan kepada sosok Embun Kirania Pratista. Tapi makin lama Jeno memperhatikan Embun, makin dia sadar kalau kata yang dia baca sudah berubah menjadi cinta.
Jeno merasa frustasi sendiri. Dia tidak mengerti bagaimana harus menunjukkan perhatiannya. Dia juga tidak mungkin mengatakan perasaannya ini ke kawan-kawannya. Apa kata mereka. Jeno yakin teman-temannya itu pasti akan mentertawakannya. Jeno juga tidak mengerti kenapa bisa begitu menyukai Embun yang keras kepala bisa dikatakan sama dengan Jeno. Belum lagi mulut pedas Embun yang seperti tidak punya saringan kalau bicara di depan Jeno. Rasanya tidak bisa dipercaya kalau Embun mengaku sebagai perempuan Sunda. Benar-benar jauh dari bayangan perempuan Sunda yang terkenal lemah lembut.
Setiap kali Jeno berusaha untuk lebih perhatian ke Embun, saat itu pula Embun selalu menghindar dan menabuh genderang perang dengannya. Bahkan, walaupun mereka tidak pernah berkata apa-apa, aroma kebencian itu tetap saja tercium apabila mereka berdekatan.
Jeno tetap menjadi pembaca setia puisi yang masih Embun tulis. Meski durasi puisi itu menempel di majalah dinding kini jauh lebih lama dari biasanya. Jeno bersyukur Embun tidak berhenti menulis puisi sehingga patah hati yang Jeno rasakan sedikit terobati.
***
Berbagai cara Jeno lakukan untuk bisa dekat dengan Embun. Jeno memang menyukai sastra dan keindahan bahasanya, tapi dia tidak paham bagaimana harus mulai bicara baik-baik kepada Embun. Egonya selalu mengatakan kalau sebagai laki-laki memang sudah seharusnya dia keras seperti ini. Tidak boleh lembek apalagi menye-menye yang terlihat menyebalkan.
“Lo liat matanya tapi jangan lo pelototin, terus lo ngomong dengan suara yang lemah lembut jangan kasar kayak biasanya, nah habis itu lo mulai deh kasih perhatian-perhatian kecil. Misal lo kirim sms ke dia, tanya udah makan apa belum. Kalo pulang sekolah, lo temenin deh dia jalan kaki sampe ke depan, kan lumayan tuh sepanjang jalan kenangan.”
Nursan si pujangga gagal memberikan tips bagaimana mendekati perempuan.
“Kampret lo bukan ngasih tips, itu sama aja lo menjerumuskan gue. Bisa runtuh imej gue kalo ikut saran dari lo.”
Jeno meninju bahu Nursan pelan.
“Emangnya lo lagi deketin siapa sih? Cewek mana yang ketiban sial bisa bikin lo jatuh cinta gini?”
Nursan mulai penasaran. Selama ini Jeno memang tidak pernah sekali pun dekat sama cewek. Boro-boro diajak pacaran, baru dideketin sama Jeno aja itu cewek udah kabur duluan.
“Gak perlu tau lo. Males gue cerita ke elo, entar bocor kemana-mana.”
Nursan hanya bisa menatap punggung Jeno yang menjauh darinya. Jeno memang sangat tertutup jika menyangkut tentang pribadinya. Apalagi urusan perempuan. Nursan sudah berteman dengan Jeno sejak SD. Belum pernah sekalipun temannya itu dekat dengan makhluk bernama perempuan. Jadi kalau sekarang Jeno sampai bertanya cara mendekati cewek, ini sungguh di luar batas dugaan Nursan
Setelah obrolan itu, Nursan kasak kusuk membicarakannya dengan Ronald dan Rio. Mereka bertiga menyusun rencana untuk mengawasi siapa cewek yang sedang didekati Jeno. Setiap hari ketiganya bergantian menempel di dekat Jeno dari mulai masuk sekolah sampai Jeno pulang.
“Gimana?’ Rio bertanya.
Saat ini mereka bertiga sedang kumpul di rumah Ronald. Tentu saja tanpa sepengetahuan Jeno.
“Nihil. Gue enggak pernah liat ngobrol lama sama cewek.”
Nursan membentuk angka nol dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
“Idem. Waktu sama gue juga si Jeno biasa aja. Gak ada yang mencurigakan. Jangan-jangan dia nanya ke elo cuma iseng doang, San.”
Ronald menambahkan sambil melihat Nursan.
“Bisa jadi. Dia tau kalo si Nursan ini pujangga gadungan. Playboy tapi gak laku. Jadi dia iseng aja nanya begitu.”
Rio mendukung ucapan Ronald.
“Kayaknya gak mungkin deh kalau dia iseng doang. Dia serius banget pas nanya sama gue.” Nursan memastikan.
“Buktinya, udah sebulan ini si Jeno tiap hari bareng sama salah satu dari kita, tetep aja kita enggak ada yang liat dia deketin cewek.” Ronald berkilah.
“Gue sepakat sama lo Nal. Dia Cuma ngobrol sama cewek kalo minta contekan kalo enggak pas dia pinjem catetan doang.” Rio menimpali.
“Perasaan gue masih yakin kalau si Jeno emang lagi deketin cewek. Kita tunggu sebulan lagi deh. Siapa tau ada pergerakan.” Nursan bersikeras.
“Oke, deal. Sebulan lagi kita kawal si Jeno. Gue penasaran bener tipe cewek macam apa yang bisa bikin dia klepek-klepek.”
Rio menerawang nanar.
“Si Jeno itu jago banget kalo nyimpen rahasia pribadinya. Gue yang kenal dari zaman ingusan aja susah bener ngorek apa yang ada di hati dia itu.”
Nursan mengingat bagaimana dia selalu kesulitan memahami jalan pikiran Jeno.
Bulan kedua dari tenggat waktu yang disepakati Rio, Ronald, dan Nursan berakhir. Sampai saat ini mereka masih tidak bisa menemukan bukti kedekatan Jeno dengan salah satu perempuan di sekolah mereka. Tanpa pembahasan lebih lanjut, mereka memutuskan menyerah dan menghentikan pengawasan terhadap Jeno.
Sementara di sisi lain, Jeno semakin pusing dengan perasaannya yang kian mengelindan. Selama ini, Jeno menganggap perempuan itu makhluk rumit yang merepotkan. Tentu saja, mamanya menjadi pengecualian. Karena alasan itu pula Jeno selalu enggan berurusan atau sekedar dekat dengan perempuan. Buang-buang waktu dan energi.
Andai Jeno percaya karma, mungkin inilah yang dinamakan karma dari ucapannya sendiri. Jeno jatuh cinta kepada Embun. Dan sialnya, cewek itu merupakan salah satu makhluk paling rumit yang Jeno temui di sekolah.
***
Jika ada yang bertanya bagaimana prototipe orang Lampung yang sebenarnya, maka bisa dipastikan kalau keluarga Jeno adalah referensi terbaik. Bapaknya Jeno mewarisi darah Lampung Abung, sedangkan ibunya Lampung Menggala. Perpaduan sempurna sebagai pemegang darah murni Suku Lampung.
Sebagai anak lelaki tertua di dalam keluarganya, Jeno dididik dengan Lampung banget. Menurut telinga Embun, orang Lampung seperti Jeno memiliki bahasa dan logat tersendiri. Walaupun jarang sekali siswa siswi di sekolah bicara dalam Bahasa Lampung. Keras dan bernada tinggi. Dua hal itu tidak bisa lepas ketika orang Lampung berbicara. Seperti Jeno, banyak yang mengira dia marah-marah. Padahal dia hanya sedang berbicara saja.
Dalam berbagai kesempatan, Jeno sering bicara kalau orang Lampung itu punya keberanian luar biasa. ‘Mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador’, apapun tantangannya akan dihadapi dengan berani, pantang menyerah dan mundur. Itulah kenapa Jeno selalu ngotot kalau dia sudah menginginkan sesuatu. Tidak peduli apa yang menghalangi di depannya akan dia lawan.
Satu lagi sifat Jeno yang sangat menonjol sebagai putra Lampung asli, yaitu keras kepala. Jeno mewarisi sifat lelaki Lampung pada umumnya, keberanian yang mumpuni dan ketekunan tiada banding.
***