PUISI UNTUK EMBUN
Jangan Menghindar
Jeno cerita, dia dididik untuk memiliki cita-cita yang sangat tinggi dan pendirian yang teguh. Ada harga diri yang sangat penting untuk dipertahankan. Jika Jeno sudah meyakini sesuatu, maka mustahil bisa mengubahnya dengan mudah. Butuh kekuatan ekstra untuk mendebatnya, karena ujung-ujungnya kita pasti akan mengalah. Namun, biasanya hal ini dilakukan untuk kebaikan semua pihak. Hanya saja, cara yang mereka pilih memang bukan dengan kelembutan.
Menjadi hal yang wajar, jika Jeno bukan tipe yang mudah disukai oleh perempuan. Mukanya saja nyaris tanpa senyum. Tidak ada kata basa basi dalam kamus bahasa yang Jeno anut. Selalu to the point sesuai dengan yang ada dalam pikirannya saat itu.
Sebagai anak lelaki tertua dalam keluarga, Jeno punya tanggung jawab yang sangat besar dikeluarga itu. Dia memperoleh gelar adat Tuan Punyimbang Rajo. Gelar ini diturunkan dari bapaknya yang juga merupakan anak lelaki tertua. Nantinya, Jeno akan menjadi penentu dalam proses pengambilan semua keputusan di keluarga besarnya.
Jeno menduga, dia jatuh cinta kepada Embun disebabkan sifat keras kepala dan cuek yang Embun miliki. Diperlukan perempuan yang cukup gila untuk bisa mengimbangi Jeno. Dia melihat karakter itu ada di Embun. Walaupun Embun itu orang Sunda, kenyataannya sikap dan sifat Embun sama sekali jauh dari kebanyakan orang Sunda yang Jeno kenal.
Selama ini Jeno selalu menganggap perempuan tangguh itu ya cuma mamanya. Lainnya menurut Jeno sangat lemah. Jeno tidak menyukai perempuan lemah plus manja. Jeno suka Embun yang mandiri, bisa berdebat mempertahankan apa yang dia mau, juga bisa menjadi pemimpin tanpa menghilangkan kodratnya sebagai perempuan. Jeno pernah melihat Embun menangis. Tapi tidak serta merta terlihat cengeng.
***
“Mbun, pulang sekolah ntar lo senggang nggak?” Rizqi duduk di bangku Seydi yang ada di depan Embun.
Suasana kelas saat jam istirahat kedua begini memang selalu sepi. Durasi istirahat selama satu jam dimanfaatkan anak-anak untuk makan, sholat, dan melepas penat dengan cara lainnya.
“Kayaknya nggak deh. Paling ngecek proposal buat acara Bulan Bahasa doang. Kenapa?” Embun yang sudah bersiap ke luar dari kelas langsung duduk lagi.
“Lo ikut gue ke ruma Yeni ya.”
“Emang ada apaan di rumah Yeni?”
“Ya Allah Mbun, kepekaan lo itu emang parah. Lo nggak nyadar ya kalo udah tiga hari ini Yeni nggak masuk?”
“Sadar sih. Paling juga sakit. Tinggal telepon apa susahnya.”
“Lama-lama gemes gue sama elo. Otak si Jeno di mana ya, kok bisa-bisanya dia ngajakin elo pacaran.”
“Woi, ini gak ada hubungannya sama Jeno. Sekali lagi lo ngomongin dia, gue marah nih.”
“Iya sori. Lagian lo juga sih. Yeni kan udah tiga hari gak masuk. Gue udah sms dia, terus dia bilang sakit. Siapa tau sakitnya parah. Kita tengok lah.”
“Oke. Gue ngikut deh kalo gitu. Siapa aja yang ke sana?”
“Gue sama elo doang.”
“Lah, yang lain gak ada yang ikut?”
“Lo mau ajak siapa lagi? Jeno?” Rizqi meninggalkan Embun sambil terbahak.
“Gue sambit lo ngomongin nama itu lagi.” Embun mengejar Rizqi tapi temannya itu sudah ada di luar kelas.
“Rizqi sialaaaaannnnn.” Embun berteriak tanpa peduli tatapan keheranan dari beberapa temannya.
“Rizqi kenapa?” Tiba-tiba saja suara Jeno terdengar di sisi kanan telinga Embun.
“Astagfirullah...” Embun mengelus dadanya karena kaget. “Lo ngapain di sini?”
“Mau masuk kelas lah. Kan ini kelas gue juga. Kenapa lo kaget gitu?”
“Ya udah, sana masuk.” Embun bergeser memberikan jalan kepada Jeno.
Belum sempat Embun mengayunkan langkahnya menjauhi kelas, tangan Jeno sudah menarik pergelangan tangan Embun dan setengah menyeretnya ke ruang OSIS yang memang dekat dari kelas mereka. Hanya terhalang dua ruang kelas. Sontak saja, beberapa pasang mata menoleh, fokus melihat Jeno yang menggenggam tangan Embun. Pemandangan langka yang entah kapan bisa mereka saksikan lagi.
“Lo apaan sih?” Embun jelas nggak terima dengan sikap Jeno.
“Jangan ngehindar dari gue.”
“Gue lebih baik menghindar elo.”
“Mbun, gue serius. Ada yang pengen gue obrolin ke elo.”
“Nggak bisa. Kita harus masuk kelas Bu Euis. Bentar lagi dia masuk. Gue mending pusing ngapalin rumus fisika daripada ngomong sama elo.”
“Pulang sekolah gue tunggu elo.”
“Nggak bisa juga. Gue mau pergi sama Rizqi.”
***
Bel tanda pulang terdengar begitu merdu. Embun yang masih berada di ruang OSIS dan menyelesaikan memeriksa proposal, kini berdiri merenggangkan tubuhnya. Diraihnya handphone yang sejak tadi disimpan agak jauh dari tempatnya duduk. Dia mengirimkan pesan ke Rizqi, mengabarkan kalau dia nanti akan ke kelas. Gara-gara Jeno menyita waktu istirahatnya, jadilah Embun bolos dua jam pelajaran Fisika.
Embun yang sudah siap untuk masuk kelas, mau tidak mau duduk kembali di kursinya karena Jeno malah mengunci ruang OSIS dan menyimpan kunci di saku celananya.
Beberapa menit keduanya diam. Jeno gugup harus mulai dari mana, Embun gelisah karena harus berduaan dengan Jeno.
“Masalah sms tempo hari ...”
“Udah nggak usah dibahas lagi.” Tukas Embun.
“Harus. Gue pengen semuanya jelas.”
“Apa yang belum jelas?”
“Mbun, beneran gue serius waktu nanya elo mau jadi pacar gue apa nggak. Gue suka sama elo. Gue cinta sama elo. Udah lama. Sejak kita kelas 1 dulu.”
“Ngaco. Terus menurut lo gue bakal percaya?”
Jeno memandang Embun dengan kesal. Jauh lebih mudah menghadapi lawan saat sedang tawuran daripada bersilat lidah dengan perempuan di depannya. Sayang, Jeno sudah terlanjur cinta.
“Terserah lo mau percaya apa nggak. Gue cinta Serenada Senja, gue juga cinta sama elo.”
“Elo?” Embun tak sanggup melanjutkan ucapannya. Bagaimana mungkin Jeno tahu kalau dia Serenada Senja. Embun menutup identitas Serenada Senja rapat-rapat. Bahkan Rahma yang menjadi sahabat terdekatnya aja sama sekalin nggak tahu.
“Kenapa? Lo kaget?” Jeno menyeringai.
Embun diam. Otaknya masih sibuk mencari tahu bagaimana Jeno bisa membongkar identitasnya sebagai Serenada Senja? Rasanya tidak mungkin Jeno membaca puisi-puisi yang dia tempel di mading.
“Gue baca puisi elo.” Ucap Jeno seolah paham apa yang sedang Embun pikirkan.
“Ngapain lo baca-baca puisi gue? Kurang kerjaan banget.” Embun masih menanggapi Jeno dengan sikap ketusnya.
“Emang ada aturan yang ngelarang gue baca puisi elo? Kan elo sendiri yang pasang di mading. Harusnya lo udah siap kalau puisi bakalan dibaca siapa aja, termasuk gue. Masalah gue yang nyari tahu siapa Serenada, ya itu hak gue dong.”
“Oke. Nggak usah bahas lagi masalah itu.”
“Elo yang mancing-mancing. Dari tadi tuh gue mau bahas masalah sms gue yang ngajak elo pacaran. Elo mau kan?”
“Nggak.” Jawab Embun cepat.
“Gila lo, gue patah hati di detik pertama. Lo nggak pake acara mikir-mikir dulu apa gimana gitu?”
“Udah gue bilang nggak ya nggak. Lagian ngapain gue pake acara mikir-mikir segala. Ngabisin energi dan waktu gue aja. Mending otak gue dipake mikirin yang lain.”
“Mbun, beneran lo nggak suka sama gue? Kasih gue kesempatan ya?” Jeno merendahkan nada suaranya.
“Udah deh, lo nggak usah maksa gitu. Gue udah bilang nggak. Lo keluar gih. Gue mau tiduran aja. Masuk kelas juga percuma, udah telat banget.”
“Apa gue di sini aja ya? Siapa tahu elo berubah pikiran.”
“Nggak bisa. Udah sana lo keluar. Terserah elo mau ke kelas apa ke kantin gue nggak peduli. Yang penting lo jangan di sini.”
***