Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Ayahku mana?
Mereka tidak pergi jauh. Hanya ke kedai es krim kecil di ujung jalan, yang bangkunya dari kayu dan lantainya masih sedikit lengket. Mungkin belum kering setelah di pel karena tumpahan es krim.
Indra memesan. Tapi dia memilih terlalu lama. untuk orang dewasa yang seharusnya sudah tahu seleranya sendiri.
"Vanila, cokelat, stroberi…” Indra membaca satu per satu. “Starla sukanya yang mana?”
Starla menempelkan wajah ke kaca etalase. “Yang pink.”
“Pink itu stroberi,” kata Indra mantap. “Kalau Om ambil cokelat, enak nggak?”
Starla mengangguk. “Boleh. Enak."
"Untuk ibu, apa?"
Starla berpikir, matanya mengarah ke atas diikuti telunjuk yang menempel di pipi. "Uhm, ibu suka campur-campur," katanya tersenyum lebar. Seolah tidak yakin dengan pilihannya.
"Ok." Indra lalu meminta mbak penjual menyiapkan pesanan mereka.
"Tapi Om jangan makan banyak-banyak.”
Indra tertawa. “Kenapa?”
“Nanti Om sakit gigi lagi.”
“Loh, tapi Om belum makan es krimnya. Mana bisa sakit gigi?"
Starla menunjuk es krimnya. Tepatnya kaca etalase tadi. “Kan ininya aja udah dingin. Nanti tambah kedinginan."
Pelayan memberikan es krim pesanan mereka. 2 cup sedang dan 1 cone milik Starla.
Indra menerima nampan berisi es krim mereka sembari terkekeh. “Dingin bikin sakit gigi?” katanya saat kembali ke meja.
“Iya. Kata Ibu kalau makan yang dingin jangan dikunyah.”
Eliza tersenyum kecil. Dia mengambil miliknya.
Indra berpura-pura mikir. “Terus gimana dong?”
Starla mendekat, suaranya direndahkan seolah membocorkan rahasia. “Dijilat ... pelan.”
“Oh.” Indra mengikuti. Menjilat sedikit. “Bener juga ya.”
Starla mengangguk puas.
Mereka duduk bertiga. Starla menjilat es krimnya pelan-pelan, alisnya mengernyit setiap kali dingin menyentuh gigi. Indra sesekali melirik, tertawa melihat tingkah lucu Starla.
“Om,” panggil Starla lagi.
“Iya?”
“Om jangan habisin dulu.”
“Kenapa?”
“Nanti Starla kalah.”
Indra tertawa kecil. “Baik, Bu Guru.”
Starla tersenyum lebar. Es krimnya sedikit belepotan di sudut bibir, tapi ia terlihat sangat serius menikmatinya—seperti sesuatu yang langka dan harus dihargai.
Eliza memperhatikan mereka. Percakapan itu tidak dibuat-buat. Anak kecil memang tidak butuh jajan ke tempat mahal. Cukup ditemani, dan didengarkan ocehannya.
Selesai makan, Indra mengantar mereka sampai depan kos.
“Terima kasih ya,” kata Eliza.
“Sama-sama,” jawab Indra. “Kalau lain kali… ya, kalau boleh.”
Eliza tidak menjawab iya atau tidak. Hanya mengangguk. Sementara Starla tersenyum lebar. Tangan kanannya melambai ke Indra, seolah berkata berterima kasih dan sampai jumpa lagi.
Setelah mandi, Starla nonton kartun kesukaannya. Dua gundul dengan bahasa Melayu.
Eliza menyisir rambutnya pelan saat Starla bilang, "Ibu."
"Ya."
"Om tadi baik. Starla suka."
"Om Indra namanya," kata Eliza sambil menguncir pendek rambutnya. "Starla suka apanya?"
"Suka semuanya." Starla menoleh, tersenyum lebar.
Eliza memasang wajah datar. Tahu maksud tersembunyi dibalik senyum Starla hari ini. Dia menggeleng pelan, jika yang dimaksud Starla meminta Indra traktir es krim lagi.
***
Dua hari kemudian, secarik kertas diselipkan di tas Starla.
Pemberitahuan pengambilan rapor. Starla membacanya terbata-bata malam itu, duduk di lantai sambil memegang krayon. “Bu… ini tulisannya… orang tua… ayah.”
Eliza berhenti melipat baju.
“Boleh sama ibu?” tanya Starla ragu.
Eliza mendekat, berjongkok. “Boleh, Nak.”
“Tapi di sini tulisannya ayah,” Starla menunjuk huruf-huruf yang belum sepenuhnya ia pahami.
Eliza terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil. “Kadang ditulis begitu. Tapi ibu juga orang tua.”
Starla menunduk. “Ayahku di mana, Bu?”
Pertanyaan itu keluar dari mulutnya begitu saja. Starla tidak murung atau menuntut dia menjawabnya. Justru itulah yang membuat dada Eliza kadang terasa sesak.
Eliza mengusap rambutnya. “Ayah… belum ada di hidup kita sekarang.”
Starla mengangguk pelan. “Oh.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tapi malam itu, Starla tidur memeluk kertas itu seolah sosok ayah akan muncul jika dia memintanya dalam doa sebelum tidur.
Hari pengambilan rapor tiba.
Aula TK dipenuhi kursi plastik yang disusun rapi. Di depan, spanduk kecil bertuliskan Pertemuan Orang Tua Murid digantung di depan gerbang sekolah.
Mayoritas yang datang adalah pasangan—ayah dan ibu duduk berdampingan. Beberapa ayah tampak kikuk, sibuk dengan ponsel. Yang lain bercanda pelan.
Eliza menggandeng Starla masuk. Starla melangkah pelan. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada satu titik—seorang ayah yang menggendong anaknya sambil tertawa.
Tangannya mengerat di genggaman Eliza. Mereka duduk di barisan tengah. Beberapa ibu menoleh, lalu saling berbisik.
“Lho, kok cuma sama ibunya?” terdengar suara pelan tapi jelas.
“Harusnya ayah yang masuk ke aula, kan?”
“Anaknya lucu sih, tapi…”
Kalimat itu cukup membuat Eliza menciut. Dia melirik ke arah Starla yang menunduk lesu. Bahunya sedikit merapat ke tubuh Eliza.
Sebelum Eliza sempat berkata apa-apa untuk menenangkan Starla, Bu Ratna menghampiri dengan senyum ramahnya.
“Starla,” katanya lembut. “Ayo sama Bu Guru dulu, ya.”
Starla menoleh ke Eliza, ragu. “Nggak apa-apa,” bisik Eliza. “Duduknya sama teman.”
Starla berdiri, mengikuti Bu Ratna ke barisan depan. Saat berjalan, pundaknya masih sedikit tertunduk. Dia melihat ke arah Eliza, seolah berkata jangan kemana-mana.
Eliza menarik napas panjang.
Tak lama, seorang staf memanggilnya ke ruang kepala sekolah. Eliza pun beranjak dari sana. Membuat ibu-ibu yang duduk di barisan itu memiliki topik obrolan membahas tentangnya.
Ruang itu lebih sepi. Ada lemari arsip tinggi dan meja kayu besar. Kepala sekolah, seorang perempuan berusia lima puluhan, tersenyum profesional.
“Bu Eliza, ya?”
“Iya, Bu.”
“Soal administrasi Starla,” lanjutnya. “Bu Ratna bilang akta kelahiran masih proses?”
“Iya, Bu,” jawab Eliza jujur. “Dua minggu lagi jadi.”
Kepala sekolah mengangguk. “Tidak apa-apa. Kami catat dulu. Selama ada surat keterangan, Starla tetap tercatat sebagai murid aktif.”
Eliza menghela napas lega. “Terima kasih, Bu.”
“Starla anak yang baik,” lanjut kepala sekolah. “Pendiam tapi diam-diam memperhatikan.”
Kalimat itu seperti penguat kecil yang sangat Eliza butuhkan hari itu. Benar, Starla type anak yang suka mengamati.
Saat Eliza kembali ke aula, Starla sudah duduk bersama teman-temannya. Ia menoleh, matanya berbinar sedikit saat melihatnya. Eliza membalas dengan senyum.
Pembagian raport pun tiba. Nama Starla dipanggil ke depan. Seorang anak berkata, "Starla nggak punya ayah?"
Starla berhenti, lalu menoleh ke arahnya. "Aku sama ibu. Kata ibu, sama aja."
Bu Ratna gegas menimpali. "Tentu, ibu juga orang tua Starla," ucapnya tersenyum dan mengangkat jempolnya ke Starla.
Eliza lega, putrinya mengangguk senang. Namun, saat perjalanan pulang di motor. Pertanyaan itu muncul lagi.
"Ibu."
"Ya."
"Emang, kalau nggak punya ayah itu jelek, ya?"
Deg. Eliza memperlambat laju motor. Angin menyapu pelan.
“Enggak,” katanya lembut. “Yang jelek itu kalau nggak ada yang sayang.”
Starla terdiam sebentar. Eliza melanjutkan, suaranya tenang. “Ada anak yang sama ayah-ibu, ada yang sama ibu, ada yang sama nenek. Yang penting, ada yang jaga dan sayang.”
Eliza menelan ludah, pertanyaan Starla sama dengan pertanyaannya dulu. Dia pun melanjutkan dengan suara parau, "Starla punya ibu yang sayang. Ada Nek Gendhis juga."
Starla memeluk pinggang Eliza lebih erat. "Oh," katanya, “berarti Starla nggak jelek.”
Eliza tersenyum, matanya hangat. “Nggak. Starla anak hebat.”
"Ibu."
"Hem."
"Om Indra punya anak kecil juga?"
.
.