Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Katanya Dia juga Ibu

“Hm…” Starla menunjuk pelan dengan dagunya, ke arah pemakaman. “Dia antar Starla.”

Eliza menoleh. Pandangannya menyapu pelataran itu—nisan, pohon kamboja, jalan setapak yang mulai lengang. Tidak ada siapa-siapa.

“Dia senyum,” lanjut Starla lirih. “Tapi nangis.” Tangan kecil itu mengusap matanya sendiri. “Starla ikut sedih.”

“Siapa, Sayang?” suara Eliza terdengar pelan, hampir berbisik.

Starla mengangkat tangannya, menunjuk ke arah yang sama. “Itu.”

Lalu ia menatap Eliza, lebih lama dari sebelumnya. “Ibu,” katanya lagi, sangat pelan, seolah takut kata-katanya tak terdengar, “dia bilang… dia juga ibu.”

Deg.

Eliza menelan ludah. Dadanya mengencang. “Ibu nggak lihat siapa-siapa,” katanya jujur, suaranya bergetar tipis.

Ia membeku sesaat.

Angin sore menggoyangkan daun kamboja. Suaranya berdesir, menggesek sunyi yang tersisa. Eliza menarik Starla ke dalam pelukan. Erat. Lama. Tanpa bertanya lagi.

Seolah ingin menutup tubuh kecil itu dari apa pun yang barusan hadir—atau mungkin, dari sesuatu yang tak bisa ia pahami. Karena ada pertemuan yang tidak selalu perlu dijelaskan dengan kata-kata.

Mereka pun gegas pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pulang, Starla murung. Tangannya melingkar erat di pinggang Eliza, kepalanya bersandar tanpa suara. Tidak ada pertanyaan, tidak ada cerita. Hanya keheningan yang dibagi berdua.

Tepat adzan Maghrib berkumandang saat mereka tiba di kosan.

Bu Gendhis yang masih memegang kepercayaan lama, langsung menarik Starla sebelum bocah itu masuk kamar. Ia membacakan doa panjang, lalu mengibas pelan bahu Starla, memutari tubuh kecil itu, juga Eliza.

“Biar nggak kena sawan,” gumamnya. “Bocah cilik kuwi wangi.”

Starla menurut, diam saja.

“Starla ganti baju langsung, Mbak El. Sampeyan juga cepet mandi,” kata Bu Gendhis lagi.

Keduanya mengangguk.

Malam pun segera turun. Pintu kamar Eliza pun mulai menutup rapat.

Setelah Isya, saat Eliza bersiap membuka laptop untuk kelas daring, Starla mendekat. Duduk di sampingnya, memainkan ujung mukena kecilnya.

“Ibu,” katanya pelan, “doain orang meninggal itu pakai doa apa saja?”

“Doa yang Starla bisa,” jawab Eliza lembut. “Al-Fatihah, sama surat pendek lainnya.”

“Oh…” Starla manggut-manggut, lalu menadah tangan, meniru gerakan orang berdoa.

“Starla bilang begini ya, Bu? ‘Tuhan, Starla mau doain ibu tadi,’ gitu?”

Eliza tersenyum, matanya menghangat. “Iya, boleh.”

“Sekarang doanya nambah,” kata Starla polos. “Doain ibu itu juga, selain ibu.”

Eliza berhenti sejenak. “Eh… Starla memang doain ibu?”

“Iya,” jawabnya cepat. “Nenek juga.” Matanya melirik ragu ke Eliza. "Dan...."

“Dan…?” Eliza mencondongkan badan, penasaran.

Starla menunduk. Bahunya sedikit mengkerut. “Hm… itu…”

“Itu apa?” tanya Eliza pelan.

“—Ayah,” lirih Starla, hampir tak terdengar. Ia menunduk lebih dalam, takut Eliza marah.

Eliza menghela napas panjang. Ayah lagi, batinnya. Tapi kali ini, ia tidak menyangkal ucapan Starla. Tidak juga membantah. Ia hanya diam.

Dan dalam diam itu, Eliza sadar—pertanyaan tentang ayah akan selalu mencuat, Starla tidak sedang mencari jawaban, dia hanya butuh sosok.

“Starla doain ibu kayak gimana?” tanya Eliza pelan.

Starla menoleh, matanya berbinar seolah pertanyaan itu mudah sekali.

“Kata Bu Guru,” ucapnya serius, menirukan nada orang dewasa, “setiap habis salat, mau bobok, harus doain orang tua.”

Ia lalu merapatkan tangan kecilnya, membaca dengan terbata tapi sungguh-sungguh, “Robbigfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro…”

Eliza terdiam. Matanya mengembun, napasnya tertahan sebentar. Ternyata Starla sudah lebih dulu mendoakannya—tanpa disuruh, tanpa diminta. Doa yang mungkin dibaca setiap hari, diam-diam.

“Terima kasih…” suara Eliza bergetar. “Makasih sudah doain ibu.” Air matanya jatuh, satu, lalu menyusul yang lain.

Starla langsung mendekap leher Eliza. Tubuh kecil itu hangat. “Ibu jangan sedih,” katanya cepat. “Kan Starla sayang ibu.”

Kalimat sederhana itu membuat tangis Eliza kian deras. Ia mengangguk, mukena Starla basah oleh air matanya yang jatuh satu per satu. Tidak ada yang bisa ia katakan selain menarik napas panjang.

“Starla minta ke Allah,” lanjut bocah itu polos, “biar ibu jangan sakit. Ibu banyak uang… biar ibu sering senyum.”

Eliza terkekeh di sela isaknya. “Emang sedih karena nggak punya uang, ya?”

Starla melepas pelukan. Tangannya yang kecil mengusap pipi, menghapus air mata Eliza, meniru caranya menenangkan.

Starla mengangguk mantap. “Ibu suka pusing kalau nggak punya uang…”

Eliza tertawa lagi, kali ini lebih renyah. “Iya,” katanya sambil mengangguk. “Tapi sedih itu bukan cuma soal uang, Nak. Kadang… kalau nggak disayangi juga bisa bikin sedih.”

“Oh…” Mulut Starla membulat. Ekspresinya serius, tapi lucu. Eliza gemas melihatnya.

Tak lama, kelas daring Eliza dimulai. Starla melepas mukenanya, lalu duduk di lantai dengan buku gambar dan krayon. Tangannya bergerak pelan, menggambar sesuatu dengan penuh konsentrasi. Garis-garisnya tidak rapi, tapi dia tekun.

Beberapa menit kemudian, krayon itu terjatuh dari genggamannya. Starla tertidur di samping buku gambarnya.

Eliza menoleh. Ia meraih buku itu perlahan, takut membangunkan.

“Eh…” gumamnya lirih. “Ini siapa?”

Di kertas itu tergambar seorang perempuan—rambut panjang, gaun sederhana, dan wajah dengan senyum tipis. Eliza menelan ludah.

“Apakah…” pikirnya, “wanita baik itu?”

Eliza tidak tahu persis seperti apa rupa wanita baik itu.

Yang ia tahu hanya potongan cerita dari Suster Nafa—cerita yang selalu disampaikan dengan suara lirih, seolah takut mengganggu kenangannya.

Tubuhnya kurus.

Matanya cekung.

Bibirnya pecah-pecah karena sulit menelan makanan.

“Tubuhnya seperti menolak,” kata Suster Nafa kala itu. “Setiap dipaksa makan, ia muntah. Tapi dia nggak pernah mengeluh.”

Setiap kali terbangun, wanita itu hanya menitipkan pesan seperlunya. Tidak banyak bicara. Ia akan tersenyum jika anak-anak panti mengelilingi ranjangnya, menepuk tangan kecil mereka satu per satu, lalu bertanya hal yang sama berulang kali.

“Hari ini hari apa?”

Seolah ia sedang menghitung. Bukan hari untuk sembuh—tapi hari untuk pulang.

Suster Nafa sebenarnya menyimpan foto-fotonya. Ada foto KTP—wajahnya masih jelas. Ada juga foto-foto di hari-hari terakhir. Wanita itu beberapa kali meminta difoto bersama anak-anak panti. Katanya, “Biar ada yang ingat.”

Eliza tidak pernah meminta melihat foto-foto itu. Ia takut wajah itu akan menempel di ingatannya. Takut hatinya tak sanggup menampung satu lagi kehilangan meski tak mengenalnya.

Kini, Eliza menatap gambar di buku gambar Starla. Garisnya sederhana. Tidak detail. Tapi ada senyum yang tipis, mata yang sayu, dan tubuh yang terlihat rapuh.

Eliza menutup buku itu perlahan. “Bisa jadi cuma imajinasimu, Nak,” bisiknya pada diri sendiri.

***

Di tempat lain, belasan kilometer dari sana, sebuah telepon berdering.

Saba yang sejak tadi mengurung diri di ruang kerja—menghindari Julia yang terus membahas soal masa suburnya—mengangkat kepala. Tangannya meraih ponsel tanpa melihat layar.

“Ya?”

“Bos,” suara di seberang terdengar berat, “kami menemukan rumah bersalin. Jaraknya sekitar tiga belas kilometer dari lokasi terakhir Wulan tercatat tinggal.”

Saba langsung berdiri. Kursinya terdorong ke belakang, berdecit.

“Lanjutkan.”

“Rumah bersalin kecil. Praktek bidan dan masih aktif sampai sekarang.”

Rahang Saba mengeras. Tangannya mengepal. Akhirnya. Setelah bertahun-tahun menabrak jalan buntu, kali ini dia mendapatkan petunjuk baru.

“Terus selidiki," perintahnya singkat.

“Sedang kami usahakan, Bos. Pelan-pelan. Kami nggak mau bidannya curiga.”

“Jangan kelamaan.” Saba meraup wajah, gelisah.

“Ada satu hal lagi, Bos…” suara itu ragu.

Saba menutup mata sesaat. Rasa lelahnya lenyap, digantikan ketegangan yang sudah lama ia kenal.

“Apa?” suaranya tanpa sadar meninggi. “Lekas bilang.”

Di seberang sana, orang itu menarik napas. “Hmm...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!