Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Harapan Saba
Telepon itu membuat Saba langsung berdiri dari kursinya. Kursi kerjanya mundur sedikit, berdecit pelan di lantai.
“Ulangi,” katanya singkat.
“Bidannya mulai curiga, Bos,” jawab orang suruhannya. “Begitu kami tanya soal tahun berdirinya klinik, raut mukanya langsung berubah.”
Saba menyandarkan satu tangan ke meja kerja. Di atas meja itu, masih ada map berisi catatan bertahun-tahun lalu. Nama Wulan tertulis di salah satu sudutnya.
“Berubah bagaimana?” tanyanya.
“Tatapannya tajam. Kayak orang yang pernah terancam. Dia langsung nanya, ‘Siapa kalian? Maksudnya apa nanya begitu?’ Setelah itu ekspresinya dingin. Judes. Nggak mau lanjut ngobrol dan kami diusir.”
Saba diam. Rahangnya mengeras.
Di ruang kerja itu, lampu menyala temaram. Jendela tertutup rapat. Udara terasa tiba-tiba sesak. Bertahun-tahun dia menunggu momen ini. Ada saja hambatannya.
“Berarti yang mengancam dia bukan orang sembarangan,” gumamnya. “Kalau cuma preman biasa, harusnya nggak segugup itu.”
“Iya, Bos. Tekanan yang dia terima kayaknya nggak main-main.”
Saba mengusap wajahnya pelan. Kepalanya terasa ruwet oleh banyak hal yang mendadak berseliweran. Tapi di saat yang sama, ada perasaan lain yang muncul.
Ia merasa sedang mendekat pada sesuatu yang selama ini dicarinya. Satu nama yang ingin dia ucapkan lantang. Wulan.
“Ada petunjuk lain?” tanyanya akhirnya.
Orang di seberang sana terdengar ragu sebentar. “Ada satu. Asisten bidan yang paling senior.”
“Kenapa dia?”
“Dia kelihatan lagi kesulitan ekonomi. Dan dia sering jaga sendirian kalau malam.”
Saba mengangkat kepalanya. Matanya menajam. Ada kilat kecil di sana, tekadnya menyala.
“Dekati dia.”
“Siap, Bos.”
“Cepat,” tambah Saba. “Jangan sampai ada yang sadar keberadaan kalian. Dan aku harus kehilangan jejak lagi.”
Telepon ditutup.
Saba masih berdiri. Tangannya belum juga lepas dari meja. Di luar ruang kerja, suara Julia terdengar lagi—tentang kekesalannya diabaikan Saba. Tentang harapan kapan hamil jika Saba selalu mengunci diri di ruang kerjanya.
Saba bergeming. Ia menatap map lama itu. Jarum jam berdetak pelan di dinding. Bertahun-tahun lalu, ia mencari Wulan dengan serampangan. Sehingga langkahnya terdeteksi dan dijegal.
Sekarang, ia mencarinya dengan rasa takut yang berbeda. Takut kalau kebenaran itu datang… dan ia terlambat.
Di ruangan lain, Hasnawati duduk sendirian di kamar yang rapi dan sunyi. Tirai jendelanya tertutup rapat, menyisakan cahaya lampu meja yang jatuh tepat di sisi ranjangnya.
“Akta Starla hampir selesai, Nyonya,” kata orang kepercayaannya di telepon. “Status Eliza aman sebagai wali. Kemungkinan besar dia akan mengurus KK baru.”
Hasnawati mengangguk meski lawan bicaranya tak bisa melihat. “Kawal sampai selesai.”
“Baik. Maaf, Nyonya,” suara itu terdengar ragu, “kenapa kali ini harus sedetail itu? Bukankah sebelumnya kita sedang mencari seseorang?”
Hasnawati terdiam.
Tangannya tanpa sadar menyentuh lengan, memeluk dirinya. Pikirannya melayang ke Starla. Ke tanda lahir di tubuh anak itu. Bentuknya. Letaknya. Terlalu mirip.
“Hanya firasat,” jawabnya akhirnya. “Sepertinya Saba juga mulai mencari wanita itu lagi.”
Di seberang sana terdengar helaan napas. “Iya. Kami dengar juga. Perlu kita halangi seperti dulu? Seperti waktu soal Julia?”
“Tidak,” kata Hasnawati cepat.
“Kenapa, Nyonya?”
Hasnawati memejamkan mata. Karena tahun Starla ditemukan, menurut surat keterangan penemuan bayi di data Capil Eliza … sama persis dengan tahun gadis itu menghilang.
Karena anak itu muncul tepat saat semua jejak sengaja dihapus. Karena firasatnya menguat sejak di rumah sakit, saat tabrakan itu.
“Papanya sudah tidak ada,” jawabnya pelan. “Dan mungkin… Saba memang perlu tahu kebenarannya.”
Ia menarik napas panjang. “Biarkan dia mencari. Kalau itu bisa membuat Saba tenang.”
“Baik, Nyonya.”
Telepon terputus.
Hasnawati menatap layar ponselnya lama. Bayangannya terpantul samar di layar hitam—wajah yang tetap tenang, tapi matanya menyimpan kekhawatiran.
Dua jalan yang lama dijauhkan, kini pelan-pelan mendekat ke titik yang sama. “Semoga belum terlambat,” gumamnya lirih.
Hasnawati masih duduk di tepi ranjang ketika malam makin larut. Lampu kamar dibiarkan menyala redup. Udara terasa dingin, meski AC sudah dia matikan.
Tangannya meraih album lama dari laci. Sampulnya sudah agak kusam. Album pernikahan Julia dan Saba. Ia membukanya perlahan.
Foto demi foto terbuka—senyu, pakaian yang sempurna, tamu yang bertepuk tangan. Semua tampak indah. Seperti gambaran kebahagiaan yang diidamkan banyak orang. Tapi Hasnawati tahu, tidak semuanya benar-benar bahagia.
Ia berhenti di satu foto. Saba berdiri di samping Julia. Wajahnya tenang, tersenyum tipis, tapi matanya kosong.
Air mata Hasnawati jatuh tanpa suara. “Mama nggak bisa melakukan apa-apa…” bisiknya lirih. “Maaf, Saba… anakku.”
Bahunya bergetar. “Harusnya kamu sudah bahagia,” lanjutnya, suaranya patah. “Itu satu-satunya pilihanmu di antara semua keinginan papamu.”
Ia menutup album itu pelan, lalu menarik map cokelat dari samping bantal. Map berisi salinan data Eliza, Starla dan gadis itu.
“Maaf, Saba,” ucapnya lagi. “Mama lemah di depan papamu…”
Hasnawati memeluk map itu ke dada. Erat. Seolah memeluk dosa yang tak pernah benar-benar ia akui.
“Ya Tuhan…” isaknya pelan. “Ampuni aku.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap langit-langit kamar.
“Sebelum waktuku pulang… aku cuma mau satu hal.” Napasnya tersengal. “Aku ingin semuanya jelas. Saba memaafkanku, ya Tuhan."
"Ditemani Saba di saat terakhir, itu impianku.” Tangisnya pecah. “Dan… aku ingin menebus kesalahan suamiku.”
Hasnawati meringkuk di atas kasur. Map itu masih ia peluk. Album pernikahan tergeletak terbuka di sampingnya. Air mata membasahi seprai sampai akhirnya tubuhnya lelah sendiri. Ia tertidur dalam sesenggukan.
***
Keesokan paginya, Hasnawati kembali keluar rumah.
Ia mendatangi panti-panti seperti biasa. Panti anak. Panti jompo. Satu per satu. Memberi bingkisan, menyapa pengurus, menanyakan kabar mereka.
Di setiap tempat, matanya selalu tertarik pada bayi-bayi. Wajah polos anak-anak. Harapan kecil mereka dan suara tangisan yang khas, ketika berebut mainan atau makanan.
Kenangan itu datang lagi. Tentang seorang bayi. Tentang keputusan malam itu yang diambil dalam kondisi marah memuncak.
Panti terakhir yang ia datangi hari itu adalah panti Sini sama aku.
Hasnawati berhenti sejenak di halaman. Meski sudah beberapa kali ke sini. Baru kali ini matanya menangkap bangunan tambahan di samping gedung lama. Masih baru. Catnya belum pudar.
Ia menoleh ke suster Nafa yang menyambutnya.
“Bangunan ini baru?” tanyanya.
“Iya, Nyonya,” jawab suster itu ramah.
“Ada yang masih kurang?” Hasnawati bertanya pelan. “Barangkali bisa dibantu.”
Suster itu berpikir sebentar. “Paling meja belajar lipat, satu laptop untuk staf sama selimut, Nyonya. Tapi secara fasilitas sementara cukup.”
Hasnawati mengangguk. “Syukurlah.”
Suster itu tersenyum kecil. “Soalnya, belum lama ini ada wanita yang mendonasikan hartanya sebelum meninggal di sini.”
Hasnawati menoleh cepat. “Oh ya?”
“Iya, Nyonya. Beliau berwasiat begitu.”
Dada Hasnawati mengencang. "Sakit?"
Suster Nafa mengangguk sebelum melanjutkan. “Kemarin kami baru mengunjungi makamnya…”
“Sakit apa?” tanya Hasnawati, suaranya tiba-tiba serak. “Kok meninggal di sini?”
"Kondisinya drop setelah melahirkan. Beliau dievakuasi petugas ke sini karena sebatang kara."
"Lalu?"
.
.