Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Semua terlalu kebetulan

Ponsel Eliza bergetar pelan di tangannya. Layar menyala di kegelapan kamar kos yang hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut. Napas Eliza masih belum benar-benar tenang ketika pesan dari Suster Nafa masuk lagi.

Ia membacanya perlahan. Satu baris, lalu baris berikutnya. Alisnya mengerut, jemarinya mulai menggulir layar.

["Aku ditegur suster kepala. Gak boleh cerita banyak sebab permintaan Tuan Saba…"]

Dada Eliza terasa mengencang. Nama itu lagi. Saba. Selalu muncul di sela-sela hal yang menyangkut Starla.

["Album Wulan dibawa Tuan Saba. Dan Nyonya Hasnawati juga nanyain soal nama Wulan…"]

Eliza menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia duduk lebih tegak, bersandar pada dinding. Kipas angin berputar pelan, tapi keringat dingin merambat di tengkuknya.

["Ada apa ini, El?"]

Pertanyaan itu seperti ditujukan langsung padanya. Eliza menatap layar lama, lalu mengetik balasan dengan tangan sedikit gemetar.

"Kalau mau diadopsi, posisiku nggak kuat ya, Sus? Umurku belum cukup buat syarat adopsi. Mereka… lebih kuat."

"Apa mereka mau ambil Starla dariku?"

Pesan terkirim. Eliza memeluk lututnya sendiri. Matanya melirik ke kasur. Starla masih tertidur, wajah kecilnya tenang, sama sekali tak tahu bahwa kami sedang membicarakan nasibnya.

Balasan masuk tak lama kemudian.

["Kayaknya gitu, tapi entah ya, El. Semoga nggak."]

Kata ~semoga itu tidak menenangkan. Justru membuat perut Eliza terasa melilit. "Sus, jadi aku gimana?"

"Starla… aku nggak bisa pisah sama dia."

Eliza mematung. Dadanya terlalu sesak untuk mengeluarkan apa pun.

["Kalian bisa bicarakan kesepakatan kalau memang ada proses adopsi. Nggak main ambil aja."]

Kesepakatan. Kata itu berputar di kepala Eliza. Seolah Starla adalah barang yang bisa ditawar, ditimbang, diputuskan.

["Tenang, El. Tenang."]

Pesan terakhir itu masuk, tapi Eliza justru memejamkan mata. Berharap bisa meredam isi kepala yang kian semrawut.

Potongan-potongan informasi mulai saling menyambung, seperti benang kusut yang tiba-tiba terlihat ujungnya.

Wulan kehilangan bayi. Wulan meninggal. Album Wulan dibawa Saba. Hasnawati menanyakan Wulan. Biaya rumah sakit Starla ditanggung.

Eliza membuka mata. Tatapannya kosong.

“Jangan-jangan…” bisiknya nyaris tak bersuara.

Kata adopsi kembali melintas, kali ini lebih terasa mengancam.

Starla. Apakah Starla anak Wulan? Kalau iya… Saba itu siapa bagi Wulan?

Dada Eliza bergetar. Tangannya mulai dingin. Ia meraih buku catatan dari tasnya, menarik satu lembar kosong. Dengan pensil, ia mulai mencoret-coret.

Nama-nama itu ditulis. Dirinya sendiri—di luar lingkaran itu.

Garis-garis penghubung ia tarik, lalu hapus, lalu tarik lagi. Kepalanya dipenuhi bayangan lima tahun lalu.

Lewat tengah malam, Eliza kembali meraih ponsel. Jarinya ragu sejenak sebelum mengetik.

"Sus… Wulan itu dibawa ke panti jam berapa?"

Pesan terkirim.

Eliza menatap layar lama, lalu meletakkan ponsel di lantai. Ia bersandar, memejamkan mata, menunggu dengan jantung berdebar tak karuan.

Keesokan pagi, jawaban itu muncul saat Eliza bersiap berangkat kerja. Rambutnya belum sepenuhnya kering, seragam toko masih setengah dikenakan. Ponselnya bergetar di atas meja.

["Paginya, El. Semalam kan melahirkan."]

Dhuar.

Eliza terduduk di lantai. Punggungnya menyentuh lemari plastik, lututnya melemas. Napasnya terputus-putus.

Pagi. Semalam melahirkan. Terlalu… terlalu kebetulan.

Air mata akhirnya jatuh. Satu, lalu dua, lalu tak terbendung. Eliza menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar.

“Kalau mereka tahu…” suaranya serak. “Apa mereka sudah tahu?”

Biaya rumah sakit. Pertanyaan soal adopsi. Apakah Starla akan diambil?

Isaknya pecah. Bu Gendhis yang baru keluar dari kamar mandi tertegun melihat Eliza terduduk di lantai.

“Mbak El?” panggilnya cemas.

Eliza tak mampu menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah kasur, ke arah Starla yang masih terlelap.

Bu Gendhis mendekat, lalu memeluk Eliza tanpa bertanya. Membiarkan tangis itu tumpah di bahunya.

Di kamar kos yang sempit itu, pagi terasa dingin. Dan untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, Eliza benar-benar merasa—Starla bisa saja diambil darinya.

Bu Gendhis belum benar-benar paham apa yang terjadi, tapi wajah Eliza cukup menjelaskan bahwa pagi itu terjadi sesuatu.

Mata Eliza sembab, napasnya belum stabil. Namun tangannya sudah bergerak cepat—mengambil tas, dompet, map plastik berisi berkas.

“Aku harus pergi,” katanya singkat, sambil menyeka pipi agar air mata tak jatuh lagi.

Hari ini Eliza harus ke sekolah Starla. Mengantar Kartu Keluarga. Ia sudah memutuskan—apa pun yang terjadi, namanya harus tercantum di sana. Itu satu-satunya pegangan yang ia punya sekarang.

Bu Gendhis mengangguk, meski kebingungan. Ia lalu menoleh ke tas Starla yang tergeletak di kursi. Ada barisan semut kecil merayap di sisi bawahnya.

Pelan-pelan, Bu Gendhis memunguti semut-semut itu. Membuka tas. Benar saja, ada sisa remah kue di dalamnya. Ia membawanya ke kamar mandi, mencucinya perlahan.

Starla bangun, rambutnya masih acak-acakan, matanya setengah mengantuk.

“Ada sisa kue, Nduk,” kata Bu Gendhis lembut. “Nenek cuci tasnya, ya?”

Starla mengangguk kecil. “Boleh.”

Eliza menghampiri. Ia berjongkok, memeluk Starla lebih lama dari biasanya. Mencium keningnya, pipinya, lalu memandangi wajah kecil itu seakan dia tak akan melihatnya lagi esok hari.

“Ibu kerja ya."

Starla mengangguk lagi, tak tahu apa-apa.

Eliza pun pergi, menutup pintu dengan hati-hati. Langkahnya cepat, tapi jantungnya bergemuruh.

***

Di tempat lain, Hasnawati terbangun dengan dada yang terasa berat. Nama itu kembali muncul di benaknya—Wulan. Donatur panti. 

Orang suruhannya sudah memberi laporan. Hasnawati memejamkan mata sejenak. Perasaannya makin gelisah.

Hasnawati menelpon orang kepercayaannya. Suaranya tenang, tapi matanya tidak.

“Jaga anak itu baik-baik,” perintahnya. “Laporkan apa pun. Berkala.”

Ia ingin tahu segalanya. Tanpa terlihat. Dan tak lama, sebuah gambar masuk ke ponselnya. 

"Benar, Starla salah satu penerima bingkisan itu," gumamnya. "Ya Tuhan, terima kasih," lirih Hasnawati memeluk ponselnya.

Senyum tipis muncul. Dia meminta suster membantunya berdandan. Dirinya akan menunggu Saba datang siang nanti. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan putranya itu.

*

Sementara itu, di kantor, Saba berdiri di dekat jendela. Wajahnya datar, pikirannya masih berkutat di catatan ponsel semalam.

Ia lalu memanggil Albana. “Tolong selidiki kosan Eliza,” katanya singkat. “Sekalian sekolah Starla.”

Albana mengangguk. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini.

“Dan satu lagi,” lanjut Saba. “Tanya suster… waktu Starla sakit, apakah dia melihat ada tanda di tubuhnya.”

Albana menatap Saba sejenak. Ia tak bertanya. Tapi ia tahu, ini bukan penyelidikan biasa.

Albana mengangguk. “Baik, Bos.”

Ia berbalik pergi, tapi langkahnya tertahan ketika Saba menambahkan satu kalimat lagi. “Kalau ada tanda lahir,” ujar Saba tanpa menoleh, “pastikan bentuknya.”

Albana membeku sepersekian detik. “Seperti yang mana, Pak?”

Saba menatap pantulan dirinya di kaca jendela. “Seperti bentuk pulau," lanjutnya dengan nada rendah. Saba berbalik menatap Albana. "Bali." 

"Ok." Albana gegas keluar.

Saba menarik kursi kerjanya, duduk perlahan di sana. Tangannya menopang dagu. Lalu memejam.

"Starla Vali Dwipa ... Starla Vali Dwipa," ulangnya lirih. "Starla ... Starla."

Hening.

Tiba-tiba, matanya terbuka. "Vali Dwipa?" Saba bangkit. "Nggak mungkin!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!