Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Kenalan dengan Starla

“Hah?”

Eliza menatap Indra. Kata-kata itu nggak langsung dia cerna, tapi begitu sadar, rasanya kayak ada yang menekan dadanya. 

“Ngambil Starla?” ulangnya lirih.

Indra mengangguk. “Aku bukan nakut-nakutin,” katanya lebih pelan. “Tapi orang kayak dia itu punya banyak cara. Dateng baik-baik, ngasih ini itu, bikin kamu ngerasa berutang.”

Eliza menelan ludah. Ngambil Starla… Kata itu berputar di kepalanya. “Dia cuma beli susu,” bantah Eliza lemah. “Sama sembako.”

“Justru itu,” potong Indra. “Kalau cuma niat nolong, satu kali cukup. Tapi ini… berkali-kali loh. Tandanyq, dia pengin masuk ke hidup kamu, El.”

Eliza terdiam.

Di kepalanya, wajah Starla muncul. Cara bocah itu nyelonong ke pelukannya tiap pulang sekolah. Cara dia tidur sambil nyari tangan Eliza.

"Kalau Starla diambil… terus aku harus gimana?” suara Eliza bergetar. “Nolak semua?”

Indra menarik napas. “Jaga jarak dulu. Jangan kasih celah.”

Eliza mengangguk pelan, meski hatinya masih gelisah. Di dalam dirinya, ada dua suara yang berbisik. Satu bilang, dia cuma baik. Satu sisi lagi, di dunia ini nggak ada yang gratis. 

Sementara itu, Saba duduk di mobilnya cukup lama. Mesin sudah mati, tapi dia belum jalan. Kepalanya bersandar ke sandaran kursi.

Penolakan Eliza masih terasa. Dia bukan perempuan yang gampang goyah. Dan itu memperkuat satu hal di kepalanya—Starla tumbuh di tangan yang benar.

Saba mengeluarkan ponsel. Ada satu pesan masuk.

[“Bos, sampel sudah hampir aman. Tinggal eksekusi.”]

Saba membaca sekali. Lalu mengetik singkat. “Pastikan tetap sembunyi-sembunyi.”

Ia mengirim pesan itu, lalu menyimpan ponselnya di dashboard. Sebelum menyalakan mesin, Saba bergumam pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.

“Aku nggak akan datang mendadak, Eliza. Tapi pelan dan pasti.”

Mobil itu akhirnya melaju, meninggalkan toko kecil yang lampunya masih terang.

Di dalam toko, Eliza membereskan rak sambil melamun. Tangannya bekerja otomatis, tapi pikirannya ke mana-mana.

Kalau suatu hari dia datang bawa bukti… dan Starla benar-benar…

Eliza berhenti. Menarik napas dalam-dalam. Ia merogoh ponselnya, membuka galeri. Foto Starla muncul.

“Aku nggak minta banyak,” bisiknya sambil menatap layar. “Cuma satu… jangan ambil dia dariku.”

Sorenya.

Rumah sakit selalu punya bau yang sama. Dingin, sedikit menyengat, dan bikin orang gampang cemas, meskipun lantunan doa tak pernah surut dari setiap dinding kamarnya.

Starla duduk di bangku tunggu sambil mengayun-ayunkan kakinya. Bekas plester kecil masih terlihat di lengannya. Eliza berdiri agak jauh, di depan kasir, mengeluarkan dompet sambil menghitung uang.

“Sebentar ya, Nak,” katanya tanpa menoleh.

Starla mengangguk. Matanya justru sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu-lalang.

Di lorong seberang, Saba muncul. Langkahnya sengaja diperlambat. Ia berpura-pura baru datang, seolah kebetulan. Padahal sejak siang setelah dari toko Indoapril, dia sudah berencana ke rumah sakit ini.

Saba berhenti ketika melihat Starla.

Bocah kecil itu juga melihatnya. Matanya berbinar terang. Ia tersenyum duluan, polos, tanpa tahu siapa pria di depannya.

“Hai, Starla,” sapa Saba pelan.

Starla membalas senyum itu. “Halo, Om,” katanya ceria, kakinya masih bergoyang di bangku.

Eliza menoleh. "Eh, Tuan," sapanya.

"Saba saja, Nona El."

Eliza menoleh ke sekitar Saba, tidak ada Hasnawati di sisinya. Mau apa dia ke sini? Pikir Eliza.

Saba rupanya tahu apa yang Eliza pikirkan. Dia melirik ke sisi kanannya lalu berkata, "Jika Anda mencari mama, beliau sedang check up." Saba menunjuk dengan ibu jarinya ke belakang.

Eliza kikuk sendiri. "Oh, iya, semoga lekas sehat." Tersenyum canggung lalu kembali melihat meja kasir.

Saba mengangguk lalu berjongkok di depan Starla. Jarak mereka tinggal sejengkal. Ada rasa hangat aneh yang langsung naik ke dadanya.

“Boleh cium?” tanya Saba hati-hati.

Starla refleks menoleh ke arah Eliza. Tapi Eliza masih sibuk di kasir, membelakangi mereka. Starla kembali menatap Saba. Lalu mengangguk kecil.

“Sedikit aja,” katanya sambil mengangkat dua jarinya, memberi isyarat sedikit.

Saba tersenyum. Dadanya sesak tanpa sebab. Ia mendekat. Mendekap Starla sebentar. Lebih erat dari yang seharusnya—tapi tidak lama. Hanya cukup untuk mencuri satu kesempatan kecil, satu rasa yang selama ini kosong.

Lalu ia melepas. “Makasih, Starla,” katanya lirih.

Starla tersenyum bangga, seolah baru memberi hadiah besar.

Saat itu Eliza berbalik. “Eh… makasih kenapa?” tanyanya heran melihat Saba jongkok di depan Starla.

Saba berdiri. Wajahnya tenang, suaranya ringan. “Kenalan, Nona.”

Eliza hanya mengangguk tipis. Tak bertanya lebih jauh. Tak juga menunjukkan curiga. Ia lalu menggenggam tangan Starla. “Ayo pulang.”

Starla menoleh sekali lagi. Melambaikan tangan kecilnya. “Dadah, Om!”

Saba tersenyum. Tangannya terangkat membalas lambaian itu. “Dadah, sayang,” gumamnya lirih—nyaris tak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.

Starla dan Eliza berjalan menjauh. Saba menatap punggung kecil itu sampai hilang di tikungan lorong.

Ia lalu menoleh. Albana sudah berdiri di ujung lorong. Tak bicara. Hanya mengangguk pelan. Saba mengangguk balik.

Langkahnya kemudian berbelok. Mengikuti Albana masuk ke area laboratorium. Di dalam, sebuah sampelnya akurat menunggu dicocokkan.

***

Setelah dari rumah sakit, Starla tidur lebih cepat malam itu. Mungkin capek atau karena siang tadi terlalu banyak main meski belum sehat benar. Eliza duduk di tepi ranjang, menatap wajah kecil itu lama sekali.

Lampu kamar sengaja diredupkan. Hanya cahaya lampu tidur yang menemani.

Eliza menarik selimut sampai ke dada Starla, lalu tangannya berhenti di lengan kecil itu.

Eliza menghela napas pelan. “Maaf ya hari ini bolak-balik rumah sakit.”

Starla bergumam kecil dalam tidurnya. Tangannya bergerak, mencari sesuatu, lalu tanpa sadar menggenggam jari Eliza.

Dada Eliza langsung sesak..Dia duduk mendengarkan napas kecil itu. Menghitung detaknya. Seolah takut, kalau Starla bakal direbut detik ini juga.

Kata-kata Indra kembali muncul. Eliza menunduk. Dahinya hampir menyentuh tangan Starla.

“Ngambil Starla…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. “Ambil pakai cara apa?”

Air matanya jatuh satu. Cepat-cepat diusap, takut menetes ke wajah anak itu.

Eliza menggeleng pelan.

“Tapi kamu bukan barang,” katanya lirih, penuh tekad. “Kamu anak ibu di sini.”

Tangannya mengelus rambut Starla sambil berdoa. “Apa pun yang terjadi nanti,” ucapnya pelan tapi tegas, “Ibu nggak akan mundur.”

Starla bergerak sedikit, lalu tenang kembali.

Eliza tersenyum tipis. Ada takut. Ada cemas. Tapi di atas semuanya, dia bahagia sampai detik ini.

*

Apartemen itu sunyi.

Saba duduk sendiri di meja kerja. Lampu menyala terang. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat tergeletak rapi.

Belum dibuka.

Tangannya sudah beberapa kali bergerak… lalu berhenti lagi. Ia bersandar ke kursi, menghela napas panjang. Pikirannya kembali ke lorong rumah sakit sore tadi.

Starla. Senyumnya. Caranya mengangkat dua jari sambil bilang “sedikit aja.”

Saba menutup mata.

Pelukan singkat itu… terlalu membuatnya rindu. Ia membuka mata lagi. Pandangannya jatuh ke amplop itu.

“Apa aku siap?” gumamnya pelan. "Kalau benar… Starla memang—"

Saba berhenti. Dadanya terasa sesak. Ia teringat Wulan.

“Kalau ini benar,” bisiknya, suaranya berat, “aku masih kudu berjuang mengambil hatinya.”

Ia tahu. Setelah ini, tak ada lagi langkah mundur. Saba meraih amplop itu. Jarinya menyentuh ujungnya. Namun, tiba-tiba sebuah suara terdengar...

"Saba?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!