Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Bukan anak Dajal
Indra menutup map tipis di hadapannya, lalu menatap Eliza dengan sorot yang sedikit tak ramah. Ruang belakang toko terasa pengap, meski kipas angin berputar pelan di sudut ruangan.
“Saya tidak akan memecat kamu,” katanya akhirnya.
Napas Eliza tercekat di tenggorokan. Dadanya turun perlahan, seperti baru saja diizinkan bernapas kembali.
“Tapi,” lanjut Indra, suaranya datar, “ini kesempatan terakhir. Tidak boleh telat, tidak boleh izin mendadak. Kalau ada masalah pribadi lagi yang ganggu operasional, saya tidak bisa bantu.”
Eliza mengangguk cepat. “Iya, Pak. Saya sanggup.”
Indra menatapnya beberapa detik lebih lama, seakan memastikan kalimat itu bukan sekadar janji kosong. “Saya percaya sama kerja keras,” katanya kemudian. “Tapi perusahaan juga hidup dari keteraturan.”
Ia berdiri, menandakan pembicaraan selesai.
Eliza keluar ruangan dengan langkah ringan karena tak jadi kehilangan pekerjaan. Berat karena tahu harga yang harus ia bayar adalah waktu dengan Starla.
Kalau aku jatuh sekarang, pikirnya, Starla ikut jatuh.
Sore itu, Eliza berhenti di sebuah toko emas kecil di pinggir jalan. Sepi, di etalase terpajang model perhiasan terbaru.
Eliza ragu, tapi dia tetap melangkah masuk.
“Ada yang bisa dibantu, Mbak?” tanya pemilik toko, seorang pria setengah baya dengan kacamata tebal.
Eliza mengangguk, membuka tasnya. Ia mengeluarkan cincin emas yang sejak semalam tersimpan. Diletakkannya di atas meja kaca dengan hati-hati, seolah benda itu rapuh.
“Tolong ditaksir,” katanya pelan.
Cincin itu ditimbang. Dicatat. Diputar di bawah lampu putih.
“Tiga gram,” ujar pria itu. “Cincin lama, kadar 22 dan masih bagus.”
Eliza menatap cincin itu lama. Dalam kepalanya terlintas wajah lelaki kurus dengan mata cekung, tangis yang tertahan, dan kalimat lirih penuh rasa bersalah. Ini bukan miliknya. Tapi masa depan Starla juga ditentukan oleh kertas berbiaya.
“Berapa?” tanya Eliza akhirnya.
Angka disebutkan. Kata itu bergema di kepalanya. Dan Eliza berusaha nego.
Eliza mengangguk. "6 juta, saya ambil.”
Uang berpindah tangan. Eliza keluar toko dengan perasaan campur aduk.
"Nanti kita beli lagi ya, apa yang sudah hilang," ucapnya pada dirinya sendiri. “Maaf,” gumamnya pelan. Entah kepada siapa.
Hari berikutnya, sebelum jam kerja dihabiskan Eliza dari satu kantor ke kantor lain.
Di Dukcapil, ia duduk lama di kursi plastik, memeluk mapnya seperti pelampung. Petugas menjelaskan prosedur dengan nada datar.
“Ini nanti statusnya anak tidak diketahui orang tua biologis,” kata petugas itu. “Kalau mau proses lain, bisa lebih panjang. Tapi berisiko masuk ranah dinas sosial.”
Eliza mengangguk. Ia sudah tahu. Ia sudah memilih.
“Yang penting anak saya punya akta,” jawabnya tenang. “Punya nama.”
Petugas itu menatapnya sebentar, lalu menggeser formulir ke arahnya. “Tanda tangan di sini.”
Pulpen itu terasa berat di jari Eliza. Ia menuliskan namanya perlahan, hati-hati, seolah setiap goresan adalah sumpah.
Satu pintu terlewati. Masih banyak pintu lain menunggu.
Malam itu, kamar kos kembali sunyi. Bu Gendhis sudah pulang, Starla tertidur lebih cepat dari biasanya setelah seharian bermain.
Eliza duduk di lantai, bersandar di dinding. Di depannya, selembar kertas kosong dan pulpen murah. Ia menulis satu kata besar di tengah kertas.
STARLA
Ia menatapnya lama. Mengulang menulisnya lagi di sudut lain. Nama itu sederhana, tapi kini memuat seluruh hidupnya.
Starla bergeser dalam tidur, memeluk boneka lusuhnya lebih erat. Wajah kecil itu tenang, tak tahu apa pun tentang formulir, tanda tangan, atau cincin yang terjual demi dirinya.
Eliza mengusap rambut halus itu perlahan. Air matanya jatuh tanpa suara. “Ternyata,” bisiknya, “yang paling berat bukan melahirkan anak… tapi mempertahankannya.”
Ponsel Eliza bergetar pelan di sampingnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Dokumen atas nama Starla sedang diproses.
Eliza menghela napas lega. Ia membalas singkat.
"Terima kasih." Lalu meletakkan ponsel kembali.
Di kamar kos sempit itu, Eliza memeluk Starla lebih erat.
"Tuhan.... Dia takkan terlantar, kan? Namun, jika iya, kenapa engkau izinkan dia lahir ke dunia?"
***
Sejak hari itu, Eliza lebih semangat kerja. Dia curhat dengan Bu Gendhis dan beliau mendukungnya jaga Starla lebih lama.
Di toko, Indra melihat perubahan sikap pada Eliza.
Perempuan itu jadi lebih diam. Tangannya tetap cekatan, hitungannya nyaris tak pernah meleset, tapi senyumnya jarang tampak. Eliza nyaris tak pernah mengobrol, jarang mengeluh. Datang tepat waktu, pulang paling akhir.
"Kalau rehat, Eliza kemana?" tanya Indra suatu hari, tak melihatnya.
Kepala toko angkat bicara, "Ke teras belakang gudang, ngerjain tugas kuliah, Pak."
Indra diam, teras belakang ka sempit, cuma satu meter tertutup tembok perumahan. Ngapain Eliza di situ, pikirnya. Dia juga bertanya soal anak angkat yang pernah disebut Eliza.
“Anak itu bukan anak kandungnya, Pak,” kata kepala toko lagi. "Dia nemu bayi itu bertahun lalu. Sekarang lagi ngurus legalitas. Makanya belakangan ini ruwet.”
Indra berhenti menulis.
“Dia juga ambil kelas malam atau akhir pekan. Nggak pernah cuti. Eliza karyawan teladan sejak saya pegang toko ini,” pungkasnya.
Indra mengangguk pelan. “Dia ngekos di mana?” tanyanya seolah basa-basi.
“Belakang pasar lama. Kos Gulajawa, gang pertama yang warnanya serba hijau, Pak.”
Pulpen Indra berhenti total.
Dulu, sebelum hidupnya rapi, sebelum ia punya jabatan dan mobil dinas, Indra pernah tinggal di sekitar sana. Gang sempit, pagar berkarat, pemukiman padat, ditambah berisik suara radio tetangga.
Sore itu, Indra penasaran, mengemudi ke sana. Ia memarkir mobil agak jauh dan memilih berjalan. Gang-gang itu masih sama. Hanya plang RT yang berganti cat.
Dan saat hampir melewati sebuah pagar hijau kusam, suara tangis memecah sore.
“Starla anak Ibu Eliza!” teriak seorang anak kecil dengan suara serak. “Starla bukan anak dajal!”
Indra berhenti tiba-tiba.
Seorang anak perempuan berdiri di depan pagar, pipinya merah, matanya basah. Dua anak lain sudah menjauh, tertawa cekikikan.
Indra menunduk, menjaga jarak. “Hei…” suaranya dibuat pelan. “Jangan nangis, anak pintar.”
Anak itu menoleh. Matanya besar, bulat, penuh waspada. Dia menatap Indra, sambil memundurkan langkahnya.
“Namamu Starla, ya?” ucap Indra, tersenyum tipis.
Anak itu mengerjap pelan, takut.
Belum sempat Indra mengatakan apa pun lagi, seorang wanita tua muncul, tubuhnya agak membungkuk tapi sorot matanya tajam.
“Starla, mlebu, Nduk!” katanya tegas, menarik tangan anak itu. Tubuhnya otomatis berdiri di depan Starla, seperti perisai.
Indra mengangkat kedua tangannya sedikit. “Bu, saya bukan penculik.”
“Heleh,” sahut Bu Gendhis tanpa senyum. “Zaman saiki kabeh wong ngaku ora jahat.”
Ia menutup pagar dengan bunyi keras. Tanpa pamit. Tanpa menoleh lagi.
Indra berdiri terpaku beberapa detik. Di balik pagar itu, Starla sempat menoleh sekali. Mata kecil itu masih basah, bingung.
Dia melangkah pergi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Baru kali ini ia benar-benar melihat dunia Eliza—bukan dari laporan, bukan dari cerita orang lain, tapi dari gang sempit, pagar kusam, dan seorang nenek yang protektif karena tahu dunia tak ramah pada anak terlantar.
Ia tidak tahu kenapa hatinya terasa berat saat kembali ke mobil. Tidak tahu kenapa ia ingin memastikan, besok, apakah Eliza baik-baik saja. Indra merenung lama di dalam mobilnya, mesin sudah mati, memandangi gang itu.
"Eliza menjalani semua ini sendirian."
Di balik pagar hijau itu, Bu Gendhis memeluk Starla erat.
“Wis, Nduk. Ora usah didangakke omongan wong,” bisiknya. “Sing penting ibu Eliza baik sama kamu.”
Starla memandangi Bu Gendhis. "Anak Dajal itu anak siapa, Nek?"
Deg.
.
.