Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Kenapa cuma Ibu
Bu Gendhis terkejut, tapi pura-pura nggak denger.
Starla masih duduk di lantai, memeluk bonekanya. Matanya tak lepas dari pintu.
“Nek…” panggilnya pelan.
Bu Gendhis yang sedang melipat baju menoleh lagi, ragu-ragu. “Napa, Nduk?”
“Anak dajal itu anak siapa?” ulang Starla, sambil menghapus air mata di pipi.
Bu Gendhis terdiam sepersekian detik. Tangannya berhenti melipat. Lalu ia tertawa kecil, tawa khas orang tua yang lebih banyak ngeles daripada menjawab.
“Heleh… omongan wong ki. Anak dajal mah tokoh cerita, Nduk. Kayak raksasa. Nggak nyata.”
Starla mengernyit, sisa tangisnya masih ada. “Tapi tadi ada yang bilang gitu ke Starla.”
Bu Gendhis mendecak pelan. “Wong-wong ki seneng ngomong sembarangan. Nenek bilang kamu anak Ibu Eliza, ya wis. Sing ngopeni kowe sopo?”
“Ibu Eliza,” jawab Starla pelan.
“Ya wis. Berarti kamu anak Ibu Eliza,” kata Bu Gendhis mantap, lalu kembali melipat baju seolah perkara itu selesai.
Tapi Starla tetap diam. Bukan sekali ini dia diejek dan dikatain anak haram, anak buangan, dan yang barusan anak dajal.
Starla tak paham, tapi kata-kata itu menyakiti hatinya. Apakah salah, hanya tinggal bareng ibu dan nenek, tanpa ayah? Pikirnya.
Malamnya, Starla jadi murung. Tidak ada tangisan berlebihan atau rengekan tanpa sebab.
Ia tak lagi berlari keluar pagar saat Bu Gendhis menyiram tanaman. Tak lagi ikut anak-anak lain bermain kejar-kejaran di ujung gang. Lebih sering duduk di ambang pintu kos, memeluk boneka lusuhnya, menatap jalanan dengan mata kosong.
Eliza menyadarinya. Starla makan cuma sedikit. Tak minta cerita sebelum tidur.
"Starla nggak lapar?” tanya Eliza lembut, menyodorkan sendok.
Anak itu menggeleng kecil. Rambutnya jatuh menutupi dahi. Matanya turun ke lantai.
Eliza menurunkan sendok. “Perutnya sakit?”
Starla kembali menggeleng.
Sunyi menggantung beberapa detik sebelum suara kecil itu akhirnya keluar, nyaris berbisik.
“Ibu…”
Eliza menegang. “Hm?”
Starla memeluk bonekanya lebih erat. Suaranya kecil. “Bu… kenapa tadi anak-anak itu marah sama Starla?”
Eliza mengelus rambutnya pelan. “Marah kenapa?”
“Katanya Starla bukan anak siapa-siapa.”
Eliza terdiam sesaat, lalu menarik Starla ke pelukannya. “Kamu anak ibu.”
Starla diam. Lalu bertanya lagi, polos tapi menusuk.
“Kalau anak-anak punya ayah sama ibu… Starla kok cuma sama ibu?”
Eliza menempelkan pipinya ke kepala Starla. “Karena Tuhan titipin kamu ke ibu.”
Starla mengernyit. “Tapi kenapa nggak sekalian ayahnya?”
Eliza tersenyum tipis. “Kadang titipannya memang cuma satu orang dulu.”
Starla mengangguk pelan, lalu bertanya lagi, lebih lirih. "Ibu..."
"Iya, Sayang."
"Aku jelek ya?" cicitnya sendu.
Elize melihat wajah putrinya. Putih bersih, pipinya gembul, bibir pink dan mata bulat jernih. Dia membelai rambut ikal Starla. "Cantik gini kok," ucapnya tersenyum, mencium dahi Starla.
"Tapi kok dibilangnya anak Dajal," bisik Starla, air matanya jatuh. "Dajal itu siapa, Bu? Jelek ya?"
Eliza mengusap pipi Starla pelan, hatinya ikut sakit. "Dajal itu Itu cuma kata orang dewasa, Starla," Eliza menjeda, menarik napas panjang. "Kadang orang bicara kasar tanpa tahu artinya. Kamu bukan itu. Starla anak baik yang Bunda temukan dan sayangi.”
Starla menempelkan wajah ke dada Eliza. Suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa Starla dibuang, Ibu?"
Eliza menunduk, bibirnya gemetar sambil mengusap punggungnya. "Ibu nggak tahu kenapa … Tapi itu bukan salah Starla. Yang penting Starla sama ibu sekarang."
Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di sudut kamar. Lalu mengajak Starla rebahan, dan menarik tubuh kecil itu ke pelukannya.
Eliza sadar, cepat atau lambat sematan anak haram dan anak buangan akan lebih banyak Starla dengar. Ini di luar kuasanya.
Dia harus menyiapkan mental Starla agar hatinya tak terlalu terluka oleh perkataan orang yang merasa dirinya beruntung, lahir di keluarga utuh.
"Ibu, ibu akan buat Starla tetep merasa utuh. Kuatlah bersama ibu, anakku," lirih Eliza setelah merapal doa sebelum tidur.
Keesokan harinya, Eliza bertanya pada Bu Gendhis kronologi kejadian kemarin.
Pemilik kos Gulajawa itu bercerita lengkap, termasuk soal pria yang datang ke kosan dan sempat mengajak ngobrol Starla.
"Hati-hati, Bu. Dokumen Starla lagi diproses, anak macam Starla bisa jadi sasaran orang jahat buat dijual belikan," ujar Eliza, mengingatkan Bu Gendhis.
"Iya, Mbak El. Sana kerja, Starla aman, aku bakal ajak main di dalem aja," balasnya, menepuk jok motor Eliza.
Eliza pun berangkat, kembali bekerja seperti biasa. Datang tepat waktu. Bekerja tanpa banyak bicara. Menyelesaikan semua tugas tanpa celah.
Tapi Indra melihatnya—bukan dengan mata pengawas, melainkan dengan insting seseorang yang tahu arti kelelahan yang disembunyikan.
Sore itu, Indra membuka folder kebijakan internal di laptopnya. Ia membaca pelan—bantuan pendidikan, dispensasi jam kerja, beasiswa karyawan berprestasi.
Indra belum melakukan apa-apa, hanya menyimpan sesuatu—bukan untuk perusahaan, melainkan untuk seseorang.
***
Sementara itu, di rumah besar berlantai marmer, Julia menerima pesan lanjutan.
Proses akta kelahiran anak bernama Starla sedang berjalan. Pengasuh tercatat: Eliza.
Julia membaca berulang kali. Bibirnya menegang. “Cepat juga,” gumamnya.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Lalu berhenti di dekat pintu ruang tengah. "Punya uang darimana dia?"
“Aku mau kamu pastikan,” katanya ke ponsel, suaranya dingin, “proses itu selesai atau tidak. Bagi info apakah Mama mertuaku masih bantu mereka, apa alasannya?"
Hasnawati, yang baru keluar dari dapur dengan membawa segelas air, membeku di tempat. Dia mendengar suara Julia.
Nama itu. Starla.
Hasnawati buru-buru masuk ke kamar, mengunci pintunya. Dia meraih ponsel dari nakas lalu berjalan ke Jendela, menekan sebuah nomer.
Tut. Nada dering tersambung.
"Halo."
"Awasi orang-orang Juli Daniri, kenapa dia mencari tahu soal Starla," titahnya pada seseorang di sana.
"Baik, apalagi?"
"Awasi Eliza, ngapain aja, dan telusuri Starla," imbuhnya dengan suara rendah.
Pet. Telepon dimatikan.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. "Maaa... Kok dikunci?"
Hasnawati buru-buru membuka pintu, dia berdiri lemas di ambang pintu. "Sabar, Julia," katanya.
"Oh, kirain Mama pergi bantu anak kecil itu lagi," jawabnya ketus.
"Bantu apa sih, Julia. Kan kemarin biaya sudah ditanggung kita..."
Julia menatap mertuanya, sambil bersedekap. "Yakin cuma itu, Maa?"
.
.