Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!
1. TETANGGA BARU YANG NYEBELIN
“Runiiiii…!!!”, teriak Arum sambil tergopoh-gopoh lari ke kamar Arunika.
CEKLEK
“Runi, udah tau belom kalo pavilun bu Rahma mo ada yang nempatin?”, tanya Arum sambil menarik selimut Arunika.
“Aduuuhh, apa urusannya sama aku sih Rum. Udah sana keluar, ganggu orang tidur aja”, usir Arunika sambil menarik lagi selimutnya.
“Eh, katanya yang nempatin itu masih ponakannya bu Rahma gitu deh. Cowok. Kali aja ganteng, kan lumayan buat cuci mata”, kata Arum.
“Trus Ronald mau lo kemanain?”, tanya Arunika sambil melempar bantal ke muka Arum ketika dilihat temannya itu mulai halu.
“Hahahaa… kan cuci mata ajaaah. Jadi mak comblang juga bisa. Ya kaaaan”, kata Arum sambil tertawa dan berlari keluar kamar Arunika.
Terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Dari jendela kamarnya, Arunika bisa melihat langsung ke paviliun Bu Rahma. Seorang lelaki muda berparas ganteng dan berbadan atletis terlihat menurunkan tas dan beberapa barang bawaan. Bu Rahma menemaninya membuka pintu paviliun dan Arum serta beberapa anak kos terlihat bersalaman dengan si lelaki itu.
“Byuh, absen semua anak kos ini. Kalo ada yang baru aja jadi pada unjuk gigi”, batin Arunika geli. Diambilnya handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Arunika mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di halaman belakang kos. Sambil menggulung rambut basahnya dengan handuk, diapun mulai menjemur cuciannya sambil berdendang lirih.
BRAAKKK…
“Aduh..!”, teriak Arunika kaget saat membalik badan, dia tertabrak seseorang dan terjatuh.
“Maaf, maaf. Saya nggak sengaja”, kata laki-laki itu.
“Ohh lo orang baru yang tinggal di depan ya?”, tanya Arunika sewot.
“Kalo jalan pake mata dong. Bisa liat nggak sih ada orang segede ini disini”, sergahnya.
Laki-laki itu tersenyum dan menundukkan kepalanya sambil terus meminta maaf.
“Benar, saya Uman yang baru pindah ke paviliun depan”, jawabnya sambil tersenyum.
“Sini, saya bantu jemurin. Kamu duduk aja disana. Nanti saya minta budhe Rahma panggilin tukang urut, kayaknya kaki kamu kesleo”, kata Uman yang medok dengan Bahasa Jawa nya.
“Ya emang gitu harusnya. Untung jemuran pritilan gue udah kelar. Cepet gih sana jemurin, keburu ngilang mataharinya ntar”, kata Arunika galak sambil terpincang-pincang duduk di kursi.
Uman hanya tersenyum sambil meneruskan menjemur cucian Arunika.
“Nah, selesai juga akhirnya”, kata Uman sambil menyerahkan ember kosong Arunika. Dilihatnya Arunika masih kesakitan sambil memijit-mijit pergelangan kaki kanannya.
“Ntar aja tunggu tukang urutnya datang. Ayo aku bantu ke dalam”, tawar Uman.
“Nggak, nggak usah. Aku bisa sendiri”, kata Arunika gusar sambil mencoba berdiri. Namun belum juga melangkah, Aruni suda kehilangan keseimbangan lagi.
“Aduuuh”, teriaknya kesakitan dan hampir saja terjatuh lagi jika Uman tak sigap meraihnya.
Uman dengan gesit meraih badan Arunika yang sudah oleng dan mendekapnya bersamaan dengan jatuhnya mereka berdua. Tetapi dengan badan Uman yang terlebih dahulu mendarat di lantai.
BRRUUUKK
Badan Arunika jatuh menindih badan Uman. Dan tanpa sengaja, pipinya menempel di jidat Uman. Cepat-cepat Arunika menarik kepalanya tetapi dia tidak bisa bergerak karena tangan Uman masih ketat memeluknya.
Semilir angin menghembuskan wangi segar maskulin dari badan Uman membuat jantung Arunika berdesir lirih. Wajah Uman pun ternyata memang super ganteng jika dilihat dari dekat. Bibirnya sempurna, tak ada bekas rokok pernah terhisap olehnya.
"Gimana jadinya kalau tadi pipiku nempelnya di sana," batin Arunika kemana-mana.
"Hei!! Bangun!", teriak hatinya yang membuat tiba-tiba saja Arunika tersadar dari lamunan.
Sementara Uman menikmati setiap detik kejatuhannya bersama Arunika. Apalagi saat jidatnya bersentuhan dengan pipi Arunika tanpa sengaja. Wangi segar sabun berbaur bau badan Arunika membuat sensasi tersendiri.
Uman tersenyum kemudian dengan perlahan dia membantu Arunika berdiri dan memapahnya ke dalam rumah kos.
“Lhoo lhoo lhooo… ada apa ini, Runi?”, tanya bu Rahma saat melihat mereka berdua masuk.
“Kaki Runi kesleo, Bu”,jawab Arunika sambil meringis menahan sakit.
“Iya Budhe, nggak sengaja tadi saya nabrak dia. Trus jatuh. Bisa tolong dipanggilin tukang urut ya Budhe?", tanya Uman.
“Oalah Nduuuk. Kok bengkak kayak gini. Ya udah sebentar Ibu panggilin Mbah Nah ya”, kata Bu Rahma yang segera menelepon Mbah Nah.
Sambil menunggu mbah Nah datang, Uman menemani Arunika duduk di ruang tamu. Uman mengingat-ingat kalau tadi Arunika tidak ada di antara gadis-gadis yang keluar menyambutnya.
“O ya, kita 'kan belum kenalan. Kenalin, nama saya Uman, Bumantara lengkapnya”, kata Uman sambil mengulurkan tangannya.
“Arunika”, jawab Arunika menyambut uluran tangan Uman.
“Panggilannya?”, tanya Uman.
“Terserah”, jawab Arunika.
“Lho gak nyambung dong. Namanya Arunika kok panggilannya Terserah”, kata Uman lagi.
“Terserah lo nya mo manggil gua apa. Yang lain biasa manggil Runi”, kata Arunika sambil melotot jengkel.
“Kamu kalo marah lho tambah cantik”, goda Uman sambil tersenyum. Terlihat sedikit lesung pipit di pipinya. Wajahnya yang sedikit berjambang menambah macho tampilan Uman lengkap dengan rambut gondrongnya yang dikuncir ke belakang. Lengannya terlihat kokoh meski tidak besar-besar amat, pertanda dia lelaki yang rajin berolah raga.
Diam-diam matanya mengamati sosok lelaki di depannya yang sedang asyik membolak balik majalah otomotif.
“Bener kata Arum, cowok ini super ganteng dan sexy. Ah tapi auk ah. Paling juga sama seperti laki-laki lainnya. Bikin ganggu fokus kerja aja," batin Arunika.
“Eh lo disini kuliah ato kerja?”, tanya Arunika
“Saya kerja. Kebetulan ketrima di perusahaan itu lho. Apa namanya, eemm Basuki Octo Grup. Makanya saya disuruh ibu saya kesini, katanya deket sama kantornya. Yaa meski gak terlalu deket, tapi kan disini gratis, wong rumah e Budhe”, jelas Uman.
“Basuki Octo Grup? Kerja apa lo disana? Itu perusahaan gede lho, gak sembarangan orang bisa masuk kesana. Emang kamu bisa apa?”, tanya Arunika dengan nada pesimis.
“Yaaa saya cuma pegawai rendahan, Aruni”, jawab Uman sambil mengangguk-angguk.
“Kalau Aruni, kerja atau kuliah?”,
“Gue kerja juga, di Basuki Octo Grup juga. Gue sekarang di departemen pemasaran”, jelasnya.
Tak berapa lama Mbah Nah tukang urut datang dan mulai mengurut kaki Arunika.
“Aduuuh… sakiiit, mbahh!”, teriak Arunika kesakitan saat bagian yang sakit mulai dipijat.
Arum yang mendengar terikan Arunika berlari keluar dan terkejut melihat Arunika yang sedang dipijat. Segera Uman menceritakan kejadian tadi dengan singkat dan Arum mangut-mangut aja mendengar ceritanya. Sambil duduk menemani Arunika dipijat, sesekali Arum memperhatikan tingkah laku Uman.
“Sepertinya Uman tertarik dengan Runi. Wajah ganteng, body sexy, eh tapi kerjaan gimana dong. Mapan gak ya?”, tanya Arum dalam hati. Dilihatnya Arunika meringis menahan sakit , tetapi kakinya sudah tidak bengkak lagi.
Arum adalah sahabat dekat Arunika dari kecil. Mereka bertetangga di kompleks dinas perumahan karyawan perkebunan hingga kedua orang tua mereka pensiun dan tinggal terpisah. Arum dan orang tuanya kembali ke Semarang, kota kelahiran orang tuanya sedangkan orang tua Arunika memutuskan untuk menetap di Kota Banyuwangi, kota paling timur pulau Jawa, tempat kelahiran Ayahnya. Begitulah Arum dan Arunika tetap berteman hingga lulus kuliah dan merantau ke ibukota.
Setelah menahan sakit saat dipijat, akhirnya Arunika bernafas lega saat pijatannya selesai. Dia mencoba berdiri dan berjalan tertatih. Baru tiga langkah, tubuhnya oleng dan BRUUK! Arunika terjatuh, namun lagi-lagi Uman bisa meraih pinggang Arunika dan secara spontan memeluknya untuk menjaga keseimbangan badan mereka.
Dada Arunika berdesir saat berada di pelukan Uman. Desiran yang lama tak pernah dirasakannya. Sementara Uman menatapnya penuh tanya. Arum pun terbelalak kaget melihat kejadian itu. Oh my God!!