Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!

2. PEGAWAI BARU

Arunika segera mendorong tubuh Uman saat menyadari posisi tubuhnya yang masih berada di pelukannya.  Uman tergagap dan tersenyum.

“Maaf, ndak sengaja,” tutur Uman dengan raut muka polosnya.  Arunika hanya mendengus kesal dan segera berjalan ke kamarnya.  Tak berapa lama, Arum mengikutinya.

 

“Hmmm, yang baru aja dapat pelukan.  Ngacir aja lupa bayar pijetnya,” tegur Arum.  Arunika terdiam. 

“Ah, iya.  Lo udah bayarin, kan?” tanya Arunika sambil tersenyum dengan wajah tak berdosa.

“Ya belum lah.  Itu tuh, si Uman yang bayarin.  Ntar gantiin uangnya,” kata Arum sambil ngeloyor pergi.

Arunika segera bersiap, dia mematut wajahnya di cermin.  Kemeja lengan balon warna putih dipadu celana kotak warna khaki dan vest warna senada sangat pas di badannya.  Rambut lebatnya hanya diikat dengan jepit mutiara menambah manis tampilannya. 

Untuk sepatu, Arunika lebih suka sepatu casual sporty.  Karena dia bukan pekerja yang hanya duduk diam di depan meja, tetapi tipe pekerja yang rajin mondar mandir naik turun lift maupun tangga, jadi jarang sekali dia mengenakan sepatu formal atau bahkan highheels ke kantor.  Bisa nebak kan, kalau dia juga nggak terlalu suka mengenakan rok.  Dengan alasan itulah, karyawan lain dan atasannya memakluminya.  Hingga sekarang, Arunika tidak pernah mengenakan setelan rok dan highheels ke kantornya.

“Runi, lo jalan sendiri yaa.  Gue barusan dapat wa untuk langsung ke rapat sama klien”, kata Arum ketika dilihatnya Arunika sedang mengenakan helm.

“Lhooo kok gitu sih.  Kakiku kan masih belum pulih bener, Rum”, protes Arunika.

“Gimana doong….”, kata Arum angkat bahu.  Dilihatnya Uman keluar dari kamarnya.

“Naah, lo bareng aja sama Uman”, kata Arum sambil melambai ke arah Uman.

“Man, lo kan kerja di tempat yang sama juga.  Lo bareng gih sama Runi.  Gue langsung ke rapat klien soalnya. Tuh, jemputan gue udah dateng.  Kesian kakinya masih sakit”, kata Arum tanpa menunggu persetujuan Uman sambil berjalan cepat ke mobil jemputan kantor.

“Eh, iya iya. Ayo bareng sama saya”, tawar Uman.

“Ya udah, nih kuncinya”, kata Arunika sambil menyerahkan kunci motor matiknya, “Pake aja helm Arum, ntar pulangnya biar gak usah bingung nyari helm lagi”.

“Oke, yuk”, jawab Uman sambil menaiki motor, “Aruni, pegangan ya. Aku suka ngebut soalnya”, kata Uman mengingatkan.

“Jam kantor masih lama, gak perlu ngebut banget “, kata Arunika ciut.

Mereka menyusuri jalan tanpa bercakap-cakap.  Arunika duduk di belakang Uman dengan anteng sementara Uman semakin lama semakin melajukan jalannya motor.

“Pegangaaan, aku mau nyalip”, teriak Uman.

“Haah.. apaa?”, teriak Arunika yang tak jelas mendengar kata-kata Uman namun sontak memeluk Uman saat dirasa motor melaju cukup kencang dan menyalip sebuah mobil box.  Uman tersenyum melirik tangan Arunika yang tiba-tiba memeluknya. “Gitu dong dari tadi, kan aman”, batinnya.

Tak berapa lama mereka pun di parkiran khusus karyawan.  Setelah melepas helmnya, Uman menyerahkan kunci sepeda kepada Arunika.

“Makasih tumpangannya, ya.  Besok saya siap lebih pagi deh biar bisa bareng lagi, kali aja Arum masih rapat”, kata Uman sambil senyum-senyum.

“Lo tu ya.  Maunya sendiri”, jawab Arunika sambil melotot.

“Ya udah, saya mau ke bagian HRD dulu.  Nanti ketemu lagi ya.  Semangat kerja, Aruni”, kata Uman sambil undur diri.

“Oke, eh ntar info kamu masuk ke bagian apa ya, kantor segini gede, sesama karyawan kadang juga gak tau kerjanya di bagian apa, dimana.  Kalo aku biasa naik turun lantai, jadi banyak karyawan yang aku kenal, meski nggak semua.  Oke deh, see you then”,kata Arunika sambil berjalan menuju lift.

Uman memperhatikan kepergian Arunika hingga menghilang masuk ke lift yang membawanya naik ke lantai 17, ruangannya.  Segera Uman mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Halo, pagi juga.  Lantai 21? Ok, on the way there”, katanya dengan seseorang di telepon.  Uman memencet no 21 di lift khusus yang hanya orang tertentu saja yang bisa memasukinya.  Tak berapa lama, pintu lift terbuka dan  langsung membawanya ke sebuah ruangan hangat milik Presiden Direktur Basuki Octo Grup.

“Good morning Ayah”, sapa Uman kepada Pak Basuki Sadewo, Presiden Direktur sekaligus pemilik tunggal perusahaan Basuki Octo Group yang tak lain adalah ayah kandung Bumantara Sadewo alias Uman alias Tara.

“Morning my boy. How are you?”, sambut pak Basuki senang akhirnya bisa meyakinkan Tara untuk ikut bergabung di perusahaannya. 

Yap, Tara Sadewo adalah nama beken Uman.  Semua pebisnis kelas atas tentu tak asing dengan namanya.  Wajahnya kerap menghiasi majalah ekonomi dan bisnis baik dalam maupun luar negri sebagai seorang CEO yang berhasil.  Beberapa perusahaan asing pernah menyewa jasanya dan berhasil dengan hasil gemilang menambah tinggi tingkat kepopulerannya. 

Nah kalian tentu kaget kan, kenapa Arunika, Arum dan orang-orang kos tidak mengenalinya?  Itu karena Tara Sadewo sudah cukup lama berada di luar negri, jika ayahnya tak berulang kali membujuknya untuk  ke Indonesia, mungkin dia tak akan pernah mau kembali.  Karena trauma cintanya yang sangat menyesak.  Hingga akhirnya pertahanannya luluh saat mendengar kabar kalau kakeknya sakit.  Juga penampilan Tara sekarang yang sangat berbeda dengan foto-fotonya di media social.  Dia sengaja menggondrongkan rambut dan sedikit jambangnya.  Beberapa bulan di Yogya juga membuat kulitnya lebih kecoklatan.

“Well, udah fixed yakin mau mulai kerja?”, tanya pak Basuki.

“Iya Yah.  Beberapa bulan berlibur ke Yogya nemenin kakek udah cukup untuk refresing”, jawab Tara sambil tersenyum.

“Hahahaa… kamu ini.  Refreshing apa namanya kalo kamu masih juga ngisi webinar dan konsultasi online seperti itu”, kata ayahnya sambil geleng-geleng.

“Kamu itu ya, sekarang ini waktunya nyari pasangan.  Kakekmu itu pengen banget nimang cicit,” kata ayahnya sambil menatap anak semata wayangnya.

“Well, maunya aku ya gitu, Yah.  Tapi yang dicari belum ketangkep”, jawab Tara sambil tersenyum.

“Wahhh, udah kemajuan ini.  Belum ketangkep berarti udah ada buruannya. Hahahaa… Ayah doain semoga cepet ketangkepnya.  Cepetan kenalin ke Ayah ya”, kata Pak Basuki senang, “Jadi apa rencanamu selanjutnya?”, tanya Pak Basuki serius.

“Aku pengen mengenal karyawan lebih dalam, Yah. Terutama karyawan dengan posisi tertentu.  Jadi aku akan coba jadi karyawan serabutan aja dulu deh.  Bisa kemana pun dan memantau siapapun tanpa ada yang curiga. Kasih waktu sebulan ini untuk bisa menilai kinerja mereka, Yah”, jawab Tara.

“Okay, it’s sound good”, kata Pak Basuki.

“O iya yah, sementara ini aku mau tinggal di rumah Budhe Rahma dulu ya.  Soalnya ada karyawan sini yang tinggal di sana, nggak lucu kan kalo  tiba-tiba pindah ke apartment”, kata Tara lagi.

“Beres, Ayah paham kok”, jawab Pak Basuki sambil memanggil Pak Kris, orang kepercayaannya.

“Pak Kris, tolong atur info ke HRD untuk Tara. Taruh dia di bagian serabutan. Mulai kerja sekarang.  Sembunyikan dulu status Tara untuk sementara”, perintahnya.

“Baik Pak”, jawab pak Kris.  Dia menoleh ke Tara sambil tersenyum.

”Mas Tara, tolong tunggu sebentar ya. Saya ke HRD dulu nanti saya kabari. Permisi”, kata pak Kris kemudian sambil pamit.

“Oke Om Kris. Saya tunggu “, jawab Tara.

Setelah menerima info dari Pak Kris, Uman pun segera melapor ke HRD.

“Permisi Mbak. Ruangan Pak Rudi di sebelah mana ya?”, tanya Uman kepada Sari, resepsionis HRD.

“Maaf, mas nya siapa ya? Udah ada janji sebelumnya?”, tanya Sari penuh selidik.

“Oh sudah, Mbak. Saya dapat wa untuk kesini sekarang. Nama saya Uman, Mbak”, jawab Uman sopan.

“Oh gitu, sebentar ya”, kata Sari sambil menelepon ke dalam ruangan.

“Silakan, Mas. Pak Rudi sudah menunggu”, kata Sari mempersilahkan Uman masuk sesaat setelah mendapat jawaban dari pak Rudi di telepon. 

“Mungkin dia karyawan yang baru, bagian apa ya? Tumben perusahaan nerima karyawan kucel kayak gitu. Mana rambutnya gondrong lagi.  Hhh “, batin Sari.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!