Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!
3. SI SERABUTAN GANTENG
Arunika berlari ke gudang penyimpanan kertas. Dia harus membuat fotocopy proposal yang akan dipresentasikannya. Sialnya, stok kertas di ruang fotocopy habis dan nggak ada yang mau mengambilnya ke gudang. Terpaksa dia harus pontang panting sendiri, mana lift masih diperbaiki, mau nggak mau dia harus naik turun tangga manual. Ppfft, apalah arti jabatan Manajer yang disandangnya ini.
“Hhh, akhirnya nyampe juga. Satu, dua, tiga, empat. Cukup dah segini aja”, batinnya sambil membawa tumpukan 4 rim kertas fotocopy. Baru menutup pintu gudang, langkahnya terhenti. Nyeri di kakinya tiba-tiba terasa sangat sakit. Tubuhnya merapat ke tembok dan melorot hampir jatuh.
HAAAP
Sepasang lengan tiba-tiba memegang tangan Arunika yang tak kuat lagi membawa 4 rim kertas HVS. Dia hampir saja terjatuh dengan 4 rim kertas HVS yang mungkin akan menimpa kakinya yang sakit.
“Kamu nggak pa pa, Aruni?”, tanya Uman cemas.
“Eh, elo Man. Thank’s ya. Ini nih, kaki tiba-tiba nyeri. Untung cepetan kamu tolongin”, kata Arunika sambil memejamkan matanya menahan nyeri. Uman merasa sangat bersalah, bagaimanapun dia ikut andil membuat kaki Arunika sakit.
“Sini, biar saya yang bawain. Mustinya kamu jangan dulu banyak gerak. Nanti malah jadi tambah parah lho”, kata Uman menasehati.
“Iya, tau. Tapi mo gimana lagi. Gue perlu kertas ini, atau proposal gue nggak jadi naik nanti. Elu mah tau apa”, kata Arunika jengkel.
Pelan-pelan mereka berjalan beriringan sambil menuruni tangga. “Eh lo jadinya dibagian apa?”, tanya Arunika.
“Belum ada yang kosong kata pak Rudi. Jadi aku ditempatkan di Divisi Perlengkapan, bagian apa saja alias serabutan”, jawab Uman sambil tersenyum lebar.
“Ooo gitu. Ya udah nggak pa pa. Lebih baik begitu, mulai dari nol biar bisa ngerasain susahnya jadi bawahan. Nggak langsung masuk dan duduk di jabatan atas tanpa tau kerja keras orang bawahan”, kata Arunika sok menasehati.
“Kok kamu sewot gitu. Emang disini banyak yang kayak gitu ya?”, tanya Uman.
“Banyak lah. Biasanya bawaan para bos di lantai 20 tuh. Nggak tau apa-apa dijadiin Kepala Manajer. Sementara bawahannya yang jadinya pontang panting kerjaannya. Ampun deh. Ah kok malah curhat sih”, kata Arunika sambil menepuk jidatnya.
“Sorry ya Man, keceplosan. Mustinya gue nggak boleh ngomong macem-macem sama orang baru macam lo. Ntar lo ngabur lagi. Gue dong yang kena. Hehehe..”, katanya.
“Nah, ini ruang fotocopy. Tolong fotocopiin rangkap 20 ya. Kalau udah langsung bawa ke ruanganku. Itu yang sebelah sana, deket meja yang ada bunganya”, pinta Arunika sambil menunjuk ke pintu ruangannya.
“Baik, siap laksanakan”, jawab Uman .
Uman berdiri di depan pintu ruangan Arunika. Tertempel tulisan MARKETING MANAGER’S ROOM di daun pintunya.
“Oh, jadi dia seorang manajer pemasaran”,batin Uman. Diketuknya pintu ruangan dan perlahan-lahan Uman masuk ke ruang Arunika.
“Oh elo, Man. Masuk aja, aku sendirian kok”, kata Arunika.
“Thank’s ya. Tinggal aku tandatangani bentar. Eh tolong sekalian bawain ke ruangan Pak Anwar ya. Di lantai 20, ntar lo tanya aja sama sekretarisnya, Dian. Kalo gak ada, titipin aja. Ntar gue telpon si Dian”, kata Arunika sambil mulai menandatangani berkas fotocopian itu.
“Oke”, jawab Uman sambil duduk di bangku depan meja kerja Arunika.
Diperhatikannya Arunika yang sedang sibuk membubuhkan tanda tangannya. Semakin dipandang, semakin cantik dia. Hidungnya mbangir, kalo kata orang Jawa. Bulu matanya lentik, bibirnya penuh. Sapuan make up minimalis membuat aura kecantikan alaminya terlihat. Dari wajah, perhatian Uman turun ke leher. Leher jenjang mulus yang indah dengan bulu-bulu kecil di tengkuknya. Kancing baju Arunika yang terbuka memperlihatkan sedikit celah bagi mata Uman untuk menelan ludahnya.
“Cantik yang hampir sempurna, tetapi kok masih jomblo ya”, batin Uman heran. Lamunan Uman buyar saat terdengar dering telepon di ruangan Arunika.
“Siang. Ya Pak. Baik pak. Saya segera kesana, Pak”, jawab Arunika dengan wajah sebalnya.
“Sorry Man, gua terpaksa harus nganterin langsung materi ini ke atas. Pak Anwar mo ngajak diskusi lagi. Hhhh… capek deeeh”, kata Arunika kesal.
“Ya udah, ayo aku temenin. Aku bawain deh materinya. Lumayan berat juga, kasian kaki kamu”, kata Uman menawarkan diri yang diiyakan langsung oleh Arunika.
Berjalan di sepanjang koridor kantor, semua pasang mata memperhatikan mereka, terutama Uman. Bisik-bisik pegawai wanita mulai ramai membicarakan Uman si Serabutan Ganteng, padahal belum juga setengah hari Uman bekerja disana, tetapi pamornya melejit dengan pesat. Dia juga ramah dengan semua orang. Tanpa diminta, dia membantu orang yang perlu dibantu saat berpapasan dengannya, seperti halnya Arunika.
Arunika hanya menaikkan alis saja melihat kelakuan orang-orang di kantornya.
“Ck ck ck ckk, elo udah tenar disini, Man. Udah kayak artis aja. Awas, ntar lagi ada yang minta foto dan tanda tangan lo juga kali. Hahahaa”, goda Arunika.
“Enggak lah. Saya nggak akan mau difoto, kecuali foto nya sama kamu aja, Aruni”, kata Uman menggoda.
“Gombal lo. Mana ada cowok yang mau foto sama aku. Hahahaa.. ngimpi kalii”, cibir Arunika sambil menghentikan langkahnya di depan lift.
Arunika memencet angka 20 sebelum lift meluncur ke bawah untuk mengantar pegawai yang hendak menuju basement. Dari basement lift merangkak naik ke atas. Sampai di antara lantai 13 dan 14 tiba-tiba lift berhenti. Arunika sangat kaget dan bingung. Dia berusaha menahan kepanikannya. Sementara Uman berusaha memencet tombol lift, tetapi lift tetap tak bisa bergerak sedikitpun. Dilihatnya Arunika yang sudah pucat ketakutan.
“Halo, emergensi. Tolong! Kami terjebak di lift. Kita di antara lantai 13 dan 14. Tolong kirim teknisi kemari”, kata Uman menelepon tombol operator lift yang tertempel di dinding lift.
“Aruni, pinjam ponselnya. Coba telepon Arum, minta tolong dia untuk menghubungi seseorang”, kata Uman. Aruni yang sudah ketakutan tidak mendengar apa perkataan Uman, diserahkannya ponsel dan menyuruh Uman untuk menghubungi Arum.
“Halo, Arum. Kami terjebak di lift yang macet. Tolong hubungi seseorang untuk membantu membuka liftnya”, kata Uman.
Uman tak tahan melihat Arunika yang pucat pasi. Didekatinya Arunika, ternyata badan Arunika pun dingin, sedingin es. Tanpa pikir panjang, dipeluknya Arunika. Arunika memejamkan matanya. Aliran hangat tubuh Uman membuatnya nyaman. Tak sadar, dia pun memeluk Uman lebih erat lagi. Kepalanya dimasukkan ke dada Uman yang hangat. Uman tersenyum dan memeluk Arunika dengan lebih erat lagi.
***
“Ya Allah, syukurlah kalian bisa keluar dari lift”, kata Arum di ruang kesehatan.
“Emangnya ada masalah apa sih, tumben liftnya mogok gitu”, tanya Arunika kesal.
“Tau tuh, katanya ada yang konslet. Tapi udah dibenerin kok”, kata Arum, “Eh tapi gimana rasanya yang habis dipeluk cogan?”, goda Arum.
“IIhhh apaan sih lo. Lo nggak ngrasain takutnya gua tadi. Kalo nggak ada Uman, udah mati pucet deh gue tadi itu”, kata Arunika lagi.
“Nah tuuh, makanya bilang makasih sama Uman. Lo tadi sampe pingsan, dia yang ngeluarin lo dan bersikeras membopong elo kesini”, jelas Arum lagi.
“Ups, masa sih?”, tanya Arunika nggak percaya.
“Kalo nggak percaya, ntar lo tanya sendiri. Ntar lo pulang bareng dia lagi ya. Gue masih harus lanjut rapat sama klien lain. Nah, cepet baikan yaa. Byee”, kata Arum sambil meninggalkan Arunika .