Restu untuk Raya

PUTUSKAN TANPA KEMARAHAN 2

“Oke, sekarang balik ke masalah pernikahan kamu sama Danu. Kenapa bisa gagal? Apa yang mereka keberatanin?” Ares menurunkan volume suaranya, mencoba mengendalikan keterkejutannya, namun nada penasarannya masih kuat.

“Ceritanya rumit, Res. Intinya aku nggak akan nikah sama Danu. Mereka menolakku karena aku… anak yang tidak jelas asal-usulnya. Katanya. Sebuah julukan yang diucapkan langsung oleh ayahnya Danu.” Raya merasakan perih itu kembali, seolah luka lama dibuka paksa.

“Terus, kamu mau lari dan menghindar dari masalah itu dengan pergi ke Jeringo? Meninggalkan semuanya begitu saja?” Ares menuding, ekspresinya serius, menantang Raya untuk jujur pada dirinya sendiri.

“Aku nggak bakalan lari. Aku juga bukan orang yang suka menghindar dari masalah.” Raya menegaskan, matanya menatap Ares dengan api tekad yang membara. “Justru aku mau menghadapinya. Tapi tidak di sini, di mana semua orang tahu ceritaku. Aku butuh jarak. Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini. Aku butuh membangun diriku sendiri, di tempat yang baru, dengan identitas baru. Aku akan ke Jeringo untuk mengabdi, untuk membuktikan diriku bukan karena siapa ayahku, tapi karena siapa diriku dan apa yang bisa aku lakukan.” Raya menyibak rambutnya ke belakang, menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat. Dia ingin Ares percaya padanya, melihat lebih dari sekadar gadis patah hati.

Ares terdiam, menatap Raya dalam-dalam. Ia melihat bukan hanya kesedihan, melainkan juga sebuah kekuatan baru yang muncul dari kehancuran. Raya tidak lagi sekadar lari; ia mencari sebuah misi. “Aku mengerti,” katanya pelan. “Tapi, Ray, tinggal di Jeringo itu bukan sesuatu yang gampang. Kamu harus paham. Nggak ada fasilitas wah seperti yang kamu nikmati di sini. Kamu harus mau hidup susah. Jeringo itu tempat orang-orang berjuang, bukan tempat pelarian yang nyaman.”

Raya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menunjukkan ketegaran daripada keputusasaan. “Aku yakin, aku bisa. Kamu cukup percaya sama aku. Aku tidak mencari pelarian, Res. Aku mencari diriku. Dan aku akan membuktikan, bahwa aku adalah seseorang yang punya asal-usul, meskipun mungkin bukan dari harta atau tahta. Tapi dari nilai dan perjuangan.”

***

“Gimana?” Dewi, adik kandung Raya, menelepon Raya. Suaranya terdengar cemas, penuh kekhawatiran yang tak tersembunyi. “Kamu sudah bertemu Ares? Dia mengizinkan kamu ke Jeringo?”

“Iya, dia mengizinkan.” Raya menjawab singkat, hatinya masih gundah, meskipun ada sedikit kelegaan karena Ares akhirnya mendukungnya.

“Terus kapan kamu ke sana?”

“Secepatnya. Mungkin minggu depan setelah semua beres.”

“Teh, apa memang harus begitu?” Suara Dewi tercekat, ada kesedihan mendalam yang tersirat. “Kamu tahu kan, mama sedih banget? Papa juga terpukul.”

Raya terdiam sejenak. Ya, dia tahu. Hatinya juga terluka oleh kenyataan itu. Meninggalkan Meylin dalam kondisi itu adalah hal tersulit. Tapi ia merasa perlu melakukan ini, untuk dirinya sendiri. “Wi, bukan cuma mama yang sedih. Teteh juga sedih. Sedih banget. Teteh butuh waktu untuk pulih. Teteh butuh sendiri, untuk berpikir jernih.”

“Aku tahu, Teh. Aku mengerti.” Dewi menghela napas, mencoba memahami kakaknya. “Tapi, apa kamu nggak mau bicara dulu sama Danu? Siapa tahu dia bisa menjelaskan semuanya ke kamu, atau memperjuangkan kamu?”

Raya tersenyum getir, sebuah senyum yang pahit. “Untuk apa, Wi? Penolakan bapaknya sudah cukup. Itu adalah bentuk penolakan dari Danu juga. Kalau dia memang memperjuangkan, dia akan datang. Dia akan mencariku. Tapi nyatanya tidak. Sejak malam itu, Danu tidak ada satu pun menghubungi teteh. Bahkan apartemen itu sudah dia jual ke orang lain, tanpa memberitahu teteh. Dia sudah menghapus teteh dari hidupnya, Wi.”

“Apa teteh tidak mau menghubungi Danu? Teteh bisa bertanya alasan dia jual apartemen itu,” Dewi mencoba mencari celah, masih berharap ada titik terang.

“Tidak ada yang perlu ditanyakan, Wi. Itu sudah sangat jelas. Aku tidak butuh penjelasannya lagi. Aku tidak mau lagi terhubung ke Danu, apapun bentuknya. Oh ya, mama sekarang gimana?” Raya mengalihkan pembicaraan, tidak ingin berlama-lama membahas Danu. Rasa sakitnya terlalu nyata.

“Setelah kejadian malam itu, mama nggak pernah baik-baik aja. Kalau nggak ingat harus kuliah, Dewi pasti milih nemenin mama di Cipari. Sekarang mama konseling ke psikiater lagi. Asma mama kambuh terus,” Dewi menjelaskan, suaranya pilu, penuh kekhawatiran.

“Masih minum obat penenang?” Raya bertanya hati-hati, ada rasa bersalah yang menusuk dalam hatinya.

“Kadang-kadang minum. Tiap hari mama nanyain kabar teteh. Bukan cuma teteh yang terluka. Mama, papa, Dewi juga terluka, teh. Kami bisa merasakan sakitnya mama sama teteh. Kami juga sangat terpukul. Tapi, kami berusaha untuk tidak terpuruk dan terus menguatkan mama.” Suara Dewi tercekat, menahan tangis yang sudah di ujung mata.

“Maaf ya, Wi. Kadang teteh suka mikir, kenapa teteh bukan anak kandung papa.” Raya berbisik, mengungkapkan salah satu beban terberat yang selama ini ia pendam.

“Teteh tetap anaknya papa!” Dewi membantah keras, ada kemarahan lembut dalam suaranya. “Selama ini teteh pasti tahu bagaimana sayangnya papa ke teteh. Papa nggak pernah membedakan kita berdua, teh. Papa selalu bilang, darah bukan penentu cinta. Papa selalu mencintai teteh sepenuh hati, sama seperti papa mencintai Dewi.”

“Wi, teteh mau pindah ke Lombok Timur.” Raya kembali pada keputusannya, berusaha mengalihkan pikiran dari rasa bersalah dan kesedihan yang tak tertahankan.

“Maksudnya? Teteh nggak di Jakarta lagi?” Dewi terkejut, suaranya meninggi, menyuarakan kepanikan.

“Iya. Teteh pindah kerja ke sana.”

“Teh, kenapa harus begini? Kenapa harus pergi sejauh itu?” Ada keputusasaan dalam pertanyaan Dewi.

“Mungkin memang harus begini, Wi. Semuanya butuh proses, dan tiap proses pasti butuh waktu.” Raya berusaha menjelaskan, meskipun ia sendiri masih meraba-raba alasan terdalamnya, percaya bahwa ada tujuan di balik semua ini.

“Tapi kenapa harus pergi jauh dari mama dan papa? Mama butuh teteh, teh. Kami semua butuh teteh.”

“Nggak jauh, Wi. Cuma di Lombok.” Raya mencoba menenangkan, meskipun ia tahu jarak itu terasa sangat jauh bagi mereka.

“Teteh nggak kasihan sama mama?” Dewi mendesak, putus asa, air matanya sudah tak terbendung.

“Wi, jangan tanyakan itu,” jawab Raya, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap-luap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Teteh sayang banget sama mama. Tapi teteh juga butuh untuk pulih. Butuh bernapas. Butuh menemukan siapa teteh sebenarnya, di luar semua ini. Tolong jaga mama ya Wi. Tolong temani mama. Teteh juga minta tolong, kamu jangan bilang ke mama atau papa kalau teteh di Lombok. Teteh pasti pulang, Wi. Kalau teteh sudah siap. Sungguh.”

Raya menutup telepon. Kesedihan tanpa air mata ibarat Bogor tanpa hujan, bagai langit tanpa bintang. Hatinya seperti terkoyak. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada harus menyakiti orang yang paling dicintai. Tapi dia harus melakukannya. Untuk dirinya. Untuk menemukan kembali dirinya, sepotong demi sepotong.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!