Restu untuk Raya

MAMA MENUNGGUMU

Meylin duduk di teras belakang rumah yang hampir seperempat abad ini menjadi tempatnya bernaung. Rumah yang dibangun dengan sentuhan langsung tangan Mamak, di mana di belakangnya ada gundukan tanah bekas tumbuh pohon Pala. Pohon yang ditanam oleh Mamak ketika Surya lahir, dirawatnya dengan sepenuh hati. Meylin sering mendengar Mimih bersenandung ketika berada di dekat pohon Pala itu. Tangan dingin Mamak dan luapan kasih sayang Mimih menjadikan pohon Pala itu tumbuh dengan sangat baik, menjulang dan meneduhkan, memberikan kenyamanan sekaligus rasa aman.

Mamak bahkan membuatkan bangku panjang di bawah Pala, yang menjadi sudut favorit anak-anaknya ketika ingin menyendiri atau bercengkrama bersama. Surya mengubur surat cinta pertamanya di bawah akar Pala, dan juga putus cinta monyet di sisi pohon itu. Ketika sedih, Surya mengadu padanya. Saat marah, Surya juga memakinya. Kala senang, Surya tertawa di dekatnya. Bisa dikatakan pohon Pala lebih mengenal Surya dibandingkan Mimih. Beruntung, pohon Pala tidak dapat menceritakan semua yang didengar dan dilihatnya.

“Apa yang kamu pikirkan?” Surya duduk di sebelah Meylin. Menatap ke arah yang sama sambil mencari apa yang mencuri perhatian istrinya itu.

“Tapak bekas pohon Pala. Sayang sekali, kenapa Mimih menebangnya.” Meylin berucap lirih, suaranya sarat penyesalan.

“Mau mendengarkan ceritaku?” Surya membelai punggung tangan Meylin. Lalu mulailah bibirnya melantunkan kisah yang belum pernah dia katakan kepada siapa pun. Ia tahu, cerita ini mungkin tidak akan langsung menenangkan Meylin, namun ia berharap ada hikmah yang bisa dipetik.

Entah mengapa, selama puluhan tahun, pohon Pala itu tidak pernah berbuah meski hanya sekali. Tapi Mamak sangat menyayanginya, tetap membiarkan pohon Pala itu ada tanpa pernah berniat untuk menebangnya. Mamak pernah bilang, pohon itu tetap akan membawa manfaat tanpa kita sadari. Ketika Mimih ingin menebang pohon Pala itu, Mamak hanya diam, tidak memberikan komentar. Mimih selalu bilang untuk apa memelihara pohon yang tidak pernah berbuah, tidak menghasilkan uang. Namun Mamak bergeming. Biasanya Mamak mendengarkan Mimih mengomel sampai puas lalu Mamak menjawab, “tetap bisa menjadi peneduh bagi kita.”

“Kini, setelah puluhan tahun, aku baru memahami arti ucapan Mamak. Secara tersurat, Mamak sangat tahu jika pohon Pala itu tidak dapat menghasilkan buah, setidaknya rindang pohon tersebut dapat memberikan keteduhan bagi kami penghuni rumah.” Surya melanjutkan, nadanya penuh pengertian.

Pohon Pala di belakang rumah itu tinggi menjulang dan sangat rimbun. Setiap orang yang lewat pasti tidak akan percaya kalau pohon Pala tersebut tidak berbuah sama sekali. Banyak pula yang bertanya alasan kenapa pohon Pala Mamak tidak pernah berbuah. Apa yang salah dengan cara Mamak menanam dan merawatnya. Ide dan saran pun kerap bermunculan kepada Mamak agar pohon Palanya berbuah.

“Aku penasaran apa jawaban Mamak,” Surya tersenyum tipis. “Hingga di suatu sore kami duduk berdua di meja makan kayu yang panjang berbentuk oval. Ada air teh tawar di depan Mamak. Lengkap dengan bolu sarang semut buatan Mimih yang menjadi panganan kesukaan Mamak. ‘Mamak cuma menanam. Sebelum Mamak menanam, Mamak sudah memastikan bahwa biji Pala itu biji terbaik yang nantinya pasti akan tumbuh subur. Ketika menanam pun Mamak sudah memberikan pupuk paling bagus. Tiap hari Mamak merawatnya penuh cinta. Lihat saja, bukankah pohon itu sekarang tumbuh subur gagah? Kalau dia tidak berbuah, itu di luar kuasa Mamak. Bukan Mamak yang bisa menentukan pohon itu bisa berbuah atau tidak.’ kata Mamak padaku.”

“Lalu kenapa Mamak tidak menebang pohon itu?” Meylin bertanya, matanya sedikit lebih hidup, tertarik pada metafora itu.

Surya melanjutkan, “Mamak menjawab, ‘Pohon itu lahir melalui perantara tangan Mamak. Mamak memilihnya, menanam lalu merawatnya. Setiap hari Mamak melihatnya tumbuh seperti anak Mamak. Dia mengajarkan Mamak untuk melatih kesabaran dan rasa sayang. Bertahun-tahun Mamak bahagia menunggunya berbuah. Lalu, ketika dia tidak dapat berbuah untuk alasan yang Mamak tidak tahu, apakah Mamak harus menebangnya? Melupakan semua kenangan yang telah diberikannya pada Mamak?

Kekurangan pohon Pala ini hanya satu, dia tidak dapat berbuah. Masih ada banyak kelebihan-kelebihannya yang mungkin tidak Mamak sadari. Biarkan dia tetap tumbuh seperti itu sampai tiba waktunya umur pohon Pala itu berakhir.’ Mamak bilang, ‘Tiap makhluk hidup mempunyai peran masing-masing. Pohon Pala yang tidak dapat menghasilkan buah bukan berarti pohon yang tidak berguna dan harus ditebang begitu saja. Dia memberikan pelajaran luar biasa. Tidak semua apa yang kita inginkan akan tercapai. Tidak semua kerja keras kita akan menghasilkan sesuatu sesuai rencana kita. Sama saja dengan setiap episode yang kita lalui dalam hidup. Orang yang berhasil itu bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Melainkan dia yang selalu berjuang untuk bangkit. Sedalam apapun jurang yang telah membuatnya terjerumus dan jatuh.

Tiap bahagia akan hadir bukan karena tidak pernah ada sedih, namun karena begitu banyak luka yang telah dilarung bersama air mata. Seharusnya kita berterima kasih pada mereka yang telah menorehkan luka, mereka yang meninggalkan kita saat badai, mereka yang mengatakan kita bukan apa-apa, mereka yang berfokus pada semua kekurangan dan kesalahan kita, mereka yang tak pernah melihat satu saja kelebihan kita, juga mereka yang menganggap kita tidak ada. Sejatinya mereka lah yang membuat kita tangguh. Memanusiakan kita dengan menguras seluruh emosi yang kita miliki. Mereka menghabiskan semua air mata kita hingga yang tertinggal hanya tawa. Kita berharga. Bahkan lebih dari yang pernah kita bayangkan. Sekecil apapun peran kita, jadilah berguna. Andai tidak bisa memberikan manfaat bagi orang lain, kita bisa memulainya dengan tidak menjadi beban bagi siapapun. Memberikan cinta pada semua dengan diam. Menjaga setiap yang kita cintai dalam doa.’

Meylin terdiam, mencerna setiap kata Surya. Kisah pohon Pala itu menyentuh relung hatinya, namun kegelisahan itu tetap ada. “Apa aku berharga? Bahkan aku menjadi penyebab hancurnya impian anakku sendiri.” Suaranya pecah, ia terisak. Keretakan dalam hidup Raya terasa seperti pukulan telak yang menghantam jiwanya, memicu kembali trauma masa lalu.

“Jelas, kamu sangat berharga. Sangat luar biasa. Kamu mampu bertahan hingga saat ini. Menjadi istri terbaik bagiku, juga menjadi ibu terhebat untuk anak-anak kita. Kamu berlian, Mey.” Surya memeluknya erat, berusaha menyalurkan seluruh kekuatan dan cintanya.

“Tapi Raya pergi. Semuanya karena aku.” Meylin berbisik, rasa bersalah itu mencekiknya. Ia merasa kegagalan Raya menikah adalah akibat langsung dari rahasia masa lalunya yang terungkap. Trauma diperkosa, kehancuran keluarganya, kini kembali menghantuinya dan merenggut kebahagiaan putrinya.

Sudah hampir satu tahun. Selama itu pula, Surya dan Meylin tak pernah alpa mengirim pesan dan menanyakan kabar Raya. Mereka juga tak pernah lelah mencoba menelepon, meski tak sekali pun Raya memberikan respons. Setiap hari tanpa kabar Raya adalah siksaan bagi Meylin, memperparah kondisi mental dan fisiknya.

Kesehatan Meylin kian menurun. Selain asma yang sudah menjadi karib sejak dia lahir, Meylin juga sempat terkena virus COVID-19. Berminggu-minggu Meylin berjuang melawan virus tersebut, namun di sisi lain, luka batin dan trauma yang dia alami saat terjadinya kerusuhan Mei 98 masih belum pulih sepenuhnya. Konflik batin yang hebat, rasa bersalah yang mendalam atas kepergian Raya, dan tekanan mental terus menggerogoti tubuhnya. Baju yang dipakai sehari-hari, mulai terlihat kebesaran. Pipi berisinya kini mulai tirus. Saat memeluk Meylin, Surya bahkan bisa meraba langsung tulang yang menopang tubuh istrinya. Berulangkali Meylin mengatakan ingin menyerah.

Kejadian memilukan yang Meylin alami lebih dari dua dekade lalu, kini telah menjadi bayang-bayang yang terus membersamai langkah Meylin. Walau tidak selalu muncul dan menampakkan diri, tapi bayang-bayang itu selalu melekat, bisa muncul kapan saja tanpa terduga. Ibarat bom waktu yang sedang menghitung detik demi detik kapan dia harus meledak dan menghancurkan semuanya.

“Siapa yang mau menerima anakku yang tidak jelas asal usulnya itu sebagai menantu?” ratap Meylin, suaranya dipenuhi keputusasaan. Ia merasa dirinya adalah aib, dan aib itu kini menular pada putrinya.

“Pasti ada. Kamu tenang ya, Allah sudah mengatur takdir dan skenario hidup terbaik untuk Raya. Anak kita itu hebat. Dia punya ibu yang luar biasa. Kalian sudah ditetapkan sebagai orang-orang pilihan menjalani takdir ini.” Surya tak henti-hentinya memberikan penguatan, meskipun ia sendiri merasakan kepedihan.

“Bagaimana jika dia tidak mau kembali? Dia pasti kecewa sekali karena kita sudah menyembunyikan kebenaran yang seharusnya dia ketahui.” Kekhawatiran itu terus menghantuinya.

“Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Raya pasti akan pulang lagi. Kamu hanya perlu bertahan dan berjuang untuk sehat lagi. Apa jadinya kalau Raya datang dan melihat mamanya seperti ini? Dia pasti sedih.” Surya berusaha mengalihkan perhatian Meylin, berharap ia fokus pada kesembuhannya.

Meylin memilih bungkam. Tidak menanggapi lagi ucapan Surya. Menunggu. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Menunggu sambil memeluk pilu, berharap Raya akan kembali sebelum semuanya terlambat. Ingatan adalah satu-satunya penghubung kenangan Meylin dengan masa lalu. Seandainya bisa, dia ingin sekali menghapus kepingan yang selalu menyeretnya masuk ke dalam lorong gelap tak berujung. Ia hanya ingin kedamaian, tetapi trauma dan rasa bersalah tak pernah memberinya izin.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!