Sebelum Kau Pergi Lagi

DI ANTARA BAYANG DAN CAHAYA2

Kontraktor, arsitek, dan beberapa pekerja berkumpul di dalam kafe. Kinan sibuk menjelaskan detail renovasi, sementara Rio berdiri di dekat pintu masuk, mengamati. Ia tahu ia seharusnya tidak ikut campur. Tapi ia tidak bisa menahan diri untuk melihat bagaimana Kinan bekerja.

Prosesnya berjalan selama hampir dua jam. Kinan tegas tapi sopan, detail tapi fleksibel. Ia tahu betul apa yang ia inginkan untuk kafenya. Bahkan Rio yang terbiasa bekerja dengan orang-orang paling perfeksionis di industri film, tidak bisa menahan rasa kagumnya.

Ketika tim kontraktor pulang, dan kafe kembali sepi, Rio menghampirinya.

“Kamu hebat,” ucap Rio jujur.

“Dalam hal apa?” Kinan menatap Rio seperti menantikan argumen.

“Dalam semua hal tentang kafe ini.”

Kinan terkesiap, wajahnya menghangat. Ia buru-buru membalik badan.

“Jangan lebay. Mereka cuma kontraktor.”

“Tidak. Kamu tahu betul apa yang kamu mau. Itu keren.”

Kinan diam. Senyumnya tipis tapi tulus.

“Terima kasih.”

Rio mengangguk, lalu duduk di kursi dekat jendela.

“Kamu hari ini mau apa?” tanya Kinan sambil membereskan beberapa dokumen.

“Menyelesaikan naskah adegan tambahan.”

“Di sini?”

“Kalau tidak mengganggu.”

“Terserah kamu.”

Rio tersenyum.

Rio menulis. Kinan bekerja membuat dessert. Musik jazz lembut mengisi ruangan. Matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya ke meja bar tempat Kinan berdiri.

Kadang Rio mengamati Kinan dari sudut matanya. Cara perempuan itu mencicipi adonan. Cara ia mengerutkan alis ketika tidak puas dengan hasilnya. Cara ia menggulung rambutnya ketika mulai merasa panas.

Dan di setiap momen kecil itu, Rio semakin menyadari satu hal: Kinan tidak pernah mencoba menjadi seseorang. Dia tidak pernah berusaha tampil sempurna. Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Dan entah bagaimana, justru itu yang membuat Rio tertarik.

Sangat tertarik.

Satu jam kemudian, ketika Rio sibuk menyusun adegan, suara lembut memanggilnya.

“Rio, coba ini.”

Rio menoleh. Kinan menyodorkan piring kecil berisi dessert berwarna krem dengan topping buah mangga.

“Aku mencoba racikan baru,” jelasnya. “Namanya mango cream cloud.”

Rio mengambil sendok. Sekali suap, dan ia membeku.

“Kinan.”

“Ya?”

“Ini… gila.”

Kinan menahan senyum. “Gila bagus atau gila kacau?”

“Bagus. Sangat bagus.” Rio menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Ini seperti makan awan rasa mangga.”

Kinan tertawa kecil. Rio tidak berpaling. Matanya menatap perempuan itu lebih lama dari seharusnya. Dan untuk pertama kalinya… Kinan tidak menghindar.

Hanya beberapa detik. Hanya pandangan mata.

Namun itu cukup mengusik keduanya.

Rio yang pertama memalingkan wajah karena detik itu terasa terlalu lama. Terlalu jujur.

Pukul tiga sore, pintu kafe terbuka. Raka, asisten Rio, masuk dengan wajah panik tapi senang.

“Bos! Maaf tiba-tiba datang.”

Rio menegakkan badan. “Ada apa?”

“Kabar bagus. Sangat bagus.”

Kinan ikut memperhatikan.

Raka mengeluarkan map besar. “Investor dari perusahaan film Korea Selatan setuju bekerja sama untuk proyek internasional yang kemarin Bos ajukan.”

Rio hampir berdiri. Matanya tajam, lebih hidup dibanding sebelumnya.

“Mereka setuju?”

“Ya. Bahkan mereka minta pertemuan langsung minggu depan.”

Kinan ikut tersenyum. “Itu kabar bagus, Rio.”

Raka melanjutkan, “Tapi mereka minta syuting sebagian dilakukan di Korea. Dan Bos harus stay di sana minimal dua bulan untuk pra-produksi.”

Kinan membeku.

Pandangan Rio berubah.

Sunyi melayang begitu saja di antara mereka bertiga.

Dua bulan.

Jauh dari rumah kecil ini. Jauh dari Dejavu. Jauh dari… Kinan.

Raka lalu menambahkan, “Dan karena status pernikahan Bos sudah tersebar di media internasional, mereka ingin bertemu juga dengan… istri Bos.”

Kini Kinan ikut terbelalak.

“Aku?” Kinan menunjuk dirinya. “Untuk apa?”

Raka menatapnya dengan wajah bersalah. “Mereka ingin memastikan citra dan branding internasional Rio stabil. Pernikahan publik figur sangat mempengaruhi pasar.”

“Kamu bercanda,” gumam Kinan.

“Aku serius, Mbak Kinan.”

Rio mengusap wajahnya, menatap Kinan perlahan.

“Kin…”

Kinan tidak bicara.

Ia menatap Rio dengan mata yang bergetar.

Ada banyak hal yang tidak ia katakan. Tapi Rio melihat semuanya.

Setelah Raka pulang, suasana berubah. Tidak ada yang bicara selama beberapa menit. Kinan sibuk membereskan alat, tangannya gemetar sesekali. Rio berdiri, bersandar pada dinding dekat pintu belakang.

“Kinan,” panggil Rio pelan.

“Hmmm?”

“Kamu tidak keberatan, kan?”

Kinan menutup mata sejenak. “Tentu saja aku keberatan.”

Rio menahan napas.

“Tapi aku tahu ini pekerjaan kamu. Ini mimpi kamu,” lanjut Kinan tanpa menatapnya. “Aku tidak punya hak untuk menghalangimu.”

“Aku tidak mau memaksamu ikut jika kamu tidak mau.”

Kinan membalik badan, menatap Rio. “Ini pernikahan, Rio. Mau bagaimana pun, orang akan melihat kita sebagai pasangan. Aku harus ikut.”

Rio terdiam. Ada hal lain yang ingin ia katakan, tapi tertahan di tenggorokan.

“Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau kamu siap, aku akan atur semuanya.”

Kinan mengangguk. “Baik.”

Tapi tatapan mereka sama-sama menghindar setelahnya.

Ada sesuatu yang berubah. Ada jarak di antara mereka… tapi juga kedekatan yang baru.

Di rumah, suasana lebih sunyi dari biasanya. Kinan memasak makan malam—hanya sup ayam sederhana dan nasi putih—sementara Rio duduk di meja makan, memperhatikannya.

“Kamu takut?” tanya Rio tiba-tiba.

Kinan berhenti mengaduk sup. “Takut apa?”

“Takut ikut aku ke luar negeri.”

Kinan menatap sup itu seakan mencari jawaban di sana. “Aku bukan takut… aku hanya belum siap.”

Rio mengangguk perlahan. “Aku juga.”

Kinan menatapnya. “Kamu? Rio Basupati? Tidak siap?”

“Ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri… sebagai suami.”

Kinan tertegun.

“Dan ini pertama kalinya ada seseorang yang ikut denganku bukan sebagai rekan kerja,” lanjut Rio. “Pertama kalinya… ada orang yang harus aku jaga di tempat asing.”

Kinan memalingkan wajah. “Aku tidak butuh dijaga.”

“Tapi aku tetap akan menjagamu.”

Hening panjang kembali hadir.

Rio menegakkan punggung. “Kalau kamu tidak mau ikut, aku bisa bilang pada pihak investor—”

“Tidak.” Kinan memotong. “Aku akan ikut.”

“Kenapa?”

Kinan menelan ludah. “Karena… aku istrimu, Rio.”

Rio membeku.

Dan entah apa yang membuat kalimat sederhana itu terdengar begitu dalam.

Malam semakin larut. Rio duduk di ruang tamu, membaca naskah. Kinan keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Ia hendak masuk ke kamarnya ketika ia melihat Rio tertidur di sofa dengan naskah terbuka di dada.

Rio jarang terlihat sepelan ini. Biasanya ia keras, fokus, intens. Tapi sekarang ia seperti anak kecil yang jatuh tertidur karena kelelahan.

Kinan berdiri di dekatnya. Mengamati wajah lelaki yang kini sah menjadi suaminya.

Lelaki yang penuh dosa dengan masa lalu gelap. Lelaki yang ia nikahi tanpa cinta. Lelaki yang ia yakini tidak akan mampu mencintainya.

Tapi ia juga lelaki yang menepati janji. Lelaki yang tidak pernah melewati batas. Lelaki yang diam-diam membuatnya merasa tidak sendirian.

Perasaan aneh itu kembali muncul.

Tanpa sadar, Kinan mengambil selimut tipis dan menyelimutkan tubuh Rio dengan hati-hati. Ia hendak kembali ke kamar ketika tangan Rio menangkap pergelangan tangannya.

Kinan tersentak.

Rio membuka mata perlahan. “Kinan?”

“Ya?”

“Kamu… jangan pergi dulu.”

Kinan menahan napas. “Kenapa?”

Rio masih setengah sadar. Suaranya rendah, jujur tanpa filter. “Aku… tidak mau sendirian.”

Kinan terpaku.

Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada yang melihat Rio selemah ini.

“Baik,” jawab Kinan pelan. “Aku di sini.”

Rio kembali memejamkan mata, masih memegang pergelangan tangan Kinan. Pegangannya lemah, sama sekali tidak memaksa. Hanya… meminta ditemani.

Kinan duduk di karpet, membiarkan Rio tetap menggenggam tangannya. Ia menatap lelaki itu sampai napas Rio teratur.

Dan untuk pertama kalinya sejak awal pernikahan mereka—

Kinan merasa tidak perlu menjaga jarak.

Tidak malam itu.

Tidak ketika lihat Rio benar-benar rapuh.

Tidak ketika ia tahu, dalam diamnya, Rio juga sedang beradaptasi.

Mungkin mereka tidak punya cinta.

Tapi mereka punya kepercayaan yang tumbuh.

Dan sesuatu yang tumbuh tidak bisa dihentikan begitu saja.

Malam pun berjalan perlahan.

Rio tertidur.

Kinan berjaga.

Tanpa sadar bahwa malam itu adalah malam yang diam-diam menggeser hubungan mereka satu langkah ke arah yang tidak pernah mereka rencanakan.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!