Sebelum Kau Pergi Lagi

JEJAK YANG MULAI TERBENTUK

Rio Basupati tidak pernah menyangka bahwa sebuah rumah kecil di sudut perumahan sederhana bisa memiliki efek menenangkan yang tidak dapat ia temukan di penthouse mewahnya di Jakarta. Rumah itu benar-benar jauh dari segala kemegahan dan kenyamanan premium yang biasanya mengelilingi hidupnya. Tapi entah mengapa, sejak ia menjejakkan kaki pertama kali di sana, dadanya tidak terasa sepadat biasanya.

Rumah itu terasa hidup. Terasa sungguh “rumah”.

Sederhana, tapi hangat. Ada aroma kopi yang seakan meresap di dinding. Ada jejak langkah Kinan yang pelan namun tegas, membuat rumah kecil itu berdetak seperti memiliki jantung sendiri.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana, Rio bangun tanpa alarm.

Ia membuka mata perlahan. Matahari sudah menyelinap lewat celah tirai kamar tamu yang kini menjadi kamarnya. Untuk beberapa detik, Rio berbaring saja, menatap langit-langit putih yang sedikit retak di bagian sudut. Retakan kecil itu mengingatkannya pada retakan dalam hidupnya yang selama ini ia biarkan melebar tanpa ia perbaiki.

Dari dapur, terdengar suara khas piring dan sendok bersentuhan. Lembut, ritmis, tidak terburu-buru. Lalu aroma mentega yang meleleh mulai tercium. Rio tahu persis sumbernya: Kinanti Larasti sedang membuat sesuatu.

Kinan.

Perempuan yang tanpa rencana, tanpa romansa, tiba-tiba menjadi istrinya.

Perempuan yang kata-katanya selalu ringkas, tapi kemauannya lebih keras dari batu karang.

Perempuan yang tidak jatuh cinta padanya dan mungkin itu satu-satunya alasan Rio berani menikahinya.

Pelan, Rio bangkit dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, dan ia merasakan sensasi aneh. Kepalanya lebih ringan dari biasanya. Tidak ada beban mimpi buruk, tidak ada kecemasan syuting, tidak ada tekanan dari kantor produksi.

Hanya pagi biasa.

Pagi yang damai.

Dan itu adalah hal yang langka dalam hidupnya.

***

Ketika Rio muncul di dapur, Kinan sedang berdiri membelakanginya, rambut ikalnya diikat longgar, beberapa helai jatuh di lehernya. Ia mengenakan kaus abu-abu oversized dan celana pendek rumah. Wajahnya mungkin masih setengah mengantuk, tapi gerakannya cekatan.

“Pagi,” sapa Rio.

Kinan menoleh sedikit. “Pagi.”

Hanya itu. Singkat. Tanpa basa-basi manis khas pasangan suami istri.

Tapi entah kenapa, Rio menyukai kesederhanaan itu.

“Aku bikin roti panggang sama telur. Mau?” Kinan bertanya tanpa menatapnya, fokus pada wajan.

Rio bersandar pada meja dapur. “Mau. Tapi kopi dulu.”

Kinan mengangguk kecil. Gerakan yang sudah mulai familiar di mata Rio. Lalu ia menyodorkan cangkir kopi hitam, masih mengepul, aromanya kuat dan tajam.

“Ini kopi Sumatera. Aku baru sangrai kemarin,” ujar Kinan.

Rio mengambil cangkir itu. “Selalu enak.”

“Syukurlah.”

Ada sedikit senyum di sudut bibir Kinan. Sangat tipis. Nyaris tak terlihat. Tapi Rio memperhatikan.

Ia memperhatikan banyak hal dari Kinan akhir-akhir ini.

Caranya berjalan cepat kalau sedang kesal. Caranya diam selama beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan yang tidak ia sukai. Caranya menghela napas pelan saat lelah. Caranya memandang bahan-bahan dapur dengan mata berbinar.

Dan caranya tidak pernah mencoba mengambil jarak darinya, tapi juga tidak pernah berusaha mendekat.

Kinan tidak mendekat. Tidak juga menjauh.

Ia hanya ada.

Dan entah kenapa, kehadiran sederhana itu berhasil mengisi kekosongan dalam hidup Rio tanpa ia sadari.

 “Kamu ada jadwal hari ini?” tanya Kinan setelah menyiapkan sarapan di meja makan.

Rio duduk. “Ada meeting online sama produser. Setelah itu, aku mau keliling lagi buat riset.”

“Kamu butuh ditemani?”

Rio terkesiap sejenak. Pertanyaan itu sederhana. Tapi baginya, itu seperti pertanyaan yang dibungkus dengan makna lain.

“Kalau kamu sibuk, nggak usah,” lanjut Kinan segera, seperti berusaha menutup kesan peduli.

“Tadi kamu nanya, ‘butuh ditemani?’” Rio mengangkat alis.

Kinan—yang tidak pernah terlihat canggung—kali ini menunduk. “Aku cuma nanya.”

“Aku mau ditemani,” jawab Rio akhirnya.

Kinan mendongak.

“Kalau kamu ada waktu,” tambah Rio.

“Baik,” jawab Kinan singkat.

Dan mereka makan sarapan dalam sunyi yang tidak janggal.

Siang itu, Rio dan Kinan mengunjungi kebun kopi milik salah satu petani langganan Dejavu. Pemiliknya, Pak Harun, menyambut mereka dengan hangat. Rio mewawancarai beberapa pekerja, memotret proses panen, mengambil detail untuk skenarionya.

Sementara itu, Kinan sibuk mengamati kualitas kopi dan berdiskusi tentang rasa, fermentasi, hingga metode sangrai.

Kadang keduanya berada di lokasi yang sama.

Kadang jauh berpisah.

Tapi energi di antara mereka tetap selaras.

Hingga suatu momen sederhana membuat Rio berhenti.

Benar-benar berhenti.

Ketika mereka berjalan melewati jalur kecil yang menurun, kaki Kinan terpeleset oleh tanah yang licin setelah hujan semalam. Kinan nyaris jatuh ke depan.

Rio bertindak refleks.

Ia meraih lengan Kinan dengan cepat, menariknya hingga tubuh perempuan itu menempel pada dadanya.

Beberapa detik, hanya suara napas yang terdengar.

Kinan menegakkan tubuhnya buru-buru. “Aku bisa sendiri, Rio.”

“Aku tahu,” jawab Rio datar. “Tapi kamu hampir jatuh.”

Kinan tidak membalas. Wajahnya terlihat sedikit memerah, bukan karena malu, tapi mungkin karena terkejut.

Rio melepaskan tangannya perlahan. Tapi sensasi kulit Kinan di genggamannya masih terasa—hangat, lembut, dan anehnya, menenangkan.

Tidak seperti sentuhan masa lalunya.

Tidak seperti perempuan-perempuan sebelumnya.

Tidak ada ketegangan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada ekspektasi.

Hanya sentuhan tanpa makna tambahan.

Dan bagi Rio, itu justru terasa paling jujur.

Sorenya, mereka kembali ke rumah.

Kinan mandi dan menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Rio duduk di meja makan, laptop terbuka, sambil sesekali melirik Kinan.

Perempuan itu mengiris bawang.

Mengaduk sup.

Mengatur bumbu.

Gerakannya cepat dan efisien, tapi ada ketenangan yang membuat dapur itu terasa seperti tempat tinggal paling nyaman di dunia.

“Ada yang mau kamu tanyakan, Rio?” tanya Kinan tanpa menoleh.

Rio sedikit terkejut. “Dari mana kamu tahu?”

“Kamu melihat ke arahku sepuluh kali dari tadi.”

Rio memijat batang hidungnya. “Aku tidak menghitung.”

“Insting,” jawab Kinan.

Rio menghela napas. “Baiklah. Aku ada yang mau ditanya.”

“Apa?”

“Kamu nyaman tinggal serumah denganku?”

Kinan berhenti mengaduk sup.

Rio menyadari pertanyaannya mungkin terlalu langsung. Tapi ia ingin tahu. Sebab ia sendiri… mulai merasa nyaman di sini. Terlalu nyaman, mungkin.

Kinan berbalik. Menatap Rio dalam-dalam.

“Rio,” ucapnya pelan. “Kita ini menikah tanpa cinta. Tanpa rencana. Tanpa kedekatan.”

Rio menelan ludah.

“Tapi kenyamananku atau tidak, bukan hal yang relevan. Kita menjalani ini kenapa? Karena kamu butuh pernikahan. Aku butuh modal.”

“Bukan cuma itu,” gumam Rio.

Kinan mendekat, menaruh sendok kayu di meja. “Dan kamu butuh perempuan yang tidak jatuh cinta sama kamu. Itu juga bagian dari alasanmu.”

Rio memalingkan wajah.

“Jadi, jangan tanya aku nyaman atau tidak. Karena kalau aku jawab jujur… kamu nggak akan suka.”

Rio menajamkan mata. “Coba saja.”

Kinan tidak langsung menjawab.

Tapi akhirnya ia menatap Rio, tegas dan tenang.

“Ya, Rio. Aku nyaman.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Rio kehilangan kata-kata.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!