Seni Seviyorum Aisyah

Bertemu Fahri

"Owh okey never mind Syah," sahut Fatimah dengan menganggukan kepalanya dan tersenyum, dia terlihat sangat senang jika Aisyah dengan Fahri namun tentu saja dia tidak bisa memaksakan perasaan sahabatnya itu.

 

Raya terperangah mendengar nama Fahri, "Seriusan dia mau ke sini? ah Aisyah aku penasaran dengan sosoknya." Raya memang belum tahu bagaimana wajah Fahri yang sahabat-sahabatnya katakan Fahri memiliki wajah yang manis dan bertubuh tinggi.

 

Hati Hawa menjadi senang mendengar bahwa ada cowok yang sedang mendekati Aisyah sebab dia tidak perlu takut akan kehilangan Raka lagi, tidak bisa ditebak siapa yang ada di hati Raka hal itu pun pernah terbayang di benak Aisyah saat menahan hawa nafsunya untuk tidak tergoda dengan rayuan laki-laki termasuk Raka sendiri.

 

Setelah acara makan bersama Raya pun mengabadikan moment kebersamaannya tersebut, karena apa yang dilaluinya hari ini belum tentu bisa terulang kembali.

 

"Hey lihat kamera!" seru Raya dengan antusias membuat semua sahabatnya itu menoleh dan tersenyum ke arah kamera yang Raya pegang.

 

Aisyah memeluk Hawa saat pemotretan yang ke dua, bagaimana pun Aisyah adalah sosok wanita yang penyayang terhadap semua sahabatnya itu padahal dia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada semua sahabatnya bahwa dia pun memiliki rasa dengan Raka namun kejadian ini mengurungkan niat pertamanya dan lebih baik dia diam hingga waktu yang akan mengungkapkannya.

 

"Aku sudah putuskan untuk liburan sekolah kita akan pergi ke pantai bagaimana kalian setuju tidak?" pekik Aisyah dengan senangnya pasalnya dia sangat menantikan hari itu.

 

Hawa mengangkat sebelah alisnya, "Terserah kalian saja deh."

 

Sedangkan Fatimah menjentikan jemarinya sehingga menimbulkan bunyi dari sana salah satu kebiasaannya tanpa disadari, "Okey saya pun setuju, bagaimana denganmu Raya?"

 

Raya terdiam nampak berpikir, sejujurnya dia pun ingin pergi jalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya tapi dia takut orangtuanya tidak memiliki uang hal itu membuat dirinya tidak bisa memastikan bahwa dia bisa ikut nantinya.

 

"What happed Ray?" Fatimah yang duduknya memang sampingan dengan Raya menyentuh bahu sahabatnya itu. "Apa ada masalah?"

 

Aisyah memandang Raya dengan penuh tanda tanya, "Apa orangtuamu tidak mengizinkanmu untuk pergi Ray?" tebak Aisyah karena hal itu biasanya terjadi, "Biarkan aku yang mengatakannya kepada Mamah kamu kalau begitu agar kamu bisa ikut okey!" lanjutnya berusaha mencari solusi dari masalah sahabatnya itu.

 

Raya menggelengkan kepalanya, "Hmm, bu-kan itu alasannya Syah aku hanya khawatir Mamah tidak memiliki uang," ujarnya lirih terlihat kesedihan yang terpancar di wajahnya.

 

Mengingat para sahabatnya itu adalah berasal dari keluarga yang berada kadang membuat Raya inscure dan tidak menyangka bahwa dia bisa dekat dengan mereka ya untungnya mereka tidak pernah perhitungan kepadanya bahkan sering mentraktir saat uangnya sudah habis.

 

Aisyah mengangguk mengerti ternyata itu alasan Raya tidak bisa menjawabnya, begitu pun dengan Fatimah yang orangnya tidak bisa melihat orang yang dia sayangi bersedih dan menderita.

 

Tidak terasa air mata Raya menetes begitu saja dengan cepat Fatimah pun menyerkanya, "Its okey Ray untuk kendaraan nanti aku yang akan bawa mobilnya dan untuk jajannya kita bisa berbagi ya kan?" ujarnya sembari menatap Hawa dan Aisyah.

 

"Iya benar Ray, kan kita perginya naik mobil Fatimah jadi gak perlu boros ongkos jika mau makan pun kita bisa makan bareng kok jadi ikut ya?" timpal Aisyah dengan tersenyum hangat.

 

Hawa hanya mengangguk saja, sebetulnya dia juga sudah buat rencana untuk pergi bersama Raka akan tetapi dia tidak mungkin tidak ikut bersama para sahabatnya apalagi selama ini mereka belum pernah pergi jauh bersama-sama.

 

Raya menatap satu persatu sahabatnya betapa beruntungnya dia memiliki mereka yang sayang dan peduli dengan dirinya, sangat jarang sekali di zaman sekarang yang berteman hanya karena hartanya saja jika tidak punya maka akan ditinggalkan begitu saja sangat miris memang mencari sahabat yang setia itu.

 

"Seriusan? aku tidak enak loh sama kalian semua." Raya memandang dengan nelangsa.

 

Aisyah bangkit dari duduknya dan menghampiri Raya, "Ray, kita ini bukan hanya sebatas sahabat saja aku sudah menganggap kalian seperti saudariku sendiri, jadi berhentilah untuk merasa tidak enak hati!" katanya sembari memeluk Raya dengan penuh kasih sayang.

 

"Terima kasih banyak ya kalian sudah sangat baik banget sama aku."

 

"Ingat! dalam persahabatan itu tidak ada kata maaf dan terima kasih," sahut Fatimah lalu ikut menghambur dalam pelukan sahabat-sahabatnya begitu pun dengan Hawa.

 

Tidak lama kemudian mereka pun melepaskan pelukannya dan kembali duduk di tempatnya masing-masing, kini wajah Raya pun mulai terlihat senang dan bahagia meski dia tidak bayar ongkos dan jajan tapi dia juga perlu bawa uang untuk berbelanja di sana.

 

"Jadi bagaimana mau ikut kan?" tanya Aisyah memastikan Raya.

 

Raya mengangguk dan tersenyum, "Iya aku pasti akan ikut kok tidak ada waktu yang aku sia-siakan untuk bersama dengan kalian," ungkapnya.

 

Saat saling berbincang-bincang tentang perlombaan di acara ulang tahun sekolah bahkan perlombaan apa yang akan mereka ikuti ponsel Aisyah berdering begitu nyaring menampilkan nama Fahri di sana.

 

"Khem, angkat dulu tuh telepon calon," cibir Hawa saat tidak sengaja melihat nama yang tertera dalam layar ponsel Aisyah.

 

Mendengar perkataan itu Aisyah langsung melotot, "Calon-calon aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya."

 

"Ya sudah angkat dulu kasihan tuh," sergah Raya melihat Aisyah yang tak kunjung mengangkat panggilan itu malah terus menerus menanggapi sahabat-sahabatnya yang sedang mengodanya.

 

"Iya aku anggkat nih kalian diam ya!" ujar Aisyah dia takut mereka akan berseru ramai mendengar perbincangan dirinya dengan Fahri.

 

Setelah mereka mengangguk Aisyah pun menekan tombol hijau dan menempelkannya di daun telinga, "Waalaikumsalam."

 

"Syah aku sudah sampai di depan caffe nih." Terdengar suara Fahri yang menyahut dari sebrang sana membuat Raya menutup mulutnya agar tidak tertawa begitu pun dengan Fatimah yang senyum-senyum sendiri melihatnya.

 

Aisyah melirik sahabat-sahabatnya itu dengan gugup, "Owh baiklah aku akan keluar tunggu di sana ya!"

 

"Okey deh," sahut Fahri lalu Aisyah pun memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.

 

"Huhuy, ada yang mau jalan berdua nih," ejek Hawa dengan sangat senang menggoda Aisyah dengan Fahri.

 

Aisyah pun bamngkit dari duduknya tidak ingin mendengar apapun yang akan sahabatnya itu katakan, "Ya sudah aku jalan pergi dulu ya, assalamualaikum."

 

"Waalaikumsalam hati-hati ya Syah," teriak Fatimah sembari menempelkan telapak tangannya di dekat mulut agar suaranya terdengar nyaring.

 

"Dah Syah jangan lupa kenalkan aku kepadanya!" seru Raya dengan genitnya

 

Kini Raya sedang memakai bando di rambutnya menambah kecantikan pada cewek itu sahabat yang paling imut memang dia seorang, Aisyah cewek yang kalem dari yang lainnya, Fatimah cewek yang lebih pengertian sedangkan Hawa cewek yang alay dan sok pintar di depan para sahabat-sahabatnya.

 

Fahri pun membukaan pintu depan mobilnya ketika melihat seseorang yang dia tunggu datang, "Aisyah Salsabila?" tanya Fahri ragu mengenali seseorang.

 

Aisyah tersenyum melihat Fahri cowok itu memanggil namanya dengan lengkap, "Iya aku Aisyah kamu Fahri kan? Ummi sudah mengirim fotomu padaku agar aku mengingatnya jika bertemu."

 

Mendengar itu Fahri terkekeh dengan begitu renyah sekali terdengar, "Wkwkwk Ummi ada-ada saja deh aku jadi malu sendiri lantas kau sudah mengingatku sekarang?" goda Fahri dengan tersenyum manis.

 

'Ah benar juga kata Fatimah, senyum Fahri dapat meluluhkan hati para wanita astagfirullah Aisyah,' gumam Aisyah dalam hatinya dia baru menyadari fakta itu ketika bertemunya langsung.

 

"Sudahlah tidak usah dijawab aku hanya bercanda saja, yuk silahkan masuk!" ajaknya lalu mempersilahkan Aisyah untuk duduk di depan.

 

Ada beberapa mata-mata yang menatap ke duanya dengan tersenyum senang dia diam-diam menyusun rencana untuk membuat Aisyah mau menerima Fahri dan melupakan Raka.

 

Di dalam mobil Fahri mencoba mencairkan suasana yang agak canggung baginya Aisyah terus diam saat di dalam mobil membuatnya agak sulit untuk berkata apa-apa diliriknya wanita itu yang kini sedang pokus menatap ke arah samping jendela, 'Sungguh kau lebih anggun dan cantik Aisyah apa yang diceritakan Ummi tidak ada yang salah' pekik Fahri mengingat saat Umminya mengenalkannya dengan sosok Aisyah muridnya dulu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!