Seni Seviyorum Aisyah

Menjelang Acara

"Aisyah bangun sayang sudah subuh!" ujar Bundanya Aisyah sembari menggoyangkan tubuh putrinya itu yang ditutupi selimut.

 

"Ah Bunda aku masih mengantuk," gumam Aisyah tanpa membuka ke dua matanya, cewek itu hanya menggeliat membelakangi Bundanya.

 

Jam masih menunjukan pukul empat lewat lima belas menit, Adiba kembali menghidupkan alarm yang ada di atas nakas kamar putrinya itu lalu dia meninggalkannya untuk terlebih dahulu melaksanakan ibadah subuh bersama suaminya yang sudah bangun.

 

Semalaman Aisyah sedang menikmati mimpinya bersama laki-laki yang sangat dia cintai, dalam mimpinya tersebut ada Hawa dan sahabat-sahabatnya yang lain juga yang mana Raka bersikap manis kepadanya dan menunjukan perasaannya meski di depan sahabat-sahabatnya dan Aisyah begitu senang saat Hawa juga mendukung hubungannya.

 

Kringg ... Kringg

 

Alarm kembali berbunyi membuat Aisyah terperanjat bangun dari tidurnya dan tersadar dari mimpinya yang indah, matanya yang sedikit terbuka menatap alarm yang sudah menunjukan jam lima lewat sepuluh menit.

 

"Astagfirullah jam lima?!" teriak Aisyah sembari menyibak selimutnya dan pergi keluar untuk mengambil air wudhu.

 

Setelah selesai melaksanakan ibadah salat Aisyah langsung kembali mengulang hafalannya yang mana semakin hari semakin meningkat meski dalam waktu sibuk dia selalu menyempatkan diri untuk menghafal namun semenjak masalah dengan Hawa terjadi dia jadi gagal pokus dan sulit untuk menghafal ditambah lagi suratnya memang ribet dan banyak kesamaan di dalamnya.

 

"Sodaqollahul Adzim." Aisyah mengakhiri bacaan al-qurannya saat jam menunjukan pukul enam lewat sepuluh menit.

 

Aisyah melantunkan doanya setelah selesai mengaji, dalam doanya dia mengungkapkan semua rasa takut dan rasa syukurnya kepada sang Pencipta walaupun Allah maha mengetahui segalanya tetap Aisyah ingin bercerita tentang apa yang dia rasakan saat ini.

 

Air matanya berhasil lolos dan menetes membasahi mukena yang dikenakannya, sungguh pagi ini Aisyah larut dalam doanya semua yang dia takutkan dia adukan kepada sang penciptanya sendiri? tidak ada yang salah bukan? kalian pun pasti ingin mengungkapkannya meski kalian tahu Tuhan maha mengetahui semuanya, kini Aisyah takut akan hafalan yang dia pegang dalam dirinya dia selalu meminta agar tetap menjadi orang yang istiqomah, karena sangat sulit untuk menjaga hafalan di masa-masa remaja seperti ini pikiran anak-anak seusia Aisyah masih sangat labil dan egonya pun masih besar apa yang dia inginkan harus segera diwujudkan.

 

Mencintai Raka sosok orang yang menginspirasi meski memiliki sisi buruk yang bagi Aisyah itu masih wajar apalagi Raka memiliki wajah yang tampan membuat cowok itu dengan bebas berganti-ganti pasangan untuk menjadi teman dan untuk menghiasi semasa remajanya, itu;lah salah satu alasan yang pernah Aisyah dengar langsung dari mulut cowok itu sendiri, awalnya Aisyah hanya kagum hingga timbulah rasa ingin memiliki itu ia rasakan saat di mana perpisahan itu tiba dia berharap cowok itu akan menjadi miliknya kelak.

 

Setelah selesai salat Aisyah bangun dari duduknya untuk melepas mukena serta meletakan al-quran kesayangannya itu yang tak lain pemberian dari Neneknya dulu sosok orang yang membuat dirinya berani untuk menghafal dan mecintai al-quran lalu Aisyah kembali duduk di tepi ranjang untuk mengecek ponselnya yang berbunyi. Ada beberapa pesan yang masuk di sana diantaranya dari rekan-rekan OSIS dan Aqila serta grup The Best Friends.

 

*Amel

"Syah, besok aku akan pergi ke pasar untuk membeli komsumsi seperti yang telah dicatat oleh Bu Ririn waktu itu kau jangan khawatir akan kuurus masalah ini."

 

*Rian

"Untuk panggung sudah gue bereskan jadi kalian tidak perlu khawatir!"

 

*Fasya

"Gue sudah buat tiket masuknya dan gue juga udah bilang ke ketua kelas untuk mengumumkan pakaian untuk besok gue harap sih gak ada yang buat ulah di acara nanti."

 

*Aqila

"Aisyah besok aku jaga bazar dengan Ilham? sumpah sih senang sekali mendengar kabar itu btw besok aku akan ikut lomba menyayi kau harus jadikan aku pemenangnya nanti dan dukung aku untuk jadi pemenangnya."

 

THE BEST FRIENDS

 

*Raya

"Hey besok mau ikut lomba apa nih aku bingung."

 

*Hawa

"Aku mau ikut lomba lari saja deh kan aku larinya cepat."

 

*Fatimah

"Aku malas buat ikut lomba mending jadi tim horeynya kapten Futtsal saja wkwkw canda gays."

 

Begitu banyak sekali percakapan mereka dalam grup membuat Aisyah ikut tersenyum mengetahui Fatimah yang sudah berani terus terang dengan sahabat-sahabatnya yang lain dan yang buat dia tertawa pagi ini adalah pesan dari Aqila yang secara tidak langsung memaksanya untuk menjadikan saudarinya itu salah satu pemenang dalam kompetisi bernyayi padahalkan bukan dia yang menentukan siapa pemenangnya melainkan para juri yang tak lain adalah para Guru.

 

Pintu pun dibuka oleh Adiba dengan pelan sehingga membuat Aisyah langsung menoleh ke arah sana dan melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.

 

"Bunda!" pekik Aisyah sedikit terkejut dibuatnya.

 

"Sayang lekaslah mandi dan bantu Bunda untuk menyiapkan sarapan pagi di meja makan," ujar Adiba sembari tersenyum hangat.

 

Tanpa Aisyah mata Adiba pagi ini terlihat memerah entah apa yang terjadi kepada Bundanya itu, Adiba bernapas lega saat mengetahui anak itu tidak menyadari sesuatu darinya.

 

****

 

Sekolah masih terlihat sepi, Raka menyuruh anggota OSIS untuk datang pagi-pagi agar bisa mengecek tempat acara dan kekurangan yang ada sehingga pas anak-anak yang lain sudah sampai di sekolah semuanya sudah selesai, ada Raka yang sedang mengurus pos bazar untuk makanan, minuman serta jenis pakaian dan barang-barang lainnya yang akan meriahkan acara ini, ada Rian dan Feby yang sedang meniup balon yang akan ditempelkan di sudut tenda, ada Fasya dan anak-anak yang lainnya yang sedang merapihkan bangku-bangku untuk para tamu penting.

 

Terlihat anak-anak OSIS yang bekerja keras dalam mengurus acara ulang tahun sekolah tahun ini, sudah dua hari mereka harus pulang telat karena acara rapat dan persiapakan dekorasi semua mengerjakan pekerjaannya yang sudah ditugaskan sebelumnya hingga di hari H pun mereka diminta untuk datang pagi-pagi, luar biasa Aisyah melihat semangat pada diri rekan-rekannya itu.

 

"Aisyah! ke mari kau," panggil Raka yang melihat kedatangan Aisyah.

 

Karena cowok itu memanggil dirinya Aisyah pun bergegas menghampirinya yang sedang sibuk sendiri, kasihan sekali! jika ada Hawa pasti akan ditemani oleh sahabatnya itu mungkin sama ketua cheerleader itu.

 

Kau tahu hari ini Raka memakai baju apa? ya hari ini Raka memakai jas biru tua yang sengaja tidak dikancingkan sehingga baju dalamannya terlihat dengan warna hitam yang Aisyah yakini itu baju yang sering cowok itu pakai di saat berolah raga, secara diam-diam Aisyah beritigfar karena sudah terpesona pada penampilan Raka yang terlihat berbeda apalagi sisiran rambutnya terlihat rapi dengan belahan ala-ala oppa Korea.

 

"Syah kau bantu aku untuk menghias meja dengan kain ini, serapih mungkin jika seperti ini terlihat acak-acakan dan sangat mengganggu pemandangan," kata Raka dengan tegas, ke dua tangannya memegang kain batik yang memang akan digunakan untuk tempat bazaran.

 

"Okey siap," sahut Aisyah sembari tersenyum manis.

 

Dengan semangat Aisyah langsung melepaskan tasnya di atas meja lainnya yang ada di samping dirinya dan langsung membantu Raka merapihkan tempat tersebut.

 

"Ka Raka biar aku saja yang merapihkan kakak cek yang lain saja!" ujar Andrian anak kelas 11 yang memang terpilih menjadi anggota OSIS perwakilan dari kelasnya.

 

Rian menepuk bahu Andrian dengan pelan sembari tersenyum, "Sini kau! biarkan mereka berdua saja yang mengerjakan kamu jangan coba-coba buat memisahkan mereka," katanya.

 

Mendengar hal itu Andrian langsung meminta maaf dan pergi untuk membantu yang lain, hal itu membuat Raka tersenyum kikuk begitu pun dengan Aisyah yang tersipu malu dibuatnya.

 

"Kenapa Andrian berkata seperti itu ya? Apa jangan-jangan Raka pernah cerita tentang aku kepadanya? Ah aku jadi penasaran deh," gumam Aisyah dalam hatinya.

 

Raka memandangi Aisyah yang sedang bengong sambil memukul paku payung pada meja, "Aisyah!!" teriak Raka.

 

"Hah ada apa? Kenapa kau berteriak, emang saya bolot apa? Orang deket kok teriak-teriak," gerutu Aisyah.

 

"Sini biar aku saja yang memaku, tadi hampir saja tangan kamu kena paku gara-gara kebanyakan bengong," tukas Raka mengambil alih pekerjaannya, kemudian dia berbisik ditelinga Aisyah. "Jangan kebanyakan mikirin aku, nanti suka loh."

 

Seketika mata Aisyah melotot mendengarnya, "Ishh apaan sih kamu geer banget deh, tuh kamu aja yang maku saya mau rapihin meja yang lain." Dia berlalu pergi ke meja satunya agak berjarak dengan Raka.

 

Lama-lama berada di dekat Raka membuat jantung Aisyah hampir copot karena terus mendapat serangan rayuan mematikan dari cowok itu. Sikap Raka menunjukkan kalau dia suka dengan Aisyah tapi sayang sekali Raka tidak bisa meyakinkan hati Aisyah kalau cinta cowok itu hanya untuknya seorang.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!